
"Baiklah. Kita lakukan tes DNA sekarang secara diam-diam tanpa sepengetahuan istriku," ucap Arya dengan penuh keyakinan pada hasil dari tes yang akan dilakukan jika hasilnya nanti akan positif.
Rani kini menatap intens putranya dan kemudian membuka tas untuk mengambil sesuatu. Ia pun langsung menyerahkan sesuatu yang diambilnya tak lain adalah gunting kecil.
"Kamu harus mengambil rambut putramu untuk tes DNA. Oh ya, Mama juga membutuhkan rambutmu."
Ia pun langsung mengambil beberapa helai rambut putranya dan menaruh pada sebuah kantong plastik yang tadi dibawa dari rumah.
Arya yang dari tadi hanya diam mengamati perbuatan dari sang ibu, kini menelan saliva dengan kasar karena jujur saja merasa bersalah pada sang istri.
"Baiklah, Ma. Aku akan mengambil rambut putraku untuk dilakukan tes DNA, tapi hanya bisa melakukannya ketika Putri berada di kamar mandi. Tidak mungkin aku melakukannya di depannya."
Rani yang saat ini tersenyum hanya menyeringai karena kembali memiliki ide di kepala. "Sepertinya Mama berubah pikiran."
Arya yang saat ini mengerutkan kening karena tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh sang ibu. "Maksud Mama berubah pikiran untuk melakukan tes DNA?"
"Astaga! Bukan!" Rani saat ini kembali mengulurkan tangannya. "Nanti biar Mama yang melakukannya dengan cara menyuruh perawat membawa bayi itu keluar ruangan untuk diperiksa."
"Itu akan jauh lebih cepat dibandingkan menunggu Putri pergi ke kamar mandi, bukan?" tanya Rani yang saat ini masih mengarahkan tatapan intens pada putra dan berharap akan kembali setuju seperti tadi.
Namun, Rani merasa sangat kecewa dengan menampilkan wajah masam ketika mendengar jawaban dari putranya.
Arya refleks menggelengkan kepala karena merasa curiga pada sang ibu jika sampai melakukan cara yang curang hanya demi bisa memisahkan ia dengan anak dan istri.
"Tidak! Aku akan melakukannya sendiri karena tidak ingin Mama menipuku dengan cara mengambil sampel rambut bayi lain. Aku harus memastikan semuanya sendiri. Bahkan, nanti aku yang akan menyerahkan pada perawat untuk dilakukan tes DNA."
Merasa tertampar dengan jawaban dari putranya, Rani hanya bisa menelan saliva kasar. Namun, ia kali ini kembali berakting dengan sangat baik. Ia hanya tersenyum simpul dan tidak memperlihatkan kemurkaannya.
Bahkan saat ini Rani menepuk bahu putranya saat berbicara. "Baiklah, lakukan apapun sesukamu karena yang terpenting bagi Mama adalah hasil dari tes DNA bayi itu positif merupakan benihmu."
__ADS_1
Arya saat ini merasa lega karena sang ibu tidak menolak ataupun tersinggung dengan perkataannya dan menandakan bahwa pemikirannya salah.
Saat ini, ia berpikir bahwa semua itu memang dilakukan oleh orang tuanya demi kebaikan dan juga nama baik keluarga besar adalah yang memang merupakan konglomerat dan pastinya dihormati oleh banyak orang.
Bahkan mempunyai banyak rekan bisnis, pastinya harus dijaga nama baik perusahaan yang menjadi tumpuan dari hidup mereka.
Jika sampai nama baik perusahaan tercemar, kemungkinan besar harga saham akan anjlok dan membuat dampak buruk dan kemungkinan bisa merugikan. Jadi, Arya bisa memahami apa yang dikatakan oleh sang ibu hari ini.
"Baiklah, kalau begitu kita kembali ke ruangan. Aku mohon Mama jangan bersikap kasar pada istriku karena dia akan bersedih. Apalagi semalam baru saja melahirkan dan pastinya akan terluka jika melihat sikap ketus Mama padanya."
Jika tidak demi hasil tes DNA yang akan menghancurkan rumah tangga putranya, Rani mana mungkin akan menyetujui permintaan Arya yang dianggapnya sangat konyol dan tidak masuk akal. Apalagi ia sangat membenci wanita yang selalu dikatakan murahan itu.
Namun, kali ini ia langsung menganggukkan kepala tanda setuju dan tidak mengungkapkan ada protes demi bisa membuat hati putranya tenang.
"Baiklah, aku akan bersikap baik hari ini dengan harapan besar jika bayi yang dilahirkannya memang benar-benar mengalir darah keluarga Mahesa."
Hingga ia yang tiba-tiba mengingat sesuatu, refleks langsung menoleh ke arah sosok wanita di sebelah kiri yang juga berjalan menuju ruangan sang istri.
"Papa mana, Ma? Kenapa tidak datang bersama Mama?"
"Papa ada jadwal menemui klien pagi ini. Tadi ia hanya mengantar sampai depan saja. Papamu yang akan membayar semua biaya proses kelahiran. Jadi, kamu tidak perlu khawatir mengenai berapa jumlah biaya melahirkan istrimu."
Sengaja Rani berbohong demi mencari simpati dari putranya agar tidak berpikiran buruk pada sang ayah. Sebenarnya sang suami tidak menyuruhnya untuk menyelesaikan administrasi di klinik bersalin tersebut.
Itu murni adalah pemikirannya untuk membuat Arya semakin mempercayai apa yang dikatakan. Tentu saja ia sangat mengerti apa yang menjadi kelemahan dari putranya.
Hal itu dimanfaatkan untuk masuk menghancurkan rumah tangga yang dianggapnya tidak pantas dan hanya mempermalukan nama baik keluarga besar Mahesa saja.
Kini, Arya merasa sangat senang sekaligus lega karena tidak akan mengeluarkan uang dari tabungan dan akan memberikan perawatan yang terbaik untuk putranya.
__ADS_1
Ia akan memenuhi semua keinginan putranya dan bekerja dengan lebih semangat untuk menghasilkan uang. Tentu saja Arya tidak ingin putranya hidup menderita dengan kekurangan saat ia dibesarkan dengan segala kemewahan.
Arya benar-benar berharap jika hasil positif dari tes DNA yang hari ini dilakukan akan membuat orang tuanya mengizinkan kembali ke istana megah keluarga Mahesa. Tentunya dengan begitu, ia bisa memberikan semua hal yang terbaik untuk darah dagingnya.
'Semoga ini adalah awal dari kebahagiaan keluarga kecil kami. Istriku akan merasa bahagia saat tinggal di istana kami. Begitu juga dengan putraku. Ia akan hidup dengan segala kemewahan dan tidak kekurangan.'
Arya yang saat ini berguman sendiri di dalam hati untuk mengungkapkan kebahagiaannya ketika membayangkan masa depan cemerlang dari nasib rumah tangganya yang bermula dari kesengsaraan.
Kini, ia sudah memasuki ruangan yang dihuni oleh sang istri dan juga putranya. Namun, ia tidak melihat putranya dan membuatnya mengerutkan kening karena hanya ada sang istri yang saat ini sedang duduk di tepi pembaringan.
"Di mana putraku, Sayang?"
Putri yang dari tadi menunduk menatap ke arah layar ponsel miliknya, kini mengangkat pandangan dan langsung membuka mulut.
"Putra kita sedang dimandikan oleh perawat. Mungkin sebentar lagi akan diantarkan kemari."
"Aku ingin melihatku putraku dimandikan." Arya merasa ada waktu yang sangat pas dan ia beralih menatap ke arah sang ibu. "Mama di sini saja menemani Putri. Aku akan melihat putraku sebentar."
Rani yang saat ini menampilkan wajah lembut dengan mengulas senyuman dan menganggukkan kepala, tanda ia sama sekali tidak keberatan berada di dalam ruangan bersama menantu yang ingin sekali diumpatnya.
"Pergilah! Mama akan menemani istrimu di sini!"
Arya pun melangkahkan kaki panjangnya keluar dari ruangan setelah memberikan kode pada sang istri bahwa ia akan menemui putranya.
Sementara itu, Putri yang tidak ada pilihan lain, akhirnya hanya mengangguk perlahan dan merasa tidak enak perasaannya ketika hanya berada berdua dengan wanita paruh baya yang dianggapnya sangat jahat tersebut.
'Pasti wanita tua ini akan menghinaku habis-habisan seperti biasanya,' gumam Putri di dalam hati dan memilih untuk menyiapkan hati dan mental saat direndahkan dan diinjak-injak harga dirinya untuk kesekian kalinya.
To be continued...
__ADS_1