Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
85. Memikirkan ide


__ADS_3

"Kami saling mencintai, Ma. Aku mencintai Putri. Aku tidak mungkin meninggalkannya dalam keadaan sedang mengandung anakku," keluh Arya dengan raut wajahnya sangat tulus.


Ia terlalu mencintai Putri, hingga tak bisa meninggalkannya.


"Jangan pernah kamu bawa-bawa hal itu! Memangnya kamu yakin jika anak yang dikandung itu anakmu? Dia hanyalah wanita murahan yang pastinya akan tidur satu ranjang dengan siapapun."


"Bayi itu bukan anak kamu, Sayang." Reni mendekat dan mengusap lembut rambut putranya yang hitam berkilat.


Putri semakin mengeratkan genggaman tangan Arya.


Kini, kepalanya dipenuhi oleh rasa cemas juga khawatir. Tentu ia saat ini benar-benar sangat takut jika Arya akan melanggar janji yang telah ia katakan, yaitu menikahinya.


"Kamu pikir begitu juga, kan Sayang? Tidak ada yang tahu, bayi yang dikandung itu anakmu atau bukan. Jangan membuat hidupmu sia-sia karena wanita ini," bujuk Reni sambil tak henti mengusap lembut punggung belakang putranya.


"Aku hanya melakukannya dengan Arya. Ini adalah bayi Arya, aku bersumpah," ujar Putri yang langsung menghentikan tuduhan dari ibu pria yang sangat dicintainya.


Sebenarnya ia sudah muak dengan hinaan yang sedari tadi didengar. Namun, berusaha untuk menahan diri sekuat tenaga karena tidak ingin terlihat buruk di mata Arya.


'Padahal rasanya aku sekarang ingin menarik rambut wanita tua ini. Dia benar-benar wanita yang sangat menyebalkan. Masih sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya di salon dulu.'


'Wanita kasar dan sangat berlagak dan merendahkan orang lain. Selalu menilai orang dari kekayaan, sehingga langsung menolakku untuk menjadi menantunya. Dia mungkin akan langsung tersenyum lebar dan menerimaku jika aku adalah putri dari seorang konglomerat,' umpat Putri di dalam hati.


Reni menghentikan tangannya, tatapan sinis dan kejam itu kembali ia tampilkan. Rasa benci dan kesalnya kini menjadi satu, sungguh benar-benar tidak tahu malu! Pikir Reni.


"Oh benarkah? Apakah aku bisa percaya dengan perkataanmu barusan? Tentu tidak. Kau sangat mudah tergoda oleh putraku. Apakah itu juga tidak berlaku pada laki-laki lain? Apa reaksi suamimu saat mengetahui kau berselingkuh?"


"Ma, Cukup! Aku memilih Putri karena sangat mencintainya. Apakah salah memilih pasangan yang sangat kucintai?" Bukankah Mama ingin segera melihat aku menikah dan hidup bahagia?" ujar Arya lagi pelan.


Reni menghela napas berat, ia tak habis pikir dengan pola pikir putranya. Bagaimana mungkin putranya sebodoh itu?

__ADS_1


"Kamu tidak salah, Sayang. Hanya saja, orang yang kamu pilih itu salah besar. Kamu tidak bisa menikahi istri orang lain. Jika dia bisa mengkhianati suaminya, kemungkinan besar juga bisa melakukan hal yang sama padamu. Dia bisa saja berselingkuh dengan pria lain saat berstatus menjadi istrimu nanti."


"Saya tidak akan pernah mengkhianati Arya, Nyonya. Saya bersumpah akan setia pada Arya. Saya akan bercerai dengan suami, jadi Anda tak perlu khawatir," ujar Putri meyakinkan dengan penuh emosi.


Putri benar-benar sangat berharap jika cara ini akan meyakinkan Reni. Ia sebisa mungkin mencoba untuk membuat Reni percaya padanya.


"Kau terlalu lucu. Kau pikir bercerai dalam keadaan hamil itu diperbolehkan? Bercerai lalu menikah lagi? Hidup tidak semudah itu," ucap Reni dengan tatapan tajam mengintimidasi.


Refleks keduanya langsung bersitatap begitu mendengar perkataan dari wanita paruh baya tersebut.


Bahkan saat ini, Arya dan Putri kini tertunduk. Pikiran mereka kalut pada satu tujuan, yaitu menikah. Sama sekali tidak memikirkan hal-hal muluk yang lainnya.


"Mama kasih kamu waktu tiga puluh menit untuk berpikir, Sayang. Pikirkan jawaban yang paling menguntungkan untukmu dan pesanku, jangan pernah untuk berniat memilih wanita rendahan ini."


"Aku tidak bisa jika harus berpisah dengan Airin."


Reni melangkahkan kakinya menjauh dari dua insan yang kini saling menatap.


Lutut Putri kini benar-benar terasa lemas. Bahkan kini ia terjatuh dan tak kuasa menahan tekanan yang sangat luar biasa kuat sedari tadi. Ia tumpahkan air matanya di dekapan Arya. Ia kesal, marah, merasa gagal dan hancur.


"Maafkan Mama. Sebenarnya ia tak bermaksud menyakitimu," bujuk Arya seraya mengelus rambut halus Putri.


"Aku tak tahu jika akan serendah ini di mata mamamu," balas Putri tanpa menghentikan tangisnya.


Buliran air mata itu terus mengalir dan menganak sungai di wajahnya, walau Putri selalu mencoba untuk menghentikannya, tetapi gagal.


Ia terlalu hancur saat ini, dihina habis-habisan dan seumur hidup tidak akan pernah melupakan sebutan yang Reni ucapkan untuknya.


"Aku akan mencari jalan keluarnya. Kamu jangan khawatir," ucap Arya yang mencoba untuk membesarkan hati sang kekasih sekaligus ibu dari calon anaknya.

__ADS_1


"Apa yang akan menjadi jalan bagi kita? Jangan bilang jika kamu tidak akan menikahiku? Atas semua yang telah kamu lakukan, kamu tidak ingin bertanggung jawab? Bagaimana nasib bayi kita nantinya."


Putri lagi-lagi menumpahkan semuanya di dada bidang Arya. Ia benar-benar sangat takut jika pria itu akan menuruti perintah dari sang ibu dan meninggalkannya.


Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika sampai itu benar-benar terjadi. Tentu saja merasa kehilangan tujuan hidupnya jika Arya tidak menikahinya.


Sementara itu, saat ini kebingungan menghampiri Arya. Tentu ia akan bertanggung jawab pada wanita yang sangat dicintai. Ia tidak akan meninggalkan keturunannya begitu saja.


Hanya saja, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tidak mungkin ia memakai cara 'itu' agar semua kembali normal. Mengubur hidup-hidup keturunannya dan sama sekali tidak mempedulikan Putri.


Ia sangat mencintai Putri dan tentu saja hidup bahagia setelah Putri bercerai dengan sang suami nanti.


'Kenapa mama sangat membenci putri? Padahal tidak ada yang salah dengan cinta. Hanya saja, memang posisi kami saat ini benar-benar buruk di mata dunia. Putri wanita bersuami dan aku pria lajang yang mencintai seorang wanita bersuami.'


'Meskipun ini salah, tapi takdir yang membawa kami dalam pusaran ini. Apa yang harus aku lakukan untuk membuat mama memberikan restunya?'


Arya yang kini sibuk bergumam sendiri di dalam hati saat memikirkan ancaman dari sang ibu karena menyuruhnya untuk memilih orang tua atau wanita yang sangat dicintai.


Tentu saja pilihan itu sangat berat untuknya dan ia kali ini tidak bisa memilih salah satu di antara mereka karena sama-sama sangat menyayangi keduanya, sehingga masih mengunci mulut rapat-rapat karena masih belum bisa memutuskan apa yang akan dilakukan.


Sementara itu di sisi lain, Putri kali ini melihat sorot mata penuh kebingungan dari Arya yang benar-benar membuatnya merasa sangat khawatir.


'Bagaimana ini? Arya saat ini terlihat sangat ragu dan bimbang dalam mengambil keputusan. Bagaimana jika nanti ia meninggalkanku? Apa yang akan terjadi pada nasibku ke depannya?'


Putri kini memutar otak untuk mencari jalan keluar dari masalah besar yang dihadapinya. Ia ingin Arya tetap memilihnya dan mendadak ada satu ide muncul di kepalanya saat ini.


'Aku tahu cara untuk membuat Arya tetap berada di pihakku,' gumam Putri yang kini menatap intens wajah dengan pahatan sempurna di sebelahnya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2