Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
Menguji adrenalin


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir Putri bekerja di rumah yonya Maria. Ia berencana untuk berpamitan juga pada nyonya Brenda yang selama ini sudah membantunya. Putri mengungkap keinginannya itu pada Arya dan mendapatkan sambutan yang baik.


“Sayang, aku berharap apa yang akan kita dapatkan menjadi penyemangat untuk kehidupan selanjutnya. Aku tidak ingin mengecewakanmu lagi kali ini.” Arya kali ini berharap jika Putri nanti tidak akan protes saat ia memberikan gaji pertama dari kantor.


“Terima kasih, Sayang.” Putri menjawab sambil tersenyum dan binar kebahagiaan terpancar dari wajah cantiknya karena sudah sangat lega saat Arya menjadi pria yang bertanggungjawab.


Keduanya berjalan keluar dari rumah menuju ke arah rumah dua tetangga.


Tiba-tiba saja terlihat Bagus dengan mobil yang masuk ke jalanan arah rumah kontrakan mereka.


“Bukannya itu mobil yang dipakai Bagus?” celetuk Putri yang terkejut saat melihat pemandangan sekilas di hadapannya.


Mereka tidak menyangka bahwa Bagus akan datang tanpa memberitahu. Putri bahkan berkata pada Arya untuk tidak memberitahu mengenai pekerjaan yang selama ini diambilnya.


“Apakah ada hal penting?" Arya berkata sambil menaikkan kedua alis dan masih menebak maksud dari kunjungan pria itu.


Saat Bagus turun dari mobil, berjalan mendekati pasangan suami istri yang sudah menunggu di depan pagar dengan perasaan berkecamuk.


“Kamu mau ke kantor, bukan? Kebetulan aku ke arah ke sana. Kamu bisa berangkat bersamaku kali ini,” ujar Bagus seakan tidak terjadi apapun di antara mereka.


Bagus memang tadi baru saja mengantar penumpang di area sekitar rumah itu, sehingga berinisiatif untuk memberikan tumpangan.


Konyol, mungkin itu yang terlihat saat ini dan begitu melihat Arya dan Putri seolah terkejut, akhirnya mengulang pernyataannya.


“Bagaimana? Kamu mau berangkat bersamaku?”


Awalnya, Arya dan Putri saling bersitatap, tapi hanya sekilas karena sadar bahwa waktu semakin bergerak cepat.


“Baiklah. Terima kasih atas tumpangannya.” Akhirnya Arya memutuskan untuk menyetujui tawaran itu karena jika naik bus akan membuatnya tiba di kantor lebih lama.


Arya berpamitan pada Putri dan mengecup kening istrinya. "Kamu langsung pergi saja ke rumah dua wanita itu."

__ADS_1


Putri hanya menganggukkan kepala tanpa membuka mulut karena suasana seperti berbeda karena ada suami pertamanya.


Sementara Bagus hanya bisa melihat semua itu dengan rasa sakit yang tidak bisa diungkapkan dan memilih untuk berjalan masuk ke dalam mobil.


Hingga saat Arya sudah masuk dan duduk di sebelahnya, ia langsung mengemudikan mobil dan melihat wajah Putri yang terlihat berbinar dan juga tengah melambaikan tangan. Hingga sekarang mengingat tentang masa lalu karena dulu ia berada di posisi Arya.


Setelah melihat dua pria itu berangkat bersama, Putri mulai melanjutkan langkahnya sampai di rumah nyonya Maria. Hari ini, pekerjaan yang akan dilakukan tidak terlalu banyak karena itu ia akan segera menyelesaikan semua dan berkunjung ke rumah nyonya Brenda.


Satu jam kemudian, terlihat Maria kini sudah menyampaikan tentang perasaannya yang sebenarnya tidak rela jika Putri berhenti. Namun, ia saat ini merasa tidak tega juga saat melihat wanita yang hamil besar masih susah bekerja.


“Aku akan sangat merindukanmu, Putri. Kamu selalu membantuku dan juga baik sekali. Aku juga suka dengan pekerjaanmu.”


“Nyonya Maria sangat berlebihan. Aku tidak pantas mendapatkan pujian.” Putri yang merasa sangat tersanjung karena dipuji, tidak ingin melayang tinggi, sehingga tidak membenarkan itu.


“Hei, kamu pantas mendapatkannya.”


Putri tersenyum, lalu melanjutkan kegiatannya. "Terima kasih, Nyonya Maria. Anda sangat baik."


***


Arya membantu hampir setengahnya di tiga lantai. Tangannya terasa kaku dan nyeri saat semua selesai. Ia meraih botol minuman yang didapatkannya dari seorang karyawan. Arya kini meneguk air untuk membasahi tenggorokannya.


Di samping Arya duduk seorang pria paruh baya yang katanya sudah bekerja di sana cukup lama.


“Hari ini akan sangat melelahkan. Kamu bisa bayangkan ada banyak sekali jendela kotor. Belum lantai yang selalu dilalui para karyawan di sini.”


“Ya, benar," sahut Arya yang masih menormalkan deru napas memburu karena kelelahan. Namun, mengedarkan pandangannya, mencari tahu apa yang bisa dilakukan setelah ini.


Tidak lama kemudian, pria paruh baya itu mengajaknya untuk naik ke lantai tertinggi. Di sana sudah menunggu dua orang yang memegang alat kebersihan.


“Katanya hari ini ada bersih-bersih kaca luar gedung. Kalian bisa membantu untuk mengontrol dan memastikan semua selesai dengan baik.”

__ADS_1


Arya menelan ludahnya kasar, lalu menatap ke bawah. Itu sangat tinggi, tidak biasanya ia berada di tempat yang bisa mengancam nyawa.


Orang-orang yang bekerja dengan keberanian seperti itu membuatnya semakin yakin, mereka bekerja dengan sungguh-sungguh dan tidak ada kata takut maupun menyerah.


"Arya, kamu baik-baik saja? Jangan bilang kamu takut ketinggian?”


Refleks Arya terbahak dan menyembunyikan kebenaran bahwa ia memang sangat takut jika alat yang melindunginya putus saat berada di atas dan berakhir kehilangan nyawa.


“Tidak. Hanya sedikit merinding saja. Di sini sangat tinggi.”


“Lama-lama juga akan terbiasa. Semua aman karena ada alatnya.” Menepuk pundak kokoh Arya dan mulai memberikan perintah.


Satu persatu dari mereka mengenakan alat yang sudah disiapkan. Arya pun ikut mengenakan alat yang disebut harness agar aman saat berada di ketinggian.


“Satu, dua, tiga! Turunkan perlahan!”


Arya mengikuti para pekerja lain dan mulai mengerti. Kemudian meraih alat pembersih, setelah menyemprotkan air. Ia menggunakan alat untuk membuat kaca terlihat kembali bersih dan bisa memantulkan bayangannya.


Cukup lama mereka ada di ketinggian itu. Hingga akhirnya selesai dan Arya merasa kakinya kaku hingga menjalar ke seluruh tubuhnya.


“Kamu baik, baik saja?”


“Iya," sahut Arya yang masih menormalkan tekanan jantung saat berpacu lebih cepat karena baru saja mengerjakan sesuatu yang menguji adrenalin.


'Ini benar-benar sangat gila! Bagaimana jika alat itu putus dan tubuhku terjun bebas ke bawah? Aku pasti akan mati dengan tubuh remuk dan bersimbah darah. Membayangkan saja membuatku merinding. Jika aku mati, apakah papa akan menyesal karena telah menyia-nyiakan putranya sendiri?'


Beberapa orang tertawa saat melihat wajah pucat Arya yang malah tengah melamun. Meskipun mengetahui bahwa pria itu adalah penerus perusahaan, tetapi sudah bersikap biasa karena memang pria itu yang menyuruh agar tidak ada rasa canggung di antara mereka ketika bekerja sama ketika bekerja.


Apalagi dibutuhkan kerja sama antara sesama pekerja agar pekerjaan cepat selesai, sehingga bersikap biasa pada putra pemimpin perusahaan sesuai dengan perintah. Berharap tidak akan dipecat jika nanti pria itu suatu saat nanti akan memimpin perusahaan.


Hingga beberapa saat kemudian, ada seorang wanita yang menawarkan minum dan membuatnya menoleh ke arah samping kanan.

__ADS_1


“Minum ini!”


To be continued...


__ADS_2