Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
54. Semakin muak pada suami


__ADS_3

Selama beberapa saat, Bagus terdiam di sebelah sang istri yang sudah larut dalam bunga tidurnya. Menatap wajah cantik wanita yang telah menemaninya selama sembilan tahun dalam mengarungi bahtera rumah tangga.


Beberapa saat kemudian, ia sudah berhasil membuka pintu kamar dan berjalan mengendap-endap demi bisa mengambil ponsel milik Putri yang berada di atas laci.


Kemudian tangannya yang panjang sudah berhasil mengambil ponsel milik sang istri dan berjalan keluar dari ruangan kamar menuju ke teras depan.


Setelah menutup pintu dengan sangat hati-hati, Bagus kini berjalan keluar dan mendaratkan tubuhnya di atas kursi kayu berawal coklat dan fokus menatap layar ponsel.


Tidak ingin membuang waktu, kini ia sudah memeriksa pesan-pesan terbaru di ponsel sang istri. Kemudian membaca satu persatu.


"Tidak ada yang aneh dari chatingan istriku. Lagipula ia tidak punya banyak teman karena selama ini hanya diam di rumah."


Kemudian Bagus beralih menatap ke arah panggilan telpon. Berharap ada panggilan terbaru yang dilakukan oleh Putri dan membuatnya bisa menemukan nomor teman yang mempengaruhi istrinya untuk bersikap buruk padanya.


Benar saja apa yang dipikirkan, kini ia melihat kontak paling atas yang tadi menghubungi istrinya saat ia keluar untuk membeli makanan karena jelas-jelas terlihat dari waktu yang menunjukkannya.


"Apa dia yang telah meracuni pikiran dari istriku? Lebih baik aku langsung bertanya padanya dan mencari tahu apa maunya yang telah menghasut istriku untuk berani padanya.


Setelah memencet tombol panggil, ia menunggu hingga sambungan telpon diangkat. Namun, tidak kunjung diangkat juga dan membuatnya mengerutkan kening.


"Apa dia sudah tidur?"


Ingin berjaga-jaga, Bagus meraih ponsel miliknya dan menyalin nomor dari teman Putri. Berpikir jika nanti sewaktu-waktu Putri tidak pulang lagi ke rumah, ia langsung menghubunginya.


"Mudah-mudahan ini adalah hari pertama dan terakhir Putri tidur di tempat orang lain."


Bagus terdiam sejenak dan menepuk jidatnya berkali-kali saat menyadari kesalahannya.


"Dasar bodoh! Bukankah Putri semalaman menunggu putraku di klinik? Sepertinya istriku marah padaku karena merasa stres dan lelah menunggu di klinik, tapi aku malah banyak bertanya padanya. Seharusnya aku mengerti dengan posisinya."


"Bukan malah menginterogasi macam-macam dan membuatnya kesal."

__ADS_1


Baru saja ia menutup mulut, terdengar suara notifikasi dari ponsel Putri dan membuatnya langsung membacanya.


Ada apa?


Tidak membalas pesan tersebut karena Bagus ingin berbicara dengan teman Putri secara langsung dan mengatakan secara terang-terangan, bahwa ia tidak ingin istrinya dihasut.


Setelah memencet tombol panggil, Bagus yang saat ini tengah menatap layar ponsel milik istrinya yakin bahwa panggilannya akan segera diangkat.


Benar saja, begitu panggilannya diangkat, ia langsung mencerca dengan banyak pertanyaan yang ada di pikirannya.


"Halo, kamu teman istriku, kan? Sebenarnya apa yang kamu lakukan pada istriku? Jangan menghasut istriku dan membuat rumah tangga kami berantakan karena jika sampai itu terjadi, aku akan membuatmu menyesal."


Bagus yang puas menunggu kemurkaannya ditanggapi oleh orang di seberang telpon, mengerutkan kening saat tidak kunjung ada suara tanggapan.


Ia melihat detik demi detik berjalan dan membuatnya merasa sangat kesal karena tidak ada jawaban dari seberang telpon.


"Halo, kenapa diam saja? Apa kamu sedang mengakui kesalahanmu karena menghasut istriku?"


"Sepertinya kamu takut padaku, sehingga tidak berani membuka mulut!"


Baru saja Bagus hendak mengumpat lagi, ia mendengar suara dari sang istri yang baru saja datang menghampirinya dan membuatnya langsung menoleh ke arah samping kanan.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Putri dengan wajah memerah, sekaligus perasaan yang berkecamuk karena khawatir jika pria yang ada di sebelahnya tersebut sudah berbicara dengan Arya.


Apalagi ia sempat melihat kontak dengan nama wanita yang memang disamarkan olehnya agar tidak ketahuan bahwa itu adalah nomor seorang pria.


Sebenarnya tadi ia terbangun karena mendengar suara putranya yang menangis sambil memanggil-manggil namanya. Niatnya adalah ingin melihat jam berapa pada ponsel yang ditaruh di atas nakas sebelah ranjang.


Namun, saat ia tidak menemukan ponsel miliknya, pikirannya langsung mengarah pada sang suami dan khawatir jika hubungannya dengan Arya ketahuan, sehingga buru-buru bangkit dari ranjang dengan menggendong putranya.


Mencari-cari keberadaan sang suami dan begitu melihat ada di teras depan rumah sambil mengumpat, membuatnya semakin bertambah khawatir.

__ADS_1


Refleks ia langsung merebut ponsel miliknya dan mematikan sambungan telepon. "Kau benar-benar sangat keterlaluan! Apa kau sedang curiga padaku? Apa saja yang kau katakan pada temanku tadi?"


'Apa jawaban Arya tadi saat Bagus menelepon? Apa aku ketahuan berselingkuh? Apa pria tua tidak berguna ini berdebat dengan Arya? Apa yang harus kulakukan?' gumam Putri yang kini masih mencoba untuk menormalkan perasaannya yang tidak karuan.


Sementara itu, Bagus yang tidak ingin sang istri kembali marah padanya, membuatnya menjelaskan apa yang telah dilakukannya dengan diam-diam mengambil ponsel.


"Aku ingin menasihati temanmu, agar tidak menghasutmu macam-macam dan merubahmu menjadi seorang istri yang melawan suami, tapi sepertinya dia takut padaku dan membuatnya tidak berani untuk membuka mulut saat aku memarahinya."


Bagus yang melihat putranya merengek di gendongan sang istri, kini memilih untuk mengulurkan tangannya.


"Kemari, Putraku."


Sementara itu, Putri yang dari tadi menatap tajam dan menormalkan perasaannya yang ketakutan, seketika bernapas lega begitu mendengar penjelasan dari pria yang sudah menggendong putranya.


'Nasib baik Arya sama sekali tidak mengeluarkan suara untuk menjawab kemurkaan pria tua ini. Dia pasti saat ini bertambah marah dan kesal padaku. Apa yang harus kulakukan untuk membuatnya tidak marah padaku?'


Meskipun saat ini Putri merasa sangat lega karena pria yang sudah sibuk menenangkan putranya yang dari tadi tidak berhenti merengek, tapi satu hal yang membuatnya kesal.


'Arya pasti semakin ilfil padaku. Semua ini gara-gara pria tidak berguna itu!' umpat Putri di dalam hati dan membuatnya merasa sangat kesal karena tidak mungkin ia marah-marah pada sang suami karena menyadari akan menimbulkan kecurigaan.


Akhirnya ia memilih untuk berjalan masuk ke dalam rumah. "Aku mau makan. Lebih baik kamu suapi Putra karena sepertinya dia lapar. Tadi di klinik sama sekali tidak mau makan."


Sebenarnya makan hanyalah menjadi alasan untuk Putri bisa mengirimkan pesan pada Arya agar tidak ilfil padanya dan mau bertemu padanya.


Kini, ia sudah membuka nasi bungkus yang sama sekali tidak menggugah nafsu makannya. Saat ia makan satu sendok nasi yang tentunya sudah dingin dan tidak seenak makanan di restoran siang tadi.


'Hanya satu hari saja bersama Arya, sudah membuat selera makanku berubah. Mungkin saat aku sudah menikah dengan dengannya, tidak akan berselera dengan makanan yang dijual di pinggir jalan seperti ini.'


Baru saja Putri selesai mengeluh dan mengumpat di dalam hati, ia melihat sang suami yang berjalan masuk dan mendaratkan tubuhnya di atas kursi dan semakin muak pada pria di hadapannya.


Niatnya adalah ingin menyuapi putranya agar mau makan, tetapi saat melihat sang istri malah bangkit dari kursi, membuat Bagus mengerutkan kening.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2