
Putri yang bisa melihat wajah tampan itu lagi, kini merasa sangat senang atas ajakan Arya. Awalnya ia berpikir bahwa pria itu sudah tidak mau bertemu lagi dengannya. Namun, hari ini sudut bibirnya melengkung ke atas begitu mendengar ajakan sang kekasih yang masih ingin bertemu dengannya.
"Tentu saja aku mau. Nanti pukul sepuluh, aku kirimkan alamatnya karena tidak mungkin menyuruhmu menjemputku di kontrakan karena tidak ingin semua tetanggaku melihatmu dan malah jatuh cinta padamu."
"Astaga, ternyata kamu bisa merayu juga, Sayang. Baiklah, aku tunggu alamatnya. Oh ya, apa pria tua tidak berguna itu sudah pergi?"
"Sudah. Pagi-pagi sekali ia berangkat kerja dan pulang malam. Apa hari ini kamu akan melarangku pulang lagi?"
Merasa bingung harus mencari alasan apa lagi jika sampai tidak pulang lagi, Putri ingin memastikan semuanya. Hingga jawaban dari Arya membuatnya lega.
"Tidak, aku tidak ingin ilfil padamu gara-gara anakmu sakit lagi dan mendapatkan perhatian kurang darimu," sahut Arya yang kini sudah mengatur rencana di apartemen sepupunya karena ia ingin memberikan sebuah kejutan pada sosok wanita yang digilainya.
"Jangan lupa berdandan yang cantik karena aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang."
Putri kini bertambah penasaran karena Arya selalu mengatakan kalimat ambigu dan tidak mau berterus terang, sehingga sibuk menebak-nebak sendiri sebelum mengetahui jawabannya.
"Sepertinya hobimu adalah membuatku penasaran. Kenapa tidak katakan saja padaku sekarang, agar bisa bersiap-siap."
"Sabar, Sayang. Nanti juga kamu akan tahu. Aku harus pulang karena akan bersiap-siap. Aku tutup telponnya. Bye, Sayang."
Putri yang sebenarnya belum merasa puas berbicara dengan Arya, tetapi harus merelakan berpisah sementara waktu.
"Ingin sekali aku menjalani hubungan normal dengan Arya, seperti ia tidak menyembunyikan hubungan kami saat berada di rumah dan menunjukkan aku pada orang tuanya."
"Mungkin aku harus bersabar sampai bercerai dengan pria itu. Baru Arya akan memperkenalkan pada orang tuanya."
Putri yang kini memikirkan sesuatu, yaitu putranya yang harus dijaga oleh seseorang dan ia memutuskan untuk mengirimkan pesan pada wanita yang kemarin menjaga putranya.
"Lebih baik wanita itu menjaga putraku di sini dan selalu berada di dalam rumah dengan mengunci pintu, agar tidak ada yang melihatnya."
__ADS_1
Putri yang baru saja mengirimkan pesan pada wanita yang kemarin menjaga putranya, dengan mengirimkan alamat kontrakan.
"Semoga putraku tidak sakit lagi karena itu hanya akan membuatku pusing jika sampai pria tua itu bertanya macam-macam lagi padaku."
"Mungkin aku harus membahas tentang hubungan ini dengan Arya nanti karena aku sudah tidak kuat lagi terlalu lama bersama dengan pria tua tidak berguna itu. Aku harus menuntut cerai, agar bisa menikah dengan Arya nanti."
Mengetahui bahwa meskipun ia berkali-kali meminta cerai, tetapi tidak akan dikabulkan oleh pria yang sangat mencintainya.
'Aku butuh uang untuk menggugat cerai Bagus di pengadilan karena hanya itu satu-satunya cara untukku segera berpisah dengan pria itu. Apa Arya akan memberiku uang untuk mengurus perceraian? Atau melarangku karena seperti yang dikatakannya, bahwa lebih baik diceraikan daripada menuntut cerai.'
'Sebenarnya itu sama saja, tetapi pikiran Arya berbeda. Sepertinya aku harus merayunya.'
Baru saja ia selesai bergumam panjang lebar di dalam hati, seperti biasa, mendengar suara dari putranya yang selalu menangis saat terbangun dan membuatnya mulai melakukan tugasnya sebagai seorang ibu yang baik untuk putranya.
Mulai dari memandikan, menyuapi dan menemani bermain. Hingga suara ketukan pintu terdengar dan sudah diketahuinya bahwa yang datang adalah wanita yang akan menjaga putranya.
Ia ingin memastikan tidak ada orang yang melihat kedatangan dari wanita berbadan gemuk itu. Oh ya, apa tadi ada yang bertanya padamu saat berjalan kaki ke sini?"
"Tidak ada karena aku naik ojek online dan turun tepat di depan rumahmu. Memangnya ada apa?" tanya wanita yang kini tengah menatap ke arah bocah laki-laki yang akan dijaganya.
"Apa Putra sudah sembuh?"
Putri yang merasa sangat lega karena berpikir mungkin tidak akan ada yang melihat wanita itu saat tiba di kontrakannya.
"Iya, sudah sembuh dan tidak rewel lagi. Nanti saat lapar, tolong goreng telur saja karena aku tidak memasak dan di kulkas hanya ada telur saja. Aku belum sempat belanja karena sangat sibuk."
"Baiklah, aku akan menggoreng telur nanti. Oh ya, kamu nanti pulang, kan? Aku khawatir putramu merindukanmu dan sakit lagi."
Ikatan batin antara seorang anak yang merindukan ibunya hingga membuatnya sakit, sudah sering dilihat karena dari dulu bekerja dengan menjaga anak kecil.
__ADS_1
"Aku akan pulang sore nanti. Jadi, tenanglah. Oh ya, jangan pernah membuka pintu dan tetaplah berada di dalam saat menjaga putraku. Orang-orang di sekitar sini tidak pernah bisa menjaga mulutnya dan selalu bergosip."
"Aku tidak ingin ada orang yang menganggapku adalah seorang wanita sok kaya karena membayarmu untuk menjaga putraku. Sebenarnya aku bekerja dan tidak ingin ada yang mengetahuinya karena malas meladeni berbagai macam pertanyaan yang tidak ada habisnya."
Putri yang kini sibuk mengusap lembut rambut putranya, menunjukkan sesuatu, yaitu permen coklat yang kemarin dibeli di Mall bersama dengan Arya.
Bukan pakaian yang ia belikan karena akan ditanya oleh Bagus, sehingga ia memilih untuk membelikan coklat. Meskipun sebenarnya sang suami melarang karena coklat akan merusak gigi, tetapi berpikir sesekali tidak masalah.
Tentu saja merayu putranya agar tidak menangis saat ia pergi bukanlah hal yang sulit, yaitu mengalihkan perhatian dengan banyaknya permen coklat yang tadi dikeluarkan dari dalam tas.
Usahanya pun berhasil dan membuat putranya kini sudah berbinar sambil menikmati coklat.
Saat perhatian putranya teralihkan, kini Putri telah memberikan kode pada wanita itu, agar mengunci pintu saat ia pergi.
Kali ini, ia pergi melalui pintu belakang karena tidak ingin banyak tetangga yang melihat dan bertanya padanya. Memilih jalan pintas yang lebih cepat sampai ke jalan utama, dimanfaatkan Putri dan ia sudah mengirimkan alamat halte bus yang tak jauh dari gang kontrakannya.
Selama beberapa menit ia menunggu, kini bunyi klakson membuatnya mengalihkan pandangannya yang awalnya dari layar ponsel dan menatap pada sosok pria yang berada di dalam mobil tengah membuka kaca mobil.
Melihat sosok pria tampan yang memberikan kode padanya agar segera masuk ke dalam mobil, membuatnya buru-buru melangkah mendekat dan sudah duduk di sebelah Arya
"Kamu tampan sekali, Arya. Sekarang kita mau ke mana?"
Arya hanya tersenyum simpul saat mendapatkan sebuah pujian dari Putri. "Kita ke apartemen sepupuku. Ada kejutan untukmu. Bersiaplah!" ucap Arya yang kini sudah mengemudikan mobil meninggalkan halte bus dan fokus menatap ke arah depan.
Sementara itu, Putri yang merasa sangat penasaran dengan kejutan dari Arya untuknya, ingin sekali bertanya, tetapi tidak bisa melakukannya karena takut jika pria dengan pahatan sempurna tersebut ilfil padanya.
'Berada di dekat Arya selalu membuat saya merasa harus berhati-hati karena tidak ingin bosan maupun ilfil saya,' gumam Putri yang kini memilih diam dan menatap ke arah jalan raya dengan banyaknya kendaraan yang melintas.
To be continued...
__ADS_1