Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
255. Keputusan Bagus


__ADS_3

Bagus saat ini baru saja tiba di rumah. Setelah pembicaraannya dengan sang kakak ipar, mengenai Putri yang sudah melahirkan dan juga membahas gugatan cerai yang akan dilayangkan dan diurus oleh Amira Tan yang memang merupakan seorang pengacara handal di kota.


Bagus tadi menjawab pertanyaan Amira Tan, saat ingin tahu apakah ia akan datang ke kontrakan Putri untuk menjenguk bayi yang dilahirkan.


Sebenarnya ia tidak ingin melihat anak Airin dengan pria lain. Akan tetapi, ada rasa penasaran di dalam hati.


Mengenai seperti apa bayi yang merupakan hasil perselingkuhan istrinya tersebut bersama dengan putra dari seorang konglomerat.


Jadi, saat ia mengatakan tidak ingin datang ke kontrakan Putri pada sang kakak ipar yang penasaran. Namun, ketika malam menjelang, ia berubah pikiran dan rencana untuk datang tanpa memberitahu wanita itu.


Ya, ia berencana datang ke kontrakan Putri bersama dengan putranya yang sangat merindukan sang ibu karena sudah lama tidak bertemu. Selama ini, putranya hanya berkomunikasi melalui panggilan video.


Terkadang selalu menangis dengan mengatakan ingin bertemu sang ibu, tetapi ia selalu beralasan jika wanita yang sudah menjadi milik orang lain tersebut sedang sakit.


Ia selalu menipu putranya karena tidak tega jika mempertemukan dengan sang ibu yang nantinya sudah tidak akan tinggal bersamanya lagi. Mungkin Putri tidak akan mengingat buah cinta mereka setelah berhasil masuk ke dalam keluarga besar Mahesa.


Kini, Bagus mengulas senyuman ketika membuka pintu rumah dan disambut oleh putranya yang langsung berlari ke arahnya saat berada di depan televisi bersama dengan tetangganya yang selama ini memang ia suruh menjaga bocah laki-laki yang masih kecil tersebut.


"Ayah!"


Bagus kini langsung menggendong putranya dan seperti biasa, cium dengan gemas pipi putih cabi yang selalu menjadi ritual ketika pulang kerja.


"Sayangku sudah makan?"


Anggukan kepala menjadi jawaban dari balita tersebut dan tersenyum bahagia saat melihat sang ayah telah pulang kerja. Namun, ia seperti sedang mencari sesuatu.

__ADS_1


"Jajan? Mana jajannya?"


Bagus hari ini memang sengaja tidak membeli apapun sebagai buah tangan untuk putranya. Padahal selama ini ia selalu membeli jajanan untuk bocah laki-laki itu saat pulang kerja.


"Kita beli nanti saat di jalan. Putra mau ikut Ayah bertemu dengan ibu?"


"Ibu?" tanya Putra dengan wajah yang saat ini terlihat seperti merasa aneh dan heran dengan pertanyaan sang ayah.


Namun, itu tidak berlangsung lama karena ia saat ini terlihat berbinar wajahnya karena merasa senang bisa bertemu dengan sang ibu yang sangat dirindukan.


"Putra mau bertemu ibu."


Bagus saat ini menganggukkan kepala dan menurunkan putranya kembali ke atas kasur tipis yang ada di depan televisi. "Ayah mandi dulu. Putra tunggu di sini sambil menonton TV, oke?"


"Oke." Putra yang terlihat sangat patuh pada perintah sang ayah, kini beralih menatap ke arah televisi yang menampilkan film kartun kesukaannya.


"Apa kalian masih berhubungan baik setelah apa yang dilakukan oleh istrimu?" tanya wanita paruh baya dengan rambut sedikit memutih tersebut saat merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh pria yang berstatus menggantung karena belum bercerai dengan sang istri yang telah menikah lagi.


Saat ini Bagus mengerti apa yang dipikirkan oleh wanita yang mengurus putranya tersebut, sehingga tidak ingin ada kesalahpahaman. "Bukankah sudah sewajarnya menjalin hubungan baik dengan orang lain?"


"Meskipun orang itu menyakiti kita, tetapi tidak mungkin akan membalas dengan kejahatan. Jika aku melakukannya, lalu apa bedanya dengan orang jahat?"


"Semua orang pernah melakukan kesalahan dan dosa, tapi Tuhan memberikan kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik seiring berjalan waktu. Jika Putri sudah bertobat dan memilih untuk berpisah dan bahagia dengan pria yang ia cintai, aku tidak bisa apa-apa selain mendoakan agar dia bisa bahagia selamanya."


"Sebenarnya dia sudah melahirkan, jadi aku ingin menjenguknya. Juga membahas tentang perceraian kami."

__ADS_1


Wanita paruh baya dengan tubuh sedikit gemuk tersebut, memang dari dulu sangat mengagumi sosok pria penyabar yang berdiri di hadapannya. Ia dan para tetangga yang lain sebenarnya merasa heran dengan Putri.


Bagaimana mungkin bisa mengkhianati suami yang sangat baik hati dan penyabar yang bahkan tidak pernah terlihat marah ataupun bertengkar dengan sangat hebat di rumah. Sementara para tetangga lain sering sekali terdengar berisik ketika bertengkar.


Namun, rumah tangga yang selama ini terlihat harmonis pada pandangan para tetangga, malah hancur berantakan karena perselingkuhan dari sang istri.


Sampai saat ini, mereka tidak tahu, apa penyebab dari hancurnya rumah tangga Bagus dan Putri. Hanya bisa menebak jika sang istri ingin merasakan menjadi istri dari pria muda dan kaya.


Ada sebagian orang yang merasa iri pada keberuntungan Putri yang bisa mendapatkan pria muda dan kaya raya. Menganggap bahwa itu merupakan sebuah keberuntungan yang berawal dari kesalahan.


"Kamu memang pria berhati malaikat. Aku doakan, semoga hidupmu nanti bahagia bersama wanita lain yang mencintaimu dan mau menerima segala kekurangan. Aku pulang dulu."


Wanita dengan dress panjang berwarna coklat tua khas ibu-ibu paruh baya tersebut kini berjalan keluar setelah menepuk bahu kokoh pria yang lebih tinggi darinya tersebut.


Bagus masih mengamati pergerakan pengasuh putranya yang perlahan menghilang di balik pintu dan gelapnya malam. Sebenarnya ia tadi ingin membantah perkataan atau lebih tepatnya adalah sebuah doa baik untuknya.


Namun, ia sudah bertekad untuk tidak menikah lagi setelah kehidupan rumah tangga yang hancur berantakan.


Ia hanya ingin fokus mengurus anak dan berencana akan pulang ke kampung satu bulan lagi. Ya, setelah bekerja dengan sering lembur, ia akhirnya mempunyai uang yang cukup untuk membayar hutang dan sebagai model ketika berada di kampung nanti.


Tujuan utama adalah membuka lembaran baru di tempat yang menjadi tanah kelahirannya. Berharap hidupnya akan jauh lebih baik dibandingkan berada di sini. Jika terus berada di kota yang sama dengan Putri, ia hanya akan mengingat luka yang ditorehkan wanita itu.


Bagus berencana untuk mengatakan tentang apa yang akan dilakukan saat menemui Putri nanti. Bahwa ia akan mengajak putranya pulang ke kampung halaman. Mungkin akan jauh lebih tentram jika tinggal di desa, daripada di kota besar yang membutuhkan biaya hidup lebih tinggi.


Meskipun penghasilan juga seimbang, tetapi tidak membuatnya menjadi kaya raya setelah bekerja selama bertahun-tahun di kota besar.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2