
Arya benci perasaan itu. Perasaan rindu yang membuat ia membayangkan jika Putri ada di hadapannya.
Arya pun seketika berteriak dan melempar handuk kecil di tangannya ke arah di mana ia melihat sosok sang istri. Bahkan saat ini ia sudah mengusap wajahnya dengan kasar.
Penipuan yang Putri lakukan bukanlah kesalahan kecil. Wanita itu bahkan sampai mempunyai anak dengan suaminya dan membuat Arya dengan bodohnya percaya jika itu adalah darah dagingnya sediri.
Putri selalu bersikap baik dan penurut selama mereka hidup bersama. Tidak pernah ada masalah yang berarti dalam rumah tangga mereka.
Namun, ia tidak pernah menyangka jika luka yang Putri torehkan di hati begitu perih dan menyakitkan. Kebahagiaan yang ia rasakan runtuh seketika dengan semua fakta yang terpampang nyata di depannya.
Di saat ia bersikap cuek dan berubah, Putri bahkan belum juga menyadari kesalahannya. Bahkan masih terus memasang topeng sandiwaranya di depannya. Sungguh ia tidak habis pikir.
Kembali ia berteriak dan menarik rambutnya karena frustrasi. Membayangkan Putri bicara dengan begitu akrab sambil tertawa dengan Bagus sudah membuatnya frustrasi.
Sekarang, ia harus menerima kenyataan jika istrinya dijamah oleh pria lain dan mereka melakukan itu atas dasar suka sama suka. Arya semakin gila dibuatnya.
Pria itu kemudian beranjak dari tempat duduknya. Ia mengambil satu bungkus rokok yang sudah menyisakan setengah dari isinya.
Arya kemudian melangkah menuju balkon kamar dan berdiri di pagar pembatas. Ia mengambil sebatang rokok di dalam bungkusnya dan membakar benda itu, lalu mengisapnya dengan perlahan.
Ia menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas balkon. Ia terus menyesap nikotin di tangannya. Mengembuskan asapnya ke udara yang langsung menghilang diterpa semilir angin malam.
Arya terus melakukan itu berulang kali. Hingga ia menghabiskan empat batang rokok tanpa berhenti. Banyak hal yang telah terjadi dalam hidupnya semenjak ia mengenal Putri.
Wanita sederhana yang memiliki wajah cantik tersebut benar-benar telah mencuri hatinya dan membuatnya tergila-gila padanya.
__ADS_1
Ia pernah merasa sangat beruntung karena bisa memiliki Putri seutuhnya. Bersama Putri, ia bisa mendapatkan kepuasan batin dan kebahagiaan yang tidak pernah didapatkan dengan wanita mana pun sebelumnya.
Arya tidak yakin apakah ia akan menemukan wanita yang sama seperti Putri.
Apakah ia harus mencicipi wanita yang ia kenal satu persatu agar bisa tahu apakah mereka bisa memberikan kepuasan padanya, sama seperti Putri.
Ia sudah gila. Kenapa ia tiba-tiba sangat merindukan wanita itu. Ingin rasanya ia berlari menghampiri Putri dan membawa wanita itu untuk berpeluh bersama di atas ranjang seperti yang biasa dilalui.
Bukankah ia bisa melakukannya kapan saja? Toh mereka masih berstatus suami istri.
Pikiran itu melintas begitu saja. Tiba-tiba hasratnya menjadi menggebu saat membayangkan istrinya tersebut.
“Sialan!” Arya mengumpat saat ia sadar jika Putri masih belum bisa disentuh olehnya.
Kembali ia frustasi dengan menarik rambutnya hingga membuat helaian itu lolos dari kulit kepala.
Setelah mematikan puntung rokok pada isapan terakhirnya, ia memilih untuk masuk kembali ke dalam kamar.
Lampu utama di kamar itu sudah ia matikan dan berganti dengan lampu tidur yang membuat penerangan di kamar itu menjadi temaram.
Arya kemudian bergelung ke dalam selimut dan memejamkan mata, memaksa agar dirinya bisa segera terlelap. Namun, tetap saja bayangan sang istri yang selalu melintas dalam pikirannya.
Pukul tiga dini hari, Arya baru benar-benar bisa memejamkan matanya. Ia terbangun saat mendengar suara alarm yang ia pasang di ponsel miliknya.
Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Kepalanya terasa pusing dan matanya seperti enggan untuk terbuka.
__ADS_1
Arya kini mematikan alarm di ponselnya yang terus berdering, ia kemudian melanjutkan kembali tidurnya.
“Aku ingin tidur satu jam lagi,” gumamnya dengan suara parau.
Hari ini ia memang tidak ada pertemuan dengan klien, jadi bisa pergi ke kantor agak siang.
Baru saja akan memejamkan mata, seseorang mengetuk pintu dan ia bisa mendengar suara sang ayah memanggil.
Dengan mata yang masih sangat berat untuk terbuka, Arya menyeret kakinya untuk melangkah membukakan pintu.
“Arya, kamu tidak ke kantor?” tanya Ari Mahesa dengan memicingkan mata saat melihat Arya yang masih memejamkan mata.
“Mungkin nanti agak siang sedikit, Pa. Aku masih sangat mengantuk,” jawab Arya sambil kembali berjalan menuju tempat tidur.
Ia merasa sangat mengantuk dan langsung kembali membaringkan tubuhnya di sana.
"Apa kamu baik-baik saja?” Ari Mahesa bertanya lagi, karena tidak biasanya Arya seperti ini. “Kamu demam, Arya.” Ia menempelkan punggung tangannya di kening putranya.
“Aku hanya mengantuk, Pa.” Arya bergumam lirih.
“Baiklah, kamu istirahat saja. Papa akan menghubungi Calista dan mengatakan kamu tidak akan ke kantor dulu hari ini. Papa akan meminta Susi membuatkan bubur untuk kamu sarapan. Papa berangkat dulu.”
Tidak ada jawaban dari Arya karena sudah kembali masuk ke alam mimpinya.
To be continued...
__ADS_1