
Arya pergi dari rumah untuk menemui sang ibu. Ya, ia sudah beberapa kali menemui ibunya diam-diam. Tidak bisa hidup tanpa harta dari orang tuanya, juga beberapa kali meminta uang pada ibunya tanpa sepengetahuan sang ayah.
Restoran yang cukup ramai pengunjung menjadi tujuan utama pria itu saat ini. Langkahnya terlihat penuh percaya diri saat memasuki restoran.
Pandangan matanya mengedar ke seluruh ruangan, hingga terlihat ada sosok wanita di sudut ruangan sedang melambaikan tangan. Senyum sumringah Arya tercetak jelas, langkahnya kini menuju meja dengan aneka makanan yang sudah dihidangkan.
“Terima kasih sudah mengajakku makan di sini, Ma. Aku sangat lapar. Aku bosan dengan masakan rumahan."
“Sudah Mama katakan, wanita itu tidak akan bisa menjadi istri yang berguna untukmu. Cepat makan! Mama akan duduk di sini menemanimu sampai selesai.” Rani benar-benar merasa sangat tidak tega karena melihat badan putra kesayangan jauh lebih kurus tidak terawat.
Arya tidak mau menanggapi sang ibu yang menyebut Putri karena meskipun kesal pada sang istri, tapi masih sangat mencintai dan tidak bisa meninggalkannya."
“Mama memang yang terbaik. Jadi, bagaimana dengan papa? Apakah ada kesempatan untukku kembali?”
“Tentu saja ada. Mama masih berusaha untuk merayu papamu. Jadi, kamu tenang saja dulu. Bertahan untuk beberapa waktu ke depan. Hubungi Mama jika kamu membutuhkan sesuatu.”
“Ya, tentu saja. Aku tidak tahu bagaimana nasibku tanpa mendapatkan bantuan dari Mama." Arya dengan lahap menghabiskan makanannya.
Sementara Rani hanya memandangi Arya yang terlihat lahap menikmati makanan.
“Kamu kelihatan kurus. Istrimu memang keterlaluan!”
“Maka dari itu, Mama harus membujuk papa untuk menyuruhku pulang dan menerimaku bekerja di perusahaan. Setidaknya kalau papa tidak mau aku tinggal di rumah, mau menerima bekerja di perusahaan.”
“Iya, Mama mengerti. Kamu tenang saja. Mama akan terus berusaha untuk membujuk papamu "
Setelah melihat Arya menghabiskan makanannya, Rani memberikan sejumlah uang untuk putranya. Tentu saja tanpa sepengetahuan sang suami karena memang dilarang untuk membantu Arya, agar pulang sendiri dengan kesadaran meninggalkan wanita yang dinikahi.
“Ini, untuk pegangan dan memenuhi kebutuhanmu. Mama tidak bisa setiap hari menemuimu, nanti papamu curiga. Sebaiknya kamu lebih pintar mengatur keuangan ini.”
“Oke, Ma.” Arya kini terlihat berbinar begitu melihat amplop coklat dengan isi lembaran uang berwarna merah tersebut.
“Mama harus pergi. Semua makanan ini sudah Mama bayar, jadi kamu tenang saja.” Rani kini memeluk erat putranya yang ikut bangkit berdiri.
__ADS_1
“Terima kasih, Ma. Aku akan menghabiskannya. Tenang saja.” Arya memasang senyuman lebar pada wanita yang sangat disayanginya dan beberapa saat kemudian melepaskan pelukan.
Beberapa saat kemudian, Rani keluar dari restoran dan masuk ke mobilnya.
Sementara Arya merasa puas karena bisa kembali menikmati makanan yang lezat dari restoran mewah itu. Sejenak ia memikirkan kembali tentang kehidupannya dengan Putri.
Ada rasa bosan dan juga lelah dengan kehidupan yang serba kekurangan itu.
Arya menghela napas sebelum akhirnya pergi dari sana.
Langkahnya kini menuju sebuah toko roti dan minuman. Uang yang didapatkannya digunakan untuk membeli beberapa makanan dan minuman di sana.
“Aku bisa makan ini nanti sambil bersantai di rumah. Aku yakin hari ini Putri tidak memasak lagi untukku. Jadi, aku akan memanjakan lidahku sendiri. Lagipula, ia sudah mendapatkan uangnya sendiri saat bekerja.”
Setelah selesai membeli beberapa bungkus roti dan minuman, kini ia kembali melanjutkan perjalanannya kembali ke rumah.
Namun, di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Bagus yang sedang melintas.
Bagus menghentikan taksi dan menyapa Arya, meskipun di awal tadi ingin berpura-pura tidak tahu. Namun, merasa khawatir dengan keadaan Putri.
Namun, pertemuan dengan Arya di siang hari, membuatnya bertanya-tanya di dalam hati mengenai apa pekerjaan pria itu.
Tentu saja Arya dengan singkat menjawab semua pertanyaan itu. Meskipun apa yang dikatakan tidak sesuai dengan kenyataan.
“Putri baik-baik saja. Hari ini kami akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya, jadi aku memilih libur. Seperti biasa, Putri memang wanita yang luar biasa dan aku tengah membelikan makanan kesukaannya."
“Jika terjadi sesuatu, jangan lupa untuk memberikan kabar padaku.” Bagus sebenarnya merasa sangat tidak nyaman bertanya pada Arya, tetapi terpaksa karena masih mengkhawatirkan keadaan Putri yang sedang hamil.
“Tentu saja, aku tidak akan lupa. Baiklah, aku harus segera pulang. Aku membeli banyak makanan untuknya hari ini, kau bisa melihatnya, kan?” Arya menunjukkan paper bag berisi makanan di kedua tangan.
“Ya. Aku tahu. Baiklah, aku pergi.” Bagus hanya menjawab singkat dan kembali masuk ke dalam mobil karena sangat malas mendengar semua yang dikatakan oleh pria yang jauh lebih muda darinya.
Selepas kepergian Bagus, Arya seketika tampak lega karena tidak membuat pria itu curiga dengan keadaan rumah tangganya.
__ADS_1
Arya kini berpikir bahwa Putri tidak menceritakan pada pria itu, mengenai bagaimana keadaan rumah tangga mereka selama ini.
Sampai di rumah, Arya belum melihat keberadaan Putri dan berpikir masih belum pulang bekerja. Akhirnya Arya segera menuju ruang santai untuk menonton televisi dan bermalas-malasan.
Satu persatu bungkusan roti dibuka dan masuk ke mulutnya. Tidak lupa juga minuman kemasan yang sudah dibeli mulai terbuka dan membasahi tenggorokannya.
“Ah … inilah hidup, sangat menyenangkan," ujar Arya sembari menyaksikan acara yang ada di televisi.
Setengah jam kemudian, Putri datang dengan wajah lelahnya. Pandangan matanya menjadi jengah saat melihat banyak kotoran bekas makanan berserakan di lantai.
Tidak hanya itu, ada bekas minuman tumpah yang membasahi sofa dan juga karpet.
“Arya, apa-apaan ini? Kenapa kamu tidak membersihkannya?” sarkas Putri yang sangat marah karena efek kelelahan bekerja dan ingin segera beristirahat, tetapi malah harus bersusah payah membersihkan bekas makanan.
“Bukankah itu tugasmu untuk membersihkan semua ini?” Arya menyahut tanpa mengalihkan perhatian dari televisi.
“Aku baru saja datang dan sangat lelah. Pekerjaan hari ini membuat sebagian tubuhku terasa kaku dan nyeri.” Putri yang masih merasa lemah karena hari ini terlalu lelah, benar-benar sangat kesal melihat tingkah Arya yang keterlaluan.
Refleks Arya menoleh ke arah sosok wanita yang masih belum beranjak dari tempat. “Ah, itu berita baik. Bukankah jika seperti itu, kamu mendapatkan uang lebih banyak?”
“Kamu gila! Mana ada hal seperti itu?" Putri kembali melangkahkan kakinya dan tujuan saat ini adalah kamar. Tempat yang membuatnya sedikit nyaman saat kembali ke rumah itu lagi.
Putri sudah tidak punya tenaga untuk berdebat dan berpikir lebih baik segera beristirahat saja daripada bertengkar.
Dari pintu masuk, terlihat Arya sedang berdiri dan melihat Putri yang kini membuka pakaiannya.
Pria itu bisa melihat tubuh istrinya yang semakin tidak berbentuk karena kehamilannya. Anehnya, ia merasa bahwa Putri semakin seksi dan cantik dengan tubuhnya itu.
Arya mendekat dan memeluk Putri yang kini tidak mengenakan apapun dari belakang. Jemarinya dengan lembut menyentuh kulit tubuh sang istri, hingga bersuara lirih.
“Arya, aku capek. Lepaskan.”
"Bukankah sudah lama kamu tidak melayani suamimu ini. Sekarang, puaskan aku, Sayang,” bisik Arya tepat di telinga Putri dan membuat sekujur tubuhnya merinding.
__ADS_1
Karena tidak ingin Arya berselingkuh dengan wanita lain, akhirnya Putri hanya bisa pasrah di bawah kuasa suaminya yang sudah dipenuhi kabut gairah.
To be continued...