Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
148. Bukan terlahir dari anak orang kaya


__ADS_3

Setelah kalimat yang diucapkan oleh Bagus terakhir kali, tidak ada lagi yang berbicara di antara mereka.


Bagus yang nyatanya masih menunggu jawaban dari wanita itu dan Putri sendiri yang tidak tahu harus menjawab apa karena rasanya perkataan pria itu tadi terasa seperti sebuah jebakan untuknya.


Putri merasa bahwa kalimat laki-laki itu tadi seperti menandakan bahwa Bagus tidak ingin dibuatkan kopi oleh Putri.


Bahkan perkataannya tadi seolah menyindir tentangnya yang baru saja menghabiskan malamnya bersama Arya di dalam kontrakan yang nyatanya merupakan tempat tinggal Bagus.


Putri merasa kalimat itu seperti sebuah tamparan keras untuknya.


Namun, nyatanya niat Bagus mengatakan itu karena ia memang tulus membiarkan Putri untuk berbuat sesuka hati.


Ia tahu wanita itu pasti sangat kelelahan. Entah karena pernikahannya atau entah apa yang semalam dilakukan bersama suami barunya itu.


Bagus sendiri tidak mau tahu tentang hal itu dan ia tidak ingin mendengar penjelasan apapun. Akhirnya berkata seperti itu, untuk membuat kopinya sendiri karena juga tidak mau menyusahkan wanita yang kini menjadi istri pria lain.


Mereka berdua berada pada pemikiran masing-masing yang nyatanya berbanding terbalik.


Putri masih cukup sensitif setelah mendapatkan banyak sekali penghinaan dari para tetangga. Meskipun juga bahagia karena akhirnya berhasil menikah dengan Arya yang merupakan laki-laki pujaan hatinya.


Namun, juga tidak bisa berbohong bahwa ia sakit hati mendengar semua perkataan orang-orang yang menganggapnya hina dan sangat berdosa karena telah berselingkuh dari suaminya.


Padahal orang lain tidak tahu saja apa yang sudah terjadi di dalam pernikahan mereka.


Para tetangga itu hanya akan mengomentari apa yang mereka lihat, tanpa ingin mencari tahu yang sebenarnya ada di belakang layar, sebab memang begitulah peran mereka.


Mengomentari hidup setiap orang yang dirasa tidak sempurna. Jika tidak melakukan itu, rasanya mereka akan mati kebosanan karena tidak ada topik yang bisa dibicarakan.


“Kau membawa susu untuk Putra?”


Suara dan pertanyaan dari Bagus menyadarkan lamunan Putri yang sejak tadi masih berdiri di depan pintu tanpa melakukan apa-apa.

__ADS_1


Laki-laki itu sudah tidak tahan dengan keheningan yang ada di antara mereka, sehingga berinisiatif untuk berbicara lebih dulu, walaupun nyatanya pertanyaan itu justru terdengar bodoh.


Jelas-jelas ia bisa melihat bahwa yang dibawa oleh wanita itu memanglah botol susu, lalu mengapa harus dipertanyakan lagi?


Namun, setidaknya Bagus sudah berusaha untuk membuat suasana di antara mereka menjadi tidak canggung lagi dan membuat suasana hening yang tadi mendominasi kini kembali dikuasai oleh suara mereka berdua.


Karena diamnya mereka juga hanya akan membuang-buang waktu, sedangkan Bagus harus cepat bergegas untuk segera pergi dan melakukan pekerjaannya hari ini.


“Ah ... iya, aku tadi mendengar suara tangis dari kamar dan kupikir kamu sudah berangkat bekerja, sehingga langsung pergi ke dapur untuk membuat susu."


"Aku berniat mengajak Putra tidur lagi, tapi ternyata kamu masih ada di sini. Maaf jika aku lancang masuk ke kamar sembarangan.”


“Sudah kubilang tidak apa-apa! Untuk apa juga kamu minta maaf. Padahal ini kamar anakmu sendiri. Bukan karena aku ada di dalam, berarti kamu jadi tidak mau masuk ke sini."


"Lagipula status kita masih suami istri, kamu ingat itu. Jangan perlakukan aku seperti orang asing di rumah ini."


Bagus hanya bisa melanjutkannya di dalam hati. 'Karena aku sungguh terluka diperlakukan seperti orang asing bagimu seperti ini. Tolong jangan anggap aku tak ada. Kita masih memiliki hubungan yang sah.'


Ia tidak akan sanggup mengatakan semuanya secara langsung kepada Putri karena tak mau membuat wanita itu jadi kesal kepadanya.


Sementara itu, Putri yang dikuasai oleh rasa bersalah, hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati.


Putri sekarang juga serba salah dengan apa yang harus ia lakukan? Berada di tengah-tengah seperti ini sungguh tidak mengenakkan.


Putri ingin lepas dari Bagus, tapi di sisi lain juga merasa tak bisa berpisah dari Bagus karena jika mereka sampai benar-benar bercerai, maka selanjutnya harus pergi ke mana karena uang saja tidak punya.


Arya pun tidak memiliki uang sepeser pun untuk membawa dirinya pergi dari sini. Putri sungguh tidak punya apa-apa lagi, harga dirinya pun sudah sangat jatuh.


Ia dicaci maki secara tidak langsung oleh para tetangga, diolok-olok dan dikatakan sebagai wanita hina. Bagaimana bisa Putri menerima semua perkataan itu untuk dirinya sendiri?


Apalagi akhir-akhir ini ia hanya menjadi beban saja di dalam rumah ini untuk Bagus. Rasanya beban di kedua pundak Putri pun kian hari menjadi kian berat.

__ADS_1


Di satu sisi, sadar bahwa semuanya telah berantakan, tapi di sisi yang lain, juga tahu bahwa ia sudah tidak bisa mundur lagi dari semua perlakuan yang telah diperbuat.


Sejak awal, ia sudah maju dan merasa mampu untuk menerima semua risiko yang terjadi ketika memutuskan untuk bersama dengan Arya.


Jika berani berbuat, juga harus berani bertanggung jawab untuk perbuatannya tersebut, tetapi Putri sadar bahwa perbuatannya telah menyakiti orang lain, yang tak lain adalah suaminya sendiri.


Sosok yang selama ini selalu berbuat baik kepadanya, yang tidak pernah membiarkannya menderita dan selalu memastikan bahwa ia akan selalu bahagia dalam pernikahan mereka. Sosok itulah yang telah Putri sakiti hatinya.


Sebetulnya untuk urusan cinta dan kasih sayang, tidak ada yang kurang dari suaminya tersebut.


Laki-laki itu memiliki banyak kelebihan untuk membuat seorang wanita menjadi tertarik kepadanya. Untuk urusan fisik juga memiliki tubuh yang cukup bagus, walaupun tidak sebagus laki-laki yang menjalani perawatan untuk melakukan gym setiap minggu.


Bagus juga memiliki paras yang cukup tampan untuk laki-laki berusia hampir empat puluh tahun, tidak ada cacat dalam dirinya sendiri dan ia mampu membuat banyak orang tertarik hanya dengan sikap baik dan senyum manisnya itu.


Putri pun pertama kali merasa tertarik kepadanya karena kebaikan laki-laki itu dan semua perlakuan baiknya itu yang tidak bisa dihindari.


Bagus cukup sempurna untuk menjadi seorang laki-laki dan juga ayah. Putri tidak akan menyangkal hal itu, sebab memang begitu kenyataannya.


Akan tetapi, semua hal yang Putri jabarkan di atas hanya berpatokan kepada kata ‘cukup’. Tidak ada yang benar-benar sempurna dari laki-laki itu.


Semua yang ada pada diri Bagus hanya akan berakhir pada kata cukup dan tidak pernah ada kelebihan, entah dari bagian manapun itu.


Bagus memang cukup tampan, tapi jika wajahnya harus dilihat terus-menerus selama beberapa tahun lamanya, yang ada, pasangannya juga bisa cepat bosan karena laki-laki itu adalah tipe yang tidak suka merawat diri sendiri.


Ia akan terlalu sibuk bekerja hingga tidak memiliki cukup waktu dengan keluarganya.


Pergi pagi dan pulang malam, akhir pekan pun lebih sering dipergunakan untuk bekerja karena katanya akan lebih banyak mendapatkan penumpang.


Tentu saja demi mendapatkan uang dan Putri akan membiarkannya, tidak banyak protes walaupun laki-laki itu lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah dari pada di dalam rumahnya sendiri.


Bagus juga tidak kaya, sederhana dan memiliki uang secukupnya. Terkadang jika Putri menginginkan sesuatu, maka Bagus memang akan selalu berusaha untuk mendapatkannya dan memberikan kepada sang istri untuk apa yang diinginkan.

__ADS_1


Akan tetapi, Putri tahu bahwa butuh usaha keras untuk mendapatkannya. Ia tidak akan bisa mendapatkan apa yang diinginkan secara instan karena Bagus bukan terlahir dari anak orang kaya yang bisa mengubah masa depannya lebih cemerlang untuk bisa hidup lebih baik.


To be continued...


__ADS_2