Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
278. Etika kesopanan


__ADS_3

"Kenapa tidak diangkat juga? Memangnya Bagus ke mana?"


Amira Tan tidak menyerah dan ia kembali memencet tombol panggil, tetapi hingga dua kali ia melakukannya, tetap tidak mendapatkan jawaban juga.


Akhirnya ia memilih untuk menelpon Jack karena ingin mengatakan bahwa tidak terjadi apapun padanya. Hingga ia pun kembali memicingkan mata karena juga tidak mendapatkan jawaban.


"Astaga! Ke mana mereka? Apa lupa tidak membawa ponsel? Hingga kompak seperti ini," ucap Amira Tan yang kini mulai berjalan menuju ke arah pintu keluar karena ia ingin melihat sang ibu.


Begitu masuk di dalam kamar orang tuanya, ia sudah melihat wanita paruh baya tersebut tengah terbaring di atas ranjang dengan cairan infus di tangan kiri dan membuatnya merasa sangat bersalah.


"Maafkan aku, Ma. Aku memang bodoh karena menyukai mantan suami adik tiriku


Mungkin sudah saatnya aku membuang jauh perasaan ini."


"Aku tidak akan membuat Mama seperti ini lagi. Maafkan aku karena memilih untuk minum-minuman beralkohol hingga mabuk dan berakhir membuatmu khawatir."


Selama beberapa saat Amira Tan mengusap lembut punggung tangan sang ibu. Menyalurkan aura positif untuk wanita paruh baya yang sangat disayanginya tersebut.


Hingga ia pun memilih untuk bangkit berdiri dari posisinya yang tadi berdiri di atas kursi. "Aku pergi dulu, Ma."


Amira Tan merasakan perutnya mulai meminta untuk diisi karena dari pagi hingga siang belum makan. Namun, ia yang merasakan pusing pada kepala, tidak jadi turun ke lantai dasar.


Ia memilih masuk ke dalam kamar dan langsung menelpon kepala pelayan, agar membawa makanan untuknya ke kamar.


Kemudian memeriksa, apakah nomor whatsapp Jack dan Bagus sudah online. Namun, ia mengerutkan kening karena belum aktif juga.


"Astaga! Ke mana mereka?"


Saat Amira Tan diam berpikir, refleks ia mengingat sesuatu hal yang tadi dikatakan oleh sang ayah.


"Apakah pria yang dimaksud papa adalah Bagus?"

__ADS_1


Namun, ia menggelengkan kepalanya karena merasa jika itu tidak mungkin terjadi. Mana mungkin itu terjadi? Bahkan mereka sama sekali tidak saling mengenal."


Amira Tan kini terdiam sejenak dan kembali mendengar suara cacing di perutnya telah berbunyi.


"Lama sekali makanannya. Baru saja ia menutup mulut, pintu kamar diketuk dan membuatnya langsung membuka mulut.


"Masuk !"


Sosok wanita paruh baya terlihat masuk ke dalam kamarnya sambil membawa nampan. "Ini makanannya, Nona."


"Terima kasih."


Amira Tan yang langsung berjalan menuju ke arah sofa karena makanan sudah diletakkan di atas meja. Namun, saat ia baru saja hendak menikmati makanannya, mendengar suara deru mobil yang berhenti di bawah.


Merasa penasaran, ia pun berjalan ke arah jendela karena ingin mengecek dari atas, siapa yang datang. Hingga ketika ia membuka korden dan melihat ke bawah, mengerjapkan kedua mata begitu melihat dua pria yang berjalan masuk ke halaman rumah.


"Astaga! Mereka ke sini bersama? Bagaimana bisa?"


Sebenarnya Amira Tan ingin segera turun ke bawah untuk menemui dua pria itu, tetapi rasa lapar luar biasa membuatnya mengurungkan niat. Hingga ia pun memilih untuk menikmati makanannya terlebih dahulu.


"Baik, Nona Amira Tan. Saya akan turun sekarang." Wanita paruh baya yang dari tadi masih berdiri di dekat meja, kini memilih untuk membungkukkan badan dan berlalu pergi.


Sedangkan Amira Tan langsung menikmati makanan kesukaannya. Terlihat beberapa kali ia mengerjapkan kedua mata karena merasa sangat menyukai makanan yang sangat lezat itu.


Beberapa saat kemudian, ia sudah menghabiskan makanan dan memilih untuk menunda waktu menemui Jack dan Bagus.


"Biarkan saja mereka menunggu. Tubuhku sangat lengket karena belum mandi. Tidak mungkin aku turun dengan keadaan seperti ini. Penampilan berantakan dengan bau tidak sedap."


"Kenapa sekarang aku seperti seorang wanita dengan dua pria yang memperebutkanku, ya?"


Merasa jika apa yang ia katakan sangat konyol, kini Amira Tan menepuk jidatnya sendiri dan memilih untuk mandi. Hingga ia pun segera pergi mandi, agar terlihat lebih segar.

__ADS_1


Saat berada di dalam kamar mandi, ponselnya berdering dan tentu saja tidak ada yang menjawabnya.


Hingga beberapa saat kemudian, terlihat Amira Tan sudah selesai mandi dengan memakai kimono, serta handuk kecil melilit di rambutnya.


Di saat ia hendak menyisir rambut, melirik ke arah nakas. Di mana ponselnya berdering dan begitu mengangkat panggilan dari nomor asing, indra pendengarannya menangkap suara bariton dari seberang.


"Dasar wanita tidak tahu berterima kasih. Seharusnya biarkan saja wanita sialan sepertimu dibiarkan saat diganggu oleh para lelaki."


Amira Tan yang merasa sangat terkejut, kini merasa ada sesuatu yang tidak beres.


"Astaga! Siapa kau? Kenapa tiba-tiba menghubungi dengan menghinaku? Apa maksudmu sebenarnya?"


Saat baru saja menutup mulut, ia mengerutkan kening ketika sambungan telepon telah terputus.


"Aku belum selesai berbicara, tapi dia malah mematikan sambungan telpon. Menyebalkan sekali. Sebenarnya siapa dia?"


Saat belum sempat ia menjawab pertanyaan yang menari di otaknya, kini suara ketukan pintu terdengar kembali dan ia sudah bisa menebak jika itu adalah pelayan.


Ia pun kini berjalan menuju ke arah pintu dan berniat untuk menyuruh pelayan mengatakan pada Jack dan Bagus menunggu lima menit lagi.


Namun, ia membulatkan kedua mata begitu melihat sosok pria yang berdiri di hadapannya. "Dasar tidak sopan!"


Amira Tan seketika menutup pintu karena melihat ada Jack yang ternyata nekad untuk menemuinya di kamar. Refleks ia mengingat belum memakai pakaian dalam dan tidak ingin Jack melihatnya.


"Cepat turun ke bawah. Nanti aku akan menemuimu. Kenapa kamu ke sini, Jack?"


Amira Tan berniat untuk berjalan menuju ke arah walk in closet, tetapi sangat terkejut karena ternyata Jack nekad membuka pintu yang tadi memang tidak ia kunci.


Bahkan tangan kekar itu sudah melingkar di perutnya karena memeluk dengan sangat erat.


"Amira syukurlah kamu selamat. Aku sangat mengkhawatirkanmu dan semalaman tidak tidur. Aku sangat takut jika kamu diperkosa oleh si bartender itu." Jack sudah tidak bisa lagi menahan perasaan yang membuncah memenuhi dirinya.

__ADS_1


Hingga ia nekad diam-diam menemui sosok wanita yang sangat dicintai itu tanpa memperdulikan etika kesopanan karena saat ini, satu-satunya yang diinginkan hanyalah ingin segera melihat Amira Tan. Wanita yang sangat ia khawatirkan karena dibawa kabur oleh pria asing


To be continued...


__ADS_2