
Putri sama sekali tidak perduli ataupun merasa takut akan kutukan pria dengan wajah memerah tersebut karena sangat mempercayai Arya yang sangat mencintainya.
"Dia memang masih sangat muda dan belum mempunyai tanggung jawab, tapi dia akan berubah setelah mempunyai anak. Semua orang akan berubah lebih baik pada waktunya."
"Jadi, jangan menjelekkan dia agar aku mengurungkan niatku untuk menikah dengannya!" sarkas Putri yang ingin merubah pikiran dari sang suami.
Bunyi gemeretak gigi yang saling beradu dari Bagus, terdengar sangat jelas dan terlihat ia tengah mengepalkan kedua tangan untuk menahan amarah yang ingin meledak saat itu juga.
Harga dirinya kini seolah terluka dan mungkin dia tidak akan punya muka lagi saat semua tetangga mengetahui perselingkuhan dari istrinya.
'Apa yang harus aku lakukan, ya Allah. Semua tetangga akan menghinaku dan juga istriku. Sebenarnya aku lebih takut pada azab yang akan Engkau berikan, ya Allah.'
'Bahkan selama hidup di dunia, kami pun akan mendapatkan hinaan dari pandangan semua orang yang mungkin akan merasa jijik pada ibu dari anak-anakku. Aku masih sangat mencintainya dan tidak mungkin menceraikannya karena ada anak kami yang akan terluka.'
Bagus menatap tajam wajah cantik sang istri dan tidak lupa menahan kedua sisi lengan di hadapannya, berharap perbuatannya itu mampu menyadarkan kekhilafan yang telah dilakukan.
"Aku akan memberikan pelajaran pada bajingan itu. Dia harus dibuat sadar bahwa perbuatannya adalah salah saat mengganggu istri orang."
Putri merasa sangat kebingungan saat melihat kemurkaan dari pria yang selama ini tidak pernah marah padanya. Apalagi melihat tatapan penuh kilatan api yang terpancar dari netra pekat sang suami.
Tentu saja ia kini memutar otak untuk mencari cara menghentikan ulah pria yang sudah melepaskan cengkeramannya dan berjalan ke arah pintu keluar.
"Jika kau menyentuhnya sedikit saja, aku akan melaporkan pada polisi dan semua orang di kampung kita akan mengetahui penyakitmu yang sudah bertahun-tahun," seru Putri dengan santainya.
Bagus yang tadinya ingin membuka pintu, berbalik badan dan semakin membuatnya merasa sangat murka karena ibu dari anaknya lebih membela pria selingkuhannya.
__ADS_1
"Kamu sudah dibutakan oleh rayuan syetan, Putri. Orang tua pria itu akan sangat jijik melihatmu dan tidak akan pernah merestui anaknya menikahi wanita yang sudah bersuami."
Putri yang merasa sangat kesal mendengar ancaman dan kalimat bernada penghinaan itu, membuatnya merasa muak saat menatap pria di depannya.
"Arya sangat mencintaiku dan berjanji akan menikahiku. Meskipun orang tuanya tidak akan memberikan restu, dia tetap akan menikahiku untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jadi, kau harus menceraikan aku, agar kami bisa menikah!”
“Aku tidak akan pernah menceraikanmu! Apalagi di dalam hukum Islam, wanita hamil tidak boleh diceraikan!" hardik Putri untuk menyadarkan istrinya. Bahkan teriakannya itu membangunkan putranya yang sesaat sempat dilupakan.
Suara tangis dari balita laki-laki itu semakin membuatnya merasa sangat bersalah telah mengganggu tidur nyenyaknya. Refleks ia berjalan ke arah ranjang untuk mendiamkan tangis putranya karena sang istri sama sekali tidak bergerak atau tergugah hatinya.
Putri yang merasa sangat pusing karena perkataan dari sang suami yang tidak mau menceraikannya, tentu saja kini membuatnya merasa frustasi.
Ia sama sekali tidak pernah memikirkan hal yang barusan dikatakan oleh sang suami dan kini membuatnya merasa sangat takut tidak bisa menikah dengan pria tampan yang sangat dicintainya.
Kakinya yang jenjang kini melangkah keluar kamar untuk menghubungi Arya. Tentu saja untuk membicarakan tentang hal ini, bahwa apapun yang terjadi, harus bisa menikah dengan pria berstatus perjaka dan mempunyai paras tampan yang membuatnya sangat tergila-gila.
Namun, ia merasa sangat kesal saat tidak mendapatkan jawaban meskipun sambungan telpon tersambung. "Ke mana sih dia? Apa dia kembalin pergi tidur?"
Putri mengempaskan tubuhnya di atas kursi yang ada di teras rumah dan menatap ke arah beberapa tetangga yang sudah berlalu lalang.
Waktu pagi hari selalu dimanfaatkan para tetangga pergi ke pasar karena harus memasak untuk keluarga. Berbeda dengan dirinya yang sangat malas memasak.
Apalagi saat ini, ia sedang merasa tidak enak badan karena efek lemas pada kehamilan di trimester pertama. Saat ia tengah menyandarkan kepalanya di dinding sambil memijat pelipis, indera pendengarannya menangkap suara dari putranya yang memanggil-manggil.
"Ibu ... ibu." Bocah balita laki-laki itu langsung duduk di pangkuan sang ibu dan berniat bermanja-manja.
__ADS_1
Putri yang merasa sangat pusing, tentu saja merasa sangat terganggu. "Ibu pusing! Jangan duduk di pangkuan Ibu. Duduk di kursi, sana!"
Merasa sangat kesal, bocah laki-laki itu terlihat mengerucutkan bibir dan terpaksa menuruti perintah dari sang ibu dengan duduk di kursi sebelah kanan. Merasa ingin diperhatikan, mengungkapkan keinginannya. "Ibu, makan. Lapar."
"Astaga, ini anak menyusahkan saja! Sana minta makan sama bapakmu! Urusin anakmu ini! Aku pusing," teriak Putri dengan kepala menoleh ke arah dalam rumahnya.
Sementara itu, Bagus yang tadinya tengah berada di dapur untuk memasak nasi, baru saja selesai dengan kegiatannya. Setelah menenangkan putranya, ia tidak ingin melanjutkan pertengkaran karena tidak ingin dilihat oleh anaknya.
Dengan berjalan ke arah depan, ia berniat untuk mengajak anaknya yang saat ini terlihat mengerucutkan bibir saat mendekatinya.
"Putra kenapa, Sayang." Membungkukkan badan dan mulai menggendong putranya.
"Ibu nakal. Malah sama Putra," lirih balita tersebut dengan mata berkaca-kaca.
Bagus kini mengusap lembut rambut hitam putranya dan melihat siluet sang istri yang tengah memijat pelipis. "Ibu, lagi sakit. Jadi, jangan diganggu, ya. Ayo, ikut Ayah pergi membeli telur buat digoreng. Anak Ayah lapar, kan?"
Hanya anggukan kepala yang menjadi jawaban dari bocah laki-laki tersebut dan
Bagus saat ini sedang berpikir untuk mencari cara memisahkan istrinya dengan pria selingkuhannya karena masih sangat mencintainya. Meskipun mengetahui bahwa sang istri telah berselingkuh hingga hamil, tetap saja tidak mengurangi rasa cintanya.
'Aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan pernah menceraikanmu. Aku yakin jika pria yang kau banggakan itu hanya memanfaatkanmu dan kau akan dibuang begitu saja,' gumam Bagus yang saat ini sedang sibuk mencari cara untuk menyadarkan sang istri agar tidak semakin terjerat pada gelimang dosa.
Bagus yakin jika pria yang dipuji-puji oleh Putri hanyalah memanfaatkan istrinya saja dan langsung membuang setelah bosan. Tidak ingin Putri mengalami nasib nahas seperti sang ibu, Bagus ingin menyelamatkan sang istri.
'Kenapa perkataan Amira kini benar-benar terjadi? Seolah ia tahu bahwa istriku telah lama berselingkuh tanpa sepengetahuanku. Apa ia memang sudah mengetahuinya?' gumam Bagus yang berjalan bersama sang putra untuk pergi membeli telur.
__ADS_1
To be continued...