
Puas mengumpat di dalam hati, karena kebodohan Bagus, kini Amira beralih menatap ke arah sosok pria yang masih berdiri di sebelah kanannya.
Pria yang sudah tidak punya harga diri lagi ketika membuat sang istri menikah dengan pria lain dan sama sekali tidak melihat aura kebahagiaan di hari ini.
Meskipun sekarang sedang mengamati keadaan dari malaikat kecil tanpa sayap tengah bahagia dengan dunianya, diketahui Amira Tan bahwa itu semakin membuat Bagus merasa sangat terluka
"Tinggalkan rumah itu dan tinggallah di apartemenku sementara waktu. Anggap ini adalah kebaikan dari seorang kakak ipar. Tidak mungkin kamu bisa tinggal dalam satu rumah dengan para pengkhianat, bukan?"
Hanya keheningan yang kini melanda antara adik dan kakak ipar tersebut.
Apalagi saat ini Bagus seperti kehilangan seluruh tenaganya. Bahkan untuk bersuara pun seperti tidak mampu. Apalagi menanggapi perkataan dari iparnya yang diketahui sangat iba padanya.
Tidak, bukan itu yang ia harapkan dari orang-orang padanya. Ia sama sekali tidak menginginkan belas kasihan dari orang lain.
Apalagi semenjak dulu, ia adalah tipe pria yang mandiri, pekerja keras dan bukanlah seorang pria lemah.
Semua itu karena ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara dan harus kehilangan orang tua saat masih sekolah pada tingkat akhir SMA.
Ia harus bekerja pada usia 18 tahun setelah pulang sekolah, apalagi harus merawat sang adik yang juga masih sekolah di tingkat akhir SMP.
Bagus dulu sangat yakin dengan pepatah 'Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil'. Akan tetapi, setelah hari ini, semua keyakinannya benar-benar telah sirna bagaikan debu tertiup angin.
"Pergilah, Amira! Aku tidak butuh belas kasihan semua orang yang iba padaku. Termasuk kamu. Aku akan tinggal di sana karena itu adalah rumah kontrakan yang sudah kubayar penuh selama dua tahun dan masih tersisa satu tahun."
"Aku berhak tinggal di sana, buat apa keluar? Aku pasti bisa menangani semua masalah ini. Bahkan saat masih sekolah, aku mengalami hal yang jauh lebih buruk dari ini."
Mungkin jika Amira mendengar itu beberapa saat lalu sebelum melihat pernikahan Putri dan Arya, ia akan kembali murka dan memukul punggung lebar pria dengan wajah muram dan menurutnya sedang berusaha sok kuat itu.
Namun, berbeda dengan sekarang, ia benar-benar tidak tega melihat nasib pria itu, sehingga memilih untuk mengiyakan apapun yang diinginkan oleh seorang suami yang dikhianati. Ia kini tertarik dengan cerita masa lalu dari Bagus.
"Apa yang terjadi dulu padamu? Apa aku boleh mengetahuinya?"
Keheningan yang melanda seolah membuat rasa tidak nyaman antara Amira dan Bagus.
Namun, Amira Tan sama sekali tidak memperdulikan apapun, sehingga kini ia masih berada di sana dan tidak pergi, meski sudah diusir oleh Bagus.
__ADS_1
Hanya embusan napas kasar dan panjang yang terdengar dari Bagus ketika menanggapi keinginan dari seorang Amira. Ia mengetahui bahwa wanita itu tidak akan pernah berhenti mengejar-ngejarnya jika belum mendapatkan keinginan.
Ia sadar bahwa itu akan membuat kepalanya makin pusing. Kini, ia memilih untuk melangkahkan kaki panjangnya menuju ke area rerumputan. Tentu saja ingin melihat malaikat kecilnya bermain dengan beberapa anak yang sebaya di taman.
Kini, ia mengingat masa-masa kelam penuh air mata 12 tahun lalu.
Bagus Setiawan adalah anak sulung dari dua bersaudara di keluarganya. Ia memiliki adik perempuan yang empat tahun lebih muda darinya.
Nasibnya sebenarnya tak jauh beda dengan Putri sekarang, yaitu sudah tidak mempunyai orang tua karena meninggal.
Meskipun ia tahu bahwa ayah kandung Putri masih ada, tapi ia berpikir bahwa itu tetap ayah sang istri dan harus disebut ketika menikah.
Dulu saat pertama kali bertemu dengan Putri, wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama tersebut masih memiliki orang tua yang lengkap, sedangkan ia sudah kehilangan kedua orang tuanya sejak masih remaja.
Kenangan itu merupakan sesuatu hal yang sangat menyakitkan jika harus ia ingat kembali. Di mana dulu kedua orang tuanya harus menjadi korban kecelakaan besar dalam sebuah perjalanan panjang menuju luar kota.
Bagus masih ingat sekali tentang kejadian di waktu itu. Kedua orang tuanya pamit kepadanya untuk mengunjungi sang kakek yang sedang sakit, sedangkan ia tidak bisa ikut karena masih dalam hari-hari sekolah, sehingga memilih tinggal untuk menjaga rumah dan menemani adik perempuannya.
Akan tetapi, alih-alih mengunjungi sang kakek, kedua orang tuanya yang justru harus pergi lebih dulu untuk menghadap sang Maha Kuasa karena kecelakaan tersebut.
Dalam sekejap, laki-laki itu menjadi sadar bahwa ia hanya akan bersama adiknya melewati hari-hari di dunia yang kejam. Ia harus melewati masa pendewasaan seorang diri tanpa bantuan dari kedua orang tuanya lagi dan demi saudara perempuannya.
Walaupun ia adalah seorang laki-laki, tapi tetap saja rasanya sangat berat baginya untuk menjalani semuanya. Belum lagi fakta bahwa pada saat itu ia masih remaja yang sedang duduk di bangku SMA.
Bagus masih sangat membutuhkan kedua orang tuanya, tapi mungkin Tuhan lebih sayang kepada mereka.
Hingga membawa orang tuanya untuk pulang ke rumah yang sesungguhnya, bahkan tanpa pamit lebih dulu kepada putra mereka satu-satunya.
Kejadian itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, tapi ingatannya masih sangat membekas di dalam kepala Bagus, bahkan sampai saat ini.
Waktu itu, ia cukup was-was menunggu orang tuanya yang seharusnya sampai sejak satu jam lalu di rumah nenek. Bahkan harusnya orang tuanya sudah mengabari dirinya untuk kedatangan itu.
Akan tetapi, sampai tiga jam kemudian, tidak juga mendapatkan kabar apa pun baik dari ayah ataupun ibunya.
Tadinya masih berusaha untuk berpikir positif dengan pemikiran bahwa mungkin saja orang tuanya masih sibuk dengan sambutan-sambutan dari keluarga sang kakek sampai lupa mengabarinya.
__ADS_1
Namun, hingga dua jam berlalu, masih tidak mendapatkan kabar apapun. Pada waktu itu, perasaannya mulai menjadi tak enak.
Entah mengapa seperti ada sebuah perasaan negatif yang menguasai dirinya di saat lima jam berlalu, tapi tak juga ada kabar yang datang.
Dengan inisiatif yang tinggi, akhirnya menghubungi pihak keluarga dari sang kakek untuk mempertanyakan tentang keberadaan orang tuanya, sebab memang bisa saja mereka lupa memberitahu kalau keduanya sudah sampai.
Pada waktu itu, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan ia kini menghubungi pihak keluarga yang ada di luar kota.
Ia masih ingat sekali bahwa waktu itu menghubungi sepupunya untuk bertanya.
“Halo, Yud. Maaf menghubungi malam-malam, tapi aku ingin tanya. Apakah ibu dan ayah sudah sampai di sana? Dari tadi sore, aku sudah tunggu-tunggu, tapi belum juga ada kabar apa-apa."
"Aku kirim pesan juga enggak ada balasan. Awalnya, aku pikir di sana lagi sibuk ngurus kakek yang katanya sudah terlalu tua karena berusia 100 tahun lebih."
"Makanya sampai nggak sempat kasih kabar apapun. Tolong kasih teleponnya ke ibu karena aku mau bicara.”
Ia langsung berbicara panjang lebar pada saat itu, menanyakan tentang kehadiran dan juga alasan mengapa dirinya menghubungi sampai meminta disambungkan oleh sang ibu.
Waktu itu, Bagus sangat berharap bahwa sepupunya akan segera memberikan sambungan telepon kepada ibunya agar bisa bernapas lega dan tidak lagi berpikir yang macam-macam setelah berhasil mendengar suara dari wanita yang melahirkannya tersebut.
Namun, sepertinya pada hari itu, kesabaran dan rasa khawatir Bagus sedang diuji oleh semesta, sebab bukannya mendapatkan jawaban yang ia inginkan, sepupunya justru memberikan pertanyaan juga kepadanya yang membuat ia semakin merasa kebingungan.
“Sampai sekarang, orang tuamu belum datang. Aku pikir tadi kamu melantur karena baru bangun.
Kini, seketika detak jantungnya menderu dengan hebat pada saat itu. Sangat hebat, sampai Wahyu bisa mendengarnya dengan kedua telinganya sendiri.
“Ibu dan ayah belum tiba di sana?? Mereka benar-benar belum sampai di rumah kakek?”
“Belum. Orang tuamu enggak ada di sini.”
Jika bukan di sana, lalu di mana orang tuanya berada saat ini?
Bagus menjadi panik, bahkan sangat takut setelah tahu bahwa ia kehilangan kabar dari kedua orang tuanya dan tidak tahu ada di mana mereka saat ini.
To be continued...
__ADS_1