
Keesokan harinya di rumah yang merupakan kontrakan Putri, pagi sekali pria itu bangun.
Terlihat pagi ini, Arya sudah bersiap untuk berangkat. Akan tetapi, Putri masih tidur dengan pulas. Tidak ingin mengganggu istrinya, Arya memilih untuk meninggalkan pesan di ponsel.
Aku berangkat kerja dulu, Sayang. Hari ini ada ini ada beberapa pekerjaan yang harus dilakukan lebih awal.
Arya mengecup kening sang istri yang semalam tidak bisa tidur. Ia merasa iba karena Putri kurang tidur dan efek percintaan panas mereka, akhirnya sang istri kelelahan dan tidak bangun awal karena sudah pukul tujuh masih meringkuk dengan guling.
Arya melangkah keluar kamar dan berlanjut ke halte.
Setengah jam kemudian, hingga sampai di kantor, sudah ada kepala cleaning service yang berdiri di pintu lobi dan menunggu kedatangan beberapa petugas kebersihan lainnya.
“Semua berbaris di sana! Aku akan menjelaskan pada kalian kenapa kita berada di sini pagi ini.”
Arya mengambil posisi di samping Rani. Ya, wanita itu memilih untuk mengikuti pekerjaan pagi ini daripada mengambil libur karena kakinya yang cidera.
Meski dengan terpincang-pincang, Rani masih berusaha untuk bisa bekerja dengan baik.
“Hei, Pincang! Kenapa kamu tidak mengambil cuti saja?”
“Apa kamu mau membagi sebagian uangmu untukku?”
“Kamu gila?” umpat Rani dengan wajah masam.
“Jika tidak, jangan banyak berbicara lagi, dan segera selesaikan pekerjaanmu."
Jam kerja terus berjalan hingga akhirnya mereka selesai dengan kegiatan pagi ini. Arya beristirahat sejenak di salah satu kursi kantin, lalu memesan minuman dingin di sana.
Tidak hanya Arya, ada banyak sekali petugas kebersihan yang duduk berkelompok. Hanya Arya saja yang tidak mendapatkan teman untuk diajak mengobrol, hingga Rani duduk di depannya.
“Sendirian? Tidak punya teman? Kenapa aku jadi kasihan padamu?”
“Jangan banyak berbicara.”
"Maafkan aku!"
"Maaf, di sini adalah tempat umum, terserah aku ingin berbicara seperti apa? Jika kamu keberatan, silakan pergi dari sini.”
Arya tidak menjawab dan hanya diam sembari menyeruput minumannya.
Selesai dengan jam istirahat pertama. Arya kini berada di lantai satu. Seperti biasa, lobi adalah tempat terakhir yang menjadi wilayahnya bersama Rani.
Dengan alat-alat kebersihan yang ada di tangan masing-masing, mereka mulai bekerja pada jam-jam terakhir hari ini.
"Hingga akhirnya semua selesai juga!”
Baru saja Arya merasa lega dengan pekerjaan yang kini telah selesai. Tiba-tiba saja kepala cleaning service mengatakan bahwa Arya harus lembur untuk karyawan di lantai tiga dan empat.
__ADS_1
Oleh karena itu, Arya memegang satu HT yang akan digunakan untuk berkomunikasi bersama beberapa karyawan di sana.
Awalnya, Arya merasa keberatan, bukan karena pekerjaannya yang terlalu banyak.
Akan tetapi, ia sedang memikirkan Putri yang ada di rumah seorang diri, dengan keadaan hamil besar. Pesan singkat dikirimnya pada Putri.
Hari ini aku akan lembur. Kamu tidak takut, kan? Jika aku pulang malam?
Tidak apa-apa, Sayang. Selesaikan dulu pekerjaanmu. Aku yakin, perusahaan lebih membutuhkanmu.
Baiklah. Apa kamu sudah makan?
Sudah. Kamu?
Belum, setelah ini, aku akan makan.
Cepat makan agar tidak kekurangan tenaga saat mengerjakan pekerjaanmu.
Arya tersenyum, ponselnya kembali masuk ke saku pakaian setelah membalas dengan pesan gambar. Pria itu berjalan ke lantai tiga, lalu menghampiri seorang karyawan yang tengah mengerjakan laporan.
“Hei, apa ada yang bisa aku bantu? Aku dengar kamu meminta kepala cleaning service untuk menyuruhku pulang terlambat malam ini."
“Ya, kemarilah! Aku ingin kamu membantuku."
Aku akan memberikan uang penuh padamu.”
“Kapan?”
“Baiklah, satu jam lagi, siapkan uangnya.”
Arya duduk di depan komputer. Matanya tampak melihat deretan huruf dan angka pada layar datar itu.
Satu persatu laporan dimasukkan sesuai dengan formatnya. Hingga semua selesai, Arya benar-benar mendapatkan uang itu dalam satu jam. Senyumnya merekah dengan uang di tangan.
Mereka memutuskan mengakhiri pekerjaan malam ini dan kembali ke rumah masing-masing.
***
Selama kepergian Putri, beberapa kali bocah laki-laki berusia tiga tahun itu terkadang sesekali ikut Bagus bekerja.
Anak yang masih balita itu menjadi korban dari keegoisan sang ibu yang tergoda oleh pria lain, hingga memilih meninggalkannya. Malaikat kecil itu kini terlihat lelah setiap kali pulang dari berkeliling bersama ayahnya.
Hingga akhirnya ada salah satu tetangga yang merasa iba dan kasihan pada Bagus, juga Putra.
Pagi ini, saat Bagus akan mengajak Putra untuk bekerja, seorang wanita paruh baya datang ke rumah mereka. Bagus tampak terkejut dengan kedatangan tetangganya yang sangat jarang itu.
“Aku lihat kamu selalu mengajak Putra pergi bekerja. Apakah Putri tidak berniat untuk menjaga anaknya sendiri selama kamu bekerja?” tanya wanita dengan tubuh sedikit gemuk yang saat ini tengah membawa aneka jajanan berupa biskuit dan coklat yang disukai oleh anak kecil.
__ADS_1
Kemudian memberikan pada bocah laki-laki itu karena merasa iba ditinggalkan oleh sang ibu yang sudah menikah dengan pria lain.
Sementara itu, Bagus yang baru saja mengucapkan terima kasih, tidak ingin membahas mengenai sang istri karena hanya akan menambah dosa. Tentunya membicarakan dosa orang lain adalah hal yang hanya akan mengurangi pahala kebaikan yang selama ini ditanam.
"Putri sudah sangat sibuk dengan keluarga barunya. Apalagi ia sedang hamil saat ini. Tentu saja akan merepotkan di sana.”
“Bagaimanapun, Putra adalah anaknya sendiri.”
“Maaf, Nyonya Lily. Aku harus pergi bekerja sekarang, mungkin lain waktu kita bisa menyambung percakapan ini.”
“Tunggu! Kedatanganku bukan untuk membahas istrimu yang sudah pergi itu. Aku hanya ingin menawarkan diri untuk menjaga putramu. Kasihan jika ia harus selalu mengikutimu bekerja. Anak ini masih terlalu kecil untuk bisa mengikuti kegiatan orang dewasa."
"Biarkan aku menjaganya selama kamu bekerja. Kamu bisa menjemput anakmu setelah selesai.”
Wanita itu berusia 40 tahun dan sudah tidak mempunyai anak kecil di rumah. Jadi, ia berpikir ingin membuat suasana rumah yang sepi karena dua anaknya telah bekerja, membuatnya merasa sangat kesepian setiap hari tidak ada teman.
“Nyonya Lily sangat baik, tapi tetap saja aku merasa tidak enak hati. Bagaimana jika Putra nakal dan membuatmu kerepotan selama di rumahmu? Pasti aku yang akan sangat malu.”
Tentu saja Bagus sangat tertarik dengan tawaran dari wanita itu, tapi ia masih dibebani rasa ragu, sehingga tidak bisa langsung menerima kebaikan tetangganya tersebut.
“Sudahlah! Aku tahu bagaimana Putra. Anakmu ini sangat penurut dan juga manis. Ia tidak akan nakal bersamaku. Bukankah begitu, Putra? Apa kamu mau bermain di rumah Bibi?” tanya Lily dengan menampilkan seulas senyuman untuk merayu bocah balita yang menurutnya sangat menggemaskan itu.
Bahkan ia merasa heran pada Putri. Bagaimana bisa meninggalkan putra kandung sendiri hanya demi pria lain. Meskipun ia akui jika pria itu memang terlihat jauh lebih sempurna dibandingkan Bagus, tetap saja perbuatan seorang istri yang mengkhianati suami adalah hal yang sangat buruk.
Bahkan perbuatan itu sangat dibenci oleh Tuhan dan pastinya akan memberikan balasan yang setimpal pada seorang istri yang memilih untuk berselingkuh dengan pria lain. Apalagi saat masih sah menjadi seorang istri.
Sementara saat ini, Putra menatap mata nyonya Lily sekilas, lalu pada ayahnya yang kini memberikan tatapan balik. Seolah bocah berusia 3 tahun tersebut sedang mempertimbangkan akan ikut atau tidak.
Namun, seperti yang dilakukan oleh anak kecil, selalu menyukai makanan ringan, sehingga memilih untuk ikut bersama wanita yang baru saja membawa satu kantong plastik besar makanan tersebut.
“Ayah, Putra mau main.”
Anak itu mengatakan apa yang ingin dikatakan. Dengan wajah polos, kini ia melepaskan tangannya dari sang ayah, lalu berpindah ke tangan nyonya Lily.
“Apa Putra bisa berjanji untuk tidak nakal? Ayah akan segera pulang setelah bekerja.” Tentu saja saat ini Bagus masih merasa khawatir karena belum pernah menitipkan putranya pada wanita yang merupakan tetangganya tersebut.
Selama ini, ia setiap hari mengajak putranya bekerja, tetapi saat siang hari menitipkan pada istri temannya yang memang bersedia untuk membantu merawat Putra.
Apalagi semenjak kabar sang istri berselingkuh dan memilih untuk menikah lagi dengan pria lain, Bagus mendapat banyak rasa iba dan belas kasihan dari orang lain.
Meskipun sebenarnya ia sangat tidak menyukai hal itu, tetapi menyadari bahwa perikemanusiaan menjadi dasar seseorang merasa iba dan saat ini kemalangan menimpa rumah tangganya.
Hingga banyak orang merasa kasihan pada nasibnya dan juga anak-anaknya. Tentu saja ia tidak bisa membantah jika ada banyak orang baik yang mau membantu menjaga putranya saat ia pergi bekerja.
“Sudah, tenang saja. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan anakmu. Ia akan aman bersamaku dan aku akan merawatnya dengan baik. Bekerjalah dengan rajin, agar kamu bisa menyekolahkan Putra kelak. Anak ini sangat manis. Aku tidak akan menyia-nyiakannya jika menjadi Putri.”
Sebenarnya Lily tidak ingin membahas tentang masalah dari Putri yang sudah pergi dari kontrakan, tetapi setiap kali mengingat perbuatan wanita itu yang tega meninggalkan sang anak, tentu saja membuatnya merasa emosi.
__ADS_1
Hingga selalu berbicara tanpa di filter ketika membahas tentang Putri. "Maaf, aku tidak bisa mengendalikan diri ketika melihat putramu yang ditinggalkan oleh ibunya. Padahal usia segini seharusnya mendapatkan banyak kasih sayang dari orang tua, khususnya seorang ibu."
To be continued...