Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
224. Menunggu keputusan


__ADS_3

Sebelum Rani datang ke rumah sakit, pada saat putranya menghubungi dan mengabarkan bahwa Putri telah melahirkan di sebuah klinik kecil, refleks membuatnya langsung menyusun rencana untuk memisahkan mereka.


Tentu saja ia membutuhkan seseorang yang bisa membantu melancarkan rencana yang akan ia buat demi bisa menghancurkan rumah tangga putra satu-satunya.


Ya, rencananya adalah langsung menyuruh putranya untuk melakukan tes DNA demi bisa memisahkan wanita yang tidak disukainya itu agar dibenci Arya.


Jadi, ia akan membayar beberapa orang yang ada di klinik tersebut untuk mau bekerja sama demi melakukan sebuah kebohongan, yaitu memasukkan hasil tes DNA jika bayi yang dilahirkan oleh Putri benar-benar putra dari suami pertama.


Rani bahkan sudah berbicara dengan sang suami agar mau membantu karena yang mengeluarkan banyak uang adalah pria tersebut. Setelah ia mengungkapkan segala rencana dan meminta bantuan, akhirnya pria yang sangat ia cintai mau membantu karena memang tidak ingin Arya selamanya bersama dengan Putri.


Ia dan sang suami menginginkan putranya menikah dengan wanita berkelas yang sederajat seperti Calista. Dia adalah calon menantu idaman yang pastinya bisa dibanggakan saat diperkenalkan pada rekan bisnis maupun orang lain.


Berbeda saat mengenalkan Putri, hanya rasa malu yang didapatkan karena wanita itu berasal dari kasta rendahan dan juga hal yang paling utama adalah mengenai status bahwa masih menjadi istri sah dari pria lain.


Pasti akan ada banyak media yang meliput dan mencari tahu tentang sosok menantu dari keluarga besar Mahesa. Pastinya akan membuat hancur perusahaan dan harga saham langsung turun begitu mengetahui aib tentang putranya yang memiliki affair dengan seorang wanita bersuami sampai hamil dan menikah siri.


Itulah sebabnya saat ini Rani menyembunyikan rencana besar yang ia susun dari putranya. Tadi, saat sebelum masuk ke ruangan Putri yang dikabarkan telah melahirkan bayi laki-laki, ia sudah berbicara dengan beberapa perawat serta dokter di klinik tersebut agar memalsukan hasil tes DNA jika bayi yang dilahirkan oleh wanita yang sangat dibenci tersebut.


Kemarahan Rani semakin bertambah besar begitu melihat kemesraan putranya yang terlihat sangat mencintai wanita yang dibencinya. Kini, ia menatap tajam ke arah wanita yang saat ini duduk di pinggir ranjang tipis.


Tadi ia melihat Arya dan Putri keluar dari kamar mandi dan menandakan jika mereka baru saja mandi bersama.


"Seharusnya kamu merasa malu saat suamimu melihat masa nifasmu. Bukankah itu adalah sesuatu yang sangat menjijikkan dan tidak perlu dilihat oleh seorang suami?"

__ADS_1


Putri yang seketika menelan kasar saliva karena merasa malu serta kesal begitu mendengar tanggapan dari wanita paruh baya yang terlihat sangat marah hanya dengan hal sepele yang membuatnya bagaikan seorang ratu.


Setelah ia melahirkan keturunan untuk Arya, sang suami hari ini memperlakukannya seperti seorang ratu dan menunjukkan cinta luar biasa. Tentu saja hal itu membuatnya merasa sangat bahagia.


Namun, kebahagiaannya seolah seketika berakhir begitu datang wanita yang dianggapnya seperti seorang ibu tiri jahat.


Hal sepele yang dibesar-besarkan dan membuatnya seperti seorang wanita tidak tahu malu, membuat Putri yang sebenarnya sangat marah, berusaha untuk menahan diri agar tidak berteriak atau menari rambut wanita paruh baya tersebut.


'Seandainya dia bukan ibu dari suamiku, mungkin sudah berakhir dengan rambut rontok di tanganku. Rasanya aku ingin memplester mulut yang tidak bisa memfilter kata-katanya. Sabar, aku tidak boleh membuat suamiku merasa ilfil saat melihat sikap kasarku pada ibunya.'


Lamunan panjang Putri seketika buyar begitu kembali mendengar suara wanita di hadapannya.


"Kenapa kamu hanya diam saja? Apa kamu sekarang sadar dengan perbuatanmu yang menjijikkan?" ucap Rani semakin bertambah kesal karena tidak mendapatkan jawaban dari wanita yang masih menutup rapat bibir tersebut.


Saat Putri hendak membuka mulut untuk menjawab dengan cara elegan, yaitu mengungkapkan bahwa Arya sangat mencintainya dan akan melakukan apapun untuk ia dan putranya. Namun, tidak bisa melakukan itu saat sang suami terlebih dahulu menjawab.


"Bahkan semalam aku melihat sendiri bagaimana perjuangannya untuk melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa. Jadi, sudah sewajarnya aku sebagai suami memperlakukan istri yang telah melahirkan benihku, dengan cara meratukannya."


Arya merasa kesal karena sang ibu membuat mood-nya tidak baik saat di pagi hari dan suaranya yang terdengar cukup keras saat mengungkapkan kemurkaan, kini membuatnya menyesal begitu mendengar suara tangisan dari putranya.


Tangisan bayi yang cukup nyaring karena terkejut dengan suara dari para orang tua, kini membuat tiga orang tersebut langsung menoleh.


Refleks Putri bangkit dari pembaringan dan berjalan perlahan untuk menggendong putranya yang berada di box bayi.

__ADS_1


"Kamu pasti merasa terganggu dengan suara berisik, ya Sayang? Maafkan kami, ya?" Putri yang sudah menggendong putranya, berusaha untuk mendiamkan agar tidak menangis lagi dengan cara menyusui.


Sementara itu, Rani terdiam selama beberapa detik ketika menatap bayi mungil yang berada di pangkuan wanita yang sangat dibencinya.


Ada perasaan aneh yang menyeruak di dalam hatinya, tetapi beberapa saat kemudian, ia tidak ingin terbawa suasana dan menyingkirkan sesuatu yang mengganjal dengan cara menarik tangan Arya agar keluar dari ruangan itu karena ingin berbicara empat mata.


"Ikut Mama!"


Arya yang awalnya merasa sangat bersalah pada putranya karena berbicara dengan sangat keras, kini memilih untuk mengikuti sang ibu yang sudah menggandeng pergelangan tangan kirinya keluar dari ruangan.


"Apa lagi, Ma? Jika aku tahu respon Mama seperti ini, tidak akan memberitahu jika putraku sudah dilahirkan di dunia ini."


Rani yang awalnya memunggungi Arya, kini berbalik badan dan menatap ke arah putranya. "Jangan memanggilnya putramu sebelum jelas hasil dari tes DNA!"


"Astaga! Apa maksud, Mama? Apakah semua itu perlu saat jelas-jelas wajah putraku sangat mirip denganku? Aku yakin dia adalah putraku dan Putri tidak akan pernah berbohong dengan melakukan penipuan," sarkas Arya yang memilih untuk berbalik badan dan berjalan meninggalkan sang ibu.


Namun, baru dua langkah ia berjalan, tidak melanjutkan begitu mendengar suara dari sang ibu.


"Tunggu, Putraku! Mama melakukan ini semua demi kebaikanmu. Jika memang benar bayi yang dilahirkan Putri adalah putramu, kamu tidak perlu takut akan hasilnya, bukan?"Atau kamu sangat mencintai wanita itu dan menerima bayi dari pria lain sebagai anakmu?"


Sengaja Rani mengatakan hal itu untuk membuat putranya marah dan kesal padanya, sehingga mau menerima tantangannya. Tentu saja ia sangat mengetahui bagaimana sifat dari putranya, sehingga mempermainkan perasaan yang dianggapnya selalu lemah jika berhubungan dengan wanita bernama Putri.


Wanita yang sangat ia benci dan sampai kapanpun tidak akan pernah diterimanya sebagai menantu.

__ADS_1


'Seumur hidup, aku tidak akan pernah menerima wanita murahan itu sebagai menantuku karena dia tidak pantas untuk putraku yang sangat membanggakan,' gumam Rani yang saat ini menunggu keputusan dari sosok pria dengan badan tinggi tegap di hadapannya.


To be continued...


__ADS_2