
Menjadi dekat adalah tujuan utama Calista dalam perjalanan bisnis di luar kota dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas itu.
Siapa sangka? Ia akan dengan mudah bergaul dengan seorang Arya. Padahal saat bersama Rani, sikap Arya jauh berbeda dan cenderung lebih suka menyakiti daripada bersikap manis.
Sementara dengan Calista, Arya seakan-akan nyaman bersama wanita itu dan selalu setuju dengan apa yang diputuskan tentang pekerjaan.
Semua karena usaha Calista yang menunjukkan bahwa ia memposisikan diri sebagai teman kerja yang baik dan juga berguna saat dibutuhkan.
Meski hal itu bukanlah sisi sebenarnya dari Calista, tetapi ia berusaha untuk membuat Arya nyaman sebelum akhirnya berhasil mendapatkan hatinya.
Beberapa hari bekerja bersama, mereka juga lebih sering pulang malam karena selalu lembur. Itu semua salah satu rencana yang sudah dibuat Calista dan tentu saja dengan bantuan ayah pria itu, juga sang ibu.
Pagi ini, Calista yang belum melihat keberadaan Arya sedikit cemas. ia pun mengirim pesan pada pria itu dan tetap menunggu di kursi kerjanya.
Sampai akhirnya, sosok yang ia tunggu muncul di pintu masuk. Wajah pria itu tampak lesu dan terlihat sekali sangat lelah dengan kantung mata yang menunjukkan seperti kurang tidur.
Calista memanfaatkan keadaan itu dengan memberikan perhatian pada Arya. Beruntung hari ini ia membawa makanan yang sengaja untuk dibagi dengan pria itu.
“Lesu sekali. Apa yang kamu lakukan semalam? Hingga wajahmu terlihat seperti ini?” tanya Calista dengan tersenyum dan menarik kursi, agar sang pemilik bisa langsung duduk.
Arya kini memijat pelipis yang terasa sangat nyeri dan juga bisa merasakan di sana terasa sangat panas. Ya, ia tahu jika dari semalam demam dan tidak bisa tidur karena badannya seperti remuk semua.
“Terima kasih. Entahlah, hari ini aku merasa sedang tidak baik. Tubuhku terasa lelah dan aku lupa belum memakan sesuatu pagi ini.”
“Pantas saja terlihat seperti ini." Calista kini langsung mengarahkan tangan pada kening Arya untuk mengecek dan seketika membulatkan mata begitu merasakan sensasi terbakar di sana.
"Astaga! Panas sekali. Kamu demam. Harus segera diperiksa dokter!" Calista langsung membuka ponsel untuk menghubungi pihak hotel tentang dokter yang bisa datang ke sana secepat mungkin.
Kemudian kembali beralih pada Arya setelah mendapat jawaban jika dokter akan segera datang.
"Lebih baik kamu makan dulu, agar tidak lemas dan ada nutrisi di tubuhmu. Jadi, saat dokter datang, kamu tidak pingsan."
__ADS_1
“Bagaimana aku bisa makan saat rasanya tidak karuan seperti ini. Kamu makan saja. Aku akan kembali ke kamar untuk beristirahat.
“Lebih baik aku saja yang suapi karena pasti kamu tidak punya tenaga sekarang!" Tanpa menunggu respon atau jawaban dari Arya, kini Calista langsung menyuapi pria dengan wajah pucat tersebut dan benar-benar membuatnya tidak tega.
Sementara itu, Arya yang akhirnya tidak menolak karena memang sangat lemah dan lemas, sehingga seperti lunglai tubuhnya. Bahkan seperti tidak bisa mengangkat tangan untuk sekedar makan.
Seharusnya hari ini adalah pagi yang indah karena berada di tempat yang indah. Namun, saat sakit seperti ini, ia benar-benar menyadari jika sekarang sangat membutuhkan sang istri.
Putri selalu merawat dengan baik saat ia sakit. Sikap keibuan Putri yang selalu membuatnya merasa sangat nyaman dan mencintainya.
Kehadiran Putri sungguh membuat warna, hingga membuatnya ingin pulang cepat, tetapi menyadari tidak bisa melakukan itu karena membutuhkan uang, sehingga sering pulang larut malam karena efek lembur.
Dulu, saat ia jatuh cinta pada Putri, sering menarik hidung, mencubit kecil pipi wanita itu hingga mengaduh sambil membalas rasa nyeri yang dirasakan.
Rasa gemasnya tidak pernah bisa ditahan lagi, bahkan senyuman sang istri terlihat sangat memesona, sehingga tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Hingga ia yang saat ini mengunyah makanan yang disuapi oleh wanita dengan tidak berkedip menatapnya, meloloskan kalimat.
Ucapan Arya yang percaya diri itu membuat Calista sontak mengerjapkan kedua mata dan menghilangkan kegugupan dengan cara terbahak.
“Kamu terlalu percaya diri, Tuan muda."
"Iya, aku masih tampan saat sedang sakit, kan?" Arya menjawab lirih dan kembali mengingat Putri yang sering mengatakan jika ia masih terlihat tampan meskipun sedang sakit.
Calista hanya terkekeh geli mendengar pria di hadapannya kembali memuji diri sendiri.
"Baiklah, kamu memang sangat tampan. Apa kamu senang?" Calista yang jujur saja saat ini merasa sangat khawatir akan keadaan Arya yang pucat, masih fokus menatap intens wajah pucat itu.
Namun, rasa iba yang dirasakan langsung berganti dengan kekesalan dan kekecewaan saat indra pendengarannya menangkap suara lirih, tetapi masih jelas.
"Aku merindukan Putri— istriku saat sakit seperti ini," lirih Arya yang seketika bangkit berdiri dari posisinya dan menyadari kebodohan.
__ADS_1
"Aku ingin beristirahat di kamarku. Suruh dokter ke kamarku nanti jika datang karena aku tidak membawa obat sama sekali. Biasanya setelah minum obat, aku tidur dan beberapa jam kemudian sudah turun demamnya."
Arya yang tidak ingin Calista bertanya padanya, kini sudah melangkah menuju ke arah pintu keluar dan benar dugaannya. Baru saja ia hendak melewati pembatas pintu, kini mendengar suara dari Calista.
"Apa kamu bilang tadi? Istri?" tanya Calista dengan berakting seperti orang yang baru pertama kali mendengar rahasia besar tersebut.
Ia berpikir bisa memanfaatkan rahasia itu untuk menyerang titik terendah seorang Arya.
'Tanpa aku harus bersusah payah, kamu membuka sendiri rahasiamu. Aku akan memanfaatkan ini dengan baik karena orang yang bisa mengetahui rahasia seseorang, bisa dengan mudah menaklukkannya.'
“Sepertinya kamu salah paham. Aku selalu mengigau saat demam. Meskipun terlihat masih sehat dan tidak apa-apa, tapi selalu seperti ini." Arya yang masih berdiri di dekat pintu, berpura-pura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan bersikap seperti biasa.
Ia ingin segera pergi dari kamar itu untuk melarikan diri dari pertanyaan Calista karena tidak ingin wanita itu mengetahui rahasia yang ditutupi. Selama ini ia merasa nyaman karena menganggap wanita itu seperti teman.
Jadi, bisa terlihat sangat akrab, seperti pasangan kekasih. Padahal sejatinya, ia hanya mencintai Putri seorang karena sudah melihat bukti cinta wanita biasa yang berasal dari kasta rendahan seperti hinaan orang tuanya.
Tanpa berniat untuk menunggu lebih lama, respon dari Calista, kini ia buru-buru melanjutkan langkah kaki meninggalkan area ruangan kamar wanita itu dan memilih untuk beristirahat di kamar sebelah karena ia memang meminta dua ruangan saat tiba di hotel agar tidur terpisah.
'Aku ingin menghubungi Putri. Apa yang saat ini ia lakukan? Sepertinya aku harus bertanya padanya mau dibawakan oleh-oleh apa-apa saat pulang besok,' gumam Arya yang kini sudah masuk ke kamarnya.
Di sisi lain, yaitu di ruangan Calista, terlihat wanita itu sedang berdiri mematung di tempatnya
Ia saat ini tengah mengepalkan tangan karena dikuasai oleh kemurkaan, tetapi sialnya tidak bisa diluapkan.
Tentu saja karena ia ingin terlihat seperti wanita sempurna di depan Arya dan saat berpikir akan berhasil, hari ini ia mendengar suara pria itu saat menyebut sang istri.
'Bahkan kamu sekarang menyebutnya di depanku. Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu berpaling dari wanita itu? Pasti ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan untuk membuatmu meninggalkan wanita itu.'
'Putri ... jadi itu nama istri Arya? Aku harus membuatnya meninggalkan wanita itu dan membencinya. Sepertinya aku harus menghubungi ibu Arya
dan bekerja sama dengannya.'
__ADS_1
To be continued...