
Kini, Ari terdiam begitu mengetahui apa alasan putranya datang. Awalnya ia berpikir jika Arya datang akan kembali ke rumah dan meninggalkan wanita itu, tetapi dugaannya benar-benar meleset.
Ia sama sekali tidak pernah menyangka jika putranya akan merendahkan harga diri dengan memohon padanya demi anak yang dianggapnya belum tentu adalah keturunan Arya.
Ari tidak yakin jika itu adalah cucu dari keluarga Mahesa karena saat menjalin hubungan dengan putranya, wanita itu masih tinggal serumah dengan suaminya. Hal itulah yang membuatnya tidak tersentuh sama sekali untuk merasa iba atau menerima wanita yang berhasil mempengaruhi putranya menjadi pembangkang.
Bahkan berpikir bahwa kemungkinan besar, bayi itu adalah bukan keturunan putranya, sehingga tidak akan pernah menerima wanita itu sebagai menantu, meskipun sudah menikah dengan Arya.
Mungkin jika Arya berhubungan dengan wanita yang masih single hingga berakhir hamil, responnya tidak akan seperti ini. Ia pasti akan memberikan restu dan tidak sekeras ini pada putranya.
Ari Mahesa sangat membenci seorang wanita yang berselingkuh dari sang suami karena menganggap lebih buruk dari pelacur dan selamanya tidak akan pernah diterima di keluarganya. Ia berpikir itu hanya akan mencoreng nama baik keluarga saja.
Selama beberapa menit belum ada jawaban dari keinginan Arya Hal itu membuat pria yang terlihat tidak berdaya itu kaku dan bingung untuk kembali berbicara. Arya kali ini kembali memanfaatkan keheningan di antara mereka dengan merayu sang ayah.
“Pa, kesalahanku ini memang tidak bisa dimaafkan. Tapi, kali ini, bantu aku untuk bisa membahagiakan istriku yang akan melahirkan. Aku sangat membutuhkan pekerjaan. Papa pasti tahu jika aku tidak bisa bekerja kasar."
Ari cukup tahu bagaimana kinerja putranya selama ini yang terkadang memang sering ia suruh untuk membantunya ketika sedang pusing memikirkan banyak pekerjaan di kantor.
Perasaan pria itu tidak bisa dibohongi, rasa sakit memang ada karena perbuatannya yang mempermalukan keluarga.
Akan tetapi, bagaimanapun Arya adalah putra satu-satunya dalam keluarga itu. Ia tidak ingin melihat putranya jatuh dalam lubang yang sama, tapi juga masih ragu untuk kembali memberikan kuasa pada Arya.
Sesaat ia berpikir dan mendapatkan sebuah ide di kepalanya karena selama Arya masih menjadi suami dari wanita itu, tidak akan pernah mengalihkan kekuasaan.
Sementara itu, sosok wanita yang dari tadi hanya diam itu merasa heran dengan sang suami yang terlihat seperti sangat susah untuk mengambil keputusan, sehingga ia geram dan memilih untuk merayu suaminya.
__ADS_1
“Sayang, tolong berikan pekerjaan pada putramu. Aku yakin Arya pasti bisa memimpin perusahaan dengan baik. Kita sudah susah payah sekolahkan Arya agar kelak bisa menjadi pimpinan di perusahaan keluarga."
"Kenapa membuat masalah menjadi sulit seperti ini?" ujar Rani mencoba merayu suaminya yang masih betah dalam keheningan.
Ari Mahesa menghisap gulungan tembakaunya, lalu diembuskannya kumpulan asap putih ke udara.
Tarikan napas yang terlihat kasar membuat jantung Arya berdetak dua kali lebih cepat. Ia yang sudah mendapatkan sebuah ide di kepalanya, kini mulai membuka suaranya.
“Jadi, sekarang kamu mengerti dengan sebuah kesalahan dan penyesalan?”
Lagi-lagi Arya menganggukkan kepalanya, tanda membenarkan semua yang dikatakan oleh pria dengan tatapan tajam mengintimidasi tersebut.
“Iya, Pa. Aku mengaku salah atas perbuatanku selama ini. Kali ini, aku mohon Papa mau memberikan posisi di perusahaan, agar bisa bertanggungjawab dan belajar mulai dari sekarang untuk bisa memimpin perusahaan.”
“Baiklah, hanya saja, ada syaratnya. Apa kamu siap untuk mendengarkan syaratnya?” Ari kini meletakkan puntung rokok yang masih diisapnya sedikit tersebut ke atas asbak.
Ragu, tetapi hanya ini jalan satu-satunya untuk bisa kembali dalam perusahaan keluarga. Dengan penuh keyakinan, Arya menyetujui apapun syarat yang akan dikatakan oleh sang ayah padanya.
“Aku siap mendengarkan dan menerima syarat yang akan Papa sebutkan. Jadi, syarat apa yang Papa maksud?" tanya Arya yang kini menunggu dengan perasaan berdebar-debar karena khawatir jika syarat dari sang ayah berat.
Kini, Ari Mahesa tersenyum menyeringai dan merasa bahwa putranya mulai ada dalam genggamannya. Puas, mungkin itu sangat mewakili perasaannya saat ini dan kini ingin putranya tidak main-main dengan pilihannya.
“Bagus, memang itu jawaban yang seharusnya aku dengar. Kamu bisa kembali dalam perusahaan dengan posisi sebagai staf biasa yang ada di lantai dua. Kamu tetap tidak diizinkan untuk tinggal di rumah ini dengan alasan apapun."
"Aku akan membantu biaya persalinan anakmu nanti. Untuk gaji yang akan kamu terima, sesuai dengan gaji staf perusahaan.”
__ADS_1
Arya menelan ludahnya kasar. Memiliki pekerjaan memang hal yang dinantikannya, tetapi, bagaimana bisa gaji staf biasa mencukupi kehidupannya? Ia bahkan tidak tahu, maksud staf biasa itu lebih tepatnya posisi sebagai apa di perusahaan.
Melihat putranya yang masih enggan membuka mulut, kini Ari semakin mendesak putranya untuk memberikan sebuah keputusan.
“Bagaimana? Jika masih ragu untuk menjawab, kamu bisa saja ke luar dari sini, dan kembali jika sudah yakin. Aku tidak akan memaksa. Lagipula, apapun keputusanmu, itu semua yang akan kamu jalani.”
Memang benar, semua keputusan ada di tangan Arya, ia hanya bisa memilih. Cukup lama Arya diam, hingga saat merasa tidak ada pilihan lain, akhirnya jawaban itu diberikan.
“Baiklah, Pa. Aku akan bekerja sebagai staf biasa di perusahaan milik keluarga dan menerima gaji sesuai dengan yang ditentukan."
Meskipun menyetujui hal itu, Arya masih bertanya-tanya tentang bagian apa yang akan didapatkan olehnya. Namun, ia tidak berani bertanya karena berpikir esok pasti akan mengetahuinya.
Ari Mahesa kini mengangkat ibu jarinya ke hadapan putranya yang diketahuinya seperti sedang kebingungan.
“Bagus. Kamu bisa mulai bekerja besok. Ingat! Staf biasa memiliki peraturan tidak ada kata terlambat. Setidaknya jam delapan, kamu sudah berada di sana.” Masih menatap intens wajah putranya yang dari tadi seperti kebingungan.
“Ehm ... apa aku bisa mendapatkan kendaraan untuk pergi bekerja, Pa?” tanya Arya yang kini mencoba untuk merayu sang ayah agar iba padanya dan mengembalikan mobilnya.
Ia berpikir jika nanti bekerja harus selalu naik bus, akan membuatnya benar-benar kesusahan. Apalagi jam kerja yang akan membuatnya harus berangkat pagi dan berdesakan bersama orang lain, itu membuatnya merasa sangat malas.
Bahkan saat membayangkannya saja, membuatnya merasa pusing dan malas untuk melakukannya.
Refleks Ari yang kini langsung terbahak karena menganggap kebaikannya malah dimanfaatkan. Ia merasa seperti pepatah yang sering didengarnya 'Dikasih hati minta jantung'.
Ia tidak akan membiarkan putranya itu berpikir seperti itu. Tujuannya adalah ingin Arya berubah menjadi seorang pria yang mengetahui bahwa semua hal tidak mudah didapatkan dan butuh perjuangan.
__ADS_1
“Lihatlah dirimu. Baru saja mendapatkan sebuah keuntungan dan sekarang kamu sudah mulai tidak tahu diri.”
To be continued...