Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
97. Kedatangan saudara tiri


__ADS_3

"Orang kedua yang diuntungkan adalah Bagus karena keinginannya untuk tidak bercerai dengan Putri akan terwujud dan terakhir adalah Ari Mahesa yang harapannya untuk menyelamatkan putranya dari hal yang akan mempermalukan keluarga besar Mahesa."


"Putri, bahkan sekarang tidak ada yang mendukungmu. Kamu mau meminta dukungan siapa lagi? Jika kamu menjadi seorang saudara yang baik, aku mungkin akan mendukungmu, tapi tidak berlaku setelah perbuatan burukmu itu."


Kini, Amira mengulas senyuman setelah merasa lega karena sudah mengambil keputusan dan tidak dipusingkan oleh kebingungan serta keraguan seperti beberapa saat yang lalu.


"Sepertinya aku harus mengabarkan ini pada pria naif itu," ucap Amira yang kini meraih ponsel di dalam tas miliknya dan langsung membuka daftar kontak.


Ia memang sudah menyimpan kontak Bagus karena dulu pria itu menghubunginya untuk meminta bantuan agar menggagalkan gugatan cerai Putri.


Jika dulu ia sangat berharap Putri bercerai dengan suaminya, tetapi sekarang berbeda karena ingin melihat wajah memerah wanita itu. Seketika ia berubah pikiran begitu rencananya berubah pada detik terakhir.


Kini, Amira tidak jadi menghubungi Bagus karena ingin menemuinya langsung di rumahnya.


Ia yang sudah mengetahui rumah kontrakan Bagus dari detektif yang disewanya, kini kembali menyalakan mesin mobil dan mengemudikannya meninggalkan tempat tersebut.


Tak lupa sudut bibirnya melengkung ke atas begitu memikirkan bisa melihat ekspresi dari wajah Putri yang merupakan saudara tirinya tersebut.


"Putri ... aku ingin melihat seperti apa wajahmu nanti setelah mengetahui kabar ini. Aku yakin wajahmu akan memerah dan dikuasai oleh amarah. Aku tidak akan memperkenalkan diriku sebagai saudaramu, tapi hanya sebagai seorang pengacara Arya Mahesa."


"Jika Bagus tidak ada di rumah, aku akan menyampaikan kabar penting ini pada Putri_ adikku tersayang."

__ADS_1


Kemudian ia menambah kecepatan mobilnya karena ingin segera bertemu dengan saudara tirinya untuk pertama kali.


Tiga puluh menit berlalu, kini mobil berwarna merah yang membawa Amira Tan sudah berbelok di gang kecil dan membuatnya mengurangi kecepatan karena mengetahui ada banyak anak-anak yang sedang bermain dan kadang berlarian.


Ia bahkan mengedarkan pandangannya untuk fokus mencari nomor rumah yang diketahui adalah rumah kontrakan Putri dan Bagus.


Begitu ia menemukannya, langsung menginjak pedal rem dan memarkir mobilnya di depan rumah yang terlihat sangat kecil tersebut.


Bahkan jarak begitu dekat antara kanan kiri, membuatnya berpikir bahwa kehidupan orang-orang di sekitar sana seperti tidak punya privasi.


Bagaimana tidak, jarak yang terlalu dekat dari rumah satu ke yang lainnya membuatnya berpikir bahwa mungkin jika ada pasangan yang bertengkar, akan didengar oleh tetangga yang lain.


'Aku benar-benar sudah gila. Aku bahkan masih perawan, tapi malah memikirkan pasangan suami istri yang bercinta,' umpat Amira yang saat ini tengah meremang kulitnya karena memikirkan hal-hal intim.


Tidak ingin semakin gila, ia berjalan keluar dari mobil dan langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah teras dengan pintu berwarna coklat yang tertutup rapat.


Tanpa membuang waktu, ia yang kini sudah berdiri di depan pintu, langsung mengangkat tangan yang mengepal untuk mengetuk pintu.


Suara ketukan pintu terdengar sangat jelas karena suasana rumah berukuran kecil tersebut sangat sepi seperti tidak berpenghuni dan membuatnya merasa khawatir jika tidak ada orang di sana.


'Apa dia tidak ada di rumah?' gumam Amira yang kini tengah mengerutkan kening saat tidak ada aura kehidupan di dalam rumah. Seolah menjelaskan tidak ada orang di dalam sana.

__ADS_1


Baru saja Amira ingin mengetuk kembali pintu, ia mendengar suara bariton dari belakang dan membuatnya menoleh.


"Amira? Kenapa kamu datang ke sini?"


Bagus yang tadi memilih untuk pulang awal karena ingin membicarakan tentang masalah Putri mengenai meminjam uang dari Aini.


Ia benar-benar sangat terkejut begitu melihat ada mobil mewah di depan rumah kontrakan yang diketahuinya adalah milik Amira, sehingga merasa khawatir jika wanita yang dianggapnya sangat arogan itu akan bertemu dengan Putri untuk mencari masalah.


"Lebih baik kamu pulang sekarang. Lagipula, dari mana kamu tahu aku tinggal di sini?"


Bagus melanjutkan perkataannya dalam hati dengan perasaan berkecamuk karena dipenuhi kekhawatiran.


'Bagaimana jika dua bersaudara ini bertengkar dan berkelahi? Apalagi sifat Putri dan Amira sama-sama bar-bar. Tidak akan ada yang akan mau mengalah.'


Baru saja Bagus selesai bergumam dan melihat Amira hendak membuka mulut untuk menjawab, tetapi tidak jadi karena melihat gagang pintu yang bergerak dan membuatnya mengetahui siapa yang akan membuka pintu.


Begitu melihat sosok wanita yang saat ini tengah menggandeng putranya, membuat Bagus merasa sangat kebingungan ketika Putri bertanya dengan nada suara penuh sindiran.


"Siapa? Apa kamu ingin bersaing denganku dengan membawa wanita selingkuhanmu ke rumah ini?" umpat Putri yang sekilas melihat mobil mewah berwarna merah yang terparkir rapi di depan rumah dan membuatnya merasa sangat kesal.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2