
"Tidak perlu berlebihan seperti itu, Ren. Bahkan ada banyak orang berselingkuh dari suaminya dan akhirnya bercerai, lalu menikah dengan selingkuhannya sampai hidup bahagia."
Ingin sekali Rendi memukul kepala sahabatnya untuk menyadarkan, tetapi ia sadar tidak bisa melakukannya karena menyadari akan babak belur dihajar oleh Arya.
"Baiklah, lakukan apapun yang kamu mau. Selama kamu yakin dengan keputusanmu, sepertinya aku tidak bisa berbuat apapun selain mendukungmu. Jadi, kamu sekarang merasa kesal karena Putri lebih menomorsatukan putranya?"
Kini, Arya sudah tidak semarah tadi begitu mendapatkan sebuah dukungan dari sahabat baik yang selalu dipercaya olehnya. Hal inilah yang ingin didengarnya, yaitu sebuah dukungan, bukan sebuah hujatan atau penilaian atas hubungannya dengan Putri.
"Iya, tadi begitu mendengar putranya sakit, wajah Putri langsung pucat dan sudah tidak memandangku lagi. Padahal sebelumnya ia tidak pernah berhenti mengalihkan pandangannya dariku. Aku seketika merasa tersisihkan."
Jika Arya terlihat sangat kecewa, tetapi berbeda dengan yang dirasakan oleh Rendi saat menahan sekuat tenaga amarahnya ketika melihat kebodohan sahabat yang ingin sekali diumpatnya.
Namun, ia hanya bisa mengumpat di dalam hati untuk melampiaskan kekesalan. 'Dasar bodoh! Cinta benar-benar membuatnya buta dan bodoh. Jika wanita itu bisa mengkhianati suaminya, pasti suatu saat juga bisa mengkhianatinya. Jika dia menomorsatukan Arya daripada anaknya, berarti bukanlah seorang ibu yang baik.'
Meskipun merasa sangat kesal, Rendi masih tetap bersikap seperti biasa dan menghibur perasaan Arya yang dari tadi tidak baik.
"Seharusnya kamu bersyukur saat Putri menyayangi putranya. Itu menandakan bahwa dia adalah seorang ibu yang baik. Jadi, nanti saat kalian memiliki anak, aku yakin dia akan menyayangi putramu."
"Jika dia lebih mengutamakanmu dan tidak mempedulikan putranya, apa kamu tidak merasa khawatir jika nanti tidak bisa menjadi ibu yang baik dari anakmu?"
Memang jika dipikirkan, semua perkataan dari Rendi memang benar adanya. Namun, saat ini, yang dipikirkan oleh Arya hanyalah ingin bersama dengan Putri dan tidak memikirkan keturunan karena masih ingin bersenang-senang.
"Aku belum memikirkan anak karena masih ingin memuaskan masa mudaku dengan penuh cinta dengan Putri. Masalah anak, nomor dua bagiku dan aku ingin Putri pun demikian. Lagipula, aku memakai ****** saat bercinta dengannya dan dia tidak akan hamil."
"Jadi, kamu hanya akan bercinta tanpa menikah? Apa kamu juga tidak berpikir untuk mencari pengalaman di perusahaan ayahmu, agar bisa mencari uang sendiri dan memberikan nafkah pada istrimu?" Rendi yang semakin geram pada pemikiran kekanakan dari Arya, berusaha untuk menyadarkan sahabatnya.
"Putri pasti akan meninggalkanmu jika melihatmu tidak pernah bekerja. Ia adalah seorang wanita yang berpengalaman dan mungkin akan kabur saat berpikir akan mati kelaparan karena kau tidak bekerja."
Rendi menghentikan perkataannya sejenak karena ingin melihat ekspresi wajah dari Arya.
"Pastinya semua wanita di dunia ini akan lebih memilih pria yang bisa menjamin hidup. Lagipula, mana ada wanita yang mau hidup menderita?"
Tentu saja apa yang baru saja dikatakan oleh Rendi sudah diketahuinya karena Putri telah mengatakan padanya.
"Kau benar karena Putri memilih berselingkuh karena alasan itu. Dia berbicara padaku mengenai alasan tidak bahagia dan akhirnya berakhir berselingkuh denganku. Tentu saja aku akan bekerja nanti setelah menikah."
"Oh ya, apakah wanita bersuami akan diceraikan setelah ketahuan bercinta dengan pria lain?"
Rendi yang merasa bosan mendengar Arya bercerita, kini mengambil makanan ringan yang merupakan sisa kemarin karena belum habis.
Ia masih melanjutkan mengunyah makanan karena tidak mungkin menjawab ketika mulutnya dipenuhi olah makanan. Meskipun ia ingin langsung menjawab karena merasa pertanyaan sahabatnya jelas-jelas jawabannya.
Namun, Rendi yang saat ini mengamati penampilan Arya mulai dari ujung kaki hingga kepala, hanya geleng-geleng kepala karena merasa bahwa sahabatnya seketika berubah setelah bertemu wanita yang langsung berakhir melepas status keperjakaan.
"Apa karena semalaman bercinta, membuatmu berubah aneh seperti ini? Bahkan, lihatlah rambutmu dan kancing kemeja yang terbuka, malah seperti seorang pria murahan mencari mangsa."
Di sisi lain, Arya yang saat ini mendaratkan tubuhnya di kursi, sama sekali tidak tersinggung dan masih penasaran dengan jawaban Rendi.
__ADS_1
"Katakan saja padaku mengenai jawabannya! Tidak perlu mengamati penampilanku saat ini," ucap Arya yang kini masih tidak mengalihkan pandangannya dari sosok pria yang menurutnya selalu memiliki pemikiran bijak dan dewasa.
Kini, Rendi berpindah posisi dan duduk di sebelah sahabatnya. Tentu saja sambil masih mengamati wajah kusut yang terlihat seperti sedang dipenuhi oleh beban pikiran.
Memang yang menjadi tujuan Arya saat datang ke apartemen sahabatnya dan selalu dilakukan jika memiliki masalah dan tidak bisa mencari jalan keluar.
Arya yang kini tidak ingin membuang waktu untuk segera menceritakan tentang hubungannya yang rumit dengan wanita yang ingin didapatkannya.
Kemudian Arya mulai menceritakan penyebab dari Putri memilih berselingkuh dengannya, termasuk mengenai suami yang selalu dipanggil pria tua tidak berguna tersebut.
"Rumah tangga Putri sudah tidak sehat. Dia tidak pernah bahagia bersama pria itu dan sudah bertekad untuk bercerai dan memilihku."
"Aku pun baru pertama kali bercinta dengannya. Tentu saja aku tidak akan pernah melepaskan Putri karena sangat menyukainya."
Selama beberapa menit, Rendi masih berusaha untuk mencerna semua perkataan dari Arya dan juga fokus membaca artikel di media sosial. Ia tidak ingin gegabah dan asal berbicara untuk menanggapi masalah yang menurutnya sangat serius dan sensitif.
"Aku sama sekali tidak mempunyai pengalaman tentang hubungan perselingkuhan dan ini benar-benar sangat sensitif, Arya."
"Aku hanya ingin meminta pendapatmu setelah mendengar ceritaku. Lagipula, aku tidak akan menyeretmu ke dalam masalahku karena ini adalah tanggungjawabku sendiri," sahut Arya yang masih sangat percaya diri.
Kemudian menuangkan air yang ada di hadapannya dari teko ke dalam gelas dan meneguknya hingga tanpa tersisa.
Tidak ingin bertele-tele dalam menilai hubungan terlarang dari sahabatnya, kini Rendi memilih untuk to the point.
"Kalau aku jadi kau, langsung mengatakan pada suaminya bahwa semalaman bercinta dengan istrinya. Lalu mereka bercerai dan kau bisa bersatu dengan Putri. Happy ending dan selesai. Kenapa harus dibuat susah dan ribet?"
Membenarkan apa yang dikatakan oleh Arya karena ia tahu bahwa ibu sahabatnya tersebut bukanlah wanita biasa karena merupakan putri tunggal keluarga konglomerat.
"Kau benar juga. Bahkan mamamu bisa membeli mulut orang lain yang membuatnya kesal."
"Bukan hanya mulut, tapi nyawanya saja bisa dibeli," sahut Arya dengan terkekeh geli dan berniat untuk menguraikan suasana menegangkan saat membahas tentang mamanya.
"Putri harus berstatus janda saat aku mengenalkan pada mamaku. Bukan wanita yang berselingkuh dari suami karena jika sampai mendengar hal itu, aku yakin Putri tidak akan pernah diterima di keluargaku. Mama benar-benar sangat susah menerima seorang wanita untuk menjadi istriku."
Rendi kini bisa memahami perasaan kacau sahabatnya saat berada dalam situasi yang sangat rumit. Meskipun ia merasa sangat aneh melihat Arya seperti sangat terobsesi dengan wanita yang baru ditemui, hingga berakhir dengan cinta satu malam.
"Sepertinya kau memang sudah terobsesi dengan wanita itu. Aku benar-benar tidak habis pikir, kenapa kamu bisa berakhir dengan seorang wanita bersuami dan memiliki anak? Padahal banyak gadis perawan yang bisa kamu nikahi dengan mengandalkan wajah tampanmu."
Selama beberapa saat ia terdiam dan melihat ekspresi dari Arya yang sangat datar dan membuatnya melanjutkan apa yang dari tadi dipikirkan.
"Melihatmu seperti ini, aku jadi berpikir bahwa saat ini mungkin kamu sedang kena karma dari perbuatanmu yang dari semenjak sekolah dulu selalu mempermainkan wanita."
"Kamu sedang merasakan akibat dari perbuatanmu sendiri karena di dunia ini ada hukum sebab akibat. Akan ada akibat dari semua hal yang dilakukan dan sepertinya aku harus mengucapkan turut berdukacita padamu," ucap Rendi yang langsung melindungi wajahnya saat Arya membuat gerakan akan memukulnya.
"Lebih baik kau diam atau aku akan menyumpal mulutmu.
Refleks Rendi langsung membekap mulut dan membuat gerakan simbol peace.
__ADS_1
"Kalau begitu, lakukan apapun yang kamu yakini. Menurutku, itu yang sekarang paling penting."
Tentu saja Arya sepemikiran dengan apa yang dikatakan oleh Rendi. "Terima kasih atas sarannya. Aku akan menikah dengan Putri setelah mengatur semuanya."
Melihat wajah sahabat yang tadinya kusut dan sekarang berubah berbinar, kini Rendi hanya geleng-geleng kepala.
"Sekarang kamu telah jatuh cinta pada Putri. Semoga hubungan kalian nanti berakhir baik hingga ke jenjang pernikahan," ucap Rendi yang ingin mendukung sahabatnya. Meskipun merasa sangat konyol karena memberikan nasihat salah pada sahabatnya.
"Jaga dirimu baik-baik karena aku mempunyai firasat buruk setelah mendengar semua ceritamu."
Arya hanya terkekeh geli dan sama sekali tidak merasa takut maupun gentar atas nasihat bernada kekhawatiran dari Rendi.
"Tenang saja karena semuanya akan baik-baik saja. Saat bertemu dengannya lagi, aku akan memastikan bahwa dia akan menomorsatukan aku daripada yang lain, termasuk putranya karena aku masih belum tertarik untuk memiliki anak."
'Bagaimana tanggapannya saat aku mengancamnya? Apa dia merindukanku seperti aku yang sangat merindukannya? Atau dia hanya memikirkan putranya.'
Berbagai macam pertanyaan yang menari-nari di kepala Arya saat ini, tidak akan bisa dijawab oleh siapa pun kecuali sosok wanita yang saat ini sedang tidak bersamanya.
Ia yang dulu tidak pernah memakai hati saat berhubungan dengan banyak wanita di sekolah, kini menyadari bahwa semua yang dikatakan oleh Rendi memang benar adanya.
Bahwa ia sudah terkena balasan dari perbuatannya dan kini tergila-gila pada seorang wanita yang berstatus sebagai istri orang lain.
"Aku tidak perduli tentang status Putri karena mencintainya dan besok akan mengajaknya bertemu lagi."
Arya yang tadinya merasa sangat senang karena besok berniat untuk mengajak Putri untuk bertemu, berubah sangat kesal begitu mendengar pertanyaan dari Rendi.
"Jangan terlalu merasa senang atau percaya diri. Bagaimana jika besok dia mengatakan padamu harus melupakannya dan lebih memilih suami dan anaknya?"
"Apa kau sudah gila!" sarkas Arya dengan wajah dipenuhi oleh kemurkaan.
"Lebih baik kita pikirkan kemungkinan terburuk dulu, Arya. Itu bisa saja terjadi dan jika benar, apa yang akan kau lakukan?" tanya Rendi yang ingin menenangkan sahabat, agar tidak murka dan bisa berpikir jernih.
Sementara itu, Arya yang sama sekali tidak pernah berpikir kemungkinan seburuk itu, kini hanya mengungkapkan apa yang ada di otaknya.
"Tidak mungkin Putri selamanya hidup dengan pria lemah itu.Jika itu adalah pilihannya, dia juga harus menerima keputusanku. Bahwa aku akan menunjukkan rekaman saat kami bercinta pada suaminya."
"Apa?" teriak Rendi yang kini membulatkan kedua mata mendengar hal yang baru saja diungkapkan oleh Arya.
"Apa kau gila?"
"Ya, aku memang sudah gila karena Putri," sahut Arya dengan wajah sangat tenang dan merasa percaya diri.
Bahwa ia tidak akan menyerah dan hanya menginginkan Putri seorang.
"Tidak akan ada yang bisa bermain-main denganku karena akan menghancurkannya menjadi serpihan debu," ucap Arya dengan wajah penuh seringai.
To be continued....
__ADS_1