Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
123. Parfum mahal


__ADS_3

Arya benar-benar sangat frustasi begitu beberapa saat lalu melangkah masuk ke dalam ruangan kamar yang menjadi ruangan pribadi sosok wanita di atas gendongannya. Ia yang tadi sangat bergairah, mendadak mood-nya seketika hilang begitu menatap ranjang tipis yang akan digunakannya untuk bercinta.


Tentu saja ia langsung mengumpat sesuka hati untuk melampiaskan kekesalannya agar tidak membuatnya sakit kepala. Bahkan saat ini, rasanya ingin meledak ketika hasrat sudah berada di ubun-ubun, tetapi tiba-tiba kehilangan mood.


Sementara di sisi lain, Putri yang kini baru menyadari penyebab Arya marah dan kesal bukan karena dirinya, tetapi karena ruangan kamar sempit yang selama ini menjadi tempatnya beristirahat.


Ia yang tadinya berbaring di atas ranjang dengan posisi telentang dan berpikir Arya akan menjamah tubuhnya untuk menyalurkan hasrat, kini memilih bangkit dan menghampiri pria dengan tubuh tinggi tegap tersebut memunggunginya.


"Maafkan aku karena hanya bisa membantumu sebatas ini. Rumah ini memang tidak layak ditempati oleh pria sepertimu yang merupakan keturunan konglomerat. Aku sadar diri dan tidak bisa berbuat apa-apa selain ini."


Meskipun sebenarnya Putri merasa bahwa perbedaan antara ia dan Arya sangat besar. Ibarat bagaikan bumi dan langit, tapi ingin egois dan tidak memperdulikan hal itu karena satu-satunya yang diinginkan hanyalah menjadi istri Arya.


Tentu saja kalimat sosok wanita di belakangnya yang terdengar sangat menyayat hati dan seketika membuat Arya berbalik badan untuk menatap sosok wanita dengan wajah pucat itu.


Kali ini, ia baru menyadari jika wajah Putri sangat jauh berbeda seperti biasanya. Pucat dan terlihat lebih kurus, sehingga kini memilih untuk mengarahkan Putri untuk duduk di atas kasur tipis yang dianggapnya seperti alas kaki itu.


"Duduklah, Sayang. Aku baru sadar jika wajahmu hari ini sangat pucat. Apa karena kamu muntah-muntah tadi? Atau karena memang efek hamil jadi seperti ini? Aku tidak marah padamu, hanya kesal pada diri sendiri karena tidak bisa mencari tempat tinggal dan menjadi pria tidak berguna."


Arya yang saat ini sudah duduk di sebelah Putri, merasakan tangan dengan jemari lentik sang kekasih melingkar di pinggangnya dan bersandar pada dadanya.


"Bukan ... bukan seperti itu. Kamu bukan tidak berguna, tapi memang orang tuamu yang membuatmu menjadi seperti ini, agar segera kembali ke rumah. Aku sangat senang dan bahagia karena kamu tidak menyerah saat mendapatkan berbagai hantaman menimpa hidupmu."


Putri yang merasa dirinya lebih baik setelah mencium aroma khas maskulin dari pria yang juga tengah memeluknya erat.


Kehamilannya kali ini sangat berbeda dengan dua anaknya yang dulu karena biasanya ia akan mual dan muntah ketika mencium aroma parfum, tapi kali ini ia malah sangat menyukai aroma parfum khas milik pria yang masih dipeluknya dengan sangat erat.


"Parfummu seperti candu. Aku sangat menyukainya. Padahal kebanyakan para wanita hamil selalu mual dan muntah jika mencium aroma parfum, tapi kali ini kehamilanku berbeda. Aku sangat menyukai parfum ini."


Sementara itu, Arya yang dari tadi mengusap lembut lengan Putri, hanya terkekeh geli mendengar pernyataan ibu dari calon anaknya tersebut.

__ADS_1


"Sepertinya anakku tahu jika parfum ini merupakan barang mahal. Jadi, dia sangat menyukainya."


"Namanya juga keturunanmu, pasti sangat mirip dengan ayahnya," sahut Putri yang kini memilih bangkit dari posisinya dengan menarik diri dan duduk tegak tanpa bersandar lagi pada dada bidang Arya


"Kamu sangat wangi dan aku dari dulu sangat menyukai aroma parfummu."


Refleks Arya kini mengendus aroma tubuhnya untuk memastikan kebenaran perkataan wanita yang sangat mengagumi parfum mahal yang selalu membuatnya merasa sangat percaya diri.


"Kamu sangat pintar, Sayang. Aku selama ini belum pernah merasakan bau badan karena memakai parfum terbaik dan termahal. Parfum khusus milikku memiliki aroma khas maskulin yang tahan lama, meskipun seharian beraktivitas."


Sementara Putri yang fokus menatap wajah tampan pria di hadapannya terlihat sangat percaya diri, membuatnya terkekeh geli atas sikap lebay Arya.


"Kamu sudah seperti seorang bintang iklan parfum saja karena membahas masalah minyak wangi. Aku jadi penasaran pada merk parfum yang kamu gunakan. Coba sini, lihat! Aku ingin mengetahui parfum yang membuatmu selalu wangi."


Kemudian Arya kini memilih untuk membual agar Putri semakin tergila-gila padanya.


"Memang ada yang dulu pernah menawarkanku untuk menjadi bintang iklan parfum karena sering membelinya. Sepertinya, mereka menyadari bahwa nilai jual wajahku sangat menjanjikan dan akan menguntungkan perusahaan mereka."


Tentu saja untuk mengambil koper miliknya di dekat pintu tadi. Kemudian Arya mendorong troli koper saat berjalan masuk kembali mendekati sosok wanita dengan posisi masih sama, yaitu duduk di tepi ranjang.


Arya kini membuka koper miliknya dan mengambil parfum yang selalu digunakan dan menjadi favoritnya.


"Kamu pasti tidak pernah melihat parfum ini, kan?" tanya Arya yang kini sudah menunjukkan parfum miliknya pada sang kekasih.


Ini adalah Caron Poivre. Aroma parfum ini berasal dari bahan-bahan alami seperti kayu dan bunga.


Putri yang menyadari bahwa ia hanyalah wanita miskin yang tidak tahu apapun mengenai barang mahal, kini hanya menggelengkan kepala karena sama sekali tidak pernah melihat parfum yang dikemas dalam botol Baccarat buatan tangan yang indah dengan kerah dan kristal mewah emas putih tersebut.


Apalagi selama ini, kemasan botol plastik mendominasi parfum murahan yang dipakainya. Tidak hanya itu saja, sebenarnya ia tidak pernah memakai parfum saat di rumah karena berpikir untuk berhemat agar tidak cepat habis.

__ADS_1


Namun, setelah bertemu dengan Arya, ia lebih sering memakai parfum, agar selalu tampil wangi di depan pria yang sangat dicintainya tersebut.


Berbeda saat ia hanya bersama dengan Bagus di rumah, sama sekali tidak memakai apapun tanpa memperdulikan penampilan. Akhirnya ia memilih berkomentar sesuai dengan apa yang dirasakan olehnya.


"Aku hanyalah orang miskin yang membeli parfum di pasar dengan harga 20 sampai tiga puluh ribu. Mana mungkin aku pernah melihat parfum semewah ini. Bentuknya saja memang sangat indah. Bagaimana dengan baunya?"


Putri membuka parfum dalam botol kaca yang terlihat sangat indah tersebut. Namun, ia yang tidak tahu cara membukanya, memaksa membukanya.


"Kenapa susah sekali membukanya?"


Sementara itu, Arya yang dari tadi hanya diam mengamati pergerakan Putri yang membuatnya geleng-geleng kepala karena melihat wanita itu tidak mengetahui cara membuka parfum. Padahal baginya, itu merupakan hal yang sepele.


"Astaga. Sini, biar aku tunjukkan cara membukanya!" Arya mengarahkan tangannya untuk meminta parfum miliknya yang masih terus berusaha untuk dibuka oleh Putri.


Sementara itu, Putri yang masih belum menyerah, tidak ingin dianggap kampungan oleh Arya dan hanya menggelengkan kepala.


"Sebentar lagi. Aku sedang membukanya."


Hingga tanpa sengaja, botol kaca di tangannya lolos dan jatuh ke lantai.


Refleks Putri langsung membekap mulutnya karena merasa sangat bersalah telah memecahkan botol parfum yang masih berisi penuh tersebut.


Ia melihat pecahan kaca dengan parfum yang berserakan di lantai dan seketika aroma wangi menguar di udara memenuhi ruangan kamarnya yang sempit menjadi sangat wangi.


Bahkan Putri merasa ia seperti sedang mandi parfum karena sekarang ini ruangan kamarnya benar-benar sangat wangi.


Namun, Putri yang kali ini benar-benar merasa sangat bersalah, sama sekali tidak berani menatap wajah sosok pria yang berdiri di hadapannya itu masih belum mengeluarkan suara sama sekali untuk berkomentar.


'Astaga, apa yang harus kulakukan? Kenapa aku sangat bodoh dan ceroboh seperti ini? Suasana hati Arya sedang tidak baik. Dia tidak marah, kan? Atau ia murka dan akan menghukumku,' gumam Putri dengan perasaan bergejolak karena merasa takut akan mendapatkan kemurkaan dari Arya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2