
Sesampainya di rumah sakit, Arya hanya bisa menanyakan kondisi sang ibu pada kepala pelayan kepercayaan keluarganya yang sedang menunggu di luar ruangan.
Karena waktu jam besuk untuk pasien sudah habis sejak satu jam lalu. Arya memilih untuk ikut duduk di kursi yang ada di depan ruang ICU.
Dari luar, ia bisa melihat keadaan sang ibu melalui dinding kaca yang terpasang di sana.
Kepala pelayan bernama Mery tersebut mengatakan jika sang ibu belum juga menunjukkan tanda-tanda sadarkan diri.
Seharusnya wanita paruh baya itu sudah sadarkan diri. Dari pelayan, Arya juga tahu jika sang ayah sedang pergi ke kediaman kelurga Pram— sopir pribadi keluarga yang meninggal dunia karena kecelakaan tersebut.
Arya juga turut merasa sedih dan kehilangan. Bagi Arya, pria itu adalah sosok yang baik dan sangat berdedikasi pada keluarga Mahesa.
Kini Arya menemui dokter yang menangani sang ibu untuk menanyakan tentang kondisi wanita itu.
Dokter belum bisa memastikan kapan Rani siuman karena wanita itu mengalami cedera otak traumatik akibat kecelakaan yang dialaminya. Dokter terus melakukan yang terbaik dan terus mengawasi perkembangan kondisi pasiennya. Dokter meminta agar keluarga bersabar dan perbanyak berdoa untuk kesembuhan pasien.
“Sebaiknya Bibi makan saja dulu! Biar saya yang menjaga Mama di sini.” Arya sudah kembali dari rungan dokter yang menangani sang ibu.
“Baik, Tuan Arya.” Setelah berpamitan, Mery melangkah menapaki lorong rumah sakit hendak menuju kantin yang ada di sana. Wanita itu memang belum makan siang.
Sementara itu, Arya saat ini tengah menyandarkan punggungnya dan menghela napas berat. Ia menengadahkan kepala, menatap langit-langit rumah sakit dengan kedua tangan yang meremas rambut.
Ia berharap semua ini tidak akan lama dan akan segera berakhir. Ia tidak ingin kehilangan salah satu wanita yang berarti dalam hidupnya.
Arya memejamkan mata, mencoba untuk menenangkan hati dan membuang semua ketakutan yang mulai menggelayuti pikiran.
“Arya ….”
Sebuah panggilan dari seorang wanita, membuat Arya membuka mata dan menoleh ke arah sumber suara tersebut.
“Calista?” Arya mengerutkan kening melihat kehadiran wanita itu di sana.
“Aku turut berduka cita atas kecelakaan yang dialami mamamu, ya. Maaf aku baru bisa datang sekarang."
Calista duduk di kursi sebelah Arya “Bagaimana keadaan mama kamu?” tanyanya kemudian.
“Mama masih belum siuman setelah operasi tadi malam,” jawab Arya singkat tanpa mengalihkan perhatian dari sang ibu.
__ADS_1
“Kamu yang sabar, ya.” Dengan berani Calista menggenggam tangan Arya. “Aku yakin mamamu pasti akan segera siuman.” Calista tersenyum tulus.
“Terima kasih,” balas Arya singkat. “Kamu ke sini dengan siapa?” tanya Arya yang perlahan melepaskan genggaman tangan Calista di tangannya.
“Sendiri,” jawab Calista singkat.
Wanita itu terdengar menghela napas, melihat bagaimana Arya berusaha melepaskan genggaman tangannya.
Pria itu memang selalu saja menghindari kontak fisik di antara mereka.
Terkadang Calista kesal, tetapi ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan terus mendekati Arya dan memanfaatkan kesempatan sekecil apa pun.
“Kamu sudah makan apa belum?” tanya Calista, terus berusaha mencari topik pembahasan dengan pria yang duduk di sampingnya.
“Sudah.”
Kembali Calista menghela napas mendengar jawaban singkat Arya yang seolah enggan untuk berkomunikasi di saat melihat sosok wanita yang sedang berjuang melawan maut tersebut.
Pria itu kembali menyandarkan punggungnya dan memejamkan mata.
Tidak lama kemudian, Ari Mahesa datang bersama dengan Putra Wijaya yang mengikuti di belakang pria tersebut.
tengah duduk di samping putranya.
"Presdir ….”
Calista bangkit dari duduknya dan membungkuk hormat pada atasannya tersebut.
“Sudah lama?” tanya Ari Mahesa yang kini melihat ekspresi wajah putranya yang muram dan berharap wanita itu mampu menghibur.
“Baru beberapa menit, Presdir.” Calista tersenyum ramah seperti biasanya dan Rudi mengangguk paham.
“Jangan panggil seperti saat tidak berada di kantor." Kemudian Ari Mahesa beralih menatap putranya. "Arya, temani Papa makan siang, ya. Sudah lama kita tidak makan bersama.”
Ari Mahesa menatap putranya. “Calista juga, ya.” Pria itu kemudian beralih pada Calista kembali.
“Baik.” Calista mengangguk patuh. Tentu saja ia tidak akan menolak tawaran dari pria yang sangat mendukungnya untuk menjadi menantu.
__ADS_1
Sementara itu, Arya pun tidak mungkin menolak ajakan sang ayah.
Tiga orang itu menjauh, meninggalkan ruang ICU, hanya menyisakan Putra Wijaya yang bergantian menjaga istri dari bosnya di luar ruangan.
Tentu saja ia paham jika bosnya sedang berusaha untuk membuat putranya semakin dekat dengan wanita yang bernama Calista tersebut.
Ari Mahesa memilih sebuah restoran dekat rumah sakit. Pria itu memilih sebuah ruangan khusus dengan jarak meja yang berjauhan satu sama lain.
Ketiga orang itu mengisi waktu dengan mengobrol sembari menunggu pesanan mereka. Aria Mahesa dan Calista lebih mendominasi dalam obrolan di meja tersebut.
Sementara Arya bisa melihat jika sang ayah terlihat begitu nyaman saat bicara dengan Calista dan terlihat begitu akrab. Ia membayangkan seandainya Putri bisa sedekat itu dengan sang ayah, betapa bahagianya dirinya.
Namun, segera ia menepis angan tersebut. Ia tidak ingin terlalu berharap karena takut akan kecewa dengan harapannya, tetapi Arya juga tidak akan pernah menyerah untuk meyakinkan kedua orang tuanya jika Putri juga pantas menjadi bagian dari keluarga Mahesa.
“Kapan aku akan menerima undangan dan kabar baik yang datang darimu, Calista?”
Calissa tersenyum, wanita itu sepertinya tahu maksud dari pertanyaan atasannya. “Belum tahu. Calonnya belum ada,” jawab Calista dengan pipi yang merona.
“Menurut kamu, Arya orangnya bagaimana?” Tiba-tiba saja Ari memberikan pertanyaan yang membuat putranya menoleh, menatap dengan penuh tanya pada sang ayah.
“Pa ….” Arya bisa mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya dan ingin sang ayah menghentikan rencana.
“Arya pria yang baik dan juga terlihat sangat penyayang. Sepertinya dia pria luar biasa dan sangat spesial diantara teman saya yang lain.” Calista memberikan jawaban dengan pipi yang semakin merona.
“Teman?” Ari Mahesa mengangkat alisnya.
“Ya. Kata Arya, kita adalah teman dekat karena hanya aku teman wanita yang paling dekat dengannya dia di kantor.” Calista terkekeh pelan saat memeberikan jawaban tersebut.
Wanita itu seolah ingin mengatakan jika ia tidak keberatan andai Arya ingin merubah status teman di antara mereka menjadi lebih dari itu.
"Ya, Pa. Kami hanya berteman.” Arya ikut menimpali ucapan Calista.
Seolah ingin memberi penegasan pada sang ayah jika mereka hanya berteman dan tidak akan lebih dari itu.
“Sepertinya Arya sangat beruntung memiliki teman wanita secantik dan secerdas kamu,” tukas Ari. “Tapi sepertinya kalian akan menjadi pasangan sempurna jika menikah.” Ia langsung berucap terang-terangan.
“Papa ….” Arya tidak melanjutkan kalimatnya saat pelayan datang membawakan pesanan mereka.
__ADS_1
To be continued...