Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
131. Menahan kesakitan


__ADS_3

Belum selesai Rani mengumpat di dalam hati untuk mengomentari penampilan dari wanita yang terlihat membulatkan mata begitu mengetahui bahwa ia yang datang, indra pendengarannya menangkap suara dari putranya dan tak lama kemudian melihat sosok pria dengan berjalan pincang ke arahnya.


"Mama? Kenapa Mama ke sini?"


Arya tadinya berpikir bahwa orang yang datang adalah suruhan dari Bagus, tetapi begitu melihat sang ibu di depan pintu, membuatnya sangat terkejut dan sama sekali tidak pernah menyangka jika wanita yang telah melahirkannya tersebut datang ke kontrakan Putri.


Ia yang saat ini bisa menebak bahwa sang ibu datang karena tadi bertanya pada Rendi, kini bersitatap dengan Putri—wanita yang terlihat sangat gugup dan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun ketika berhadapan dengan sang ibu.


"Sayang, lebih baik kamu masuk karena aku ingin berbicara dengan mama."


Putri yang dari tadi tidak bergeming karena merasa shock berhadapan dengan wanita yang telah menghinanya habis-habisan ketika berada di istana besar keluarga Mahesa, berhasil membuatnya seperti kehilangan suara karena tercekat di tenggorokan.


Ia hanya bisa membulatkan mata saat pertama kali melihat wanita dengan tatapan tajam seolah menusuk tepat di jantungnya karena di sana jelas-jelas ada sebuah kebencian yang menghunusnya sampai pada titik terdalam.


'Kenapa wanita jahat ini datang ke sini? Apa dia mau menghinaku lagi? Atau membawa Arya pergi dari sini?'


Lamunannya yang seketika sirna begitu mendengar suara bariton dari pria dengan tatapan lembut mengarah padanya, seolah menjadi obat dari luka di hatinya saat mengingat penghinaan dari wanita paruh baya tersebut.


Putri saat ini berusaha untuk menormalkan perasaannya dan menelan kasar saliva sebelum menanggapi perintah dari sang kekasih. Hingga beberapa saat kemudian, ia berhasil mengeluarkan tanggapannya.


"Baiklah, aku akan memberikan waktu untukmu berbicara dengan mamamu."


Arya yang kini sudah menganggukkan kepala tanda setuju, berjalan perlahan untuk mengajak sang ibu masuk ke dalam.


Namun, ia mendengar suara penuh penekanan yang seperti sedang menahan amarah dan bisa mencium aura tidak beres dari sikap sang ibu.


Benar saja, Arya membeliakkan mata begitu melihat sosok wanita yang sangat disayangi telah mengarahkan tangan pada rambut Putri yang berniat berjalan masuk.

__ADS_1


"Dasar wanita sialan! Apa yang sebenarnya kau lakukan pada putraku?" Rani menarik rambut wanita yang sangat dibenci karena saat ini merasa sangat murka karena melihat putranya berjalan dengan kaki pincang seperti menahan rasa sakit.


Ia benar-benar sangat marah ketika terjadi sesuatu pada kaki putranya saat baru saja keluar dari rumah dan memilih tinggal di tempat yang menurutnya tidak layak ditempati tersebut.


"Kenapa putraku berjalan pincang seperti itu? Aku akan membunuhmu karena telah membuat putraku menderita!" teriaknya dengan wajah memerah dan penuh kemurkaan.


Sementara itu, Putri yang tadinya ingin memberikan kesempatan pada ibu dan anak tersebut berbicara empat mata, saat ini merasa sangat kesakitan begitu rambutnya ditarik dengan sangat kuat oleh wanita paruh baya tersebut.


"Aargh ... sakit!" teriak Putri dengan wajah yang saat ini meringis kesakitan karena merasa kulit kepalanya sangat nyeri dan panas. "Tolong lepaskan tangan Anda, Nyonya! Arya, tolong aku!"


Putri masih berteriak sambil memegangi rambutnya yang ditarik dan tidak kunjung dilepaskan oleh wanita paruh baya tersebut.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu karena akan membunuhmu hari ini juga!" sarkas Rani yang kali ini gagal berakting untuk menerima wanita itu sebagai menantu.


Kesabarannya telah habis dan tidak bisa menahan diri agar tidak murka pada Putri begitu melihat cara berjalan putranya yang sangat mengenaskan dan membuatnya khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk.


Pemandangan dari dua wanita yang sama-sama sangat disayangi tengah bersitegang di hadapannya, membuat Arya buru-buru datang untuk menolong serta melerai aksi bar-bar dari sang ibu.


"Mama, hentikan! Putri kesakitan! Aku hanya terkena pecahan gelas sedikit di kaki. Jangan bersikap berlebihan seperti ini dengan mengundang perhatian orang-orang."


Arya yang baru saja menutup mulut, melihat sang supir tengah berjalan ke arahnya dan membuatnya melambaikan tangan agar segera membantunya memisahkan mereka.


"Kenapa tidak dari tadi kau datang! Cepat ke sini, bodoh!"


Tentu saja saat ini pria yang tadi hanya mengamati di dalam mobil, langsung berlari untuk memenuhi perintah dari majikan. Tidak hanya itu saja, ia sampai menutup kedua daun telinga ketika mendengar suara teriakan dari majikannya yang terlihat sangat murka.


Bahkan suara dari majikannya tersebut berhasil membuat para tetangga sekitar datang mendekat dan menonton aksi bar-bar dari seorang ibu yang marah pada calon menantu tidak diinginkan.

__ADS_1


Kini, Arya sudah berusaha untuk menghentikan ulah dari sang ibu dengan dibantu oleh supir. Namun, ia belum berhasil membuat sang ibu melepaskan kuasa dari rambut panjang Putri.


"Mama, jangan seperti ini! Lepaskan tangan Mama! Putri kesakitan!"


"Biarkan saja wanita murahan ini mati sekalian karena telah membuatmu hidup menderita seperti ini. Jangan membelanya karena Mama sangat membenci wanita murahan sepertinya!" umpat Rani dengan wajah memerah penuh kilatan amarah terpancar dari iris tajam yang mengarah pada manik kecoklatan Putri.


Sementara itu, Putri yang masih merasa kesakitan, kini sudah berkaca-kaca bola matanya.


Antara rasa sakit secara fisik dan batin karena dipermalukan dan menyadari bahwa saat ini para tetangga sekitar berkumpul untuk melihat aksi dari seorang ibu yang mengungkapkan kemurkaan padanya.


Tentu saja membangkitkan perasaan hancur berkeping-keping ketika merasa seperti tidak mempunyai muka lagi di hadapan semua orang.


Putri kali ini sudah tidak bisa menahan lagi bulir air mata yang lolos tanpa seizinnya, hingga menganak sungai di wajahnya.


"Sakit!" lirih Putri yang saat ini berharap pria yang sangat dicintainya tersebut segera melepaskan ia dari penderitaan.


Jika tidak memandang pria yang sangat dicintainya tersebut, mungkin sudah membalas dengan menendang kaki atau pun perut wanita yang jauh lebih tua usianya dibandingkan dengan dirinya.


Namun, ia hanya memilih untuk menerima semua penderitaan tersebut hanya demi mendapatkan simpati dari pria yang dicintai, agar memilihnya dan tidak akan pernah meninggalkannya.


Berharap dengan menjadi seorang wanita lemah dan tersakiti, akan selalu dicintai oleh Arya. Ia takut jika melawan, akan membuat Arya ilfil padanya.


'Bertahanlah. Ini semua demi bisa membuat Arya semakin mencintaimu. Jika kamu melawan, Arya akan marah karena meskipun wanita ini jahat, tidak bisa dipungkiri bahwa dia tetaplah ibu dari pria yang kau cintai.'


Menahan kesakitan demi bisa mendapatkan Arya, hanya itu yang saat ini dipikirkan oleh wanita dengan wajah kesakitan ketika beberapa helai rambutnya sudah terlepas dari kepala akibat perbuatan dari wanita paruh baya yang tak lain adalah calon mertuanya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2