Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
108. Bagaimana caranya?


__ADS_3

Tidak pernah terpikirkan oleh Putri untuk tinggal di kontrakan itu setelah menikah dengan Arya. Hal yang saat ini dipikirkannya adalah sosok pria yang masih berstatus sebagai suaminya tersebut tidak mungkin akan menyetujui hal itu.


'Bagaimana bisa Arya memikirkan tentang ide segila itu? Aku bahkan tidak pernah sedikit pun memikirkan akan tinggal bersama dengan Bagus ketika sudah menikah siri dengan Arya. Bahkan statusku masih merupakan istri sah, lalu menikah siri dengan Arya.'


"Bagaimana mungkin kami bertiga tinggal bersama? Bagaimana mungkin aku tinggal bersama dengan suami sah, serta suami siri dalam satu rumah? Mungkin merupakan sebuah hal yang biasa dan lumrah jika pria yang melakukan hal itu, tapi untuk seorang wanita, bukankah itu hanya akan mendapat hujatan dari semua orang?'


Putri yang saat ini merasa bimbang dan ragu untuk menanggapi ide dari Arya yang menurutnya sangat gila dan benar-benar tidak masuk akal jika dipikirkan secara nalar.


Ia berpikir bahwa status yang disandangnya saja sudah akan mendapatkan banyak hujatan. Apalagi jika harus tinggal dalam satu rumah dengan Bagus dan pastinya akan menyakiti hati pria itu karena dialah yang menjadi korban dari perselingkuhan yang dilakukannya.


"Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu? Bagaimana mungkin kamu mau tinggal di kontrakan ini bersama dengan Bagus? Apa yang akan dipikirkan oleh orang-orang nanti mengenai kita bertiga?"


"Apalagi para tetangga di sekitar sini benar-benar membuatku merasa pusing karena suka sekali menggunjing apapun yang dilakukan orang."


Sebenarnya Arya mengetahui bahwa idenya yang tadi asal dikatakan memanglah sangat jelas-jelas konyol dan tidak masuk akal. Semua itu karena ia benar-benar dipusingkan oleh berbagai masalah yang menimpa setelah diusir dari rumah.


Pikirannya seolah benar-benar sangat tumpul dan tidak bisa berpikir lagi untuk mencari ide lainnya, sehingga tiba-tiba mulutnya mengatakan hal itu karena selintas muncul dalam pikirannya begitu saja.


"Mungkin karena putus asa, aku jadi seperti ini. Aku pun heran pada diriku sendiri kenapa bisa berbicara sekonyol ini. Sebenarnya, saat diusir dari rumah tanpa membawa apa-apa, aku takut jika kamu tidak mau lagi denganku. Aku sudah berusaha untuk mencari pinjaman pada beberapa teman serta kerabat, tapi ternyata sudah didahului oleh papaku yang melarang mereka agar tidak membantuku."


Putri yang saat ini hanya bisa mengembuskan napas kasar sekaligus iba pada pria yang sangat dicintainya tersebut berkorban sebesar ini untuknya.


"Papamu pasti berpikir bahwa kamu akan segera kembali ke rumah karena tidak mempunyai uang dan juga tidak ada yang membantumu. Maaf, karena semua ini terjadi semenjak aku hadir dalam kehidupanmu. Aku benar-benar sangat mencintaimu dengan tulus dan tidak memikirkan kekayaanmu."


"Aku tahu itu, Sayang. Kamu sudah membuktikannya padaku dan aku tidak pernah meragukanmu. Jadi, bagaimana? Apakah ada cara lain yang bisa menyelesaikan permasalahan ini?" tanya Arya di seberang telpon.

__ADS_1


Sementara itu, Putri kini mengingat perkataan dari Bagus saat menolak ketika ia menyuruh untuk meminjam uang pada saudara tirinya.


"Ada satu cara untuk menyelesaikan masalah kita, Arya."


"Apa? Katakan padaku!"


Apa kamu sama sekali tidak berpikir untuk bekerja? Jadi, setelah bekerja, bisa mendapatkan gaji yang bisa digunakan biaya hidup sehari-hari kita nanti untuk membayar kontrakan. Aku tidak akan meminta hal yang lebih karena ingin menyesuaikan dengan kemampuanmu."


Tidak pernah menyangka bahwa akan memberikan solusi seperti itu karena sebelumnya berpikir bahwa setelah menikah akan tinggal di istana Arya yang besar dan mewah dengan banyak pelayan yang akan melayaninya.


Namun, semua perkiraan Putri meleset dan membuatnya seperti mengalami Dejavu. Bagaimana tidak, ia akan kembali tinggal di rumah kecil dan melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya karena tidak mungkin membayar pembantu ketika tidak mempunyai uang.


'Semoga ini hanya sementara saja dan orang tua Arya segera memaafkan dan memintanya pulang. Jadi, aku tidak akan tinggal di kontrakan kecil seperti saat tinggal bersama dengan Bagus,' gumam Putri yang menyadari bahwa antara bibir dan hatinya sama sekali tidak sinkron.


Ia tidak mungkin akan mengatakan bahwa diam-diam juga ingin merasakan bagaimana rasanya tinggal di rumah mewah, serta menjadi seorang istri dari putra konglomerat. Tentu saja karena ia tidak ingin Arya merasa bahwa ia hanya mencintai harta saja.


"Bagaimana, Arya? Menurutmu bagaimana?"


Sementara itu, Arya yang ada di seberang telpon merasa bingung untuk menjawab karena ia tentu saja tidak ingin bekerja kasar seperti yang dilakukan oleh orang-orang miskin.


Ia hanya ingin bekerja di perusahaan sang ayah, atau paling tidak perusahaan yang merupakan rekan bisnis dari orang tuanya. Namun, dalam kondisi seperti ini, ia tidak mungkin bisa bekerja di perusahaan karena mengetahui bahwa kekuasaan sang ayah sangat luar biasa.


Sudah bisa dipastikan bahwa tidak akan ada yang mau menerimanya untuk bekerja di perusahaan karena diancam oleh sang ayah.


"Apa kamu mau menyuruhku bekerja kasar seperti yang dilakukan oleh orang-orang miskin? Tentu saja aku tidak akan pernah mau melakukannya. Aku hanya akan bekerja di perusahaan, tetapi saat ini pasti papaku sudah melarang untuk menerimaku."

__ADS_1


Di sisi lain, Putri kembali dibuat bingung dengan perkataan dari Arya saat ini. Memang ia akui bahwa semua yang dikatakan tersebut tidak bisa disalahkan karena mengetahui bahwa sang kekasih merupakan anak emas dari keluarga konglomerat dan tidak mungkin akan bekerja kasar seperti suaminya.


"Lalu bagaimana? Jika aku tidak dalam keadaan hamil muda seperti ini, sama sekali tidak keberatan untuk bekerja sampai kamu bisa bekerja di perusahaan."


"Sepertinya hanya itu satu-satunya jalan keluar untuk kita, Sayang. Kamu yang tahu bagaimana sifat pria itu dan sekaligus kelemahannya. Jadi, buat pria itu menolong kita. Jika perlu, kamu berakting menangis untuk mencari simpatinya. Katakan saja pada pria itu, bahwa aku diusir dari rumah dengan tidak membawa sepeser pun uang."


Sementara itu, Putri hanya bisa terdiam karena apa yang dikatakan oleh Arya bahkan tadi sudah dilakukannya.


'Kamu tidak tahu bahwa aku tadi sampai mencium kakinya agar menolong kita,' gumam Putri yang kini kembali merasa pusing dan memijat pelipisnya.


Ia terlihat berpikir sebentar dan akhirnya mengambil keputusan.


"Sepertinya aku akan menuruti idemu dengan meminta bantuan dari Bagus. Semoga dia mau membantu kita. Mungkin besok pagi, aku akan mengatakan semua padanya karena hari ini dia sudah tidur di kamar sebelah."


Sengaja Putri menjelaskan di mana Bagus tidur karena tidak ingin pria di seberang telpon berpikir yang macam-macam padanya.


"Baiklah, aku percayakan semuanya padamu, Sayang. Beristirahatlah. Kamu pasti sangat lelah dengan semua ini,' ujar Arya yang kini sedikit merasa lega karena berpikir bahwa masalahnya akan berhasil diselesaikan.


"Baiklah. Aku memang sudah sangat mengantuk. Kamu juga, lanjutkan saja mimpi indahmu yang tadi telah terpotong gara-gara aku. Selamat malam, Arya."


"Kamu juga, Sayang. Maafkan aku karena tadi kesal padamu. I love you."


"I love you too," sahut Putri yang saat ini sudah menutup panggilan dan langsung memikirkan bagaimana caranya untuk menyampaikan hal ini pada Bagus.


"Bagaimana caranya aku menyampaikan ide Arya untuk tinggal di sini setelah kami menikah? Apa dia mau menerima Arya tinggal di sini?"

__ADS_1


Putri merasa kepalanya seperti mau pecah karena memikirkan hal itu, terlihat mengacak frustasi rambutnya. Tidak ingin sakit kepalanya bertambah parah, ia memilih untuk kembali memejamkan mata. Berharap bisa segera tertidur dan melupakan sejenak beban berat yang dirasakan hari ini.


To be continued...


__ADS_2