Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
86. Bimbang memikirkan ide


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, ruangan yang biasanya tenang dan memancarkan kesan mewah karena dihiasi dengan berbagai macam furniture mahal tersebut, kini berubah menjadi berantakan sejak sepuluh menit yang lalu.


Berkali-kali Arya pikirkan bagaimana keputusannya, tetapi hasilnya nihil. Semua sia-sia. Ia tidak bisa menemukan titik cerah dari hubungannya dengan Putri. Bahkan kemudian membanting lagi vas bunga yang entah sudah ke berapa kali melakukan hal itu.


Arya tak peduli dengan kerusakan rumahnya yang dianggapnya tidaklah seberapa. Ia hanya ingin satu jalan keluar.


Ia tidak bisa melakukan cara 'itu' demi masa depannya. Tidak mungkin melakukan perbuatan jahat dan bodoh seperti itu, yaitu meninggalkan Putri demi mematuhi perintah dari wanita yang telah melahirkannya.


Arya menyandarkan bahunya di dinding ruangan tersebut. Ia melirik Putri yang masih menangis sesenggukan sedari tadi. Sesaat terpikirkan olehnya tentang apa yang tadi ibunya bilang.


'Bagaimana jika bayi itu memang bukan anakku?' gumam Arya di dalam hati.


Kini tangan kekar itu bergerak menutup wajahnya dan sesekali mengacak frustasi rambutnya untuk menyalurkan kemurkaan yang saat ini tengah dirasakan.


Batinnya kali ini seperti berteriak sekarang. Arya sungguh jengkel dengan suasana ini. Ia yang harus kebingungan, sedangkan Putri malah menangis dan tak membantunya sedikit pun. Mungkin saja jika bayi itu adalah anak suaminya, pikirnya sesaat.


Namun, tidak mungkin. Itu menjadi bantahan dari tuduhannya.


Putri berkata jika ia sudah tidak bercinta lagi dengan suaminya. Haruskah Arya percaya itu? Apakah itu memang benar? Masih terlihat mengacak lagi rambutnya dan sebenarnya jauh di lubuk hati yang paling dalam, Arya menyesal.


Ia menyesal berbuat seperti itu pada Putri. Ia menyesal membawa dan memperkenalkan Putri pada ibunya karena berakhir membuatnya benar-benar pusing. Apakah ini saat yang tepat untuknya menyesal?


Arya menghirup napas untuk melegakan tenggorokannya yang mengering. Ia melangkah mendekat ke arah Putri yang tak kunjung berhenti menangis. Matanya sudah sembab disertai hidung yang memerah.


"Aku sudah menemukan jalan keluar, tapi ini masih kupikirkan dan juga tidak mau melakukannya," ujar Arya seraya memegang pundak wanita yang kini menatapnya dengan mata bersimbah bulir kesedihan yang sudah menganak sungai membasahi pipi putih itu.


"Kamu pasti akan meninggalkanku? Dengan semua ini? Dengan bayi ini? Apa kamu sudah gila?" balas Putri dengan sangat emosi.


Jujur, Putri jadi lebih sensitif sejak beberapa menit lalu. Tentunya hal itu sangatlah wajar karena sedang dalam fase kehamilan, ditambah dengan bentakan dan hinaan dari ibu Arya beberapa saat yang lalu tadi.


Namun, tingkahnya yang mudah emosi malah membuat Arya makin jengkel.


Arya sama sekali tidak berkata akan meninggalkannya, tapi Putri malah semakin menumpahkan air mata dan menangis lagi.


"Bukan, Sayang. Ehm ... ini demi kebersamaan kita. Namun, sepertinya aku tidak bisa melakukannya," tutur Arya dengan tangan yang mengusap lembut punggung Putri perlahan untuk menenangkan perasaan sosok wanita di sebelahnya.


Ia melirik mesin waktu di pergelangan tangan kiri, hanya sisa sepuluh menit lagi. Waktu untuknya menemukan keputusan, hanya tinggal beberapa menit lagi.


Apa Putri setuju dengan keputusan ini? Apa Putri siap? Arya terus bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah ini memang hal yang benar atau tidak.


Arya saat ini benar-benar dibuat kebingungan dengan hal tersebut.


Bahkan ia menatap lekat ke arah manik kecoklatan Putri yang terlihat mengecil. Ia pegang kedua lengan Putri, seolah memberi kekuatan untuk mendengar apa yang akan ia ucapkan.


"Apa keputusanmu? Apa itu berdampak pada kebersamaan kita? Apa kita akan berpisah?" tanya Putri dengan wajah penuh kekhawatiran.


Arya menggeleng pelan kemudian menjawab, "Kita akan selalu bersama jika melakukan cara ini, tapi apa kamu siap?"


"Cepat katakan saja keputusanmu!"


Arya membuang napas gusar, lalu ia kembali menatap lekat wanita di hadapannya. "Kita, gugurkan bayi itu."


Putri terdiam detik itu. Tangisnya juga berhenti, tapi air mata tetap mengalir di pipi putihnya. Tangan kanannya bergerak mengusap perutnya yang terbilang masih rata.

__ADS_1


Ia bahkan merasakan kehidupan di sana, Putri menunduk untuk menatap janin dan perutnya yang akan terus tumbuh selama beberapa bulan ke depan.


Putri tidak kuasa lagi menahan tangis yang sedari tadi ia tahan. Sungguh berat hatinya saat harus melepas nyawa yang ada bersamanya.


Ini terlalu jahat bagi seorang ibu depertinya. Ia tahu bagaimana rasa bahagia saat melihat seorang anak yang lahir dari rahimnya.


Ia tahu bagaimana leganya saat bisa berjumpa dengan anak yang di tunggu-tunggu. Putri merasakan semua itu bersama suaminya—Bagus. Rasa bahagia juga haru ia lalui bersama laki-laki penyabar itu. Namun, apakah kali ini ia harus merelakan bayi itu?


"A-aku, aku tidak bisa kehilangan bayi ini. Aku tidak mau. Aku tidak bisa!" Putri dengan suara bergetar dan menyayat hati, kini berusaha untuk menguatkan hati.


Terlihat wanita dengan wajah pucat itu memeluk erat perutnya dan berjalan menjauhi Arya.


Arya menghela napas berat. Tentu saja ia sudah tahu jika Putri tidak akan mau menggugurkan bayi itu. Ia tahu bahwa Putri adalah sosok seorang ibu. Arya berjalan mendekat ke arah Putri yang tersudut di ujung ruangan.


Tangisnya seketika kembali terdengar. Bahkan hari ini, sudah banyak air mata Putri yang keluar.


Kini, Arya memeluknya, berniat untuk membagi kesakitan yang Putri rasakan.


Bahkan Arya mengusap pelan punggung wanita itu. Ia menyadari bahwa itu punggung seorang ibu yang rapuh, tapi harus menopang keluarga.


Harus sibuk setiap pagi, membangunkan anaknya, membereskan kamar, menyiapkan makanan dan lain-lain. Itu adalah tugas yang melelahkan bagi makhluk lembut seperti seorang wanita yang sering disebut malaikat tak bersayap.


"Arya."


Arya menoleh saat ibunya memanggil namanya. Ia bangkit sambil merangkul Putri.


Sementara itu, Putri sudah mulai menghentikan tangisnya karena tak mau makin mendapat hinaan dari Reni.


"Ada apa denganmu, Wanita murahan? Mengapa kamu menangis? Apa karena akan berpisah dengan putraku? Tenang saja. Kamu, kan pandai dalam mencari pria kaya. Jadi, cari saja pria lain untuk ayah dari bayimu itu," tutur Reni tanpa beban dan tanpa mempedulikan jika itu sangat menyayat hati wanita yang sangat tidak disukainya itu.


"Aku sudah menentukan keputusan, tapi tidak mau melakukannya," tutur Arya menghadap ibunya.


"Astaga, ruangan ini menjadi sangat berantakan, Sayang. Apa kamu yang melakukannya? Apa se-bingung itu sampai harus merusak barang?" umpat Reni yang beberapa saat lalu membulatkan kedua mata begitu melihat keadaan rumah yang porak poranda.


"Ma, ini terlalu sulit untukku," keluh Arya dengan wajah frustasi.


Arya kini terlihat memeluk tubuh ibunya yang sedikit lebih pendek darinya.


Reni melirik ke arah Putri, dengan senyum miringnya, berkata. "Kamu lihat? Putraku lebih memilih bersama ibunya dan anakmu akan tetap bersamamu, kamu paham?"


Putri ternganga, harapannya untuk menikah dengan Arya benar-benar hancur bagai kepingan vas bunga yang berserakan di ruangan itu. Sudah tak ada lagi harapan yang bisa Putri sandarkan.


"Ma, bukan seperti itu. Aku tidak mau berpisah dengan Putri karena ia adalah duniaku. Aku sangat mencintainya, Ma," tutur Arya seraya melepas pelukannya.


"Apa? Kamu lebih memilih wanita itu daripada Mama?" sarkas Reni dengan wajah memerah penuh kegeraman dan menatap penuh kebencian pada wanita di hadapan.


"Bukankah ini keterlaluan, Nyonya? Bukankah sekarang terlihat membatasi kebahagiaan putra Anda? Anda seorang ibu, bukan?" ujar Putri yang sedari tadi sudah geram.


Ia sudah sangat muak melihat perlakuan Reni yang lembut pada Arya dan sangat kasar padanya. Tanpa mempedulikan perasaannya sama sekali yang sedang mengandung cucu wanita dengan kalimat pedas tersebut.


"Tentu aku seorang ibu dan semua ibu tahu mana yang terbaik bagi anaknya. Bukan sepertimu! Aku sekarang ingin bertanya padamu. Jika kamu juga sudah memiliki seorang anak? Apa tidak marah jika berada di posisi Arya?" umpat Reni tidak mau kalah.


"Hentikan perdebatan ini, Ma karena aku merasa yang terbaik untukku adalah menikahi Putri. Mama harusnya mendukungku mendapatkan kebahagiaan," keluh Arya ikut menyahut dan ingin membela sang kekasih yang sudah terpojok.

__ADS_1


Reni memijat kepalanya yang mendadak pening. Ia menyadari bahwa saat ini putranya benar-benar sangat tergila-gila pada wanita yang sangat tidak disukainya, sehingga lebih memilih untuk meluapkannya pada Putri.


"Dengar, Wanita murahan. Apa yang kamu tahu soal mengurus anak? Aku sudah lebih handal dan lebih tahu mana yang baik dan mana yang buruk bagi putraku. Bagiku, kamu adalah hal buruk untuk putraku!"


Bagai petir di siang hari, air mata Putri kembali mengalir. Tanpa ia sadari, semua yang Reni katakan tentangnya itu benar. Reni lebih berpengalaman dalam mendidik anak. Namun, membatasi kebahagiaan anak? Putri merasa itu tidak benar. Bahkan Arya juga sudah dewasa.


Reni kembali menarik napas dalam sebelum mengutarakan pendapat yang bisa saja menyakiti kedua belah pihak.


"Mama punya solusi untuk kamu, Sayang."


Reni tersenyum tipis. Bahkan kini terlihat tangannya dilipat di dada dan sempurnalah sosok mertua yang sangat tidak diinginkan oleh menantu mana pun karena memasang wajah garang.


"Jangan bilang jika solusi Anda adalah menggugurkan bayi ini. Bahkan aku tidak setuju dengan perkataan Arya karena itu bukan solusi, Nyonya," tutur Putri yang memotong pembicaraan dari wanita paruh baya tersebut.


Kini, wanita itu sudah merapikan rambutnya yang tadinya berantakan, sudah diikat dan terlihat rapi. Tidak seperti beberapa saat lalu yang benar-benar kusut dan berantakan.


"Aku seorang ibu yang hanya ingin terbaik untuknya." Reni menatap ke arah putranya yang dianggap telah diguna-guna oleh wanita itu


"Kamu harus menentukan, memilih wanita yang melahirkanmu atau dia?" tutur Reni dengan senyum miring yang terlihat mengerikan.


Arya sangat terkejut dan tertegun mendengar itu. Tentu saja itu adalah pilihan yang lagi-lagi menyudutkannya. Ia tidak mau menjadi anak durhaka dan membantah pada seorang ibu.


Namun, ia juga tidak mau menjadi laki-laki berengsek yang meninggalkan tanggungjawabnya dan membiarkan anaknya hidup tanpa mengetahui siapa ayahnya.


"Bisakah kamu memilih itu untuk Mama, Sayang? Itu hal yang mudah, bukan?" tanya Reni yang kini kembali ingin menyadarkan putranya dari kesalahan.


Sementara itu, Arya terdiam dan masih tidak berkutik sedari tadi. Ia masih bingung dan tidak tahu harus apa.


Putri yang tidak ingin Arya kembali bimbang dan ragu, langsung berteriak, "Itu tidak adil! Bagaimana bisa Anda memberikan pilihan seperti itu?" bantah Putri dengan suara penuh kesedihan.


Ia tahu jika Arya tentu akan memilih ibunya. Namun, Putri juga tidak mau berujung menyedihkan, hingga harus memohon untuk mendapatkan cinta.


"Diam, kamu! Bahkan aku tidak bertanya atau pun membutuhkan pendapatmu!" balas Reni yang tertuju pada Putri dengan mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi.


Sementara itu, tubuh Putri bergetar hebat dan ia kali ini benar-benar sangat takut.


Jika Arya memilih ibunya, otomatis ia akan dibuang. Ia akan kembali kepada laki-laki lemah bernama Bagus. Namun, ia merasa ragu. Apakah ia akan diterima dengan tangan terbuka? Setelah semua yang terjadi. Apakah ia akan dimaafkan.


Kini, ia menyadari betapa tingginya harapan yang telah dibangun. Bahkan ia yang ingin mendapatkan semuanya sesuai keinginan, yaitu memiliki seorang suami dari keturunan konglomerat dan memiliki segala kesempurnaan yang diidamkan para wanita.


Sementara di sisi lain, Arya masih tetap pada pendiriannya, yaitu tidak bisa meninggalkan sosok wanita yang sangat dicintai.


"Arya, tidak bisa memilih salah satu di antara kalian, Ma,"


Reni masih menatap tajam iris pekat di hadapannya. Ia benar-benar sangat heran dengan tanggapan putranya.


"Kenapa? Itu pilihan yang sangat mudah, Sayang. Jika memilih Mama, tentu hidup kamu akan tenang tanpa hambatan. Begitu juga akan sebaliknya. Jika kamu memilih wanita itu, hanya akan kesengsaraan yang didapatkan. Ingat itu baik-baik, Putraku."


"Kamu masih memikirkan masa depanmu, kan? Perusahan membutuhkan CEO sepertimu," lanjut Reni.


Arya refleks melirik Putri yang juga menatapnya. Ia ragu dan takut jika pilihan yang dipilihnya justru menyakiti salah satu dari wanita yang dicintai.


Ia tidak mau harus menanggung rasa sesal yang pastinya akan menghantuinya seumur hidup.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2