
Selama setengah jam berlalu dengan suasana yang penuh keheningan karena pasangan suami istri tersebut sama sekali tidak mau membuka mulut.
Sementara itu, Arya yang saat ini langsung keluar dari mobil begitu tiba di rumah kontrakan dan menunggu hingga sang suami membuka pintu.
Begitu Bagus membuka pintu, ia langsung masuk dan melihat Putri sudah berjalan masuk ke dalam kamar untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Sementara ia memilih untuk membersihkan diri karena berencana untuk tidak melanjutkan bekerja karena ingin menunggu putranya yang baru pulang dari rumah sakit, sekaligus memperbaiki hubungan dengan sang istri.
Sebenarnya, ia sangat lapar karena dari tadi siang tidak nafsu makan karena memikirkan sang istri yang tidak ada kabar semalaman karena ponsel tidak aktif.
Namun, ia tidak ingin menambah rasa capek sang istri yang semalaman menunggu putranya di rumah sakit, sehingga berpikir untuk membeli nasi bungkus nanti sebagai makan malam.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan istriku? Kenapa dia tiba-tiba selalu merasa emosi setiap aku tanya? Sekarang malah ia tidak mau berbicara padaku."
Bagus yang sedang mandi, kini memikirkan sesuatu untuk mengobati amarah yang kini dirasakan oleh sang istri dan niatnya adalah nanti malam ingin memberikan yang terbaik.
'Lebih baik aku membeli obat kuat saja, agar bisa tahan lama saat bercinta nanti. Nanti saat aku membeli nasi bungkus, sekalian membeli obat kuat untuk tahan lama saat bercinta. Istriku akan kembali seperti semula dan tidak marah lagi setelah bercinta, itu yang selalu terjadi dari dulu.'
Bagus merasa yakin hubungannya dengan sang istri akan kembali baik setelah menyelesaikan di atas ranjang dengan berbagi peluh saat bercinta nanti. Bahkan saat ini, otaknya sudah dipenuhi oleh kegiatan intim mereka selama ini ketika bercinta.
Meskipun beberapa tahun terakhir ini, ia tidak sekuat dulu yang selalu memuaskan gairah Putri dan hal itulah yang membuat hubungan mereka sering mengalami pertengkaran hebat.
Setelah beberapa saat kemudian, ia keluar dari kamar mandi dan merasa tubuhnya sudah sangat segar. Bagus berjalan ke kamar untuk mencari pakaian ganti di lemari. Saat ia masuk, melihat sang istri tengah berbaring memeluk putranya dengan posisi memunggunginya.
Padahal niatnya adalah ingin Putri melihatnya saat telanjang dan sengaja berpakaian di dalam kamar.
"Sayang, aku mau keluar untuk membeli makanan. Kamu ingin makan apa malam ini? Aku akan membelikannya untukmu."
Sengaja ia memancing pertanyaan, agar sang istri berbalik melihatnya dan berencana untuk menurunkan handuk yang melilit tubuhnya bagian bawah.
__ADS_1
Namun, sama sekali tidak berhasil karena sang istri hanya menjawab pendek dan sangat singkat, hingga membuatnya kembali kesal, tapi harus bersabar agar tidak terjadi pertengkaran hebat dalam rumah tangganya di malam hari.
Apalagi saat putranya baru saja keluar dari klinik karena sakit dan sedang tertidur pulas.
"Aku tidak lapar. Pergi saja beli makanan yang kamu suka."
Di dalam hati, Putri merasa lega begitu mengetahui bahwa sang suami akan keluar, meski hanya sebentar karena niatnya adalah ingin segera menghubungi Arya untuk menanyakan hal yang sangat mengganggu.
'Semoga ia pergi lama, agar aku bisa menghubungi Arya. Malam ini, aku harus tahu apa yang menjadi penyebab sikapnya berubah padaku,' gumam Putri yang masih memeluk erat tubuh putranya dengan posisi miring ke kanan dan memunggungi sang suami.
Masih mencoba untuk bersabar, kini Bagus yang sudah melepaskan handuk sebatas pinggang dan berpakaian, tidak mengalihkan pandangan pada sosok wanita yang seolah enggan melihatnya.
"Kalau begitu, aku belikan nasi Padang kesukaanmu dengan lauk rendang. Apa kamu tidak titip sesuatu, Sayang?"
"Tidak!" sahut Putri yang sebenarnya merasa sangat malas untuk menanggapi pertanyaan dari sang suami yang kini memerintah padanya.
Menunggu jawaban dari Putri, Bagus masih terdiam di belakang wanita yang kini tengah bergerak dan ia bisa melihat wajah cantik sang istri.
"Baiklah, aku akan mandi dan pergilah sekarang karena sudah kelaparan!"
Sengaja Putri mengarang sebuah kebohongan karena ia ingin Bagus segera pergi dari rumah. Kemudian ia berjalan menuju ke arah kamar mandi tanpa menoleh ke arah belakang lagi untuk melihat sosok pria yang sangat membuatnya ilfill saat ini.
Merasa perlu membahas tentang sikap aneh yang ditunjukkan oleh Putri, Bagus memilih untuk menundanya karena tidak ingin ada yang mengetahui atau mendengarkan pertengkaran mereka.
Ia ingin menyelesaikan dengan cara yang terbaik saat perasaan sang istri sudah tenang. Pada akhirnya, ia memilih untuk segera keluar dari rumah kontrakan sempit yang sudah beberapa tahun ini menjadi tempatnya berteduh.
Lain halnya dengan apa yang dilakukan oleh Putri saat mengetahui bahwa sang suami benar-benar keluar dan secepat kilat ia mandi karena ingin segera berbicara dengan Arya.
Entah berapa menit berlalu, kini Putri sudah selesai mandi kilat dengan handuk melilit di tubuhnya.
__ADS_1
Tanpa berpakaian terlebih dahulu, Putri langsung mengambil ponsel dan menekan tombol panggil pada nomor pria yang sudah berhasil memporak-porandakan hatinya.
Selama beberapa saat ia menunggu panggilannya diangkat. Namun, sampai ponsel mati pun tidak juga diangkat dan berhasil membuatnya frustasi.
"Angkat, Arya. Apa yang terjadi padamu? Apa kamu sudah tidak mau lagi bertemu denganku setelah puas menikmati tubuhku? Bukankah kamu sendiri yang berjanji, bukanlah pria berengsek seperti itu?"
Wajah murung kini terlihat sangat jelas dari Putri dan ia berpikir bahwa pertemuan terakhir dengan Arya adalah di rumah sakit. Akhirnya ia memilih untuk menyerah dan melupakan hubungan cinta terlarang dengan pria yang kemungkinan besar telah bosan padanya.
Tidak ingin larut dalam kesedihan, kini Putri memilih untuk menenangkan diri dan membuka lemari. Mengambil pakaian dan melepaskan handuk yang menjadi pelindung terakhir tubuhnya.
Namun, di saat bersamaan ponsel yang tadi diletakkan di atas nakas berbunyi dan buru-buru ia mengambilnya. Di saat bersamaan, ia melihat panggilan video dari Arya dan karena merasa sangat senang melihat kontak pria yang sangat dicintai, refleks langsung menggeser tombol hijau ke atas.
Hingga ia menyadari kebodohannya yang sangat ceroboh begitu mendengar suara dari Arya yang menggodanya.
"Astaga! Apa kamu sengaja menggodaku dengan tubuh telanjangmu, Sayang?"
Putri yang refleks menunduk menatap tubuhnya, kini membulatkan mata dan langsung menghadapkan kamera ke belakang dan hanya terlihat lantai berwarna putih di kontrakannya.
"Aku sangat senang kamu menelpon karena sangat takut tidak akan bertemu lagi denganmu. Kenapa sikapmu tiba-tiba berubah tadi. Aku sudah berpikir bahwa kamu memilih untuk tidak akan pernah bertemu denganku lagi."
"Aku cemburu, Sayang. Aku cemburu pada putramu dan sekarang menelpon untuk memastikan sesuatu."
"Memastikan sesuatu apa? Jelaskan padaku karena aku benar-benar tidak paham. Apa yang membuat sikapmu tadi berubah padaku?" Putri mengerutkan keningnya karena tidak paham dengan kalimat ambigu dari Arya.
"Aku cemburu pada putramu dan ingin mengetahui pilihanmu. Seandainya disuruh memilih, siapa yang akan kamu pilih? Aku atau putramu?"
Refleks Putri langsung membulatkan matanya begitu mendengar pertanyaan dari Arya yang sangat susah untuk dijawabnya.
To be continued...
__ADS_1