Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
52. Pria yang selalu membuat emosi


__ADS_3

Putri yang tadinya sedang buru-buru berpakaian, langsung membulatkan mata begitu mendengar pertanyaan dari Arya yang tidak pernah ada di pikirannya.


Saat disuruh memilih antara pria yang dicintai dan putranya, tentu saja membuatnya benar-benar sangat kebingungan dan frustasi, tetapi tidak bisa menunjukkan pada pria yang kembali berbicara untuk bertanya padanya.


"Putri, kenapa diam saja? Cepat jawab pertanyaanku karena itu akan membuatku memutuskan untuk tetap bersamamu atau tidak!. Aku ingin melihatmu. Jadi, perlihatkan wajahmu saat ini!"


"Apalagi saat ini, kamu baru selesai mandi. Aku merindukanmu dan ingin mencium aroma wangi dari tubuhmu."


Saat Putri ingin berusaha untuk menyadarkan Arya dan mencoba meminta pria yang jauh lebih muda darinya tersebut agar lebih memikirkan pertanyaan untuknya, tetapi yang terjadi adalah ia tidak bisa melakukannya begitu mendengar kalimat ambigu bernada ancaman yang membuat bulu kuduknya meremang.


"Apa yang terjadi padamu, Arya? Kenapa tiba-tiba kamu menyuruhku untuk memilih antara kamu dan putraku? Aku tidak bisa memilih salah satu dari kalian karena mencintai dengan sama besarnya."


"Tidak bisa, Putri. Kamu tetap harus memilih salah satu karena saat ini, aku tidak bisa membiarkanmu lebih mencintai putramu daripada aku. Aku cemburu saat melihatmu langsung mengabaikanku dan memikirkan putramu tadi. Aku tidak bisa merelakanmu untuk membagi cintamu."


Seharusnya kalimat Arya adalah sebuah hal yang menandakan sangat mencintai dan menyebutnya cinta buta. Ia kali ini berpikir bahwa pria di seberang telepon mulai menampakkan sikap over possesive padanya.


Hingga tidak bisa membedakan mana cinta dan kasih sayang. Hal itu membuatnya merasa sangat pusing dan benar-benar bingung mengambil keputusan.


Bahkan saat ini, ia melihat ke arah bocah berusia 3 tahun dan beralih pada sosok pria di layar ponsel yang tengah menatapnya dengan intens.


Putri yang kali ini menelan kasar saliva, mencoba untuk merayu dan bernegosiasi dengan Arya.


"Arya, kasih sayang pada putraku tidak bisa dibandingkan dengan cintaku padamu. Itu adalah dua hal yang berbeda. Tolong mengertilah posisiku. Aku tidak mungkin meninggalkan putraku karena sembilan bulan mengandung dan melahirkannya dengan taruhan nyawa."


"Kamu akan mengerti nanti saat sudah memiliki seorang anak. Apa kamu suatu saat tidak berpikir akan memiliki anak yang berasal dari rahimku? Jika aku tidak mempedulikan putraku, bukankah aku bukanlah seorang ibu yang baik?"


Berharap penjelasan panjang lebar darinya bisa dimengerti oleh pria yang pikirannya masih belum dewasa dan dikuasai oleh emosi karena darah muda mengalir di setiap aliran darah pria yang masih menatapnya dengan intens.


"Untuk saat ini, aku tidak ingin berpikir hal yang belum terjadi, Putri. Aku hanya ingin memikirkan kita berdua, bukan yang lain. Jadi, katakan padaku apa jawabanmu. Aku atau putramu!"

__ADS_1


Ingin sekali Putra berteriak dengan suara yang sangat kencang agar Arya mau mengerti dan memahami posisinya sebagai seorang ibu. Namun, ia memilih untuk tidak mengeluarkan sepatah kata pun karena benar-benar belum bisa mengambil keputusan.


Tidak ingin semakin bertambah stres, akhirnya ia memilih untuk mengungkapkan apa yang dirasakan.


"Maafkan aku, Arya. Seperti yang kukatakan tadi, aku tidak bisa memilih salah satu di antara kalian karena sama-sama mencintai. Namun, aku akan dengan sangat yakin menjawab saat kamu bertanya padaku antara memilihmu atau memilih suamiku."


"Aku hanya memilihmu dan akan bercerai jika kamu menyuruhku untuk menggugat cerai dia. Aku sudah muak dan tersiksa menjadi istri dari pria tidak berguna itu, Arya."


Suara Putri yang mengungkapkan sebuah kejujuran terdengar sangat menyayat hati dan mengharapkan bahwa Arya akan mengerti apa yang dirasakannya saat ini.


Namun, jawaban ketus dari pria yang tampak dari layar ponsel benar-benar sudah membuatnya merasa seperti seorang wanita tidak berguna.


"Baiklah, sekarang aku tahu harus bagaimana dengan hubungan kita. Lebih baik kita akhiri sampai di sini karena tidak bisa membagi cintaku dengan orang lain, meskipun itu adalah putramu sendiri. Jangan pernah menghubungiku mulai dari sekarang dan anggap kita tidak pernah bertemu."


Belum sempat Putri membuka mulut untuk berkomentar dan memohon pada Arya agar tidak memutuskan hubungan dengannya, ia mendengar suara sambungan telepon yang sudah terputus dan membuatnya frustasi.


Putri yang saat ini mengangkat tangannya ke atas, berniat untuk membanting benda pipih di tangan, tidak jadi melakukannya begitu mendengar suara bariton dari luar rumah dan beberapa saat kemudian masuk ke dalam.


'Kenapa cepat sekali dia kembali? Seharusnya tadi aku mengatakan padanya untuk berbelanja kebutuhan rumah, agar bisa berbicara dengan Arya lebih lama karena setelah memutuskan hubungan sepihak, aku perlu merayunya dengan mengunakan segala cara agar ia tidak meninggalkanku.'


Putri yang berpura-pura tidur sambil memeluk tubuh putranya, kini mendengar suara sang suami yang berusaha membangunkannya.


"Sayang, ini makanannya." Bagus yang tadi sudah menaruh nasi bungkus di meja makan, kini tengah berjalan menuju ke arah ranjang dan mendaratkan tubuhnya di sebelah wanita yang terlihat memejamkan mata.


Bahkan ia saat ini sudah sibuk mengusap lembut punggung sang istri agar bangun dari tidur.


"Sayang, kamu tidur?"


Merasa risi saat dipegang oleh sang suami karena berpikir mengkhianati Arya, kini Putri sudah membuka mata dan bangkit dari posisinya yang saat ini tengah berbaring dan memilih turun dari ranjang.

__ADS_1


"Aku akan menyiapkannya sekarang."


Kini Putri sudah berjalan keluar dari kamar karena ingin menghindari sosok pria yang sudah membuatnya enggan untuk disentuh karena hanya menginginkan Arya yang melakukan apapun padanya.


Setelah ia tiba di meja makan, langsung mengambil piring dan sendok untuk makan dan melihat ada tiga nasi bungkus di depan mata.


Saat ini, ia malah mengingat momen kebersamaannya dengan Arya saat makan makanan enak di restoran dan food court. Melihat nasi bungkus tersebut, mendadak selera makannya hilang.


Apalagi saat mengingat Arya memutuskan hubungan karena ia tidak bisa memilih antara putra dan pria yang memiliki paras tampan dan berasal dari keluarga konglomerat tersebut.


'Aku harus mengambil keputusan. Aku sangat mencintai Arya dan tidak ingin terus hidup menderita seperti ini. Aku bosan hidup miskin bersama pria tidak berguna yang hanya bisa membelikan makanan yang dijual di tepi jalan seperti ini. Bukan makanan di restoran seperti yang Arya lakukan tadi.'


'Putraku mungkin akan bahagia tinggal bersama dengan ayahnya. Lagipula aku tidak mungkin membawanya jika nanti tinggal di istana keluarga besar Arya yang pastinya sangat besar dan mewah.'


Saat belum selesai memikirkan keputusan yang akan diambilnya, Putri melihat sosok pria yang sudah duduk di sebelahnya.


"Bukankah itu adalah makanan kesukaanmu, Sayang? Ayo, kita makan karena aku dari tadi siang belum makan. Kamu dan Putra tadi sudah makan, kan?" tanya Bagus yang merasa sangat khawatir jika anak dan istrinya kelaparan karena tidak pulang semalam.


Hingga jawaban bernada ketus dan membuatnya lagi-lagi harus meluaskan kesabarannya untuk tidak meluapkan amarah pada sosok sang istri yang dianggapnya tidak bersyukur.


"Hanya membelikan makanan murahan seperti ini saja, kamu berlagak seolah baru membelikan makanan mahal untukku. Ini hanya makanan murahan yang bahkan tidak bisa menggugah selera makanku."


"Kamu tenang saja karena aku dan Putra tidak kelaparan meskipun tanpamu. Kamu makan saja sendiri karena aku sama sekali tidak lapar!"


Putri yang benar-benar tidak mood berbicara panjang lebar dengan pria yang selalu membuatnya emosi, kini bangkit berdiri dan berniat untuk kembali ke dalam kamar.


Namun, ia merasakan pergelangan tangan kirinya sudah ditahan oleh sosok pria yang kini menatapnya dengan sangat tajam.


"Putri, berhenti!" seru Bagus yang yang kini juga ikut bangkit berdiri dari posisinya dan rasa lapar yang dirasakan seolah hilang karena sudah digantikan kenyang dengan sikap ketus dari sang istri yang selalu marah-marah semenjak di rumah sakit.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2