
Keesokan harinya, Arya sudah siap berangkat. Akan tetapi, Putri masih berada di ranjang. Mata Putri yang baru saja terbuka, terkejut dengan suaminya yang akan pergi bekerja.
“Arya, maaf. Aku baru bangun. Aku siapkan makanan dulu, ya?”
“Tidak perlu. Aku makan di luar saja. Ini uang untukmu. Hari ini kamu hanya perlu memasak untuk diri sendiri. Mungkin aku akan pulang sedikit terlambat. Ada banyak klien yang perlu ditemui hari ini.”
“Ya. Menjadi staf pemasaran memang harus cekatan dan sangat sibuk. Aku harap semua ini bisa terbayar dengan baik ya, Sayang?”
“Ya. Bagaimanapun ini semua untukmu juga. Aku melakukannya demi keluarga ini.”
“Terima kasih. Kamu sudah banyak berubah menjadi seorang suami yang bertanggungjawab dan aku senang.”
Setelah berpamitan, Arya melangkah pergi dari rumah itu. Seperti biasa, ia akan menggunakan kendaraan umum untuk sampai di kantor.
Hingga saat tiba di kantor, Calista menyapa Arya di ruang kerjanya. Ya, wanita itu sudah hadir lebih dulu darinya.
“Kamu sudah sampai rupanya. Aku pikir ini masih terlalu pagi, bukan?”
“Tidak juga. Ini sudah siang, untukku. Baiklah, lebih cepat kita mulai, lebih baik. Benar, bukan?”
Arya mengangguk dan mereka mulai bekerja lagi hari ini. Laporan-laporan yang masuk sudah dikerjakan dengan baik. Berkas yang akan mereka berikan pada Henry dan sang ayah sudah diatur sedemikian hingga menjadi layak.
“Calista, presdir ingin bertemu denganmu.”
“Baik."
Calista menengok ke arah Arya sekilas, lalu berpamitan untuk pergi ke ruang pemilik perusahaan yang ada di lantai atas.
Ari Mahesa mempersilakan Calista untuk masuk. Mereka kini membicarakan tentang kepergian Arya dan Calista ke luar kota.
Perjalanan bisnis yang menguntungkan tentu akan disetujui oleh Ari Mahesa. Hanya saja, Calista juga harus bisa memberikan kepastian pada Ari Mahesa tentang perjalanan mereka tentang isi hati Arya selama bersamanya.
“Om tenang saja. Aku dan Arya tidak akan mengecewakan. Bahkan, asal om tahu, Arya berbohong padaku tentang statusnya yang sudah memiliki istri. Ia membiarkan aku berpikir bahwa masih belum memiliki siapa pun.”
__ADS_1
“Bagus, itu sebuah berita yang baik. Lanjutkan usahamu. Aku berdoa agar putraku segera luluh dan memilihmu untuk masa depannya.”
Calista tersenyum. Setelah percakapan itu, dan membawa proposal perjalanan bisnis yang disetujui, Calista memberitahu Arya mengenai kabar tersebut.
“Perjalanan bisnis kita disetujui. Aku menjelaskan pada presdir tentang semua keuntungan yang bisa didapatkan perusahaan,” jelas Calista yang didengarkan Arya.
“Kamu ini memang jenius. Tidak salah aku memilih tim untuk bekerja.”
Calista berbangga diri menerima pujian itu. Pekerjaan kembali berlanjut, tetapi saat mereka sedang fokus pada komputer di hadapannya, perut Arya mengeluarkan suara yang membuatnya malu. Suara itu terdengar sampai di telinga Calista.
“Kamu belum makan pagi ini?” tanya Calista langsung.
Arya meringis dan mengangguk.
Tiba-tiba saja Calista mengeluarkan bungkusan roti dari tasnya. Ia memberikan roti itu kepada Arya untuk mengganjal perut yang tengah lapar.
“Aku buatkan teh di pantri. Kamu tunggu sini ya?”
“Tidak masalah. Aku juga akan membuat untuk diriku sendiri.”
“Jika kamu tidak keberatan, baiklah.”
Calista berjalan ke pantri, lalu membuat dua cangkir teh hangat. Ia juga melihat ada Rani di sana yang sedang membuat minuman untuk karyawan lainnya.
Rasa ingin tahu Calista membuatnya bertanya pada Rani mengenai pekerjaan di sana.
“Hai, kamu yang biasa membersihkan lantai ini, bukan? Aku Calista.”
“Ya, aku Rani. Pekerja kebersihan di lantai ini.”
“Kamu sudah lama bekerja di sini?”
“Ya.”
__ADS_1
"Apa kamu mengenal staf itu?” tanya Calista sembari menunjuk ke arah Arya.
“Tidak. Aku hanya tahu jika ia anak pemilik perusahaan yang menyamar.”
“Jadi, kamu tahu siapa Arya rupanya.”
Rani merasa tidak nyaman dengan Calista yang kembali bertanya seputar rasa ingin tahunya terhadap perusahaan dan juga Arya.
Hingga Rani memilih untuk pergi dari sana dan tidak melanjutkan percakapan itu.
Kembali ke meja kerjanya bersama Arya. Calista meletakkan secangkir teh untuk Arya dan dirinya.
Mereka kembali bekerja dan menyelesaikan laporan sebelum melakukan perjalanan ke luar kantor.
“Hari ini ada dua klien. Semua itu klien baru yang harus kita rayu untuk mau bergabung.”
"Menarik. Aku yakin, kamu pasti bisa melakukannya. Kamu sangat pandai merayu.”
“Benarkah? Apa aku juga pandai merayumu dengan wajah ini?”
“Astaga! Konyol sekali aku ini!"
“Hanya gurauan, agar pekerjaan kita tidak membosankan.” Arya yang sebenarnya merasa stres dengan pekerjaan yang menumpuk akhir-akhir ini, sehingga memilih untuk mengalihkan dengan bercanda agar pusing di kepala menghilang.
“Baiklah. Apa kita bisa kembali fokus pada pekerjaan?” Calista yang berakting datar seperti biasa atas rayuan Arya, serasa jantungnya berdegup kencang karena gugup.
'Sial! Rasanya jantungku seperti mau meledak saat ini juga hanya dengan rayuan bernada candaan. Sayangnya aku tidak bisa langsung menghambur memeluk erat tubuh wangi maskulin yang sixpack ini karena hanya akan membuat Arya ilfil.'
Calista masih menunduk menatap ke arah dokumen karena berharap bisa menyembunyikan perasaan yang hampir meledak hanya dengan hal kecil yang berupa candaan dari pria pujaan hati.
“Ya. Tentu saja.” Arya saat ini kembali menatap ke arah laporan dari berkas yang ada di depannya dan mempelajari untuk disampaikan pada klien bisnis baru.
To be continued...
__ADS_1