
"Arya, berhenti! Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."
Tanpa mempedulikan larangan itu, Putri sudah membuka resleting gaun yang membalut tubuh di hadapannya tersebut hingga ke bawah dan tentu saja kini sudah menampilkan kulit putih bagian belakang Putri
Dengan tersenyum smirk, ia sudah mendekatkan wajah dan bibirnya untuk menelusuri leher putih nan jenjang itu. Saat ia berniat untuk memberikan kiss mark, suara teriakan Putri membuatnya mengurungkan niat.
"Stop!. Aku tidak ingin tubuhku penuh dengan kiss mark karena pria tua itu akan tahu. Jika sampai dia melihat di leherku ada bekas perbuatanmu, bagaimana?"
Ia berbalik badan dan tentu saja melihat ekspresi wajah masam dari pria yang seketika dengan kasar mendaratkan tubuh di atas sofa.
Kamu marah?" tanya Putri yang kali ini merasa sangat takut jika sosok pria yang sangat dicintainya ilfil padanya.
Arya yang sebenarnya merasa sangat marah karena larangan Putri membuatnya seperti tidak bisa berbuat apapun yang disukai.
"Buat apa kau bertanya jika sudah tahu jawabannya!"
"Maafkan aku."
"Astaga!" Arya kini mengacak frustasi rambutnya karena merasa seperti seorang penjahat saja karena membuat wanitanya selalu meminta maaf.
"Apa tidak ada kata lain selain minta maaf?"
Tanpa membuka mulut untuk berbicara, Putri memilih hanya menggelengkan kepala. Rasa bersalah selalu dirasakan saat ia mengecewakan Arya dan membuatnya tidak bisa mengatakan apapun lagi selain meminta maaf yang dianggapnya bisa menyelesaikan masalah.
Arya yang kini masih menatap intens sosok wanita yang berdiri menjulang di hadapannya, ingin menjelaskan bahwa ia benar-benar sangat bosan mendengar perkataan sang kekasih.
"Aku bosan mendengarmu selalu meminta maaf, seolah aku adalah seorang pria yang jahat saja "
Putri sama sekali tidak mempedulikan tatapan lapar pria yang kini tidak berkedip menatapnya saat setengah telanjang akibat perbuatan Arya yang sudah membuka resleting gaunnya.
"Kalau begitu, jangan marah padaku."
Tidak ingin di hari baik berubah buruk, Arya memilih untuk bangkit berdiri dan langsung meraup tubuh dan membawanya ke ruangan kamar sebelah.
"Lebih baik kita bersenang-senang daripada bertengkar dan aku tidak menerima alasanmu."
__ADS_1
Putri yang kini sudah berada di atas lengan kekar Arya memilih untuk melingkarkan tangannya pada leher belakang pria dengan paras rupawan tersebut.
"Aku tahu dan sudah sangat hafal."
Kini, mereka berdua sudah tiba di ruangan kamar yang berukuran luas dengan dihiasi beberapa furniture mahal.. Keduanya terlihat tengah beristirahat di atas ranjang king size dengan posisi miring saling berhadapan.
Melihat tatapan tajam dari pria yang saat ini tengah menatapnya dengan sorot mata mengintimidasi, membuat Putri hanya bisa menelan salivanya dengan kasar.
Putri seperti tersihir saat melihat ketampanan pria yang merupakan selingkuhannya tersebut. Tanpa berkedip sama sekali, ia mengamati siluet pria yang menurutnya sangat tampan dan seksi.
"Kau sangat tampan dan juga seksi, Arya."
Baru saja Putri menutup mulut, ia merasakan ada sesuatu yang mengalir dan mengetahui apa penyebabnya.
Refleks ia beranjak turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi sambil berteriak.
"Ambilkan tasku yang ada di depan, Arya!"
Arya yang kini mengerutkan kening karena merasa sangat heran atas perbuatan aneh Putri. Namun, ia tetap mengambil tas dan mengetuk pintu kamar mandi.
"Apa yang kamu lakukan? Ini tasmu."
Tidak ingin berdiri terlalu lama di depan kamar mandi, Arya akhirnya berjalan menuju ke arah ranjang dan menunggu di sana hingga Putri keluar dari kamar mandi.
"Apa yang terjadi padanya?"
Beberapa saat kemudian, Arya yang masih dengan sabar menunggu karena penasaran, kini melihat ekspresi wajah wanita yang terlihat menundukkan kepala seolah tidak ingin menatapnya.
"Ada apa? Apa yang terjadi?"
Putri yang tadi menyuruh Arya mengambil tas karena ada benda penting di dalamnya, yaitu pembalut wanita karena ia baru saja menstruasi.
Tentu saja ia kali ini kembali didera rasa bersalah dan takut mengecewakan pria yang dicintai.
"Maaf."
__ADS_1
"Lagi? Bukankah dari tadi aku katakan jangan selalu meminta maaf padaku!" umpat Arya dengan wajah masam.
"Aku menstruasi." Putri kini melihat ekspresi wajah sosok pria yang kini membulatkan mata dan mengacak frustasi rambutnya.
Refleks Arya kini geleng-geleng kepala begitu mendengar suara dari Putri yang semakin membuatnya bertambah kesal.
"Kau tidak bisa dipakai sekarang dan berhasil menambah rasa kesal yang kurasakan," umpat Arya yang tadi mengingat mencari sesuatu yang digunakan wanita saat menstruasi.
Melihat wajah masam dari pria yang menurutnya sangat menggemaskan tersebut, membuat Putri kini malah tidak berhenti tertawa.
"Ini bukan kemauanku, tetapi selalu datang sendiri. Terimalah semuanya karena setiap bulan ada masanya datang."
"Sial! Aku tidak bisa menahannya, Sayang. Pakai cara lain saja!" ucap Arya yang kini sudah bangkit berdiri dari ranjang.
Sementara itu, Putri yang mengerti apa yang dimaksud oleh Arya, bisa melihat pria dengan badan penuh otot perut tersebut melepaskan penutup bagian bawah.
Tanpa membuang waktu, ia sudah mendaratkan tubuh Putri ke atas ranjang dan membungkam bibir sensual itu. Tanpa mempedulikan ekspresi wajah wanita di hadapannya yang membulatkan mata dengan perbuatannya.
Beberapa menit kemudian, Putri berlari ke kamar mandi. Ia kini muntah-muntah di kamar mandi gara-gara perbuatan Arya dan terlihat sangat lemas dan berjongkok di depan closet.
'Sialan, Arya. Harusnya tadi mengatakan kalau akan keluar. Bukan malah meledakkannya di mulutku."
Putri kini sudah bangkit dari posisinya dan berjalan menuju ke arah wastafel untuk berkumur-kumur sambil menatap pantulan dirinya di cermin.
Ia tidak berkedip menatap pantulan dirinya dan tiba-tiba bayangan dua pria terlihat berdiri di belakangnya. Dua pria yang tak lain adalah Bagus dan Arya yang merupakan suami dan selingkuhannya.
Jujur saja di dalam hati terdalam, merasa sangat berdosa atas apa yang dilakukan karena telah berselingkuh saat masih berstatus sebagai seorang istri.
"Maafkan aku," lirih Putri yang saat ini seolah melihat wajah sendu dari suaminya. "Aku ingin hidup bahagia. Salahkah aku jika ingin hidup bahagia bersama dengan pria yang bisa membuatku senang?'
Berbeda dengan ekspresi wajah Arya dalam bayangan yang terlihat seolah adalah seorang pria yang paling bahagia di dunia ini.
"Aku bahkan sudah beberapa kali bercinta dengan Arya," seru Putri yang kini memilih untuk mengerjapkan mata agar bayangan yang terlihat di hadapannya menghilang dari pandangan.
Benar saja, bayangan dua pria yang berbeda ekspresi itu kini sudah menghilang dan membuat Putri memilih untuk segera melangkahkan kaki telanjangnya menyusuri lantai dingin kamar mandi.
__ADS_1
Saat ia keluar dari kamar mandi, melihat sosok pria yang saat ini malah sudah tertidur dengan sangat pulas. Putri yang kini berjalan mendekat, hanya bersedekap dada dan geleng-geleng kepala.
To be continued...