Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
50. Harus menjadi milikku


__ADS_3

Putri yang saat ini sudah berjalan di belakang sang suami, menuju ke arah mobil taksi yang biasa digunakan untuk mencari uang. Beberapa saat yang lalu, ia bertanya pada perawat mengenai masalah putranya dan ternyata sudah diperbolehkan pulang karena demam telah turun.


Seperti yang saat ini terlihat, sang suami sedang menggendong putranya saat keluar dari klinik. Sementara ia kini berjalan dengan banyak beban pikiran yang saat ini dirasakan karena Arya tidak mengangkat panggilan darinya dan juga tidak mengirimkan pesan apapun.


Kini, Putri sudah berjalan menuju ke arah taksi yang telah dibuka oleh Wahyu dan ia langsung melangkah masuk dan dan duduk di belakang karena ingin sambil merebahkan tubuh putranya.


Begitu Bagus menurunkan tubuh anaknya di pangkuan sang istri, ia pun langsung menutup pintu dan berjalan ke depan untuk segera mengemudikan mobil meninggalkan klinik dan kembali ke kontrakan.


Ia sesekali melirik ke arah belakang, di mana sang istri dari tadi tidak mau berbicara padanya setelah marah-marah di ruang perawatan.


Belum sempat ia membahas tentang hal yang menyebabkan kesalahpahaman, putranya dari tadi merengek padanya dan ia sibuk menenangkan bocah berusia 3 tahun tersebut.


Bahkan ia kali ini melihat sang istri terlihat sibuk menenangkan putranya yang merengek dan bermanja-manja. Di dalam hati, ia benar-benar sangat heran dengan temperamen sang istri yang tengah sibuk mengusap lembut rambut putranya.


'Sebenarnya apa yang terjadi pada istriku? Kenapa hari ini ia marah-marah? Apa karena putraku yang sakit, membuatnya jadi banyak pikiran hingga stres?'


Berbagai macam pertanyaan kini menghiasi pikiran Bagus dan niatnya adalah ingin meminta maaf nanti saat sudah tiba di rumah kontrakan.


Meskipun sebenarnya ia ingin sekali bertanya mengenai alasan dari Putri yang semalam tidak pulang. Apakah benar tidur di rumah temannya atau tidak. Ataukah semalaman menunggu putranya yang sakit di klinik.


Saat suasana penuh keheningan terasa di dalam mobil, Bagus menyadari ada sesuatu yang terlewatkan olehnya dan membuat ia mengerutkan kening.


"Sayang, kamu beli baju baru? Aku baru sadar, tidak pernah melihat gaun itu. Kapan kamu membelinya?"

__ADS_1


Semua hal yang dilakukan oleh Putri serasa sangat aneh dan membuat Bagus sedikit menaruh curiga dan ingin memastikan sesuatu.


"Apa uang belanja yang kuberikan, kamu pakai untuk membeli gaun itu, Sayang?"


Baru saja Bagus diam, ia kembali mendapatkan kemurkaan dari sang istri yang menurutnya memiliki emosi berlebihan hanya gara-gara masalah sepele. Sebenarnya niatnya adalah ingin memberikan uang belanja tambahan jika Putri membelanjakan uang untuk membeli gaun.


Namun, sikap ketus sang istri membuatnya menjadi merasa bersalah karena selalu memantik amarah Putri.


Putri yang awalnya baru saja sedikit merasa tenang setelah melihat putranya yang merengek kembali tertidur, tetapi mendadak buruk begitu mendapat pertanyaan yang menyulut api amarahnya.


"Bisa tidak, kamu membiarkanku tenang sebentar saja? Bahkan aku baru berusaha menenangkan diri setelah Putra tertidur. Hanya karena aku membeli satu pakaian saja, apa kamu akan mempermasalahkannya?"


"Kamu tahu, kan kalau aku bukanlah tipe wanita yang suka shopping dan menghamburkan uang? Hanya membeli satu baju saja sudah membuatmu banyak pertanyaan. Jika kamu keberatan aku memakai uangmu untuk membeli baju, lebih baik aku bekerja karena bosan hidup seperti ini selama sembilan tahun."


'Semoga dia ilfil padaku dan memilih untuk segera menceraikanku. Rasanya aku ingin bebas melakukan apapun saat ini karena sudah sangat muak pada sosok pria yang sangat tidak berguna ini.'


'Aku sudah tidak tahan lagi dengannya. Pria itu benar-benar sangat memuakkan. Rasanya aku sudah malas melihatnya dan bosan menanggapi pertanyaan yang penuh kecurigaan.'


Puas merungut di dalam hati, Putri yang sama sekali tidak mau menatap ke arah depan, kini lebih memanjakan mata untuk melihat lalu lalang kendaraan yang melintas.


Banyaknya mobil yang memenuhi jalan, membuatnya mengingat saat ia tengah berada di dalam satu mobil dengan Arya. Di saat bersamaan, mobil yang membawanya pergi, melewati hotel yang semalam menjadi tempatnya bercinta dan berduaan dengan Arya penuh gairah.


'Hotel ini ... kenapa lewat hotel ini segala? Jadi mengingatkanku lagi pada Arya yang sepertinya marah padaku. Sebenarnya dia marah karena apa? Aku telpon, pun sama sekali tidak diangkat. Kamu di mana, Arya? Apa kamu tidak mau menemuiku?'

__ADS_1


Lamunan Putri kini seketika buyar begitu mendengar suara bariton dari pria yang saat ini menepikan mobil dan memiringkan tubuh untuk menghadapnya dan menatap tajam.


"Apa yang harus kulakukan untuk tidak membuatmu marah padaku, Sayang? Aku hanya bertanya satu pertanyaan dan kamu menjawab dengan berbagai macam jawaban yang tidak karuan dan melantur kesana-kemari."


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, hingga berubah seperti ini? Baru keluar dari rumah sehari saja sudah membuatmu berubah seperti ini. Bagaimana jika kamu setiap hari pergi dari rumah dan apa tadi? Mau bekerja? Jika kamu bekerja, siapa yang merawat putra kita?"


Ingin sekali Putri menjawab, tapi kali ini ia benar-benar sangat malas untuk menanggapi karena saat ini memikirkan putranya yang tertidur setelah susah payah ditenangkan olehnya.


'Jika aku menjawab, pasti berteriak dan akan membangunkan putraku. Pasti menangis dan rewel lagi nanti. Aku yang susah karena sibuk menenangkan putraku yang rewel. Sementara dia hanya sekedarnya saja karena alasan capek pulang kerja.'


Sementara itu, melihat sang istri malah sama sekali tidak menanggapi semua pertanyaannya, tentu saja membuat Bagus kini mengempaskan tangan ke atas kemudi untuk melampiaskan amarah.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Putri?" sarkas Bagus yang kali ini menahan sekuat tenaga deru napas memburu yang mewakili perasaannya saat ini.


Bahkan ia terlihat mengacak frustasi rambutnya karena marah dan memilih untuk kembali menyalakan mesin mobil saat masih tidak mendapatkan jawaban dari sosok wanita yang selama ini sangat dicintai.


Tanpa mempedulikan apapun lagi, Bagus memilih fokus untuk menatap jalanan ibu kota yang dipenuhi lalu lalang kendaraan, baik roda dua dan empat.


Di sisi lain, Putri yang kali ini tidak mengalihkan pandangannya untuk menatap kendaraan yang melintas, sama sekali tidak ambil pusing atas kemurkaan sang suami karena satu-satunya yang dipikirkan hanyalah Arya


'Nanti aku harus menghubungi Arya lagi. Ia harus menjawab pertanyaanku. Kenapa sikapnya berubah saat mengantarkanku ke rumah sakit. Aku harus tahu penyebab sikapnya berubah. Aku tidak ingin kehilangan Arya dan akan melakukan apapun asalkan menjadi milikku.'


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2