Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
188. Tawaran menggiurkan


__ADS_3

Putri yang tadinya ingin beristirahat karena merasa sangat lelah, tidak kunjung bisa tidur nyenyak hari ini. Ia bahkan sudah memejamkan mata selama setengah jam, tetapi masih terjaga. Mulai semingguan ini, ia susah tidur nyenyak. Hal yang diketahui karena efek mendekati masa-masa kelahiran.


Ia sudah mengetahui hal itu karena telah tiga kali ini hamil dan tidak lagi merasa aneh. Akhirnya memilih untuk bangkit dari ranjang dan membuat ia mengambil air minum di atas nakas karena tenggorokan terasa sangat kering.


Hingga rasa dahaga mulai hilang setelah merasakan tenggorokan basah oleh air putih yang sudah dihabiskan satu gelas. Kemudian berniat untuk meletakkan kembali di atas nakas, tapi entah mengapa malah jatuh ke lantai dan sudah menjadi pecahan menghiasi lantai.


"Astaga! Kenapa aku sangat ceroboh?"


Putri menepuk jidat berkali-kali untuk merutuki kebodohannya dan beberapa saat kemudian terdiam menatap ke arah pecahan gelas tersebut.


Ia seolah mengingat akan sesuatu dan saat ini degup jantungnya berdetak kencang melebihi batas normal. "Gelas yang pecah ibarat sebuah pertanda buruk. Apakah akan terjadi hal yang buruk?"


Putri mencoba untuk mengusir pikiran buruk yang dirasakan. Namun, ia saat ini masih tidak bis menghilangkan itu dari hatinya.


Ia merasa mendapatkan firasat buruk ketika melihat gelas pecah tersebut. "Semoga tidak terjadi apa-apa pada keluarga kami."


Meskipun ia masih merasa sangat khawatir jika terjadi hal yang buruk, tetapi mencoba untuk berpikir positif karena berusaha untuk memenuhi sugesti baik di pikirannya. Ia tidak ingin dipenuhi dengan kekhawatiran karena akan berdampak buruk pada bayi yang ada di perutnya.


Putri kini membersihkan pecahan gelas tersebut dengan sangat hati-hati agar tidak sampai ada yang tersisa di lantai dan akan melukai kaki Arya seperti dulu.


Setelah merasa lantai telah sepenuhnya bersih, ia membuang di tempat khusus agar tidak mengenai seseorang seperti pemulung sampah.


Biasanya ia mengubur di dalam tanah karena berpikir jika itu jauh lebih aman dan tidak akan membahayakan orang lain. Namun, hari ini sudah malam, tidak mungkin menggali tanah dalam keadaan hamil besar seperti ini, sehingga berniat untuk menyuruh Arya besok pagi.

__ADS_1


Kemudian ia memilih untuk menunggu kedatangan Arya. Kini, ia duduk di ruang tamu sambil membaca pesan masuk dari beberapa orang, membuatnya tampak sibuk dengan ponsel.


Hingga akhirnya, seseorang terdengar datang dan mengetuk pintu rumahnya. Ia kini tersenyum simpul saat berpikir jika yang mengetuk pintu adalah sang suami. Namun, sekilas ia menatap ke arah jam di dinding dan membuatnya mengerutkan kening.


Jam dinding menunjukkan bahwa biasanya Arya pulang satu jam lagi, tapi hari ini pulang lebih awal dan membuat Putri merasa sangat senang.


Tidak membuang waktu karena ingin melihat camilan apa yang dibelikan oleh Arya, kini Putri membuka pintu dan ia seketika membulatkan mata begitu melihat seseorang berdiri tepat di hadapannya tengah menampilkan wajah masam dan garang.


Seolah sosok wanita di hadapannya tersebut akan segera memangsanya habis hanya dengan sebuah tatapan tajam.


Putri sangat terkejut dengan kedatangan wanita yang merupakan ibu Arya dan tak lain adalah mertuanya yang begitu mendadak. Refleks ia jadi teringat akan gelas pecah tadi yang dianggap adalah sebuah firasat buruk.


'Jadi ini pertanda buruknya? Wanita tidak punya hati ini pasti akan berbuat hal yang buruk padaku saat Arya tidak ada. Jika sampai dia berbuat jahat, aku akan berteriak sangat kencang agar para tetangga datang membantuku dari wanita jahat ini.'


Tanpa memberitahu terlebih dahulu akan datang, Rani Paramitha menatap Putri dengan wajah yang tampak emosi.


Wanita itu masuk begitu saja dan melihat ke dalam rumah. Memastikan apa saja yang mereka miliki, sampai Arya rela melakukan apapun demi wanita yang dianggap hina tersebut.


Ia berpikir bahwa Putri hanyalah seorang wanita hina miskin yang tidak pantas mendapatkan cinta dari putranya. Apalagi Arya adalah putra kebanggaan dan satu-satunya harapan keluarga Mahesa. Sampai kapan pun, ia tidak akan pernah menerima wanita itu sebagai menantu.


Rani kesal saat melihat Putri tampak baik-baik saja dengan kandungannya. Meskipun bayi yang ada di perut Putri adalah cucunya, Rani tidak pernah menganggap hal demikian.


Wanita itu masih membenci Putri sejak kedatangannya ke rumah pertama kali. Hingga kini membuat hidup Arya sangat sengsara. Hingga hari ini, kebencian itu semakin bertambah seiring berjalannya waktu.

__ADS_1


“Mama datang sendiri saja?” tanya Putri yang memilih untuk membuka suara untuk menguraikan suasana penuh keheningan terasa mencekam di dalam rumah kontrakan.


Sementara Rani dari tadi sibuk menormalkan kemurkaan yang membuncah di dalam hati. Ia benar-benar berpikir jika wanita yang ada di hadapannya tersebut harus segera disingkirkan dari Arya, Ia merasa sangat jijik melihat wanita yang berdiri di hadapannya.


Bagi Rani, wanita yang berselingkuh dari suami sangat hina dan tidak pantas untuk putranya. Kini, ia menatap tajam ke arah wanita itu mulai dari ujung kaki hingga kepala dan selalu merasa geram.


“Aku aku akan memberikan sejumlah uang, tapi tinggalkan Arya sekarang juga! Biarkan dia kembali ke rumah dan bekerja layak bersama papanya!” ujar Rani yang masih belum mengalihkan perhatian dari wanita dengan perut membuncit itu.


Seketika Putri membulatkan mata karena masih tidak menyangka jika wanita paruh baya tersebut tidak mau menyerah untuk memisahkannya dari Arya. Padahal jelas sekali bahwa Arya sangat mencintainya dan sudah berubah menjadi seorang suami dan calon ayah bertanggungjawab.


“Maksud Mama apa?”


“Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Kamu tidak pantas memanggilku dengan sebutan mama! Aku bahkan tidak sudi mendapat panggilan itu dari mulutmu.”


Telinga Rani terasa sangat panas mendengar wanita yang sangat ia benci itu memanggil seperti itu.


Ia tidak ingin dipanggil ibu dari bibir seorang wanita murahan. Bahkan rasanya saat ini ia ingin merobek bibir Putri untuk melampiaskan kekesalannya hari ini ketika melihat putra kebanggaan bekerja sebagai seorang cleaning service, sehingga memilih untuk melampiaskan pada wanita yang menjadi puncak dari segala masalah.


Hati Putri terasa teriris saat tidak pernah mendapatkan respon positif dari mertua. Bagaimana wanita itu bisa berkata kasar padanya. Padahal ia saat ini tengah mengandung cucu dari wanita yang dianggapnya sangat tidak berperasaan itu.


Ingin rasanya Putri melawan, tetapi mengingat bahwa wanita di depannya itu ibu dari suami, akhirnya hanya menyamakan posisi sebagai ibu mertua yang jahat.


Pikiran Putri menerawang, mengingat kembali beberapa adegan antara mertua dan menantu pada salah satu sinetron yang ada di televisi. Kemudian lamunannya buyar saat Rani memberikan satu amplop cokelat yang sudah bisa dipastikan berisi uang tunai.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2