
Arya dikenal sebagai anak pengusaha yang tidak membutuhkan bantuan orang lain dalam hal keuangan. Apakah ia akan mendapatkan uang pinjaman itu?
Dengan berat hati, Arya merogoh saku celananya dan menyodorkan sebuah kunci mobil yang sedari tadi ia lindungi. Ia serahkan kunci tersebut yang langsung disambar oleh sang ayah.
"Kita lihat, seberapa kuatnya kamu hidup tanpa biaya dari orang tuamu?" Ari Mahesa terkekeh angkuh sambil melangkah meninggalkan putranya yang termenung.
Dada Arya terasa sedikit sesak, hatinya sakit. Tak apa, ini adalah jalan hidup selanjutnya. Merelakan semuanya memang keputusan yang berat, tapi hasilnya pasti tidak akan mengkhianati perjuangannya saat ini.
Arya melirik ke arah dalam rumahnya, sang ayah sudah bersantai lagi dengan gelas tehnya bersama ibunya. Sungguh sial hari ini.
Arya membuang muka dan bergerak untuk melangkah menjauh. Ia tidak mau lama-lama berada dalam lingkungan yang tidak mendukungnya sama sekali.
Rasanya sangat jauh saat ia menyusuri jalan yang di kanan dan kirinya terdapat tanaman yang menjulang. Baru saja beberapa menit yang lalu ia melewati jalanan ini. Sekarang ia melewatinya dengan perasaan berkecamuk. Namun, sekarang semuanya berubah sangat drastis.
Ia berjalan kaki dari rumah utama hingga gerbang. Itu adalah hal yang pertama kali ia rasakan. Rasa lelah dalam berjalan, Arya sudah dibiasakan dengan kendaraan yang memudahkannya. Ia sudah menjadi manja sejak dulu.
Tujuannya saat ini sudah bulat. Menuju rumah sahabatnya. Ia yakin jika Rendi akan paham dengan masalahnya. Rendi juga bukan hanya sahabatnya.
Ia juga adalah seorang rekan bisnis yang sama-sama belajar seperti Arya.
Kebersamaan itulah yang membuat mereka menjadi dekat. Tanpa terasa, sudah beberapa menit berlalu dan rasa penat Arya terbayar begitu ia sudah tiba di luar gerbang.
Ponselnya bergetar dan detik itu juga ia sangat bersyukur. Sang papa tidak membawa semua barangnya. Ponselnya masih tetap aman bersamanya. Ia buka ikon pesan yang baru saja diterima.
Ternyata pesan dari sang papa. Isi pesan tersebut membuat Arya berpikir beberapa kali.
Papa masih memberimu waktu untuk kamu berfikir. Jika kamu ingin kembali, minta maaflah dengan benar!
Aku tidak akan kembali! Pikir Arya. Ia hanya membaca pesan tersebut dan tidak berniat untuk membalasnya. Biarkan saja papanya marah atau bahkan sampai dirinya tiba-tiba dijemput untuk dibawa pulang.
Ia berjalan di pinggir jalan, ini baru pertama kali baginya mengendarai kendaraan orang lain. Biasanya ia hanya menggunakan kendaraan kerabat atau bahkan mobil khusus dan bukan angkutan umum.
Ia memilih untuk menunggu di halte bus di seberang jalan sana untuk menuju ke apartemen Rendi. Ia menunggu sambil memainkan ponselnya.
Arya berniat untuk menghubungi Putri, tapi belum siap. Bagaimana jika Putri malah menolaknya karena ia sudah tidak memiliki apa-apa?
Bus datang dan dengan segera Arya masuk. Ia urungkan kembali niatnya untuk menghubungi Putri. Biarkan saja dulu, nanti ia akan hubungi setelah semuanya kembali normal.
Saat di dalam bus, semua mata seolah tertuju padanya. Tentu, siapa yang tidak melirik, pakaian sangat mencolok dengan kamej, juga jas yang mirip dengan gaya berpakaian konglomerat lainnya.
__ADS_1
Sesekali ia dengar penumpang di sana berbisik dan berkata. "Sepertinya hanya berpura-pura menjadi orang kaya. Tidak mungkin orang kaya akan ikut berkendara bersama kita."
Arya menghembuskan napas berat. Ia mencoba untuk menulikan pendengarannya demi menjaga hati. Ia memejamkan mata, berharap jika semua masalah ini bisa selesai dengan mudah.
Selalu seperti itu, berharap dan terus berharap. Hingga ia tiba di halte yang dituju. Ia turun dengan kopernya.
Arya kini menghitung sisa uangnya yang tinggal seberapa. Ia kembali berjalan untuk menghemat uangnya.
Untungnya, apartemen Rendi tidak terlalu jauh. Ia hanya tinggal berjalan sekitar 300 meter untuk sampai.
Setelah sampai, ia menekan bel apartemen Rendi. Hari sudah sore dan jika Rendi tidak membantunya, itu adalah mimpi paling buruk yang pernah Arya alami.
Selama beberapa menit menunggu, hingga pintu akhirnya terbuka dan menampilkan Rendi di sana. Sahabatnya itu sedikit terkejut melihat kedatangan Arya yang mendadak dengan wajah kusut dan membawa koper.
"Arya, ada apa? Perlu sesuatu?" tanya Rendi kaku.
Arya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jujur, ia malu. Namun, apa boleh buat, jika bukan Rendi yang membantunya, harus siapa lagi?
"Aku boleh menginap di sini, kan? Aku kabur dari rumah, Ren. Tempat satu-satunya yang bisa aku tuju hanya apartemenmu," keluh Arya dengan wajah frustasi.
"Kerabatmu?"
Arya yang sekarang ada di hadapan Rendi adalah sosok yang sangat berbeda dengan biasanya. Sifat angkuh, dingin dan intimidasinya berubah total saat ini.
Rendi nampak kebingungan menanggapi permohonan Arya. Hingga ia memutuskan untuk memasukkan Arya terlebih dahulu karena hari sudah terlalu sore. Rendi siapkan air minum saat tahu jika sahabatnya telah berjalan sedari tadi.
Rendi menawari Arya makanan. Namun, sayang Rey menolaknya.
Arya mengatakan perasaannya sedang tidak enak dan Rendi memaklumi hal itu. Ia akhirnya duduk dan mendengarkan keluh kesah Arya.
"Jadi, bisakah kau meminjamkanku uang, Ren? Hanya untuk satu bulan ini. Setelah itu, aku akan mencari uang dengan bekerja dan mengembalikannya padamu," tutur Arya dengan tatapan penuh permohonan.
"Dewia, aku bukannya tidak mau meminjamkanmu uang. Hanya saja, orang tuamu melarangku untuk tidak melakukannya. Aku benar-benar minta maaf."
Arya ternganga mendengar itu. Ternyata sang ibu melakukan segala cara agar dirinya merasa tersiksa. Ia tertunduk dengan perasaan campur aduk. Ia malu, kesal, dan marah. Apa yang harus dilakukan selanjutnya?
"Bagaimana jika kau hubungi teman-teman yang lain? Barangkali ada yang bisa membantumu," ujar Rendi memberi solusi.
Arya mengangguk dan dengan cepat menghubungi kontak salah satu teman kerjanya.
__ADS_1
"Halo?"
"Halo, ini aku. Maaf menganggu waktumu. Mungkin ini terdengar aneh, tapi bisakah kau meminjamkanku uang? Aku sedang tidak ada di rumah," tutur Arya kepada lawan bicaranya yang ada di telpon.
Bahkan Rendi juga di sampingnya sangat berharap jika sahabatnya tertolong oleh orang lain.
"Maaf, Tom. Nyonya Reni melarangku untuk membantumu."
"Oh ... begitukah?"
Seketika raut wajah Tomy seketika berubah sangat muram.
Panggilan tersebut terputus. Rendi menyarankan untuk menghubungi lagi teman yang lain. Tidak mungkin Reni menghubungi mereka semua hanya untuk melarang membantu putranya sendiri.
Beberapa menit telah berlalu dan sudah orang ke sepuluh sekarang, semua jawabannya sama.
Wanita itu melarang semua teman Arya untuk membantu.
Arya akhirnya menyerah dan melempar asal ponselnya, lalu bersandar di kursi. Ia sangat frustasi sekarang.
Di sela frustasinya, ia teringat kepada wanita yang selama ini mengubahnya menjadi seperti ini. Wanita yang menjadi titik masalah ini berasal. Wanita itu, bagai iblis dengan raut wajah bidadari yang mencuri hatinya.
"Apa aku harus memberitahukan wanita itu? Apa dia akan tetap memilihku meski aku tidak punya apa-apa?" tanya Arya pelan.
Rendi yang sedang meneguk air soda itu hampir saja tersedak, ia menoleh ke arah sahabatnya yang seperti sudah pasrah. Rendi tidak tega jika melihat hewan buas seperti Arya mendadak menjadi jinak dan merepotkan seperti ini.
"Jika wanita itu memang mencintaimu, ia tidak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi. Ya, kecuali jika pria itu hanya mencintai uangmu saja, maka itu adalah bagian terburuknya," kekeh Rendi yang membuat Arya sontak merinding.
Ia anggap itu sebuah lelucon?
"Aku juga ragu, Ren. Aku terlalu mencintainya. Aku tidak bisa kehilangannya, tapi sekarang juga merasa sadar diri. Aku tidak bisa memberikan apa-apa untuknya."
Rendi menghembuskan napas kasar. Kemudian ia menepuk pundak Arya dan memberikan solusi lainnya.
"Kau tanyakan langsung saja padanya. Kau tanyakan dan pastikan apa dia akan tetap bersamamu atau tidak," ucap Rendi.
Setelah dipikirkan, Rendi ada benarnya juga. Ia tidak bisa terus berpikiran negatif tanpa tahu apa kepastiannya. Namun, apakah jawaban dari Putri dapat membuatnya puas atau tidak? Bahkan ia saat ini merasa sangat frustasi dan bingung.
Arya merasa bahwa hari ini adalah titik terendah dalam hidup saat ini karena hanyalah seorang pria yang tidak punya apa-apa untuk dibanggakan.
__ADS_1
To be continued...