Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
75. Ingin bahagia


__ADS_3

Putri yang saat ini sibuk memandikan putranya, mendengar suara bariton dari luar kamar mandi dari sang suami dan membuatnya merasa sangat kebingungan.


'Pria tua tidak berguna itu kini mencurigaiku. Apa yang harus kulakukan? Apa aku katakan saja padanya ingin bercerai karena memang sedang dekat dengan seorang pria?' gumam Putri yang saat ini tengah berpikir untuk jawaban yang akan diberikan pada pria yang sudah sepuluh tahun hidup bersamanya.


'Sayang sekali aku tidak bisa menelpon Arya saat ini untuk menanyakan tentang hal ini.'


Tanpa menjawab apapun selama di dalam kamar mandi, Putri tetap melanjutkan ritual memandikan putranya. Hingga beberapa menit kemudian telah selesai dan menggendong putranya yang terbalut handuk.


Tentu saja seperti yang dipikirkan olehnya karena ia kali ini melihat sosok pria yang masih berdiri di depan pintu dan menatapnya intens, seolah tidak akan pernah berhenti sebelum mendapatkan jawaban darinya.


Ia bahkan hanya berjalan menuju ke arah ruangan kamar karena saat ini yang terjadi adalah ingin sekali menghindar dari tatapan tajam sang suami.


Namun, ia bisa melihat bahwa sosok pria dengan tubuh tinggi tersebut berjalan mengikutinya.


"Cepat jawab pertanyaanku, Sayang. Kamu tidak sedang dekat dengan seorang pria, bukan?" tanya Bagus yang kali ini benar-benar merasa sangat takut jika sang istri yang sangat dicintai dekat dengan seorang pria.


Ia berpikir, sebelum semuanya terlanjur terjadi, harus menghentikannya karena tidak ingin kehilangan sosok wanita yang sangat dicintai dan telah melahirkan dua keturunan untuknya.


Sementara itu, Putri yang kali ini merasa sangat risi atas tatapan dan pertanyaan dari pria yang berdiri menjulang di hadapannya saat ia menurunkan putranya di atas ranjang.


"Apa kau sama sekali tidak melihat aku sedang sibuk mengurus Putra?" umpat Putri yang mengalihkan pandangannya dari sang suami, kembali pada putranya karena ingin segera memakaikan baju agar tidak kedinginan.


Seperti biasa, ia sudah memakaikan bedak dan minyak pada tubuh putranya sebelum berpakaian. Kemudian ia sedikit merasa lega karena sang suami kini hanya diam dan mendaratkan tubuh di ranjang, tepat di hadapannya.


Tidak ingin suasana hatinya yang sedang baik hari ini berubah buruk karena perbuatan dari sang suami, Putri memilih untuk berjalan keluar dari kamar meninggalkan sosok pria yang masih terdiam di atas ranjang.


'Aku akan jujur padanya, tapi saat Putra tidur nanti karena tidak ingin membuatnya melihatku berteriak dan marah-marah.'

__ADS_1


Saat Putri baru saja berniat untuk mengambilkan makanan untuk putranya, ia melihat kantong plastik di atas meja makan. Kemudian ia menurunkan putranya di atas kursi dan berniat untuk melihat apa isi dari kantong plastik yang diketahuinya adalah sang suami yang membeli makanan.


Begitu mengeluarkan satu-persatu isi dari dalam plastik tersebut, hanya membuatnya menampilkan wajah masam.


'Lagi-lagi sayur murahan yang sangat identik dengan orang miskin,' umpat Putri yang sama sekali tidak bernafsu melihat sayur matang di depannya.


'Apalagi sekarang aku saat ini masih kenyang karena makan spaghetti dan juga ayam goreng tadi di apartemen. Sayang sekali tadi masih banyak dan akhirnya kutaruh di kulkas, tapi mungkin tidak akan enak.'


Membayangkan harus menahan rindu selama seminggu, membuat Putri terlihat gelisah saat ini.


'Rasanya pasti akan berabad-abad lamanya," lirih Putri yang kini terpaksa memindahkan makanan yang dibeli oleh sang suami ke dalam mangkuk.


Rencananya adalah ingin menyibukkan diri dengan putranya dan kini sudah menyuapi dengan lauk yang tadi dibeli oleh sang suami.


Hari ini ia benar-benar memanjakan diri untuk tidak memasak karena semenjak mengenal Arya, sudah membayangkan menjadi nyonya besar di istana keluarga konglomerat, sehingga tidak ingin kukunya terlihat jelek dan tangannya kasar.


'Aku harus membuat pria tua itu yang mengambil alih semua pekerjaan di sini karena aku benar-benar sangat muak dengan pekerjaan rumah.'


Baru saja selesai bergumam sendiri di dalam hati, ia kembali melihat sang suami telah datang dan mendaratkan tubuhnya di kursi tepat di hadapannya.


"Sayang, aku tidak ingin rumah tangga kita selalu dipenuhi oleh pertengkaran. Jadi, lebih baik jawab pertanyaanku tadi agar aku bisa tenang dan bernapas lega," ucap Bagus yang masih belum merasa tenang karena pertanyaannya masih tidak dijawab oleh sang istri.


Jika apa yang ditakutkan terjadi, ia berniat untuk menceritakan semuanya pada Putri, mengenai pertemuannya dengan saudara tiri perempuan sang istri untuk membuatnya sadar dan tidak melanjutkan jejak buruk sang ibu.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan? Jika aku dekat dengan seorang pria seperti tuduhanmu itu, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan langsung menceraikanku?" tanya Putri yang kali ini mencoba untuk mengorek informasi mengenai apa yang akan terjadi jika seandainya ia benar-benar jujur telah mempunyai pria idaman lain yang menurutnya jauh lebih baik dari sang suami.


Hingga jawaban mengejutkan berhasil membuatnya menjatuhkan sendok di tangannya ke lantai dan menimbulkan suara denting memenuhi ruangan makan yang penuh dengan kesunyian itu.

__ADS_1


"Jika yang terjadi seperti itu, berarti tuduhan dari saudara perempuanmu yang berprofesi sebagai pengacara tersebut benar adanya. Kamu benar-benar telah meneruskan jejak dari ibumu. Bahkan tadi ia menyamakanmu dengan pepatah 'Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya'.


"Nasibmu akan sama persis dengan ibumu dan sepertinya kamu tahu sendiri tanpa aku harus menjelaskannya." Bagus yang merasa bahwa sang istri hanya ingin menakutinya dan semua yang dikatakan tidaklah benar, kini hanya menunggu respon dari sang istri.


Namun, yang terjadi adalah melihat putranya menangis tersedu-sedu karena perbuatan dari sang istri yang membuat kegaduhan di ruang makan.


Putri yang sama sekali tidak pernah menyangka jika sang suami bertemu dengan putri dari pria yang tidak pernah menganggapnya ada karena meskipun ia mengetahui siapa ayahnya, tetapi belum pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah kandung.


Namun, yang terjadi adalah ayah tirinya selalu baik padanya meskipun mengetahui bahwa ia merupakan anak hasil hubungan terlarang dari sang ibu yang berselingkuh. Namun, sang ayah masih tetap menerima keburukan sang ibu hingga ajal menjemput.


Putri yang merasa sangat marah, kini melemparkan piring berisi makanan yang tadi dibeli oleh sang suami hingga bernasib nahas di lantai.


"Jadi kau berpikir aku akan mati ditabrak mobil seperti ibuku? Suami macam apa kau ini yang mengharapkan istri sendiri mati mengenaskan karena tertabrak mobil. Kau benar-benar membuatku merasa ilfil dan muak padamu!"


Putri yang saat ini masih memerah wajahnya, kini telah berjalan menuju ke arah kamar tanpa mempedulikan tangisan dari putranya. Ia benar-benar sangat marah karena sang suami mengungkit tentang luka lama yang sudah ia kubur dalam-dalam.


Kecelakaan yang membuat sang ibu meninggal, benar-benar telah berhasil membuatnya merasa luka lama yang dirasakan kembali terbuka.


Apalagi ia membayangkan jika nanti nasibnya benar-benar akan sama seperti ibunya, yaitu berakhir mati di jalan karena tertabrak kendaraan.


'Tidak, itu tidak akan terjadi padaku. Aku akan hidup bahagia bersama dengan Arya.'


Meskipun Putri mencoba untuk mengelak, tetap saja di lubuk hati terdalam merasa takut jika apa yang dikatakan oleh sang suami benar terjadi.


'Tidak, aku tidak mau mati karena ingin hidup bahagia bersama dengan Arya selamanya,' lirih Putri yang kini sudah berada di dalam kamar dan membanting pintu, lalu menguncinya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2