
Saat ini, Ari Mahesa benar-benar kesal dengan putranya yang masih terus membela wanita yang sangat dibenci selama ini.
“Wanita itu saja rela meninggalkan suami yang sudah lama ia nikahi demi agar dia bisa bersama denganmu. Dia bahkan nekad menikah lagi denganmu. Padahal belum bercerai dengan suaminya.”
“Dia meninggalkan suaminya karena memang pria itu tidak bisa memberikan kebahagiaan yang selama ini dicari, sedangkan bersama denganku, bisa mendapatkan apa yang tidak didapatkan dari suaminya terdahulu,” tukas Arya yang mengungkapkan pendapatnya.
Ia masih tidak terima dengan pikiran sang ayah terhadap wanita yang selama ini dicintai.
Ari Mahesa tertawa miris begitu mendengar pembelaan yang diberikan putranya untuk seorang wanita yang terlihat begitu rendah di matanya.
“Apa yang membuat kamu yakin jika ia benar-benar bahagia hidup beramamu?” tantang Ari Mahesa yang memberikan tatapan tajam pada putranya.
“Selama kami hidup bersama, Putri tidak pernah mengeluh. Ia bahkan mau berjuang untuk keluarga kecil kami dan hidup susah bersamaku,” sanggah Arya yang begitu yakin dengan pikirannya.
Seketika Ari berdecak malas. “Bisa jadi ia menutupi kebusukan itu dengan berpura-pura jika dia baik-baik saja di hadapanmu."
"Padahal tidak dengan hatinya. Bisa jadi ia hanya merasa kasihan dan sedang menjaga perasaanmu saja agar tidak terluka terlalu cepat."
"Jika saatnya sudah tiba nanti, dia akan menunjukkan keburukannya di depanmu. Bukankah itu juga yang dia lakukan pada suaminya dulu?"
"Apa kamu pikir, seorang wanita bisa bahagia jika terus bertikai dengan mertua dan tidak pernah mendapatkan restu dan pengakuan dari orang tua suaminya? Dia juga seorang wanita yang memiliki perasaan yang sama dengan wanita lainnya."
"Dia juga ingin diakui dan dianggap keberadaannya oleh kami, sebagai orang tuamu. Namun, sayangnya, ia tidak pernah mendapatkan itu.
"Tidak akan pernah! Apakah kamu pernah berpikir sampai sejauh itu? Membina rumah tangga itu, sejatinya tidak hanya menyatukan dua kepala dan hati yang berbeda saja. Namun, juga menyatukan dua keluarga yang berbeda agar menjadi satu.”
__ADS_1
Hati dan pikiran Arya masih ingin menampik dengan apa yang dikatakan oleh sang ayah Namun, semua berbading terbalik dengan nalar yang seakan sedang mencerna semua kalimat itu dan membuat lidahnya begitu kelu untuk mengucapkan kalimat sanggahan lain. Pada akhirnya ia hanya mengatupkan bibir dengan rapat.
“Pakai akal kamu, Arya! Kamu mengatakan jika dia dulu meningglkan suaminya karena tidak mendapatkan kebahagiaan yang bisa diberikan padanya."
"Lalu, bagaimana jika ada seorang pria yang datang dan bisa memberikan dia apa yang tidak bisa kamu berikan? Seorang pria yang mana kedua orang tuanya bisa menerima dia sebagai bagian dari keluarga mereka."
"Menerima wanita itu apa adanya tanpa banyak tuntutan. Apa kamu masih berpikir jika dia masih tidak akan berpaling?” Ari semakin gencar memprovokasi putranya. Ia harus memanfaatkan kesempatan yang ada sebaik mungkin.
“Kamu sangat naif, sehingga bisa dengan mudah tertipu dan dibodohi oleh wanita seperti itu. Wanita yang tidak jelas asal usulnya."
"Putri tidak akan bisa menjadi wanita baik-baik, Arya. Kamu hanya dijadikan umpan untuk menutupi aib dan kebusukannya saja. Ia memanfaatkan cintamu yang tulus itu untuk kepentingan dan kepuasaan dirinya sendiri."
"Ia tahu, pasti akan percaya jika mengatakan kamu adalah ayah biologis anak itu. Arya, jika anak itu benar-benar putramu, kami pasti akan menerimanya dengan senang hati."
"Bahkan menyayangi anak itu agar bisa kami besarkan dan didik dengan sebaik mungkin. Jika bayi itu adalah anakmu, bukankah itu merupakan kabar baik untuk kami karena akan mempunyai cucu dan penerus keluarga besar kita?"
Arya benar-benar sangat shock dan ditambah lagi perkataan panjang lebar dari sang ayah yang semakin menyudutkan sosok wanita yang sangat dicintai dan dipercaya selama ini.
“Aku akan menanyakan pada Putri langsung tentang kebenarannya, Pa.”
“Dengan cara? Kamu akan menunjukkan hasil tes DNA itu padanya dan mendesak dia untuk mengakui semuanya?” tanya Ari Mahesa dan mendapat anggukan dari putranya.
“BODOH!” umpatnya kemudian.
Arya yang saat ini tengah menundukkan kepala, seketika mendongak begitu mendengar sang ayah mengumpat dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Kamu pikir, dia akan mengakui begitu saja dan berlutut memohon maaf padamu? Dia tidak sebodoh itu, Arya. Ia bisa membodohi pria lain, bukan tidak mungkin juga bisa melakukan hal yang sama padamu."
"Dia adalah wanita yang sangat licik dan berbisa. Papa yakin, ia akan mencari cara untuk memanipulasi dan mengendalikan kamu agar semakin tunduk padanya.” Ari Mahesa menjelaskan dengan panjang lebar mengenai kebohongannya.
Tentu saja ia benar-benar sangat membenci Putri karena telah merebut putranya dan juga dianggap menjadi penyebab utama kecelakaan sang istri. Jadi, akan meneruskan usaha istrinya untuk menghancurkan wanita bernama Putri Wardhani tersebut.
“Apa kamu pikir, kami akan mencelakakan putra sendiri, Arya? Justru Papa melakukan semua ini hanya ingin kamu sadar karena kami sangat menyayangimu."
"Lihatlah! Semenjak kamu mengenal wanita itu, hubunganmu dengan kami menjadi renggang dan semakin buruk. Padahal puluhan tahun kami menyayangimu dan selalu memberikan semua hal terbaik."
Saat ini, Arya diam tak berkutik karena kalimat terakhir dari sang ayah memang benar adanya. Bahkan akal dan nalurinya tengah berperang saat ini. Nalar sedang bekerja untuk mencerna semua kalimat yang diucapkan oleh sang ayah dan apa yang telah ia lalui bersama dengan Putri selama ini.
‘Jika aku bukan ayah biologis Xander, lalu siapa ayah dari bayi itu? Tidak mungkin jika pria itu Bagus, bukan?’
Pertanyaan- pertanyaan semacam itu mulai bermunculan dalam benak Arya dan saat memikirkan kemungkinan tersebut, merasa sangat marah pada wanita yang selama ini dipercaya dan dicintai melebihi apapun. Hingga rela meninggalkan kemewahan dari keluarganya.
“Lalu apa yang harus aku lakukan, Pa?” tanya Arya dengan lirih dan wajah terlihat putus asa.
Pada akhirnya Arya menyerah dan menanyakan pendapat sang ayah.
Apa yang harus ia lakukan. Hatinya begitu nyeri hanya membaca hasil tes DNA itu saja. Ia tidak sanggup jika harus membayangkan Putri benar-benar mengkhianatinya.
Selama ini ia begitu mencintai istrinya dan belum siap jika harus menerima kenyataan yang menyakitkan ini.
Namun, inilah hidup. Tidak peduli siapa dan bagaimana, jika sesuatu itu memang sudah ditakdirkan, maka tidak akan bisa untuk menghindarinya.
__ADS_1
Apalagi menolak. Entah itu sesuatu yang baik ataupun buruk, tetap harus bisa menerima kenyataan dengan hati terluka.
To be continued...