Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
138. Calon suami baru


__ADS_3

Saat ini, Bagus sadar masih belum bisa berdamai dengan perasaannya. Ia ingin tenang dan melihat putranya bahagia. Ia ingin putranya mendapatkan kehidupan baru, meskipun tanpa ibu.


Menciptakan keluarga baru dan berbagi kehangatan yang sama dengan cara menjadi orang tua tunggal. Bagus ingin memastikan kalau setidaknya anaknya memiliki kehidupan yang bahagia suatu saat nanti.


Bahkan ketika usianya semakin tua, ia tetap akan terus berjuang untuk membahagiakan dua anaknya.


'Aku akan membahagiakan kalian, anak-anakku,' gumam Bagus yang saat ini menyadari mobil Amira Tan telah berhenti tepat di sebelah kiri kontrakan dan melihat wanita di balik kemudi tersebut keluar tanpa menunggunya dan segera menyusul.


Amira Tan yang tidak sabar ingin melihat pertunjukan menarik di tempat sempit itu, kini berjalan melewati kerumunan orang-orang saat berdiri di depan pintu dan menghalangi jalannya.


"Bubar ... bubar! Ini masalah pribadi keluarga. Jadi, lebih baik kalian semua bubar!" umpat Amira yang kali ini bisa membuat beberapa orang di hadapannya memberinya jalan agar bisa masuk ke dalam rumah.


Sementara itu, Bagus yang berjalan sambil menggendong putranya, bisa melihat tatapan tajam mengintimidasi dari semua orang dan membuatnya merasa sangat tidak nyaman.


Namun, ia ingin menyelesaikan permasalahan keluarganya secara intern, sehingga memilih untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.


"Tolong pulang ke rumah masing-masing karena saya ingin membahas mengenai masalah pelik ini secara tertutup dengan keluarga. Saya harap kalian memberikan kami waktu agar lebih privasi."


"Lebih baik kau usir wanita yang telah mengkhianatimu, Bagus. Buat apa kamu masih mau berbicara dengan wanita yang sudah mengkhianatimu?"


"Iya, usir saja karena sangat meresahkan para warga di sini."


Ada banyak sekali komentar-komentar miring dari para tetangga yang meluapkan pendapat masing-masing.


Sementara ia yang dari tadi ingin melihat bagaimana keadaan dari Putri yang tadi sudah mendapat kemurkaan dari calon mertua.


Hingga ia ingin menghentikan hinaan semua orang hari ini pada sang istri. "Hari ini, istriku akan menikah dengan pria itu dan aku datang bersama orang yang akan menikahkan mereka."


Sontak saja pernyataan mengejutkan itu berhasil membuat semua orang membeliakkan mata masing-masing karena sama sekali tidak pernah menyangka jika seorang Bagus Setiawan merestui perselingkuhan sang istri dan memilih untuk menikahkan.


"Astaga, suami macam apa kau ini?"

__ADS_1


"Apa kau sudah gila?"


"Dasar pria bodoh!"


Semua orang yang merasa sangat terkejut dan kesal pada pria dengan wajah mengenaskan karena sangat murung tersebut.


Sementara dari dalam rumah, Putri yang dari tadi bisa melihat apa yang dilakukan Bagus di luar, kini semakin dikuasai oleh rasa bersalah. Namun, ia menyadari tidak bisa berbuat apapun, sehingga memilih untuk diam saja.


Namun, selalu ada satu kalimat yang mewakili perasaannya pada pria itu, yaitu 'maaf'.


'Terbuat dari apa hatimu?' geram Amira yang kini kembali dikuasai oleh angkara murka dan melirik ke arah sebelah kanan, di mana Putri berada.


"Apa sekarang kau puas melakukan ini? Apakah kau sangat bahagia sekarang setelah impianmu untuk menikah dengan kekasihmu menjadi kenyataan?"


"Meskipun ada hati yang berdarah-darah di sana?" umpat Amira yang kini mengarahkan jari telunjuknya pada sosok pria tak jauh dari tempatnya berdiri dan malah memilih untuk sibuk menjelaskan dan memohon maaf atas ketidaknyamanan ini.


Sementara itu, Putri yang tadinya berada di pelukan Tomy, sama sekali tidak pernah membayangkan jika hal seperti ini terjadi, sehingga bingung harus berkomentar apa saat ia sendiri merasakan kesakitan luar biasa pada kepala dan meninggalkan bekas nyeri di area sekitar.


"Aku memang salah dan sudah mengetahui hal itu, tapi tidak pernah memikirkan akan menjadi tontonan seperti ini hingga berakhir mempermalukannya."


Hingga indra pendengarannya menangkap suara sosok wanita dengan yang terdengar menggema di ruangan tersebut.


"Sampai mati pun, Mama tidak akan pernah merestuimu, Arya! Mama tidak ingin putra kesayangan dan menjadi satu-satunya pewaris tahta keluarga Mahesa menikahi seorang wanita yang sama sekali tidak sederajat."


Rani Paramitha yang tidak bisa lagi menahan diri untuk meluapkan emosi begitu mengetahui putranya benar-benar akan menikahi wanita dari kasta rendahan itu secara siri.


Tentu saja ia tidak ingin melihatnya sendiri karena merasa sangat marah dan rasanya ingin mencekik leher wanita itu hingga mati.


"Mama! Jangan pergi!" teriak Arya yang saat ini masih membicarakan tentang niatnya untuk menikahi Putri, berharap sang ibu mau mendengarkan.


Namun, meskipun sekuat tenaga ia merayu dan memberikan penjelasan, tetap saja sang ibunya belum berubah pikiran. Padahal ia ingin sekali sang ibu menemaninya ketika ia menikahi Putri.

__ADS_1


"Tetaplah tinggal jika menyayangiku, Ma. Aku tidak akan melarang Mama pergi setelah melihatku menikah. Aku mohon," ucap Arya yang kini masih mencoba untuk merayu wanita yang melahirkannya tersebut melihat binar kebahagiaan dari wajahnya setelah menikahi Putri.


Hingga suara bariton dari pria yang baru saja datang itu menggema di udara.


"Lebih baik kita mulai sekarang acaranya, Pak."


Bagus yang berhasil membuat para tetangga sekitar diam karena tadi sudah membuang harga diri demi wanita dengan wajah pucat itu, ingin masalah cepat selesai dan membuatnya terbebas dari dosa.


Putri refleks menatap ke arah penampilannya yang sangat kacau ketika akan menikah dengan Arya.


Pernikahan siri tanpa resepsi, tanpa disaksikan oleh keluarganya. Sangat berbanding terbalik dengan fakta bahwa pernikahan adalah merupakan sesuatu yang sakral dan akan terus mengukir sejarah indah dalam hidupnya, sedangkan hari ini hanya satu yang lebih diutamakan, yaitu statusnya sah menjadi istri Arya.


'Aku akan menikah dengan Arya dalam keadaan yang seperti ini? Tidak ada apapun dan siapapun, tapi harus menerimanya karena ini adalah sebuah konsekuensi yang harus diterima.'


Kemudian Putri masuk ke dalam kamar. Ia yang masih berada di depan cermin untuk merias diri seadanya, menolehkan kepala ke arah pintu yang kini sudah terbuka lebar dan juga indra pendengarannya menangkap suara tangisan dari putranya.


"Kenapa putraku menangis?"


Putri yang saat ini melihat saudara tirinya tiba-tiba masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu, membuatnya merasa sangat heran sekaligus kesal.


"Apa kau tidak punya sopan santun? Bukankah kau adalah seorang wanita berpendidikan? Tapi apa tidak tahu cara untuk masuk ke dalam kamar orang lain?"


Bahkan saat ini Putri bangkit berdiri dari posisinya karena ingin melihat apa yang terjadi di luar kamar hingga putranya menangis tersebut tersedu-sedu.


Namun, saat ini Amira yang merasa sangat kesal, kini tengah memasang wajah masam tanpa memperdulikan ocehan dari saudara tirinya tersebut karena masih sangat kesal ketika melihat seorang pria yang sangat lemah dan bodoh.


Sebenarnya ia belum puas untuk memberikan pukulan pada tubuh Bagus karena merasa geram pada pria itu yang menurutnya terlalu baik meskipun sudah disakiti oleh orang lain.


Namun, ia yang lihat bocah laki-laki di gendongan Bagus menangis, membuatnya seketika menghentikan pukulan dan berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Tanpa meminta maaf, ia langsung melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah ruangan lain untuk melaksanakan perintah dari pihak yang membuatnya kesal.

__ADS_1


"Lebih baik kau ambilkan aku pakaian milik Bagus yang dulu digunakan untuk menikah denganmu karena akan kuberikan pada calon suami barumu itu."


To be continued...


__ADS_2