Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
150. Mengabaikan


__ADS_3

Putri tidak bisa mengatakan atau melakukan apapun setelah Bagus mengucapkan kalimat final untuk segera berangkat bekerja. Ia tahu bahwa dirinya baru saja mendapatkan penolakan telak.


Kali ini bukan lagi sebuah penolakan halus atau kalimat lembut yang keluar dari bibir suaminya itu, melainkan langsung penolakan dengan tegas bahwa pria itu tidak mau.


Ini hanya perkara tentang dibuatkan kopi saja, tapi rasa sakit hatinya sungguh menembus sampai ke ulu hati.


‘Ternyata begini rasanya diabaikan,’ ungkap wanita itu di dalam hati selagi memandangi punggung Bagus yang semakin lama semakin menjauh dan pada akhirnya menghilang di balik pintu.


Putri menghela napas panjang, kemudian berbalik badan. Niat hati ingin membawa putranya kembali masuk ke dalam kamar.


Ia berniat untuk kembali menidurkan putranya karena sekarang kedua mata bocah kecil itu sudah terlihat sayu.


Sepertinya ia sudah kembali mengantuk setelah berada di dalam gendongan sang ibu. Namun, belum sempat masuk ke dalam kamar, ia lebih dulu dikagetkan dengan sosok Arya yang ternyata sudah berdiri di daun pintu kamar mereka.


Entah sejak kapan, tapi dilihat dari bagaimana ekspresinya, Arya sudah cukup lama berdiri di depan pintu sana.


Kamar utama dan kedua memang tepat bersebelahan, hanya dibatasi oleh dinding saja. Itu pun tidak tebal, sehingga semua kegiatan dan suara berisik yang ada di masing-masing kamar seharusnya bisa dengan mudah terdengar ke kamar yang lainnya.


“Kamu, baru bangun?” tanya Putri ragu.


Ia takut pertanyaan basa-basi ini langsung telak disadari oleh Arya karena tidak tahu harus mengatakan apa sekarang selain pertanyaan tersebut.


“Menurutmu?” tanya balik dari laki-laki itu, tentu saja memancing sang istri.


‘Ah ... sepertinya Arya mendengar percakapanku dengan Bagus,’ batin Putri selagi menghela napas pasrah. “Kamu mendengar apa saja tadi?” tanya Putri tanpa basa-basi.


Ia ingin tahu percakapan apa yang sudah didengar oleh suami keduanya itu.


“Tidak banyak,” jawab Arya, lalu berjalan mendekat dan mengecup puncak kepala istrinya dengan perasaan sayang. “Hanya ketika kamu menawarkan membuatkan kopi, sampai akhirnya pria bodoh itu pergi dari rumah ini.”


“Sudah kubilang berhenti mengatainya bodoh,” sela Putri cepat. Masih berusaha berbicara dengan nada suara yang baik.

__ADS_1


Sayangnya, Arya seperti tidak mau mendengar peringatan dari Putri dan malah semakin menjadi-jadi karena memancing hingga sampai pada limit kekesalan.


“Dia memang bodoh! Bagaimana bisa membiarkan aku tinggal di rumah ini bersamamu? Belum lagi fakta memberikan kamar utama untuk tempat tidur kita."


"Sementara dia memilih untuk tidur di kamar yang lebih kecil bersama anaknya. Apakah pria itu memang sangat mencintaimu sampai tidak tega membiarkanmu menderita, Sayang?” ujar Arya dengan sangat santai.


“Iya, dia memang sangat mencintaiku,” jawab Putri tak tanggung-tanggung.


Diperhatikannya wajah Arya yang tadinya terlihat senang, perlahan justru berubah menjadi semakin masam.


“Oh ... jadi pria itu sangat mencintaimu, ya? Bahkan rasa cintanya lebih besar dari pada rasa cinta yang aku miliki untukmu?” tanya Arya dengan mengarahkan tatapan tajam.


“Aku tidak bisa menjawabnya karena tidak bisa mengukur rasa cinta kalian berdua. Hanya kalian yang tahu sebesar apa cinta yang kalian miliki untukku. Jika kamu merasa bahwa cintamu lebih besar darinya, kamu bisa berpikir seperti itu," jawab Putri yang tidak ingin membahas hal bersifat sakral tersebut.


Ia sengaja mencari jawaban pada jalan tengah karena sejujurnya tidak tahu harus menjawab apa.


Putri takut membuat Arya marah dan cemburu jika ia sampai menjawab bahwa cinta Bagus yang lebih besar untuknya.


Meskipun jarang mengatakannya secara langsung, tapi sikap Bagus yang menjelaskan secara tidak langsung bahwa laki-laki itu memang sangat mencintainya.


“Tentu cintaku untukmu lebih besar dari pada cintanya untukmu! Jika aku tidak mencintaimu, mana mau tinggal di rumah kecil seperti ini dan membiarkan keluargaku membuangku hanya karena ingin menikah denganmu.


"Jika aku tidak mencintaimu, aku pasti akan langsung pergi meninggalkanmu ketika tidak mendapatkan restu!” Jawaban yang diberikan oleh Arya dengan nada tegas.


Benar juga jawaban pria dengan paras rupawan tersebut. Putri tidak bisa menyangkal bahwa Arya juga berkorban untuk bisa bersamanya.


Meskipun tidak sebesar pengorbanan Bagus, tapi Putri tahu bahwa Arya juga sudah berusaha sebisanya.


Putri juga sangat mencintai Arya, terlepas dari pengorbanan yang laki-laki itu berikan.


“Jangan memelukku dulu! Aku sedang menggendong Putra, nanti jatuh!” Putri sedikit menaikkan nada suaranya karena terkejut dengan lengan Arya yang tiba-tiba saja melingkarkan tangan pada perut, sangat tiba-tiba tanpa adanya aba-aba lebih dahulu.

__ADS_1


“Kamu bisa menidurkan ke tempat tidur. Setelah itu, kembali kepadaku dan mungkin saja kamu mau kembali tidur bersamaku?” goda Arya dengan senyum nakalnya itu.


Laki-laki yang memang memiliki usia yang lebih muda empat tahun darinya. Putri bisa paham mengapa sifat Arya lebih terasa seperti anak kecil ketika bersamanya, tetapi ada masanya juga bisa terlihat lebih dewasa walaupun lebih sering manja ketika mereka hanya berdua saja seperti ini.


Akan tetapi, Putri menyukainya. Bagaimana sisi laki-laki itu yang terkadang bisa menjadi seperti anak kecil dan membuatnya gemas sebagai wanita yang lebih dewasa.


Ia senang melayani Arya yang seperti ini. Putri tertawa kecil, rasa kesal dan juga rasa bersalah yang tadinya masih bersarang di dalam hatinya setelah bertengkar kecil dengan Bagus tiba-tiba saja menguap entah ke mana.


“Suami pertamamu itu sudah pergi, sekarang rumah kosong. Jadi, tidak ada yang bisa mengganggu kegiatan kita. Apakah kamu tidak ingin merasakan lagi milikku di bawah sana? Padahal sudah sangat merindukanmu karena terpaksa harus menahan pagi-pagi saat tadi kamu tiba-tiba menghilang ketika ingin masuk ke sarang."


"Sekarang pria bodohmu itu sedang pergi bekerja, bukankah tidak apa-apa jika kita melakukannya lagi?”


Arya mencuri satu ciuman lembut dari bibir Airin, walaupun hanya beberapa detik saja, tapi berhasil meningkatkan gairah Putri yang sejak tadi padam.


Ketika berada sedekat ini dengan Arya, Putri pasti akan mudah merasa terangsang. Entah karena apa, yang pasti laki-laki itu seperti memiliki sebuah daya tarik sensual yang dapat membuatnya tertarik. Hingga mau memberikan tubuhnya kepada laki-laki itu secara cuma-cuma.


Kini Putri tersenyum kecil. “Sebentar, aku akan membaringkan putraku dulu. Tunggulah di kamar,” ujar Putri dengan suara lirih.


Arya langsung tersenyum senang dan mencuri satu kecupan kilat sekali lagi pada bibir wanita itu sebelum akhirnya beranjak masuk ke dalam kamar utama lebih dulu untuk menunggu wanitanya tersebut.


Sementara itu, Putri kembali membawa Putra ke dalam kamar.


Setelah membaringkan putranya tersebut di ranjang, kembali keluar kamar dan menutup pintu dengan sangat hati-hati.


Belum sempat ia masuk ke dalam kamar utama, Putri mendengar suara pintu depan yang tertutup dengan bunyi sedikit kuat.


Keningnya berkerut dalam, kenapa bisa pintu itu berbunyi? Bukankah tadi Bagus sudah menutupnya ketika pergi?


Belum sempat pertanyaan itu terjawab, suara Arya dari dalam kamar sudah mengalihkan perhatian Putri dan membuat wanita itu akhirnya masuk ke dalam kamar dan mengabaikan apa yang terjadi pada pintu tersebut.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2