Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
32. Memantapkan hati untuk bercerai


__ADS_3

Suara ******* dan jeritan terdengar keras dari layar ponsel yang menampilkan adegan panas di dalamnya karena beberapa saat lalu Arya memilih untuk mengusir kebosanan dengan melihat film biru.


Bahkan ia sengaja mengeraskan volume untuk membuat Putri kembali mengharapkan sesuatu darinya.


Tentu saja Putri yang awalnya tidak ingin melihat itu, akhirnya menuruti perkataan Arya yang memaksanya.


Ia sama sekali tidak punya pilihan lain, selain menuruti perintah dari pria yang sudah memangkunya tersebut setelah saling mengungkapkan perasaan masing-masing bahwa sama-sama tergila-gila.


Berkali-kali ia menelan ludah, jantungnya berdegup sangat kencang dan tanpa bisa di tahannya lagi, hasratnya kembali bergairah begitu melihat adegan panas dengan berbagai gaya dan suara-suara jeritan dari pemain wanita yang terlihat di layar kaca tersebut.


Sementara itu, Arya bersorak kegirangan saat berhasil membuat wanita yang berada di pangkuannya itu diam dan patuh padanya, sehingga tangannya memilih bergerilya di balik gaun wanita yang hanya diam saja saat ia mulai menjamah setiap sudut tubuh tanpa memakai pakaian dalam itu.


Sedangkan Putri menggigit bibir bawahnya karena tidak ingin suara lenguhannya lolos dari bibirnya karena otaknya masih bisa berpikir jernih dan merasa malu jika sampai suara desahannya di dengar oleh pria yang ada di belakangnya itu.


Arya masih fokus melihat film yang di putar itu. Hingga ia sudah tidak bisa menahan diri lagi terlalu lama.


Keduanya sama-sama tengah terbakar gairah dan saling memberi dan menerima, seolah ingin mengungkapkan perasaannya masing-masing.


Kini, Arya kembali berbuat semakin liar. Tatapan parau penuh dengan hasrat terlihat jelas di netra pekatnya. Arya tersenyum saat melihat wajah memerah yang terlihat semakin cantik di hadapannya.


Awalnya, Putri menyadari saat merasa dalam bahaya ketika Arya sudah mengunci posisi dengan menahan tulang rusuknya. Kali ini, ia berpikir tidak akan selamat jika sampai pria yang mulai mendekatkan bibir ke arahnya.


Arya semakin tergila-gila saat melihat wajah cantik Putri yang sudah berubah memerah, seperti buah Cherry, membuatnya mengumpat di dalam hati.


'Astaga, rasanya aku ingin memakannya saat ini juga. Kenapa wajahnya bisa semanis ini saat merona.'


"Sayang, apakah aku boleh memakanmu sekarang?"


Putri masih tidak bisa mengalihkan tatapannya pada wajah dengan netra pekat yang seolah telah menenggelamkannya. Namun, kalimat ambigu bernada vulgar berhasil membuat perutnya menegang.


'Jantungku rasanya akan meledak saat ini juga,' gumam Putri yang saat ini tengah menganggukkan kepala perlahan.


Akhirnya Putri hanya pasrah dan menerima setiap sentuhan Arya.


Lagi-lagi ia merasakan hubungan dengan lonjakan gairah yang mengakar untuk menunjukkan seksualitasnya yang bertalu-talu dalam aliran darah karena tubuhnya menggelenyar sekarang.

__ADS_1


Bulu kuduknya merinding saat merasakan setiap sentuhan tangan pria yang menelusuri lekuk tubuhnya. Ia seperti merasakan dunia berhenti berputar dan hanya ada mereka berdua dengan jantung berdebar dan kulit memanas.


Posisi yang sangat intim, tentu saja Arya bisa merasakan degup jantung bertalu-talu yang terdengar sangat jelas dari sosok wanita yang tangannya mulai merayap di balik kulit lehernya.


Tidak hanya itu saja, jemari lentiknya menarik-narik helai rambut pria itu, seolah seperti sedang menjelajahi dan mempelajari bentuk pria itu.


Perutnya masih menegang dan tulang-tulangnya seperti lolos dari kulitnya saat semakin ingin merasakan sensasi kenikmatan yang dirasakan saat tubuh mereka menyatu dengan kulit memanas dan berbagi peluh di atas kursi empuk itu.


Setelah beberapa saat waktu yang memabukkan, Arya melepaskan kuasa dan napasnya tersengal.


"Aku selalu tidak bisa menahan diri begitu menyentuhmu." Arya sudah mengangkat tubuh seringan bulu dan bagaikan sebuah barang berharga. Hingga membuatnya sangat berhati-hati.


Sementara Putri yang sedikit menjerit saat tubuhnya melayang ke atas dan tiba-tiba Arya sudah menggendongnya. Ia yang merasa sangat takut akan terjatuh dari gendongan pria itu, semakin mengeratkan pelukannya untuk berpegangan.


Kedua tangan Arya yang kini melingkar di pinggang Putri untuk menahan agar wanita yang digendongnya tidak terjatuh.


Sebenarnya ia ingin menikmati sensasi yang lain dari lain, tetapi gagal melakukannya saat merasakan perutnya terasa melilit.


"Sial!" umpat Arya yang seketika menurunkan tubuh Putri dari pangkuannya. "Tunggu sebentar, Sayang."


Sementara itu, Putri yang kini menatap bayangan punggung lebar dari Arya saat menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Apa yang terjadi?"


Kini ia terdiam dan mengingat bibir tebal pria yang tadi menciumnya seketika membuat Putri menelan ludah dan membalikkan badan karena tidak ingin otaknya yang sudah terkontaminasi dengan hal-hal intim saat memikirkan perbuatan Arya beberapa saat lalu.


'Astaga, aku benar-benar bisa gila berada di dekat pria yang sangat berbahaya ini. Arya selalu berhasil membuatku rapuh dan lemah. Tenanglah, Putri. Jangan gugup. Kamu harus menjadi wanita yang membuat Arya tergila-gila padamu.'


'Apalagi ia masih sangat muda dan kuat. Jadi, aku harus bisa mengimbanginya dan membuatnya puas agar tidak pernah berpaling dariku.'


Putri menyadari bahwa berhubungan dengan pria yang jauh lebih muda ada dampak positif dan negatifnya dan ia harus mengimbangi semua itu, agar Arya tidak pernah kecewa padanya.


Kepuasan yang selama ini dicarinya telah didapatkan dari pria itu dan ia pun ingin membalas hal yang sama pada pria yang usianya empat tahun lebih muda darinya tersebut.


Beberapa saat setelah menunggu, Putri kini melihat Arya berjalan menuju ke arahnya dan ia berencana untuk bersikap agresif.

__ADS_1


Sementara itu, Arya yang merasa sangat lega perutnya, masih tidak mengalihkan pandangannya dari wanita yang kini tersenyum padanya.


"Sepertinya aku telah berhasil membuatmu senang, Sayang. Kamu membuatku tidak bisa menahan diri."


Merasa sangat malu karena Arya selalu menggodanya, kini Putri mengarahkan sebuah pukulan pada lengan kekar pria yang baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi.


"Kamu sangat mesum," ucap Putri dengan mengerucutkan bibir.


Sementara itu, Arya sama sekali tidak merasa kesakitan akan pukulan yang diarahkan padanya, hanya terkekeh geli.


"Aku yakin kamu suka aku yang mesum. Bukankah begitu, Sayang?" Mengedipkan mata pada Putri untuk kembali menggodanya.


Panggilan sayang dari pria yang selalu mengedipkan mata padanya malah membuat Putri merasa diperlakukan seperti tidak bisa dipungkiri bahwa suara bariton Arya serasa membelai ujung-ujung sarafnya dan membuatnya gemetar.


"Jangan mengada-ada, Arya."


Arya yang ingin menanamkan kepercayaan pada wanita yang sudah membuatnya tergila-gila, meraih punggung tangan dengan jemari lentik tersebut dan mengecup lembut di sana.


"Aku akan memenuhi janjiku padamu, Sayang. Aku hanya akan bercinta denganmu dan kita menikah setelah kamu bercerai dengan suamimu. Sekarang, katakan apa rencanamu pada suamimu!"


"Kamu ingin aku bagaimana? Aku akan melakukan apapun yang kamu katakan karena mencintaimu," sahut Putri yang kini menyerahkan seluruh jiwa raga pada sosok pria yang saat ini tengah menatapnya intens.


Arya yang saat ini sudah berpikir lebih jauh mengenai hubungannya dengan Putri ke depannya, memang ingin membahas hal yang menyangkut perihal masa depan.


"Apakah kamu akan bercerai jika aku menyuruhmu sekarang menggugat cerai suamimu?"


"Tentu saja. Apa kamu ingin aku sekarang bercerai dengan pria tua tidak berguna itu?"


Putri yang sudah memantapkan hatinya untuk bercerai, kini menunggu keputusan dari pria tampan itu. Jika Arya menyuruhnya untuk bercerai saat itu juga, ia benar-benar akan menggugat cerai di pengadilan.


Apalagi saat ini, satu-satunya hal yang dipikirkan hanyalah ingin segera menikah dengan pria yang berhasil mengirimkan denyut kenikmatan luar biasa dalam hidupnya.


'Aku hanya menginginkan hidup bersama pria ini karena semua yang ada pada dirinya, membuatku tergila-gila,' gumam Putri di dalam hati.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2