Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
67. Sebuah pesan


__ADS_3

"Kebiasaan buruk seorang pria adalah selalu tertidur pulas setelah menyalurkan hasrat." Putri geleng-geleng kepala melihat pria yang tadi sudah membuatnya muntah-muntah di kamar mandi.


Putri memilih berjalan ke arah balkon karena ingin melihat suasana di luar apartemen yang dipenuhi dengan banyaknya bangunan tinggi menjulang.


"Akan sangat membahagiakan jika selamanya bisa hidup bersama dengan Arya" ucap Putri yang berbalik badan dan berjenggit kaget serta membekap mulutnya begitu melihat sosok pria yang baru saja diumpatnya sudah berada di hadapannya.


"Astaga! Kamu benar-benar mengejutkanku!"


Sementara itu, Arya yang tadinya hanya berpura-pura tidur karena tidak ingin mendapatkan kemurkaan saat membuat wanita itu merasakan bukti kenikmatannya.


Ia mendengar suara Putri yang meminta untuk tidur dipeluk dan begitu melihat siluet belakang wanita itu menuju ke balkon, membuatnya tersenyum menyeringai.


Hingga saat ia bangkit dari posisinya yang berbaring di atas ranjang, mendengar harapan Putri yang ingin selamanya hidup bersamanya.


"Impianmu pasti akan menjadi kenyataan, Sayang. Kita akan selamanya bersama dan hidup bahagia."


Arya yang sudah duduk di atas ranjang bersama Putri, kini sudah melingkarkan tangannya di perut datar sang kekasih dan menaruh dagunya di atas pundak.


Putri yang merasa sangat terharu dan mempercayai apapun yang dikatakan oleh Arya, kini memilih untuk melepaskan tangan dengan buku-buku kuat tersebut dari perutnya.


"Aku mempercayaimu melebihi siapapun. Jangan pernah berpikir untuk mengkhianatiku."


Tentu saja Arya merasa kecewa karena Putri meragukannya. Namun, ia mencoba untuk mengerti dan meyakinkan wanitanya.


Arya kini memilih untuk naik ke atas ranjang dan menyuruh sang kekasih berbaring menghadapnya.


"Bukankah tadi kau mengatakan ingin tidur di pelukanku? Kemarilah!"


Arya membuka lengannya agar wanita yang selalu meragukannya tersebut segera datang padanya.


Hati berbunga-bunga dan bahkan ia yang kini tersenyum malu, memilih untuk mendekat dan tidur dengan kepala di atas lengan kekar pria yang langsung mendekapnya erat.


"Jadi, kamu tadi mendengarnya?" Mengarahkan jari telunjuknya untuk melukis dada bidang telanjang dan ditumbuhi bulu-bulu halus tersebut.

__ADS_1


Sebuah hal yang tidak pernah dilakukannya dan baru kali ini ia bersikap sangat nakal dengan meraba tubuh dengan otot-otot yang kencang dan menyilaukan matanya tersebut.


"Iya dan aku merasa tidak berhasil membahagiakanmu saat kamu mengeluh tadi. Sepertinya setiap hari setelah kita menikah, aku harus menahan rasa kantuk yang datang setelah bercinta. Aku akan menunggumu tidur dulu, baru akan tidur."


Arya bahkan sudah menahan tangan Putri yang membuatnya terpancing gairah dan menyadarkan tidak akan pernah bisa menyalurkannya lagi saat wanita dalam pelukannya tersebut seperti trauma karena perbuatannya tadi.


"Berhenti dan jangan memancingku, Sayang! Kenapa saat kamu menstruasi malah sangat nakal seperti ini?" Mengarahkan tatapan mata tajam untuk mengintimidasi sosok wanita yang malah membuatnya merasa semakin gemas.


Di sisi lain, Putri hanya terkekeh geli dan mendongak menatap ke arah wajah dengan pahatan sempurna tersebut. "Atau apa? Kamu akan memberikanku hukuman lagi padaku?"


"Maybe. Apa apa kau mau mengulangnya?" ucap Arya yang kini tidak berkedip menatap wajah cantik Putri, terutama pada bibir sensual yang ingin sekali segera dilumatnya.


"Jika kamu melakukannya lagi, aku akan menariknya!" sarkas Putri yang kini tengah mengarahkan tangan kirinya untuk menarik hidung mancung Arya.


"Sebenarnya aku ingin selalu bersamamu, tapi selama belum bercerai, tidak bisa melakukannya." Memejamkan mata dan membenamkan wajahnya di dada bidang pria yang hanya diam saja saat diberinya sebuah hukuman.


Bahkan ia yang masih sibuk mengendus aroma khas tubuh wangi Arya, kini mengingat aroma khas tubuh Bagus saat pertama kali menciumnya di hari pertama menikah.


Ia yang bisa mencium aroma khas tubuh Arya dengan aroma Woody dan memberi kesan maskulin dan lembut.


'Wangi khas dari cedarwood dan membuat kesan Arya yang macho dan warm dalam waktu bersamaan. Mereka benar-benar seperti bumi dan langit karena sangat bertolak belakang dan tidak mungkin bisa disatukan,' gumam Putri yang kini merasa wangi tubuh pria yang sudah memeluk tersebut berhasil menghipnotisnya.


Hingga lama-kelamaan ia sudah tertidur pulas dalam pelukan pria yang sibuk mengusap punggungnya.


Masih dengan seulas senyuman terbit dari wajah Arya, ia bisa mendengar suara napas teratur dari bibir Putri.


"Sekarang giliran aku yang tidak bisa tidur."


Arya kini semakin mengeratkan pelukannya dan ia pun ikut memejamkan mata. Berharap bisa segera tidur. Namun, sudah satu jam berlalu, tak kunjung ia bisa tertidur dan membuatnya hanya menghembuskan napas kasar.


'Sial! Aku tidak bisa tidur sekarang karena merasa semua ini seperti sebuah mimpi. Berhubungan dengan seorang wanita yang telah mempunyai suami dan anak, tapi aku serius ingin menikahinya.'


Saat Arya asyik menatap wajah damai Putri yang tertidur pulas, indra pendengarannya menangkap suara notifikasi yang diketahuinya adalah milik wanita yang tertidur tersebut.

__ADS_1


'Siapa yang mengirimkan pesan? Apa suaminya?'


Perlahan Arya kini memindahkan kepala Putri ke atas bantal dan bergerak dengan sangat hati-hati, agar sang istri tidak terbangun.


Tentu saja jika Putri terbangun, ia tidak bisa memeriksa ponsel tersebut karena ingin mengetahui sampai sejauh mana keretakan rumah tangga antara pasangan suami istri tersebut.


Ia berpikir jika mengetahui semuanya, akan mengerti bagaimana caranya memisahkan membuat suami Putri menceraikan sang kekasih.


Arya kini sudah meraih ponsel milik Putri dan berjalan ke arah balkon. Benar apa yang dipikirkannya, bahwa kontak suami yang baru saja mengirimkan pesan.


Pesan yang berisi menanyakan apa yang diinginkan Putri saat makan malam nanti karena sekalian akan dibelikan.


Arya kini hanya membaca sekilas dan tidak berniat untuk membalasnya.


'Dasar pria bodoh! Padahal Putri sudah tidak mencintainya, tapi masih belum sadar juga. Dia pikir membelikan makanan akan membuat Putri luluh? Pantas saja Putri mengatakan bahwa suaminya adalah seorang pria tua tidak berguna.'


Ia kini berbalik badan dan menatap ke arah sosok wanita yang tertidur pulas di atas ranjang. "Bahkan istrinya sangat mendambakanku dan hanya ingin hidup bersamaku."


Tidak mau ambil pusing memikirkan berbagai macam kemungkinan dari rumah tangga Putri dan suaminya, Arya kini memilih untuk mengambil rokok yang ada di laci dan berniat untuk menghilangkan rasa stres yang menderanya. Ia selalu meluapkan amarahnya dengan melarikan diri pada sebatang rokok.


Kini Arus sudah mengambil sebatang rokok, membakarnya perlahan. Kemudian mengisapnya.


Saat ia merasa bosan, selalu melampiaskan semuanya dengan menghisap benda yang mengandung racun dan mungkin akan membahayakan kesehatan seperti anjuran pemerintah yang menyarankan untuk tidak merokok karena merusak kesehatan.


Namun, kebiasaan yang menurutnya buruk itu tidak bisa dihilangkan karena menurutnya, ia lebih baik menghilangkan kebosanan dengan cara merokok daripada minum-minum keras.


Bibir tebal yang sedikit berwarna gelap itu baru saja mengembuskan kepulan berwarna putih. Asap rokok itu membumbung tinggi dan menghilang di tiup angin di pekatnya saat Arya sudah berdiri di balkon kamar apartemen.


Masih menghembuskan asap rokoknya lagi lebih panjang dan tajam. Desis dari bibirnya lebih merindukan bibir Putri yang sudah berkali-kali diciumnya.


Kini, Arya mengusap hidungnya saat mengingat sebuah tangan dengan jemari lentik menariknya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2