Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
245. Wakil presiden direktur perusahaan


__ADS_3

Arya hari ini benar-benar tidak pulang ke rumah kontrakannya. Akhirnya ia mengikuti saran dari sang ayah agar menenangkan diri lebih dulu dan ikut pria paruh baya tersebut pulang ke rumah keluarga Mahesa.


Arya juga sudah mengirim pesan pada Putri jika malam ini ia akan menginap di rumah sakit untuk menemani sang ibu karena tidak ada yang menjaga wanita itu di sana.


Setelah sekian lama, Arya menginjakkkan kaki kembali di rumah mewah kediaman orang tuanya. Ia menatap sekeliling bangunan tersebut, tidak ada yang berbeda sejak pertama kali ia meninggalkan bangunan megah itu.


“Istirahatlah dulu. Sebaiknya kamu tidak usah ke kantor dulu besok. Tenangkan saja dulu pikiranmu dan cerna kembali semua yang papa katakan padamu.”


Ari Mahesa menepuk pundak putranya sebelum ia melangkah meniti anak tangga, menuju kamarnya.


Sementara itu, Arya mengangguk pelan dan masih terpaku di tempatnya saat sang ayah sudah meninggalkannya.


Tatapannya beralih pada pigura besar yang ada di dinding di dekat tangga. Itu adalah foto dirinya sewaktu masih berusia 6 tahun.


Di dalam foto itu, ia tersenyum lebar di atas pangkuan sang ibu dan ayah yang berdiri di belakang seraya merangkul wanita itu. Mereka benar-benar terlihat sepeti keluarga bahagia.


Seketika mengingat memori akan masa kecil dan remaja yang ia lalui, berputar kembali layaknya sebuah kaset yang sedang memutar sebuah film. Terasa begitu nyata.


Kedua orang tuanya sangat menyayanginya sejak ia masih kecil karena memang adalah putra satu-satunya yang begitu diinginkan.


Tidak bisa dipungkiri, hubungan dengan kedua orang tuanya merenggang dan memburuk setelah ia mengenal Putri.


“Kamarnya sudah siap, Tuan Arya.”


Ucapan seorang pelayan wanita menyadarkan Arya dari lamunannya.


Membuat Arya mengerjap kaget dan menoleh ke arah sumber suara di sampingnya.


“Terima kasih,” ucap Arya pada pelayan wanita tersebut. Ia kemudian melangkah masuk ke dalam kamar miliknya yang sudah sangat lama ditinggalkan.


Arya membuka perlahan pintu kayu berwarna cokelat gelap nan mengkilat di depannya. Ia menatap sekeliling ruangan yang sangat luas itu. Semua masih sama, tidak ada yang berubah sedikit pun.


Semua barang-barang miliknya masih berada di posisi yang sama, tidak bergeser sedikit pun. Kamar itu juga terlihat begitu bersih dan rapi, juga wangi, sama seperti saat masih ia tempati dulu.


“Mama pasti sangat merawat kamar ini,” gumam Arya dengan suaranya yang sangat lirih.


Untuk urusan kamarnya, memang sang ibu yang selalu memastikan sendiri kerapian kamar.


Sang ibu akan memastikan kembali jika pelayan sudah membersihkan kamar tersebut dengan sebaik mungkin.


Arya tidak langsung membersihkan diri, pria itu membaringkan tubuhnya sebentar di atas sofa kamar yang begitu empuk dan nyaman.


Tentu saja sangat berbeda dengan sofa miliknya yang ada di rumah kontrakan mereka. Kemudian meletakkan sebelah tangannya di kening, matanya menatap langit-langit kamar yang berwarna putih bersih.


Ia kembali mencerna semua kalimat yang diucapkan oleh sang ayah saat direstoran tadi.


Sang ayah meminta Arya untuk mencari informasi tentang kebenaran hasil tes DNA itu sendiri untuk meyakinkan jika sang ayah tidak berbohong padanya.


Bahkan juga meminta agar ia merahasiakan kebenaran itu dari Putri atau siapa pun juga.


Sang ayah mengatakan agar ia memberikan balasan pada Putri dengan cara yang halus, tetapi menyakitkan.


Arya tidak akan menemui anak dan istrinya sebelum ia benar-benar meyakinkan kebenaran dari hasil tes DNA tersebut. Setelah ia benar-benar yakin dengan kebenaran itu, barulah akan mengambil langkah selanjutnya.


Untuk menenangkan pikirannya, ia memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu dengan beranjak dari tempatnya menuju ke kamar mandi. Kemudian baru ia akan istirahat.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, ia memicingkan mata, menyesuaikan sinar yang masuk melalui korena mata.


Arya tengah mengerjap beberapa saat sembari meraba-raba tangannya ke samping, di atas tempat tidur. Matanya terbuka lebar saat menyadari sesuatu yang berbeda.


“Sayang, kamu di mana ….” Arya langsung membuka mata sempurna.


Ia kemudian mentap ke sekeliling dan tidak menemukan sosok yang ia cari dan menyadari sedang berada di mana saat ini.


Kini, Arya mengangkat punggungnya untuk bersandar pada sandaran tempat tidur. Ia mengusap wajah dengan kasar, mencoba untuk menetralkan kembali pikirannya.


Ia memang terbiasa bangun dengan Putri dalam pelukannya dan ini adalah pertama kali tidur tanpa wanita itu di sampingnya setelah sekian lama mereka hidup bersama.


Arya menghela napas berat. Kemudian meraih gelas yang ada di atas nakas di samping tempat tidur, meneguk isinya hingga menyisakan sedikit.


Kembali ia menyandarakan tubuh setelah meletakkan kembali gelas itu di atas nakas. Menengadahkan kepala sembari memejamkan mata.


‘Apa aku harus membiasakan diri tanpa Putri mulai saat ini?’


Membayangkan saja, rasanya sudah membuat kepala Arya berdenyut nyeri. Bagaimana jika istrinya itu benar-benar mengkhianati dirinya?


Usai membersihkan diri dan bersiap, Arya melangkah menuju meja makan untuk sarapan yang terbilang sudah sangat kesiangan karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.


Hari ini, Arya tidak ke kantor dan ia akan memanfaatkan waktunya sebaik mungkin untuk mencari tahu akan kebenaran dari hasil tes DNA yang diberikan sang ayah.


Arya hanya ingin memastikan kembali kebenarannya. Sebelumnya, ia sudah menghubungi dokter dari rumah sakit tempat di mana sang ibu melakukan tes tersebut.


Bahkan Arya sudah sudah membuat janji temu dengan dokter tersebut.


“Tolong siapkan mobilku!” titah Arya pada salah satu pelayan laki-laki yang bertugas merawat mobil-mobil milik keluarganya.


Pelayan laki-laki berusia sekitar 40 tahun itu mengangguk patuh dan segera menuju salah satu mobil yang terparkir di garasi bawah tanah. Pria itu sudah hafal mobil apa yang biasa digunakan oleh majikan.


Pria itu melajukan kendaraan berkecepatan super tersebut dengan perasaan cemas. Hatinya terus mengajak untuk ia membelokkan mobilnya menuju rumah kontrakan yang ia tinggali selama ini bersama sang istri.


Namun, nalar segera menampik dan membuang perasaan aneh itu.


Jujur saja ia sangat merindukan istri dan anaknya. Tidak dipungkiri ia sangat khawatir dengan keadaan mereka. Padahal baru semalam saja ia tidak melihat mereka.


Arya menatap ponsel miliknya yang ia letakkan di samping dekat tempat kemudi. Ia menatap sebentar smart phone yang ia matikan sejak semalam. Setelah mengirim kabar pada Putri. Ia ingin menghidupkan benda pipih tersebut dan menghubungi istrinya, pasti sudah banyak juga pesan yang dikirimkan untuk dirinya,


Wanita itu pasti sangat khawatir padanya. Namun, lagi-lagi ia mengurungkan niatnya. Arya harus bersabar sebentar lagi.


Mobil sport Arya terparkir di sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempat orang tuanya melakukan tes DNA. Sang dokter sengaja mengajak bertemu di sebuah kafe dekat rumah sakit.


Arya mengedarkan pandangan ke sekeliling saat ia memasuki kafe tersebut. Netranya menangkap sosok yang sama dengan yang Ari Mahesa tunjukkan dalam foto di ponsel sang ayah malam tadi.


Ia melangkah menghampiri pria terlihat seumuran dengan ayahnya.


"Selamat siang. Apa benar Anda Dokter Aris?"


Sapaan Arya berhasil membuat pria yang mengenakan jas berwarna biru muda itu menoleh pada pria muda yang sudah berdiri di depan meja, di hadapannya. Sang dokter mengerutkan kening, menatap.


"Saya Arya Mahesa, putra dari Ari Mahesa yang sebelumnya sudah membuat janji temu dengan Anda." Arya kini mengulurkan tangan di hadapan dokter tersebut.


"Oh, iya. Saya Aris Danu." Dokter membalas uluran tangan dan menjabatnya.

__ADS_1


Dokter tersebut terlihat seperti sedang mencari seseorang di belakang Arya. "Apakah Anda sendirian?" tanyanya kemudian.


"Ya. Papa saya tidak bisa datang karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan." Arya memberi alasan dan dokter Arya mengangguk paham, lalu mengajak Arya untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


Sebelumnya memang ayahnya yang menghubungi sang dokter secara langsung dan mengajak pria tersebut untuk bertemu.


Arya langsung mengatakan tujuan sebenarnya, kenapa ia ingin bertemu dengan dokter tersebut. Langsung ke inti karena ia sangat malas berbasa-basi.


***


Sementara itu, di tempat berbeda. Putri sangat gelisah karena ia tidak kunjung mendapat balasan pesan dari suaminya. Ponsel Arya juga tidak aktif dan semua pesannya sejak pagi tadi masih ceklis satu.


Pikiran buruk seketika menggeluti benaknya.


Apakah mertuanya sudah sadarkan diri dan sengaja menahan suaminya agar tetap di sana? Atau wanita itu kehilangan ingatannya saat setelah sadar, sehingga suaminya harus tetap di sana?


Atau wanita itu menyampaikan hal buruk tentang dirinya, sehingga Arya enggan untuk pulang ke tempat tinggal mereka?


Atau mungkin kondisi mertuanya itu memburuk? Segala pertanyaan itu menari-nari dalam benak Putri dan menuntut jawaban.


Putri terdengar menghela napas berat, mencoba untuk menampik segala pikiran buruk yang menggelayut.


"Arya bukan pria seperti itu. Ia juga sudah janji akan kembali pulang ke rumah ini," gumam Putri yang sedang mencoba menghibur sendiri hatinya yang sedang resah.


"Mungkin ponselnya mati karena tidak ada charger di sana. Atau mungkin juga, hari ini ia tidak ke kantor."


Sejak Arya mengabari semalam dan mengatakan jika akan menginap di rumah sakit, perasaannya sudah sangat gelisah.


Bahkan semalaman ia tidak tenang dan terus terbangun. Meskipun di selalu sibuk memberikan ASI dan mengganti popok Xander.


***


"Apa kamu sudah pastikan semua bersih tanpa jejak?" Suara Ari Mahesa menggema di ruang kerja miliknya.


"Sudah, Tuan. Saya bisa pastikan tidak akan ada yang menukan kebenarannya," jawab sang asisten dengan penuh keyakinan.


"Bagus. Sudah waktunya kita bergerak dan membuat perhitungan dengan wanita tidak tahu diri itu." Sebuah seringai mengerikan terbut di bibir sang ayah yang tidak ingin kehilangan putranya


Selama ini, ia hanya diam saja dan sang istri yang terus berusaha untuk menghancurkan wanita yang sangat dibenci, tetapi kini merasa ini adalah saat yang tepat untuk menghancurkan wanita yang sangat dibenci tersebut.


Ia akan membuat perhitungan dengan cara halus, tetapi sangat menyakitkan.


Tentu saja hasil tes DNA yang ada di tangan Arya bukankah hasil yang sebenarnya. Itu semua karena hasil sebenarnya belum ia dapatkan dari pihak rumah sakit.


Ari Mahesa sengaja membayar mahal pihak terkait untuk membuat hasil tes DNA palsu. Ia dan sang istri memang ragu jika anak yang dilahirkan oleh wanita itu adalah darah daging putra mereka. Mengingat bagaimana buruknya masa lalu wanita tersebut.


Jika nanti hasil tes tersebut menunjukkan jika Arya adalah ayah biologis dari bayi yang dilahirkan oleh Putri pun, ia tidak peduli sama sekali.


Ia tidak akan mengambil anak itu dari tangan Putri karena tidak sudi untuk mengakui cucunya dari wanita yang sangat ia benci.


Arya masih bisa mendaptkan anak dari wanita lain yang jauh lebih baik dari Putri.


"Aku ingin kamu pastikan lagi semuanya benar-benar bersih. Aku tidak ingin kebenaran itu akan terbongkar di masa depan dan menjadi bumerang bagi kita sendiri," ucap Ari Mahesa pada asisten pribadinya.


"Satu lagi. Siapkan jabatan di perusahan ini untuk putraku sesuai dengan apa yang direncanakan sebelumnya. Sebentar lagi, dia akan menjadi wakil presiden direktur di perusahaan ini."

__ADS_1


"Baik, Tuan."


To be continued...


__ADS_2