
Kehamilan Putri memasuki trimester tiga, perutnya terlihat lebih besar dari sebelumnya. Pergerakan bayi di perutnya juga sangat terasa dan membuat ruang geraknya terbatas.
Jangankan untuk berjalan beberapa langkah, bangun dari ranjang saja ia harus menyuruh Arya membantunya.
Arya yang merasa iba melihat Putri dengan perut semakin besar dan setiap hari tetap bekerja untuk memenuhi biaya hidup mereka, sedangkan ia selalu bermalas-malasan di rumah. Bahkan sang ibu belum berhasil membujuk ayahnya untuk segera menyuruh pulang ke rumah.
Pagi ini, Putri menjelaskan pada pria di sampingnya tentang pekerjaan dan kehamilannya yang mulai mengganggu. Pekerjaannya tidak bisa bebas seperti bulan-bulan sebelumnya.
Bahkan ia tidak bisa lagi menambah penghasilan dengan ruang geraknya yang terbatas.
Uang yang sudah susah payah dikumpulkan selama tiga bulan ini hanya cukup untuk kebutuhannya ke dokter dan memenuhi keperluan rumah tangga saja. Dengan penuh permohonan, Putri meminta pada Arya untuk menggantikannya bekerja.
“Arya, kita butuh banyak biaya untuk melahirkan. Kehamilanku sudah memasuki bulan ketujuh dan dua bulan lagi, anak kita akan lahir."
"Kamu harus bisa mencari uang karena aku tidak bisa bekerja dengan perutku yang seperti ini. Aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa padamu. Semua ini mengenai kehidupan kita yang sudah jauh dari kata terpenuhi.”
Arya terdiam mendengarkan penjelasan Putri dan sedang mencerna semua. Dalam pikirannya, hanya keluarganya saja yang bisa membantu.
Kekayaan yang dimiliki sang ayah bisa mengangkat kehidupannya menjadi lebih layak. Namun, kesalahan yang sudah diperbuat, membuatnya mundur.
Ketakutan pada kemarahan ayahnya membuat Arya enggan untuk kembali pulang dan memohon.
Putri masih menunggu jawaban atas penjelasan yang sudah diberikan. Wajah penuh kecemasan itu mulai berubah, tatapan matanya membuat Putri tersenyum begitu mendengar tanggapan Arya.
“Aku akan berusaha. Maafkan aku karena selama ini tidak bisa memberikan apa yang kamu butuhkan.”
Kalimat itu terdengar sangat teduh, hanya saja, apa Arya akan berubah? Putri masih mencari jawabannya.
Selama beberapa bulan menikah dengan Arya, hanya penderitaan yang dirasakan olehnya. Semua itu karena Arya memilih untuk menjadi pengangguran dan membiarkannya bekerja. Padahal posisinya sedang hamil.
Namun, meskipun begitu, ia mencoba untuk tetap bertahan dengan harapan jika suatu saat nanti hidupnya akan berubah saat Arya kembali diterima oleh keluarganya dan menjadi CEO perusahaan.
Putri selalu menanamkan pikiran positif seperti pepatah 'Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian'.
__ADS_1
Pepatah yang menjelaskan bahwa agar mendapatkan kesenangan atau hasil di kemudian hari, haruslah berani bersusah payah dan berusaha terlebih dahulu.
Hal itulah yang selalu menguatkannya dan membuatnya tidak mudah menyerah. Ia tidak ingin bercerai dengan Arya, walau apapun yang dilakukan pria itu padanya.
Semua keburukan Arya akan diterima dengan lapang dada, meskipun terkadang ia lebih sering menangis saat pria itu tidak ada. Putri hanya bisa mengungkapkan perasaannya dengan cara menangis tersedu-sedu di dalam kamar. Dengan begitu, membuatnya lebih baik.
Saat ia marah pada Arya, selalu mengingat akan masa-masa awal jatuh cinta pada pria yang lebih muda usianya darinya, sehingga sedikit bisa mengobati luka hati yang dirasakan.
Hari ini ia berharap jika pria itu iba saat melihat perutnya yang semakin membuncit dan juga kakinya sering bengkak dan membuatnya tidak bisa bebas berjalan seperti dulu.
Padahal ia dulu hamil anak kesatu dan kedua tidak seperti itu, tapi anak ketiga ini benar-benar membuatnya seperti tidak leluasa untuk bergerak.
Hal itulah yang membuatnya memilih untuk berbicara dengan Arya, agar mau bekerja karena masa-masa persalinan mulai dekat dan membutuhkan biaya yang cukup besar.
Belum lagi mempersiapkan segala peralatan bayi mereka, seperti pakaian, popok, pampers, susu dan yang lainnya.
Kini, ia menatap intens penuh permohonan pada sosok pria yang jauh lebih kurus dibandingkan pertama bertemu dulu terlihat segar dan sixpack.
Bahkan reaksi dari bayi dalam perutnya yang seketika bergerak aktif, begitu merasakan tangan mereka, membuatnya tersenyum bahagia.
Melihat perut Putri bergerak beberapa kali karena usapan tangannya, membuat perasaan Arya merasa sangat aneh dan seperti telah mendapatkan respon baik dari keturunannya yang belum lahir.
Ia pun tersenyum bahagia dan mengangguk mengerti. Kemudian tangannya merangkum wajah Putri, lalu sebuah kecupan mendarat di kening sang istri.
“Aku akan berusaha agar bisa mendapatkan uang untukmu dan anak kita.”
Pria dengan rahang tegas itu tampak sadar dengan kondisi rumah tangganya saat ini. Hanya saja, masih belum ada tindakan yang bisa membuktikan bahwa ucapannya itu bisa dipertanggungjawabkan.
“Hari ini aku akan bekerja. Aku akan mencoba untuk membujuk nyonya Maria agar diberikan waktu hingga minggu depan karena sebenarnya dilarang bekerja dengan perutku yang semakin membuncit. Setidaknya itu memberikanmu waktu untukmu mencari pekerjaan." Putri merasa bahagia karena akhirnya Arya menunjukkan sedikit perubahan.
“Ya. Hari ini, aku akan mengantarkanmu," sahut Arya yang kini memilih untuk membantu Putri bangkit dari atas ranjang.
Putri mengangguk perlahan, lalu beranjak dari tempatnya. Dengan perut besar itu, langkahnya pun terasa berat. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya.
__ADS_1
Ia bisa merasakan rasa penuh pada tubuhnya. Gerakan yang tidak beraturan juga membuatnya sedikit merasa geli dan terkadang nyeri karena terlalu kencang.
Sementara itu, Arya berada di dapur. Ia melihat ada sisa susu yang biasa diminum Putri. Tangannya bergerak untuk merebus air, lalu menyiapkan gelas tinggi untuk membuat susu hangat.
Arya kini tengah memikirkan beberapa rencana. Ada banyak hal yang menjadi bahan pertimbangan tidak akan bekerja kasar seperti pria-pria biasa pada umumnya.
Setidaknya bekerja di sebuah kantor bisa membuatnya nyaman tanpa harus bekerja kasar.
Dari belakang, Putri menepuk bahu Arya. Lamunan itu seketika sirna dan Arya yang kini memegang segelas susu tengah tersenyum dengan memberikan minuman itu pada Putri.
“Tumben? Terima kasih.” Wajah Putri terlihat berbinar saat merasa bahagia karena Arya berinisiatif membuatkan susu untuknya.
“Iya, Sayang. Maaf ya, aku melamun tadi," sahut Arya yang kini hanya tersenyum simpul di sebelah sang istri.
“Apa yang kamu pikirkan?” Putri mengerutkan keningnya karena melihat wajah muram Arya yang seperti sedang banyak memikirkan sesuatu.
“Pekerjaan. Aku akan mencoba untuk datang ke rumah dan membujuk papaku.” Arya yang refleks menoleh pada Putri, kini memilih untuk mengungkapkan rencananya karena tidak ingin menyimpan rahasia.
Putri merasa sangat lega karena akhirnya Arya mau mengalah dengan cara memohon pada orang tuanya agar bisa diberikan pekerjaan.
Meskipun itu terdengar sangat konyol, tapi hanya itu jalan terbaik, daripada harus bekerja di tempat lain. Ia berharap niat baik Arya akan mendapatkan respon positif dari sang ayah.
“Semoga berhasil, aku yakin orang tuamu pasti masih memiliki hati dan tidak membiarkan putranya menderita.”
“Ya, kamu benar.”
Setelah menghabiskan segelas susu, Putri dan Arya berjalan ke rumah nyonya Maria.
Arya mengantarkan Putri sampai di depan rumah wanita kaya itu, lalu meninggalkannya.
Sementara Putri tampak bahagia hari ini, dengan sikap manis Arya yang seperti itu. Ia yakin suaminya akan kembali menjadi sosok yang dulu mencintainya.
To be continued...
__ADS_1