Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
73. Wanita gila


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, Bagus telah tiba di sebuah kantor yang cukup besar dan menjadi tempat praktek dari wanita yang menginginkannya untuk datang ke sana, tak lain adalah pengacara wanita yang tak dikenalnya.


Ia yang saat ini berdiri menjulang di depan bangunan tinggi di hadapannya tersebut, kini menelan saliva dan mencoba bersikap setenang mungkin. Kemudian mulai berjalan ke arah loby.


Ia menuju ke arah resepsionis dan menunjukkan kartu nama milik wanita tersebut pada salah satu pegawai untuk menanyakan di mana ruangan kerja sang pengacara.


Begitu mengetahui ada di lantai tiga, Bagus kini masuk ke dalam lift dan menekan tombol pada bagian kiri dan melihat angka digital bergerak naik.


Tidak membutuhkan waktu lama untuknya menunggu karena saat ini, bunyi denting lift sudah terdengar dan ia terlihat melangkah keluar dengan kaki panjangnya, serta melihat ke arah kanan kiri untuk mencari di mana ruangan yang tadi ditunjukkan oleh resepsionis.


Begitu melihat ruangan dengan nama pengacara yang tertera di kartu nama tersebut, ia langsung mengetuk pintu dan terlihat seorang wanita mudah yang membuka pintu.


Kebetulan ia datang bukan pada saat jam sibuk, sehingga sudah tidak melihat wanita itu sibuk dengan klien di dalam ruangan.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya wanita berseragam hitam putih dan terlihat mengerutkan kening melihat pria yang berdiri di hadapannya.


"Pengacara Amira Tan, aku ingin menemuinya karena ia yang menyuruhku datang ke sini," sahut Bagus dengan wajah datar.


Baru saja ia menutup mulut, mendengar suara dari dalam dan diketahuinya adalah suara dari sang pengacara yang tadi tidak sengaja ditemui dan sangat ingin diumpatnya karena berbicara seperti menghina pernikahannya dengan Putri akan berakhir.


"Masuklah!"


Wanita berseragam yang kini mengerti, memilih untuk berjalan keluar karena tidak ingin kehadirannya mengganggu. "Silakan, Tuan."


Bagus yang saat ini melihat siluet wanita tersebut berjalan keluar, kini memicingkan mata. "Kenapa ia langsung pergi?"


Berjalan masuk dalam ruangan yang cukup luas dan melihat sosok wanita yang sedang duduk di depan laptop. Bahkan ia melihat wanita itu sama sekali tidak melihat ke arahnya saat menyuruhnya untuk duduk.


Ia pun akhirnya mendaratkan tubuhnya di atas kursi dan tepat di hadapan wanita dengan rambut digelung ke atas tersebut.


"Sebenarnya apa maumu? Kenapa tadi mengatakan bahwa kau akan membantuku saat istriku menuntut cerai dariku. Jangan pernah berpikir bisa mengganggu keutuhan rumah tanggaku hanya dengan fitnahanmu."


Sosok wanita dengan rambut diikat ke atas bernama Amira Tan berusia 30 tahun tersebut tadinya sedang memeriksa daftar klien yang akan ditangani olehnya. Mendengar pertanyaan dari pria yang terlihat seperti sangat murka padanya, hanya ditanggapi dengan terkekeh.


"Maaf karena membuatmu merasa terganggu dengan perkataanku. Mengenai masalah tadi, sebenarnya aku hanya berbicara fakta."

__ADS_1


Refleks Bagus kini memicingkan mata dan semakin merasa kesal saat melihat respon dari wanita yang dianggapnya sangat sombong tersebut.


"Anda benar-benar luar biasa. Anda memang seorang wanita karir yang sangat hebat dan pastinya mempunyai banyak uang dan menganggapku hanyalah orang miskin. Sebenarnya apa tujuan Anda?"


Bagus menunjukkan jarinya yang saat ini mengenakan cincin kawin. "Aku sangat mencintai istriku dan sudah menikah dengannya selama lebih dari sepuluh tahun. Kami saling mencintai dan tidak akan pernah bercerai seperti perkataanmu tadi."


Kini, Amira Tan yang terlihat tertawa, meski tidak terbahak-bahak karena melihat pria di hadapannya yang dianggapnya bodoh tersebut.


"Astaga! Kau terlalu naif jadi suami wanita itu."


Bagus kini mengerutkan kening karena merasa sangat aneh dan sama sekali tidak mengerti apa yang diinginkan wanita di hadapannya tersebut yang membuatnya merasa sangat pusing.


"Lebih baik sekarang jelaskan apa yang kau inginkan!"


Amira yang ingin menguraikan kesalahpahaman antara mereka, kini membuka laci dan meraih bingkai foto berukuran sedang di dalamnya. Kemudian menyerahkan pada sosok pria di hadapannya.


"Apa kau mengenal wanita ini?"


Bagus yang kini menunduk menatap ke arah bingkai foto di atas meja, di mana di sana terlihat seorang wanita yang sangat tidak asing tengah memeluk seorang gadis kecil dengan rambut hitam panjang dan dikepang dua.


Amira kini menganggukkan kepala untuk membenarkan semua perkataan dari pria yang diketahuinya adalah suami Putri_ yang merupakan putri dari wanita yang telah menghancurkan keluarganya.


"Iya, itu aku dan wanita itu adalah ibuku. Jika kau sudah lama menjadi istri Putri, seharusnya mengetahui asal usul dari anak haram hasil perselingkuhan itu."


Amira yang dulu sempat mencari semua informasi mengenai putri dari wanita yang telah berselingkuh dengan ayahnya, hingga membuat hidup ibunya menderita. Bahkan saat sudah dikhianati, sang ibu mau memaafkan ayahnya.


Namun, ia sangat membenci sang ayah dan wanita yang berselingkuh dengan ayahnya, terakhir membenci wanita yang merupakan hasil dari hubungan gelap tersebut.


"Ingat ini baik-baik. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya dan aku sangat yakin jika suatu saat nanti, Putri akan meneruskan jejak ibunya. Jika itu terjadi, kau tidak perlu merasa kaget atau terkejut karena aku akan menolongmu."


Refleks Putri seketika langsung bangkit dari kursi dan memijat pelipis karena sama sekali tidak pernah menyangka jika rahasia keluarga Putri yang selama ini disembunyikan, ternyata ada yang mengetahui dan wanita itu sangat berhubungan dengan sang istri karena masih ada hubungan darah dengan Putri.


"Wah ... ternyata ayah kandung Putri adalah ayahmu? Kau pasti sangat dendam pada istriku, hingga memfitnahnya seperti ini. Aku yakin istriku tidak akan pernah berbuat seperti ibunya."


"Apakah kebencianmu pada ayahmu akan kau lampiaskan pada istriku? Kenapa kau tidak marah saja pada ayahmu? Di mana dia sekarang?"

__ADS_1


Amira yang saat ini masih terlihat sangat tenang dan sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan dari pria di hadapannya tersebut.


"Ayahku mengalami amnesia satu tahun yang lalu. Jadi, tidak perlu membahas orang yang tidak ingat apapun di sini. Apa kau ingin menghina orang yang mengalami kecelakaan hingga hilang ingatan?"


"Apa?" sahut Bagus yang terlihat membulatkan kedua mata dan kembali mendaratkan kasar tubuhnya di atas kursi.


Bahkan di saat bersamaan, embusan napas kasar terdengar jelas yang mengungkapkan bahwa ia saat ini benar-benar sangat menyesal karena telah berbicara kasar pada wanita yang menjadi korban dari keegoisan sang ayah.


"Jadi ayah Putri amnesia? Sebenarnya aku tahu bahwa Putri ingin mengetahui tentang semua hal mengenai ayahnya, tapi ia sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk itu."


"Aku mencari semua informasi mengenai tentang Putri. Begitu aku melihat wajahmu yang sangat tidak asing karena ada dalam daftar klienku yang tidak terduga nanti."


Amira Tan yang kini terdiam karena ingin melihat reaksi dari sosok pria di hadapannya saat membahas hal yang bersifat sangat privasi.


"Bersiaplah untuk sering keluar masuk pengadilan sebentar lagi."


"Astaga! Bukankah kau benar-benar sangat keterlaluan?" sarkas Bagus yang benar-benar merasa sangat kesal dengan pernyataan konyol yang didengarnya.


"Maaf. Hanya saja, aku ingin mengatakan padamu bahwa kemungkinan besar, Putri akan meneruskan jejak ibunya karena itu seperti sudah menjadi balasan dari apa yang ditanam karena hukum tabur tuai berlaku di dunia ini."


"Apa yang kita tanam, itulah yang kita panen nantinya."


Amira kini mencari sesuatu di laptop dan berniat untuk menunjukkan pada pria tersebut. "Ini adalah biaya jika kau mengurus perceraian dengan Putri. Namun, aku tidak akan memungut biaya padamu nanti."


Tidak tertarik dengan apapun yang dikatakan oleh wanita di hadapannya karena ia sangat mempercayai sang istri, Bagus kali ini benar-benar sangat kesal.


"Aku sama sekali tidak tertarik untuk mendengarkan kegilaanmu. Anggap saja urusan di antara kita telah selesai."


Bagus yang kini sudah kembali bangkit berdiri dari posisinya, memilih untuk melangkah menuju ke arah pintu keluar dan saat mengarahkan tangan untuk membuka kenop pintu, mendengar suara dari wanita tersebut.


"Jangan membuang kartu namaku karena kau akan membutuhkannya," ucap Amira dengan menatap intens siluet belakang pria yang merupakan suami dari adik tirinya.


Tidak ingin berlama-lama di dalam ruangan kerja wanita tersebut dan mungkin akan memicu gosip miring, Bagus memilih untuk segera pergi.


"Wanita itu benar-benar sangat terobsesi pada Putri, hingga berpikiran buruk dan menganggap bahwa istriku akan meneruskan jejak ibunya dengan berselingkuh di belakangku sampai hamil. Sepertinya ia sudah gila," ucap Bagus dengan perasaan berkecamuk dan kini sudah berjalan menuju ke arah lift yang membawanya turun ke loby.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2