
Sosok wanita yang tak lain adalah Amira Tan terlihat tengah memeriksa data mengenai kasus yang akan ia tangani. Ia kini makan siang di sebuah restoran setelah bertemu dengan klien.
Sengaja hari ini ia menikmati makanan setelah klien pergi dengan membahas kasus yang akan ia tangani. Namun, saat mengunyah makanan sambil membaca berkas di atas meja, seketika mengangkat wajah dengan mendongak dan menatap sosok pria yang merupakan saingan dalam pekerjaan.
Pria yang baru saja menyapa dan tanpa meminta izin darinya, langsung duduk di hadapan.
"Apa kamu akan selalu seperti ini seumur hidupmu, Amira?" tanya sosok pria dengan menggunakan setelan hitam putih dengan rambut klimis yang bernama Jack Leus tersebut.
Amira merasa sangat malas ketika berhadapan dengan sosok pria yang dari dulu semenjak kuliah mengejar cintanya, tetapi sama sekali tidak menggoyahkan hatinya untuk tetap melajang hingga sampai detik ini.
Sebenarnya pria di hadapannya tersebut memiliki paras yang cukup tampan, tubuh yang ideal dan kulit putih bersih. Namun, hal itu malah membuatnya merasa sangat ilfil karena mengetahui bahwa pria bernama Jack yang suka tersenyum pada para wanita tersebut sering mempermainkan perasaan.
Hal itulah yang membuatnya sama sekali tidak tertarik ketika Jack menyatakan cinta padanya. Ia malah merasa sangat jijik pada pria yang suka mengobral cinta dan rayuan pada para wanita.
Meskipun memiliki paras rupawan, tetapi jika gemar berganti-ganti pasangan, tentu saja membuat ia merasa jijik. Jadi, meskipun dari dulu pria itu selalu menyatakan cinta padanya, hanya dianggap angin lalu dan sebuah candaan semata.
Amira Tan saat ini masih memicingkan mata karena tidak memahami apa yang dimaksud sosok pria dengan sudut bibir melengkung di hadapannya tersebut.
"Lebih baik kamu pindah ke meja sebelah karena aku ingin makan dengan tenang, tapi sebelum itu, jelaskan dulu apa maksudmu tadi? Aku sama sekali tidak paham dengan apa yang baru kamu katakan."
Sementara Jack saat ini terlihat geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan dari wanita cerdas yang berubah menjadi lambat berpikir tersebut.
__ADS_1
"Aku kebetulan lewat sini karena kelaparan, tapi lebih baik jika ada teman saat menikmati makan siang. Apa kamu tidak menyadari berapa usiamu saat ini, Amira? Apakah kamu tidak berniat untuk mengakhiri masa lajang? Atau ingin menunggu sampai orang-orang menghinamu dengan sebutan perawan tua yang tidak laku?"
Kini, Amira mulai menangkap maksud dari kalimat ambigu yang beberapa saat lalu dikatakan oleh Jack. Ia merupakan seorang wanita karir yang memiliki banyak uang dan sama sekali tidak pernah berpikir jika belum menikah menjadi masalah untuknya.
Hingga ia pun memilih untuk menjawab dengan sangat singkat dan padat. "Aku single dan sangat happy. Apakah kamu bermasalah saat melihatku happy? Aku pun tidak pernah menyusahkan orang lain ketika belum menikah karena memenuhi kebutuhan sendiri dengan bekerja tanpa menyusahkan orang lain."
"Jadi, lebih baik kamu pergi sebelum aku melempar piring ini ke wajahmu!" umpat Amira Tan dengan wajah tenang, tetapi penuh kemurkaan, sehingga mengungkapkan kalimat kasar tanpa memikirkan tanggapan dari beberapa pengunjung yang sedang menikmati makan siang.
Namun, Jack sama sekali tidak merasa tersinggung ataupun marah. Ia malah bertepuk tangan mendapatkan kemurkaan dari wanita yang tidak pernah berhasil ditaklukan dari dulu.
"Wah ... kamu memang wanita karir sukses yang tidak menyusahkan orang lain, tapi ada baiknya memikirkan nama baik keluargamu. Pasti orang tuamu merasa malu karena ada banyak teman yang bertanya kapan putrinya menikah."
Kemudian ia langsung mencari sebuah berita dan menunjukkan pada Amira Tan. "Aku baru saja mendapatkan klien penting."
"Apa kamu datang hanya ingin untuk menyombongkan diri padaku?" Amira Tan saat ini masih dengan santai kembali menyuapkan satu sendok makanan dalam mulut dan mengunyahnya hingga habis sambil mendengarkan perkataan pria yang membuatnya seketika membulatkan mata.
Jack saat ini hanya tersenyum simpul sebelum menjelaskan apa yang kebetulan ingin ditanyakan.
"Sebenarnya aku benar-benar tidak sengaja bertemu denganmu di sini untuk makan siang. Namun, sepertinya kita berjodoh dan ada sebuah ikatan takdir yang menyatukan kita berdua dengan apa yang akan kusampaikan."
"Aku baru saja menandatangani kerjasama dengan Ari Mahesa. Kamu pasti tahu karena tadi pria itu menceritakan tentangmu. Kamu adalah kakak tiri dari wanita bernama Putri Wardhani yang menikah siri dengan Arya Mahesa, kan?"
__ADS_1
Amira Tan saat ini mempunyai feeling buruk ketika pengusaha sukses yang tak lain merupakan mertua adik tirinya tersebut bekerja sama dengan pria yang ada di hadapannya.
"Apa yang saat ini kamu ketahui? Lebih baik katakan saja padaku sekarang karena aku ingin mengetahui rencana pria itu. Jika tidak ingin mengatakan padaku, pergilah dan jangan buang-buang waktuku yang sangat berharga."
Saat ini, Jack masih terlihat santai dan tidak menuruti perintah Amira Tan karena sangat hafal dengan watak wanita yang selalu bersikap ketus tersebut.
"Sabarlah, Sayang. Aku memang bekerja sebagai pengacara perusahaan Mahesa, tetapi sepertinya harus mengatakan apa informasi yang kudapat hari ini. Aku tahu jika kamu bisa menjaga rahasia."
"Lebih baik cepat katakan karena aku mau kembali ke kantor. Makananku sudah habis dan tidak ada alasan untuk berlama-lama di sini dengan pria yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan sepertimu." Amira Tan terlihat merapikan berkas yang ada di meja dan memasukkan ke dalam tas kerja miliknya.
Hingga ia yang saat ini memanggil pelayan untuk meminta bill makanan, tidak jadi beranjak dari kursi setelah hal yang diungkapkan oleh Jack membuatnya merasa trenyuh.
"Tuan Ari Mahesa saat ini menyuruhku untuk membereskan wanita bernama Putri Wardhani yang merupakan saudara tirimu itu. Sebenarnya, pria itu menyukai kinerjamu. Namun, tadi ia menceritakan jika kamu tidak profesional karena mementingkan ikatan persaudaraan."
Jack saat ini mengamati ekspresi wajah wanita yang saat ini tidak jadi pergi tersebut dengan tersenyum simpul. Kemudian ia kembali melanjutkan perkataannya.
"Tuan Ari Mahesa tadi jelas-jelas mengatakan bahwa aku harus melindungi apapun yang berhubungan dengan putranya—Ari Mahesa. Pria yang menikahi dengan adik tirimu itu akan menjadi wakil direktur dan sudah kembali ke rumah keluarga besar tanpa istrinya karena masalah tes DNA."
"Tes DNA itu merupakan hasil bahwa bayi yang dilahirkan oleh wanita bernama Putri tersebut ternyata bukan merupakan anak biologis dari keturunan keluarga Mahesa."
To be continued...
__ADS_1