Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
187. Pembelaan sang ibu


__ADS_3

Langkah Rani Paramitha menyusuri setiap sudut di ruangan lantai empat dan mengedarkan pandangannya untuk mencari siluet putranya. Sayangnya keberadaan Arya masih belum terdeteksi olehnya.


Kemudian ia bertanya pada beberapa karyawan di sana, tetapi tidak satu pun dari mereka yang berani menjawab karena takut jika wanita itu murka begitu mengetahui posisi putra yang dibanggakan bekerja sebagai seorang cleaning service.


Salah satu wanita yang saat ini memilih untuk mewakili rekannya menjawab dengan nada yang sangat rendah agar wanita itu tidak murka.


"Maaf, Nyonya. Kami tidak bisa mengatakannya karena masih mau bekerja dan tidak ingin dipecat jika memberitahu tentang putra Anda saat presdir saja tidak memberitahu."


"Astaga! Ternyata kalian semua bekerja sama untuk membuat darahku naik. Benar-benar tidak berguna!" umpat Rani Paramitha yang kini memilih untuk mencari keberadaan putranya sendiri tanpa bertanya pada para staf yang telah bekerja bersama dengan sang suami.


Bahkan raut wajah masam kini terlihat jelas saat ini begitu melangkahkan kaki menyusuri setiap sudut lantai perusahaan sambil masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari keberadaan putra yang sangat dibanggakan.


Sementara itu, tepat di lantai tiga, Arya sedang membersihkan jendela dengan seragam yang penuh noda tinta.


Ya, ia baru saja membantu beberapa karyawan untuk memindahkan mesin cetak. Tidak sengaja tinta hitam tumpah ke seragamnya.


Sambil bersenandung, ia mengelap kaca jendela hingga bersih dan bisa menampilkan pantulan diri. Namun, ada sebuah pantulan yang membuat Arya membulatkan mata. Tampak ia kesulitan untuk berbalik badan dan beberapa kali menelan ludah dengan kasar.


“ARYAA!” teriak Rani Paramitha begitu melihat siluet putranya yang ternyata berseragam yang sama dengan wanita di lift tadi.


Tentu saja ia kini mengetahui tentang apa penyebab sang suami dan para staf perusahaan tidak mau memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan.


'Cleaning service? Astaga! Suamiku sudah gila!' umpat Rani Paramitha yang kini melangkahkan kaki jenjangnya mendekati putranya.


Seketika tubuh Arya berbalik untuk menghadap sang ibu.


Dengan berkacak pinggang, Rani Paramitha tampak geram dengan pekerjaan yang saat ini dilakukan putranya.


“Apa yang kamu lakukan, Sayang? Astaga! Lihatlah penampilanmu ini yang sangat kacau dan berantakan. Papamu sangat keterlaluan!” umpatnya dengan wajah memerah.


“Tenanglah, Ma. Aku tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa melakukan pekerjaan ini dan tidak mempermasalahkannya," sahut Arya yang saat ini mencoba untuk menenangkan sang ibu agar tidak terlalu mengkhawatirkannya.


Ia tahu jika sang ibu saat ini sangat shock ketika pertama kali melihatnya. Itu seperti ekspresi saat ia pertama kali mengetahui harus bekerja sebagai seorang cleaning service di perusahaan sang ayah.


Jantung Rani seakan berdetak lebih cepat karena terbawa emosi. Ia menarik tangan Arya untuk pergi dari sana menuju ke ruangan kerja sang suami.


“Ikut Mama!”


Tidak kuasa menolak apa yang dikatakan ibunya, Arya hanya mengekor dengan tangan yang semakin kencang ditarik masuk ke lift.


"Ma, tidak apa-apa. Aku mulai terbiasa dengan semua ini.” Arya kini ingin menenangkan perasaan sang ibu agar tidak mengungkapkan nada protes pada sang ayah.

__ADS_1


"Apa? Terbiasa katamu? Kamu mempermalukan diri sendiri! Mama tidak setuju jika kamu berada di posisi serendah ini di perusahaan keluarga. Papamu sudah sangat keterlaluan."


Omelannya terus berlanjut hingga sampai di ruangan sang suami dan menatap tajam pria yang menjadi suaminya tersebut.


Sementara pria yang tak lain adalah Ari Mahesa masih duduk dengan tenang di kursi kerja. Bahkan tangannya masih bekerja dengan membuka beberapa lembar laporan yang ada di meja kerjanya.


Ibu dan anak itu masih terdiam di sana, hingga Ari melirik sekilas dan kembali memperhatikan berkas penting bernilai ratusan miliar itu.


“Kenapa Arya menjadi petugas kebersihan di perusahaan sendiri? Kamu tidak kasihan pada putramu? Lihat ini! Seragamnya saja penuh noda, wajahnya lusuh, badannya jadi kurus begini.”


Masih tidak mendapatkan perhatian, ia mencoba untuk kembali berbicara dan mengajukan protes pada suaminya itu dengan berbicara panjang lebar.


Hingga Rudi menghentikan pekerjaannya karena terganggu. Pria itu berdiri, menatap tajam dan berkata, “Sudah selesai?”


Rani Paramitha tampat geram dengan wajah suaminya yang siap menerkam siapa saja di sana. Apalagi saat melihat pergerakan dari pria yang sudah menjadi suaminya selama lebih dari dua puluh lima tahun tersebut.


Ari Mahesa melempar berkas ke sembarang arah, hingga membuat Rani memejamkan mata karena takut.


“Kau! Ambil semua berkas itu!” Perintah Ari Mahesa pada Arya.


Dengan spontan Arya bergerak memungut satu persatu kertas yang ada di atas lantai. Setelah selesai, ia memberikannya pada sang ayah dan kembali berdiri di belakang ibunya.


Refleks Arya menggelengkan kepala dan saat ini mengungkapkan apa yang dipikirkan, agar sang ibu tidak terlalu berlebihan mengkhawatirkannya.


“Awalnya, aku keberatan dengan pekerjaan yang Papa berikan. Namun, sudah dua minggu ini aku belajar banyak. Aku tahu, ternyata selama ini kurang memperhatikan banyak hal. Bahwa ada banyak hal yang tidak mudah dilakukan. Sekarang aku tahu jika mencari uang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.”


“Bagus! Kamu dengar jawaban putramu? Masih kamu mengajukan protes mengenai pekerjaannya saat ini?” Ari Mahesa yang masih menatap tajam sang istri, menunggu apa yang akan dikatakan wanita di hadapannya tersebut.


Kali ini Rani tidak menjawab dan memilih diam seribu bahasa. Hingga suara teriakan sang suami membuatnya berjenggit kaget.


“Jawab!” seru Ari Mahesa yang akhirnya membuat ia melihat sang istri langsung membalas dengan gugup.


“Maaf.”


“Jadi ... sekarang, apa kamu masih mau bekerja di tempat ini?" Ari kembali menguji Arya dengan pertanyaan yang menjebak.


Sadar jika ayahnya akan mengajukan pertanyaan itu, Arya menggeleng dan berkata, “Kali ini, aku hanya akan melakukan apa yang Papa katakan. Entah itu mengenai posisiku saat ini, maupun nanti.”


Hingga sudut bibir Ari melengkung ke atas dan mengangkat ibu jari karena sangat puas dengan jawaban dari putranya.


“Jawaban yang bagus, kamu mulai belajar rupanya. Tidak sia-sia Papa memberikan kesempatan. Sekarang, lanjutkan pekerjaanmu dan jangan kembali kemari tanpa aku panggil! Satu hal lagi, jangan pedulikan mamamu yang mengomel."

__ADS_1


“Iya, Pa.”


Arya berjalan keluar meninggalkan ibunya yang masih berdiri kaku. Rasanya ia ingin sekali membantu sang ibu, tetapi apa daya, penguasa di tempat itu adalah ayahnya sendiri— suami dari wanita yang kini berada di dalam sana.


Arya kembali melanjutkan pekerjaan seolah tidak terjadi apa-apa hari ini. Padahal sang ibu tadi terlihat sangat kecewa melihat apa yang ia lakukan. Ia berharap wanita itu segera pulang dan tidak kembali membuat masalah.


Hingga saat sore hari, ia melihat ke arah jam dinding, ternyata sudah waktunya pulang. Arya bertanya pada kepala mengenai karyawan yang lembur dan benar saja.


Ada lima orang yang lembur di lantai tiga. Arya pun beraksi dengan memanfaatkan waktu untuk bekerja demi uang tambahan. Ia mengirimkan pesan pada sang istri agar tidak menunggunya.


Sayang, aku pulang malam. Jangan tunggu aku.


Tanpa menunggu lama, jawaban dari pesannya sudah diterima dan membuat sudut bibirnya melengkung ke atas.


Hati-hati pulangnya, Sayang. Aku sedikit lelah. Jadi, mau tidur saja.


Kamu sakit?


Tidak, hanya lelah saja setelah menggosok pakaian tadi.


Khawatir dengan keadaan istrinya, Arya berencana membelikan beberapa camilan untuk Putri saat pulang nanti. Berharap masih ada mini market yang buka untuk bisa ia kunjungi.


Arya, bisa bantu belikan camilan di mini market depan nanti ketika pulang?


Iya, Sayang. Aku akan membelinya. Sekarang tidurlah. I love you.


I love you too.


Beruntung ada karyawan yang meminta bantuan Arya, sehingga ia bisa sekalian membeli makanan ringan untuk sang istri di rumah.


Berharap istrinya baik-baik saja selama ia bekerja dan tidak ada kendala lain hingga dirinya sampai di rumah.


“Aku harap kamu baik-baik saja,” gumam Arya sembari meraih roti dan cokelat yang sangat disukai Putri.


Setelah membayar belanjaannya, ia kembali ke kantor dan memberikan pesanan karyawan di sana. Ia kini mengingat kejadian tadi siang dan memikirkan sang ibu yang sudah tidak menemuinya ketika pulang.


'Sepertinya mama tadi sangat kesal. Mama tadi terlihat sangat shock melihatku. Semoga saja tidak akan lagi mempermasalahkan tentang posisiku karena aku sudah terbiasa bekerja seperti ini. Tidak mungkin papa selamanya menjadikan penerusnya sebagai seorang cleaning service.'


'Aku sangat yakin itu dan pasti sebentar lagi akan naik posisi setelah papa melihat keseriusanku,' gumam Arya yang kini kembali melanjutkan pekerjaan.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2