
Calista yang sudah bisa menebak siapa yang datang, seolah tidak perduli dan tetap menikmati sesuatu yang dikirimkan oleh Arya.
Meskipun merasakan jika pria itu sudah menghentikan ciuman karena pintu yang tiba-tiba terbuka dan sudah dipastikan bahwa sang pengacara yang tadi dikatakan arogan tersebut sudah datang.
Namun, seketika perasaan Calista seperti terbang tinggi ke angkasa setelah indra pendengaran menangkap suara serak dan menyayat hati dari seseorang.
Arya yang baru saja menarik diri dari Calista, berniat untuk menoleh ke arah pintu, tetapi suara wanita yang sangat dihafal, kini membuat rasa bersalah seketika menyeruak di dalam hati.
'Putri Bagaimana mungkin? Putri datang ke sini bersama Amira Tan? Sialan! Wanita arogan itu sepertinya ingin menjebakku,' sarkas Arya yang seketika menoleh ke arah pintu dan melihat sosok wanita yang berpenampilan sangat berbeda berdiri tak jauh dari pandangan.
Ingin sekali menyebut nama wanita yang masih berstatus sebagai istri, tetapi lidah terasa kering dan tidak bisa melakukan itu. Arya menyadari bahwa tekadnya untuk melupakan rasa yang pernah dimiliki untuk Putri sangat besar.
Jadi, tidak ingin menyebut nama wanita yang dianggap hanyalah seorang pengkhianat tersebut.
Bisa dilihat bahwa raut wajah terluka, kini terlukis sangat jelas dari sosok wanita yang memakai setelan berwarna hitam dan terlihat sangat elegan. Mungkin jika hubungan mereka baik-baik saja, Arya akan langsung memuji penampilan Putri hari ini.
Namun, semua itu tidak mungkin dilakukan setelah apa yang dialami saat ini. Arya hanya diam dengan bibir terkatup rapat ketika mendengar suara bergetar dan yang menandakan Putri sangat terluka.
"Arya?" Putri yang tadinya berbinar saat berpikir bahwa sang suami akan merasa senang dengan kedatangan yang memberikan kejutan, seketika merasa dunianya hancur begitu melihat pria yang dicintai dan dipercaya tengah bermesraan dengan wanita lain.
Ia sangat merindukan sang suami karena satu bulan tidak pulang sama sekali. Jadi, ia berpikir bahwa Arya sangat sibuk dan berinisiatif untuk datang ke kantor dengan meminta Amira Tan mengantarnya.
Namun, ia sama sekali tidak menyangka jika diri sendiri yang mendapatkan semua kejutan luar biasa dengan melihat pemandangan menyayat hati saat pria yang sangat dicintai bermesraan dengan wanita lain.
Bahkan bola mata Putri seketika berkaca-kaca dan beberapa bulir berjatuhan menghiasi wajah yang tadinya memakai make up agar tidak pucat saat menemui sang suami yang sangat dirindukan.
Namun, hal yang selama ini paling ditakutkan olehnya telah menjadi kenyataan dan seketika mengingat tentang kutukan dari sang suami yang mengatakan bahwa selamanya tidak akan pernah hidup bahagia karena mengkhianati ikatan suci pernikahan.
Hati Putri bagaikan kaca yang pecah berantakan dan tidak mungkin bisa disatukan kembali. Merasa dunianya seketika runtuh ketika tidak memiliki pegangan hidup. Namun, Putri tidak ingin kehilangan pria yang membuatnya memilih meninggalkan Bagus.
Dengan mengusap kasar bulir air mata yang berada di pipi putihnya, Putri tidak ingin menunjukkan sifat lemah di depan wanita yang telah menjadi penyebab hancurnya rumah tangga yang dibina.
"Arya, apa yang kamu lakukan?" teriak Putri dengan wajah yang sudah terlihat sangat mengenaskan karena antara kemarahan dan kesedihan telah bercampur menjadi satu.
Putri mungkin akan menjadi sosok wanita yang sangat lemah ketika berada di dalam kamar sendirian, tetapi tidak akan membiarkan ada orang yang menganggap seperti itu, apalagi wanita penggoda yang dianggap telah merebut Arya.
Calista seketika bangkit dari pangkuan sang kekasih. Apalagi saat Arya hendak bangkit berdiri.
__ADS_1
"Aku ingin menyelesaikan masalah hari ini. Apakah kamu tidak keberatan keluar dari ruangan ini?" Arya tidak ingin ada aksi perkelahian antara dua wanita yang sama-sama memiliki hubungan dengannya.
Jadi, memilih untuk segera mengantisipasi sebelum terjadi perdebatan besar.
"Baiklah. Aku akan pergi dan membiarkan kalian berbicara dengan kepala dingin untuk memutuskan jalan keluar." Calista tersenyum simpul dan berjalan menuju ke arah pintu keluar.
Tentu saja melewati kakak beradik yang sangat tidak disukai. Senyuman penuh kemenangan tercipta sangat jelas oleh Calista saat ini dan ditunjukkan untuk Putri.
Berharap wanita itu tidak lagi berani mengharapkan Arya lagi.
Putri yang melihat Arya, tidak bisa menerima jika pria yang sangat dicintai bersikap lembut pada wanita itu.
Refleks Putri langsung berjalan cepat ke arah wanita yang sangat dibenci dan menarik rambut hingga menimbulkan suara kesakitan.
"Dasar wanita murahan penggoda suami orang! Arya adalah suamiku. Kau tidak tahu malu dengan menggoda dan bermesraan di kantor."
"Kau hanyalah seorang seorang wanita murahan yang harus dibasmi dari dunia ini!" sarkas Putri dengan berteriak sangat kencang karena merasa emosi sudah membakar habis dirinya ketika melihat satu-satunya harapan di dunia ini telah mengkhianati kepercayaan.
"Aku akan membunuhmu!" Putri yang masih menarik rambut wanita itu, beralih untuk menurunkan tangan karena mengincar leher yang ternyata semakin membuatnya dihancurkan sampai menjadi abu.
Ia saat ini melihat ada kiss mark di leher wanita yang sudah meringis kesakitan, tetapi sama sekali tidak membalas.
Sementara itu, Amira Tan sebenarnya merasa tidak tega melihat Putri berteriak seperti orang yang kesetanan. Namun, berpikir bahwa mengetahui kenyataan pahit lebih cepat, akan lebih baik dan berharap waktu yang akan menyembuhkan semua luka itu.
Amira Tan bahkan tidak ingin menghentikan apa yang dilakukan oleh Putri ketika meluapkan amarah.
Namun, melihat ke arah Arya yang memilih Untuk menghentikan dengan cara yang tidak terduga sama sekali.
Arya merasa bersalah pada Putri dan juga tidak tega pada Calista yang menjadi korban amukan.
Buru-buru Arya berjalan mendekati Putri dan segera menghentikan perbuatan wanita yang sudah menarik dengan sangat kuat dan beralih ingin mencekik leher Calista.
"Hentikan! Jangan bersikap buruk di kantor ini dan mempermalukanku!"
Rasa terluka semakin dirasakan oleh Putri begitu mendengar apa yang diungkapkan oleh Arya. Bahkan pria itu sama sekali tidak membicarakan mengenai perasaan yang terluka tetapi hanya memikirkan nama baik.
Merasa bahwa satu-satunya pegangan hidup telah memilih wanita lain, Putri semakin merasa murka dan berniat untuk menghabisi wanita itu dengan semakin kuat mencekik leher.
__ADS_1
Calista saat ini memang merasa kesakitan ketika rambut ditarik dengan sangat kuat dan juga leher dicekik sampai kesulitan bernapas. Namun, sama sekali tidak ingin membalas karena ingin memperlihatkan pada Arya, bahwa wanita itu sangat liar dan juga jahat.
Berakting menjadi wanita lemah dan tersakiti, kini menjadi pilihan Calista dan menunggu hingga pria yang sangat dipercayai dan dicintai tersebut mau menolong.
'Aku sangat yakin jika Arya akan memilihku dan menceraikan wanita ini. Aku tidak akan mati karena cekikan dari wanita sialan ini.'
Saat Calista merasakan kesakitan pada leher yang semakin dicekik oleh Putri, seketika merasa lega karena saat ini telah terbebas dan langsung terbatuk-batuk dan mencari pasokan oksigen yang hampir habis di paru-paru.
Arya yang gagal menghentikan perbuatan kasar Putri dengan perkataan, seketika mendorong tubuh wanita yang pernah sangat dicintai tersebut.
"Hentikan!"
Suara tubuh yang terjatuh ke lantai dingin itu cukup menggema di ruangan. Seolah menunjukkan bahwa hal itu membuat rasa sakit pada bagian belakang Putri.
Putri yang meringis menahan rasa nyeri luar biasa setelah Arya mendorong dan terlihat menolong wanita yang bahkan bukan berstatus sebagai istri tersebut.
Arya yang merasa tidak tega pada Putri, beralih menatap ke arah Calista yang masih terbatuk-batuk sambil memegangi leher. "Apakah perlu ke rumah sakit untuk memeriksa lehermu yang baru saja dicekik?"
Calista yang merasa kesakitan secara fisik, tetapi sangat bahagia dan karena Arya langsung menyembuhkan dengan cara mengungkapkan perhatian di depan istri.
Calista merasa bahwa luka di leher sama sekali tidak berarti apa-apa karena rasa sakit di hati Putri jauh lebih menyakitkan dan ia merasa sangat puas bisa menyingkirkan wanita yang dianggap sebagai penghalang tersebut.
"Aku tidak apa-apa, Arya. Kamu tenang saja." Calista meraba leher. "Apakah sekarang terlihat bekasnya?"
Arya yang saat ini mengamati leher putih nan jenjang Calista, kini menganggukkan kepala. "Maaf, karena aku yang menjadi penyebab kamu kesakitan."
"Arya, hentikan sikap manismu pada wanita yang bahkan tidak memiliki status sah sebagai seorang istri. Akulah wanita yang kamu nikahi dan melahirkan benihmu! Kenapa kamu malah mengkhawatirkan wanita murahan yang menjadi penggoda suami orang?" Putri menahan rasa sakit pada bagian belakang tubuhnya dengan beranjak berdiri dibantu oleh saudaranya.
"Apakah kamu sudah gila dan tidak mengingat istri dan anak sendiri? Aku bahkan sangat mencintaimu dan juga berusaha menjadi istri yang baik untuk, tapi apa yang kamu lakukan? Berselingkuh dengan wanita ini? Aku tidak akan pernah membiarkanmu berbuat hal gila seperti ini."
"Aku selamanya akan menjadi istrimu dan tidak akan membiarkan suamiku direbut oleh wanita lain. Jika wanita ini tidak bisa diajak berbicara secara baik-baik untuk pergi darimu, lebih baik aku membuat wanita ini mati!" sarkas Putri dengan wajah memerah yang menjelaskan bahwa tidak ada apapun lagi yang dimiliki selain kemurkaan.
Saat Putri sudah kehilangan kesabaran dengan menyebutkan kematian, hal yang sama dirasakan oleh Arya.
Tidak ingin dipusingkan oleh kegilaan Putri, refleks Arya mengangkat tangan dan mendaratkan pada wajah wanita yang terlihat menatap tajam, seolah ingin menantangnya.
"Kau adalah wanita gila dan pengkhianat yang pernah kukenal. Aku sudah muak melihat wajahmu dan menyingkirlah dari hadapanku. Hari ini, aku menceraikanmu!" seru Arya yang baru saja menurunkan tangan setelah melabuhkan pada pipi putih dan meninggalkan bekas memerah di sana.
__ADS_1
To be continued...