
Satu jam telah berlalu, kini keduanya sudah bangkit berdiri dari posisinya dan berjalan keluar dari restoran yang ada di dalam hotel tersebut.
Arya kini menatap wanita yang bergelayut manja di lengannya seolah tidak ingin melepaskannya. Senyuman mengembang tak luput menghiasi wajahnya yang tampan saat melihat tingkah manja dari Putri.
"Lihat tuh, semua orang memperhatikan tingkahmu yang selalu menempel padaku. Sikapmu ini berbeda saat berada di dalam kamar waktu aku menelanjangimu tadi."
Putri refleks mencubit perut sixpack pria yang tengah digelayutinya itu.
"Issh... kamu yang tidak tahu malu berbicara mesum di tempat umum. Aku kan hanya ingin membuat semua orang yang melirikmu tahu bahwa kamu sudah memilikiku."
"Jadi, biar para wanita yang mengincarmu tahu bahwa kamu memiliki seorang kekasih yang cantik sepertiku. Anggap saja perbuatanku sebagai sebuah pengumuman," sahut Putri yang menyadari bahwa ia sangat posesif pada Arya.
Lain halnya dengan tanggapan dari Arya yang saat ini hanya terkekeh geli dan sekaligus merasa sangat senang dengan sikap Putri yang sangat posesif padanya.
"Sepertinya kamu sudah benar-benar tergila-gila terhadapku. Hingga kamu bisa bersikap seperti ini."
"Iya, aku memang sangat tergila-gila padamu dan akan memuaskan hasrat belanjaku dengan menghabiskan uangmu hari ini. Oh... ya, mana kartu kreditmu? Aku ingin melihat seperti apa kartu kredit orang-orang kaya. Mungkin hanya dengan memegangnya saja, aku bisa berubah kaya."
Putri kini mengarahkan telapak tangannya di depan pria yang terlihat geleng-geleng kepala saat melihat tingkahnya.
Tanpa ragu, Arya mulai mengambil dompetnya dari saku celana bagian belakang, dan menyerahkannya di tangan wanita yang masih mengarahkan tangan di depannya.
"Ini, kamu bisa memilih mengambil kartu kreditnya sendiri. Di sini, paling cuma ada satu juta karena selalu bertransaksi dengan kartu kredit. Bukan hanya memegangnya, aku akan memberimu satu kartu kreditku."
Tentu saja Putri kini membulatkan matanya begitu mendengar suara dari sosok pria dengan rahang tegas tersebut.
"A-apa? Kamu akan memberikan aku kartu kredit dan uang satu juta kamu bilang cuma? Padahal selama ini di dompetku hanya ada uang seratus ribu, paling banyak dua ratus ribu, tapi kamu, uang sebanyak satu juta kamu bilang sedikit?"
"Benar-benar tidak menghargai uang, kamu tidak pernah merasakan bagaimana susahnya orang miskin sepertiku."
"Orang miskin sepertiku, bahkan harus bertahan hidup dengan menahan lapar saat tangga-tanggal tua karena uang bulanan dari suami sudah menipis dengan cara makan mie instan."
"Karena itulah yang paling murah dan bisa menghemat pengeluaran. Terkadang untuk menghemat uang, aku jarang makan agar bisa lebih cepat mengumpulkan uang demi bisa membeli sesuatu yang kusukai."
__ADS_1
"Sungguh miris nasib orang-orang yang merantau di kota besar ini dan penghasilannya hanya pas-pasan, tapi kamu dengan seenaknya menghamburkan uang dan membuatku sangat iri."
Putri kini mengarahkan tangannya untuk menjewer daun telinga pria yang lebih tinggi darinya dan tersenyum menyeringai.
"Astaga... kenapa sekarang kamu malah menjewer telingaku? Kamu lebih terlihat seperti mama yang suka menjewer telingaku. Bukannya berterima kasih, tapi malah mengomel." Arya memegangi telinganya yang terasa panas dan sudah berubah merah.
"Biar kamu bisa lebih menghargai uang karena susah mencari uang."
Refleks Arya kini memilih membalas dendam dengan cara menyentil kening Putri. Bahkan bisa melihat ekspresi meringis dari wanita yang langsung mengusap kening.
"Jangan salahkan aku atas hidupmu yang sengsara!"
Putri hanya bisa terdiam dan menyadari bahwa semua yang dikatakan oleh Arya memang benar adanya.
Arya menatap dengan intens Putri yang terlihat tengah melamun, lalu ia mencubit hidung mancung tersebut.
"Kenapa dari tadi diam saja? Kamu tidak bisa menjawab karena perkataanku benar, kan?"
"Iya ... iya, kamu memang benar sekali. Sekarang aku mengaku kalah."
"Ini dompetmu, aku kembalikan. Aku tidak mau kartu kreditmu karena itu sama sekali tidak berharga karena bagiku, hanya kamu yang kuinginkan."
Arya yang sudah memegang dompetnya yang diberikan oleh wanita yang sangat dicintainya, merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan wanita secantik Putri dan sama sekali tidak materialistis.
Kemudian ia memasukkan kembali ke saku celananya.
"Terima kasih, Sayang. Sebagai hadiah dariku, kamu bisa bersenang-senang dengan memuaskan hasrat belanjamu karena kamu sudah berhasil memuaskan hasratku padamu. Jadi, aku membebaskanmu hari ini untuk bersenang-senang sepuas hati."
Arya langsung masuk ke dalam mobil setelah membuka pintu untuk Putri dan menyuruhnya duduk. Kemudian mengemudikannya menuju ke arah Mall yang cukup lumayan jaraknya dari hotel.
Mobil mewah tersebut mulai melaju meninggalkan Hotel, membelah kemacetan lalu lintas ibu kota Jakarta menuju salah satu Mall terbesar yang menjadi icon ibu kota.
Sementara itu, Putri asyik menatap sosok pria yang tengah sibuk mengemudi dan fokus menatap ke arah depan. Kemudian beralih menatap lalu lalang kendaraan yang melintas.
__ADS_1
'Semoga aku tidak bertemu dengan pria tua tidak berguna itu karena dia adalah supir taksi yang kerjanya di jalanan. Kira-kira aku beli apa, ya nanti saat di Mall? Sebenarnya aku ingin sekali menerima kartu kredit pemberian Arya, tapi tidak ingin terlihat seperti seorang wanita materialistis.'
'Bagaimana jika aku membeli banyak barang mulai dari pakaian, sepatu, tas, make up. Lalu apa lagi yang mau aku beli? Aah... aku kan jadi bingung. Mending aku pikir nanti saja lah setelah sampai di Mall.'
Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang tiga puluh menit, mobil mewah yang membawa Arya dan Putri telah sampai di pelataran Mall yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di ibu kota.
"Kita sudah sampai, Sayang." Arya mematikan mesin mobil dan melepaskan sabuk pengaman.
Kaki jenjang Putri mulai keluar dari mobil setelah mengangguk perlahan pada Arya. Tidak hanya itu, setelah menunggu beberapa saat, ia merasakan tangan kekar Arya melingkar di pinggangnya.
Kemudian mereka berdua berjalan memasuki area Mall. Kaki mereka melangkah beriringan dan melihat-lihat ke arah outlet yang berada di dalam Mall tersebut.
Sementara itu di saat bersamaan Arya mendengar suara dering ponsel miliknya berbunyi. "Aku terima telepon dulu, Sayang."
"Iya, ucap Putri dengan sekilas menoleh ke belakang dan melihat Arya berjalan menuju ke arah sebelah kanan, yaitu tempat yang tidak terlalu ramai untuk menerima panggilan telpon.
Sementara ia masih mengamati beberapa batang couple yang membuatnya ingin memilikinya bersama Arya dan benar-benar terlihat seperti pasangan kekasih yang serasi.
Sementara itu, begitu melihat nomor sepupunya yang tadi dikirimi pesan untuk meminta izin memakai apartemen yang kosong itu, Arya langsung mencari tempat yang lebih tenang dan buru-buru mengangkat telpon untuk berbicara dengan sepupunya yang saat ini berada di luar negeri.
"Halo, Brother. Apa benar kamu mau tinggal di apartemenku? Memangnya tante akan mengizinkannya?" tanya Risky di seberang telepon yang ingin memastikan tentang keinginan sepupunya.
Sementara itu, Arya kini memilih untuk berterus terang karena berharap Risky mau mengerti tentang rencananya.
"Bukan seperti itu. Aku tidak tidur di apartemenmu karena hanya akan sesekali singgah saja. Lagipula aku butuh tempat untuk menyimpan beberapa barang di apartemenmu. Kamu tidak akan melarangku, kan?"
"Jangan bilang kalau ini berhubungan dengan seorang wanita," ucap Risky yang ingin memperjelas tentang sepupunya.
"Itu benar. Aku mempunyai seorang kekasih dan butuh tempat untuk berduaan dengan kekasihku. Tidak mungkin aku harus selalu ke hotel karena itu akan banyak membuang uang. Kalau ada tempat yang gratis, buat apa aku buang-buang uang."
"Astaga. Ternyata kamu bahaya juga, Brother. Jadi, sekarang kamu sudah bercinta dengan wanita itu? Bagaimana rasanya? Ayo cerita soal itu ke aku!" ucap Risky dengan nada penasaran.
Beragam pertanyaan dilayangkan oleh sepupunya tentang malam pertama dengan Putri yang sangat menggairahkan dan membuatnya tidak bisa berhenti. Keingintahuan dari sepupunya hanya membuatnya terkekeh.
__ADS_1
To be continued...