
Setelah kejadian di mana Rani mengetahui siapa Arya sebenarnya, wanita itu memilih untuk menjauh dan tidak lagi mendekati pria itu. Bahkan ia saat ini masih mengingat dengan jelas percakapan dari salah satu staf perusahaan kemarin dan membuatnya menguping.
"Sepertinya tuan Arya sebentar lagi akan memimpin perusahaan ini setelah diangkat sebagai pimpinan baru. Presdir telah memberikan sebuah hukuman berat, tapi tuan Arya tidak menyerah karena masih tetap bekerja sebagai staf paling rendah di perusahaan ini."
"Tuan Arya adalah orang yang tidak mudah menyerah dan pekerja keras. Aku yakin perusahaan ini akan semakin maju jika nanti dipimpin olehnya. Tuan Arya mewarisi gen hebat dari sang ayah. Jadi, sebentar lagi akan mengambil alih kekuasaan dan kita harus bersikap baik jika tidak ingin dipecat saat ia menjadi pimpinan perusahaan yang baru."
Rani yang awalnya merasa sangat shock mendengar akan percakapan dua pria di dekat toilet, seperti susah mempercayai bahwa ia selama ini bekerja dengan anak pemimpin perusahaan. Bahkan ia baru sadar, tak lebih dari seorang wanita bodoh tidak tahu apa-apa karena baru mengetahui tentang itu.
Selama ini, ia memang seorang wanita yang tertutup pada seorang pria, tapi karena rasa iba pada Arya yang seperti tidak bisa bekerja dengan baik, membuat Rani berusaha untuk memperlihatkan semangat ketika bekerja.
Berharap Arya yang dianggap adalah karyawan baru itu bisa betah bekerja di perusahaan dan bisa menyesuaikan diri.
Rani yang kini terdiam di depan loker, tengah memikirkan tentang sesuatu, yaitu memilih untuk menghindari pria yang ternyata adalah putra dari pemilik perusahaan. Bahkan hari ini ia berangkat pagi karena memang tidak ingin bertemu dengan Arya ketika memasukkan barang-barang ke dalam loker.
'Aku harus menjauh dari putra konglomerat itu. Dasar bodoh! Kenapa aku sama sekali tidak tahu apapun mengenai ini? Sepertinya aku harus membuat perhitungan pada beberapa rekan yang memilih untuk diam sama dan merahasiakan berita besar ini dariku,' lirih Rani di dalam hati dan beberapa saat kemudian ia bersiap untuk mengambil troley berisi alat kebersihan.
Rani berusaha sekuat tenaga untuk menghindar dari Arya Hingga meminta pada kepala cleaning service, agar ia kembali menjadi tim yang membersihkan lantai paling atas.
Permintaan itu awalnya mendapatkan penolakan, tetapi akhirnya Rani mengeluarkan jurus merayu. Hingga kepala cleaning service menyerah dan memberikan apa yang diinginkan wanita itu.
Akhirnya Rani merasa sangat lega karena ia tidak akan bertemu dengan Arya lagi. Bahkan setelah mengetahui bahwa pria yang selalu diganggu adalah penerus perusahaan, ia jadi semakin takut jika dianggap sengaja mendekati.
Padahal ia berpikir jika pria itu adalah karyawan biasa sepertinya, sehingga bersikap seperti pada yang lain.
__ADS_1
'Semoga ia tidak memecatku dari perusahaan setelah nanti menjadi pemimpin perusahaan. Aku takut jika ia dendam padaku dan membalas dendam.'
Dengan langkah lemah dan gontai, seolah tidak ada semangat dalam diri begitu mengetahui bahwa Arya bisa kapan saja memecatnya, membuat Rani takut kehilangan pekerjaan yang dianggap sangat nyaman dan mendapatkan gaji cukup lumayan dari perusahaan itu.
Lima belas menit kemudian, Arya sudah tiba dan langsung bersiap untuk melaksanakan pekerjaan hari ini.
Ia kemudian mendapat perintah untuk membersihkan lantai tiga seperti biasa. Sejak kedatangannya pagi ini, Arya tidak melihat keberadaan Rani sama sekali. Beberapa kali ia melihat loker, di sana sudah ada tanda jika pemiliknya telah hadir di kantor.
“Ke mana wanita itu?” gumam Arya sembari menggerakkan tangannya untuk membersihkan kaca jendela di lantai tiga.
Tidak biasanya, Arya melihat sosok pria yang mengenakan pakaian seperti dirinya. Dengan peralatan kebersihan yang biasa digunakan Rani.
Arya mendekati pria itu dan bertanya keberadaan Rani saat ini.
"Kenapa sekarang kamu yang bekerja bersamaku? Lalu, yang kerja denganku selama beberapa hari di mana? Ke mana wanita bernama Rani yang super cerewet itu?”
“Rani? Dia ada. Dia kembali bekerja ke lantai atas dengan tim lama,” jelas pria yang kini kembali fokus menggerakkan alat untuk mengepel lantai itu.
Arya mengerutkan dahi, berpikir apa yang membuat wanita itu kembali ke lantai atas? Tentu saja ia merasa sangat aneh karena tidak biasanya Rani bekerja di lantai atas. Bahkan ia tadi ingin bertanya tentang sikap aneh Rani semalam, tetapi belum sempat.
'Sebenarnya ada apa dengan wanita aneh itu? Apa terjadi sesuatu padanya? Sikapnya semalam sangat aneh, tapi aku belum sempat bertanya. Lebih baik aku bertanya padanya. Daripada bertanya dalam hati seperti ini.'
Tidak ingin dibebani dengan berbagai macam pikiran di otak, saat siang hari, Arya memilih untuk berjalan ke lantai atas. Beberapa saat kemudian, langkah kakinya berusaha untuk bisa sampai di lantai atas sebelum jam makan siang tiba.
__ADS_1
Sampai di lantai lima, ia melihat Rani sedang bersenda gurau dengan rekan kerja yang lain.
Hingga tanpa sengaja pandangan mata mereka bertemu, hal itu membuat Rani salah tingkah, hingga mencoba untuk menghindari Arya dengan berlindung di belakang tubuh temannya.
Ia ingin sekali bersembunyi karena tidak ingin bertemu dengan pria itu. Hingga ia saat ini sudah tidak bisa lagi menghindar karena Arya sudah melihat keberadaannya. Saat mendengar suara bariton dari Arya yang tengah melambaikan tangan padanya, membuat ia diam tak berkutik di tempat.
“Kamu!” panggil Arya. "Kemari! Karena aku ingin bertanya sesuatu."
Rani yang kali ini merasa sangat bingung, masih belum beranjak dari tempatnya.
'Sebenarnya apa tujuannya datang ke sini? Memangnya ia mau membicarakan masalah apa? Aku jadi semakin merasa serba salah dan kebingungan ini,' gumam Rani yang merasa bahwa posisinya akan terancam jika sampai pria itu dendam dan memecatnya.
Tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Arya berjalan cepat dan langsung menarik tangan Rani. Kemudian mengajak untuk masuk ke lift khusus bagian kebersihan.
Sementara itu, perasaan Rani semakin tidak karuan karena perbuatan Arya. Antara takut dan bimbang kini dirasakan olehnya karena saat ini menatap ke arah siluet pria yang menggenggam erat pergelangan tangan kirinya.
'Astaga! Apa yang ia lakukan? Apa maunya sebenarnya? Bukankah ia dulu selalu menyuruhku pergi dan membiarkan kerja sendiri? Kenapa sekarang malah mencariku? Apa karena ia merasa adalah putra dari pemilik perusahaan, sehingga berpikir berbuat sesuka hati padaku,' umpat Rani yang kini hanya berusaha untuk menormalkan perasaan.
Hingga saat berada di depan pintu lift, Rani berhasil melepaskan tangan dari cengkeraman Arya.
“Tuan, apa yang kamu lakukan?” protes Rani sembari memegangi tangannya yang terasa sakit karena tadi Arya mencengkeram kuat di sana hingga memerah.
Arya yang saat ini tengah mengerutkan kening karena heran dengan panggilan Rani padanya, memilih untuk menguraikan rasa ingin tahu yang melanda diri.
__ADS_1
"Tuan? Apa maksudmu memanggilku tuan? Apa kamu pikir aku akan senang dipanggil tuan?" sarkas Arya yang tidak suka dengan panggilan baru dari Rani.
To be continued...