
Bambang Priambodo yang masih duduk di sofa, kini mengingat sesuatu, langsung meraih ponsel di balik saku jas dan memencet tombol panggil serta menunggu jawaban dari seberang telpon.
Begitu mendengar suara bariton saat panggilan telpon sudah diangkat, kini mengungkapkan apa yang ada di pikiran.
"Halo, kawan."
"Edward, aku butuh bantuanmu." Bambang Priambodo berbicara sambil tidak mengalihkan pandangan dari wanita di hadapan.
Hingga suara tawa terdengar dari seberang telepon dan membuat Bambang hanya tersenyum masam karena diejek oleh sahabat baik yang berprofesi sebagai dokter di salah satu rumah sakit terbesar dan terbaik.
"Aku sudah menduga jika kamu ingin memanfaatkanku karena tidak biasanya menghubungi. Memangnya apa yang kamu butuhkan sekarang?" ucap sosok pria yang berprofesi sebagai dokter jantung tersebut.
Kemudian Bambang menanyakan sesuatu yang dipikirkan akan bisa membantu wanita yang masih memejamkan mata karena efek pengaruh obat bius setelah dioperasi.
"Apakah kau mengenal dokter ahli yang bisa menyembuhkan kelumpuhan setelah mengalami kecelakaan. Aku membutuhkan informasi itu untuk menyelamatkan seseorang yang mungkin akan hancur hidupnya begitu mengetahui tidak bisa berjalan lagi."
Bambang memiliki harapan besar pada sahabatnya tersebut. Jika mendapatkan kabar baik yang diharapkan, akan langsung membicarakan mengenai niatnya untuk menolong wanita malang yang sudah tidak bisa berjalan karena kecelakaan.
"Memangnya siapa yang mengalami kelumpuhan? Kamu tahu jika dibutuhkan banyak waktu yang tidak bisa diperkirakan untuk menyembuhkan pasien yang mengalami cacat karena kecelakaan."
Meskipun sedikit kemungkinan untuk sembuh dan pastinya membutuhkan banyak waktu seperti yang dijelaskan oleh, tetap saja tidak membuat Bambang ke yang bodoh menyerah untuk menolong wanita itu.
Entah mengapa merasa sangat iba dan ingin membantu agar wanita itu kembali bisa berjalan lagi. "Asalkan mencoba, pasti akan bisa menyembuhkan."
"Aku akan memberikan nomor ponsel dari dokter yang kau butuhkan. Nanti aku juga akan berbicara dengannya agar menolongmu karena merupakan sahabat terbaikku."
Merasa sangat lega karena berpikir bahwa suatu masalah telah selesai, kini Bambang Priambodo menutup sambungan telpon setelah mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Karena tidak mungkin menunggu seharian wanita tersebut hingga sadar karena ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, Bambang Priambodo menghubungi orang untuk menyuruh salah satu pelayan datang ke rumah sakit agar menunggu pasien.
Setelah setengah jam menunggu, pelayan yang berusia 30 tahunan tersebut sudah tiba dan membuatnya langsung menjelaskan mengenai apa saja yang harus dilakukan.
Terutama perintah untuk mengabarkan jika pasien kecelakaan tersebut sadar. "Aku akan datang besok pagi, tapi jika sudah sadar, Jangan lupa untuk melaporkan padaku."
"Siap, Tuan," jawab sosok wanita yang saat ini langsung membungkuk hormat untuk memberikan penghormatan ketika bosnya berjalan keluar dari ruangan perawatan.
Wanita dengan tubuh sedikit gemuk tersebut ini beralih menatap ke arah pasien dengan beberapa alat yang dipasang di bagian tubuh dan ada perubahan di kepala serta beberapa tangan dan kaki.
"Memangnya siapa wanita ini? Apakah merupakan kekasih tuan Bambang Priambodo?" Menepuk jidat berkali-kali karena berpikir bahwa itu sebuah hal yang konyol karena tidak mungkin.
Apalagi wanita di hadapannya tersebut masih sangat muda dan juga sang majikan tidak pernah terlihat membawa seorang wanita ke rumah semenjak sang istri meninggal.
Berpikir bahwa pria yang sangat dihormati tersebut menjadi panutan oleh semua orang karena sangat setia pada sang istri yang telah meninggal saat memutuskan tidak berniat untuk menikah lagi.
"Sepertinya wanita ini menjadi korban kecelakaan," gumam wanita tersebut yang sudah mendaratkan tubuh di atas kursi dan merasa sangat iba pada nasib malang pasien dengan mata tertutup tersebut.
Tentu saja seperti yang biasa dilakukan, selalu membuat cerita pada media sosial dalam setelah mengambil foto ruangan kamar rumah sakit di mana ada pasien yang terbaring lemah tidak berdaya.
Kemudian mengirimnya dan beberapa saat kemudian mendapat banyak pertanyaan mengenai pasien yang berada di atas ranjang perawatan tersebut.
Wanita itu sudah sibuk dengan kegiatan untuk membalas satu persatu pertanyaan dari para teman di media sosial.
Hingga tanpa terasa, rasa kantuk menyerang dan membuatnya ketiduran.
Bahkan sudah beberapa jam berlalu, hingga terdengar suara rintihan lirih dari Putri.
__ADS_1
Putri saat ini perlahan membuka mata dan mencoba untuk menormalkan cahaya masuk berusaha untuk mengingat apa yang terjadi setelah merasa berada di tempat asing dan diketahui adalah salah satu ruangan perawatan sebuah rumah sakit.
Menyadari jika sekarang berada di salah satu ruangan terbaik rumah sakit, Putri yang merasa seluruh tubuhnya seperti mengalami mati rasa, perlahan mengingat apa yang tadi dialami.
Begitu mengingat kecelakaan yang membuatnya merasakan sakit luar biasa pada tubuhnya ketika ditabrak oleh mobil yang melaju sangat kencang ke arahnya dan terhempas ke jalanan, tidak langsung membuka suara.
Satu-satunya hal yang diingat oleh Putri adalah bagaimana keadaan putranya dan sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri di rumah sakit.
Putri yang saat ini mengedarkan pandangan mata, melihat sosok wanita di atas sofa tengah tertidur pulas dan ingin sekali memanggil. Namun, seolah sangat susah untuk berbicara karena hanya bisa memanggil lirih dan tidak bisa didengar oleh wanita itu.
Akhirnya ia tidak punya pilihan lain selain menunggu hingga wanita itu tersadar dari tidurnya. 'Semoga wanita itu segera terbangun dari tidurnya, agar aku bisa meminta bantuan untuk menghubungi seseorang dan bertanya mengenai putraku."
'Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika bisa selamat dari kematian setelah mengalami kecelakaan yang membuat tubuhku seperti remuk ketika dihantam mobil tadi, tapi sekarang rasanya masih mati rasa karena tidak bisa menggerakkan kakiku.'
Putri saat ini hanya bisa menatap ke sekeliling ruangan perawatan dan berpikir bahwa tadi langsung ditolong oleh orang-orang baik dan diantar ke rumah sakit, sehingga langsung ditangani oleh dokter.
'Apakah orang itu yang menolongku? Apakah tadi aku dioperasi? Karena sekarang tidak bisa menggerakkan kaki,' gumam Putri yang saat ini berusaha untuk menggenggam tangan dan menggerakkan.
Namun, karena bisa melakukan itu meskipun, merasa sangat aneh dan melanjutkan dengan berusaha menggerakkan kaki.
Akan tetapi, seperti beberapa saat lalu, sama sekali tidak bisa melakukan itu dan mencoba untuk berusaha berpikir positif bahwa hal itu karena efek obat bius saat dioperasi.
'Mungkin aku tadi dibius di bagian bawah, sehingga sekarang tidak bisa menggerakkan kakiku.'
Meskipun saat ini mencoba untuk memenuhi pikiran dengan hal-hal positif, tetap saja tidak mengalihkan kekhawatiran Putri mengenai sesuatu hal, yaitu apakah terjadi hal buruk pada kakinya.
Namun, tidak ingin memikirkan hal itu dan mencoba untuk meyakinkan diri sendiri bahwa kakinya baik-baik saja.
__ADS_1
'Kakiku baik-baik saja dan tidak mengalami masalah. Semoga ini hanya efek obat bius karena tadi dokter menyelamatkanku dengan operasi,' gumam Putri yang saat ini merasa degup jantung berdetak kencang ketika pikiran dipenuhi oleh berbagai macam ketakutan dan berharap itu tidak terjadi.
To be continued...