Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
210. Rencana


__ADS_3

Ari Mahesa kini memicingkan mata dan masih merasa heran dengan apa yang kali ini tengah direncanakan oleh sang istri.


"Membantu?"


Rani mengungkapkan rencananya untuk memisahkan Arya dari Putri. Cara satu-satunya adalah dengan mendatangkan wanita lain yang bisa merayu putranya hingga mau berpaling dari sang istri.


Setelah Arya bisa mencintai wanita lain, Rani ingin suaminya memberikan lagi posisi yang sesungguhnya.


Ari Mahesa terlihat berpikir ulang mengenai apa yang dijelaskan oleh istrinya. Tidak lama setelah memikirkan dengan matang, akhirnya pria itu menyetujui rencana tersebut.


Memang kehidupan bersama Putri tidaklah menguntungkan untuk Arus dan keluarganya. Apalagi wanita itu masih memiliki seorang suami yang mungkar akan menerimanya kembali.


Tentu saja atas dasar nama baik keluarga yang dipertaruhkan jika terus berstatus sebagai suami dari seorang wanita yang berselingkuh dari suami.


“Kamu atur saja dan aku akan mengurus sisanya.”


“Papa hanya perlu membantuku! Kirim Arya ke perusahaan Tania, lalu kasih surat kerja sama atau apa, terserah!" ujar Rani membuat sang suami kembali memikirkan kerja sama yang pastinya akan menguntungkan perusahaannya.


“Nanti aku akan melakukannya. Sekarang aku lelah dan ingin segera makan.”


Rani pun menampilkan sikap semanis mungkin di hadapan suaminya dengan menyiapkan pakaian ganti dan makanan.


Semua sudah diatur dengan rapi, bahkan Ari Mahesa hanya perlu duduk dan menyaksikan istrinya mengerjakan yang diinginkan.


“Kamu selalu seperti ini jika menginginkan sesuatu. Aku sudah sangat hafal dengan tingkahmu itu. Apa tidak bisa bersikap biasa saja?” Ia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sang istri yang terlihat seperti wanita penggoda ketika menginginkan sesuatu darinya.


Menjalani biduk rumah tangga yang lebih dari 25 tahun, tentunya sudah bisa hafal luar dalam seperti apa sosok wanita yang menjadi istrinya tersebut. Hanya saja, ia mengungkapkan hal itu karena merasa risi ketika melihat sikap Rani dengan senyuman dibuat semanis mungkin seperti seorang wanita penggoda.


Namun, Rani yang masih mengulas senyuman manis tersebut tidak mempedulikan ada protes dari sang suami


“Papa, setiap rencana Mama itu sebenarnya untuk keluarga ini juga. Bukankah kesuksesan Papa juga karena dukungan Mama? Papa selalu saja menganggapku kekanakan."


"Kalau tidak begitu, Papa tidak akan bisa sesukses ini. Lalu, aku jadi istri yang sudah seperti disiakan.”


“Ya sudah. Duduk sini! Kita makan sama-sama.” Melihat sikap manja sang istri yang terlihat menggemaskan, akhirnya membuat pria paruh baya tersebut luluh juga dan ikut tersenyum.


Rani hanya tersenyum simpul, lalu duduk di samping suaminya. Mereka menikmati makanan itu di dalam kamar dengan suasana yang romantis dan sangat jarang terjadi.


“Besok, aku akan memberikan surat itu pada putra kita. Jadi, jika seperti ini, Papa harus memberikan fasilitas mobil?”


“Itu pasti karena tidak mungkin putra kebanggaan kita terlihat sengsara di depan wanita yang ingin kujodohkan. Memangnya Papa mau Tania melihat anak kita naik angkutan umum ke perusahaan?”


“Ya. Kamu benar. Ya sudah, besok aku suruh Joni bawa mobil milik Arya ke kantor.”


“Terima kasih, Sayang Kalau begini, kan Mama bisa dengan tenang melakukan rencana ini.”


"Baiklah. Aku percayakan semuanya padamu karena melakukan ini demi masa depan cemerlang putra kita. Masa depan suram yang saat ini dijalaninya, sebentar lagi akan berubah setelah rencanamu berhasil. Jadi, aku akan selalu mendukungmu."


Tentu saja Rani yang tidak berhenti tersenyum lebar karena sudah mendapatkan lampu hijau dari pria penguasa yang sangat ia cintai tersebut. Bahkan ia sudah meluapkan perasaan bahagia dengan cara memeluk sang suami yang duduk di sebelah kirinya.


"Terima kasih, Sayang! Mama semakin mencintaimu." Mengarahkan bibirnya ke pipi dengan rahang tegas sang suami.


Setelah kegiatan mereka selesai, keduanya segera beristirahat untuk memanjakan tubuh setelah seharian beraktivitas di atas ranjang king size yang menjadi tempat paling nyaman saat tidur.


Pastinya akan kembali beraktivitas keesokan harinya dengan segala kesibukan yang membuat otak dan pikiran terforsir.

__ADS_1


***


Ari Mahesa sudah ada di ruang kerjanya, ia memangil putranya untuk datang ke ruangan itu. Surat kerja sama dan juga mengenai surat perintah, kini ada di meja pimpinan perusahaan.


Sudah sepuluh menit ia menunggu, tetapi Arya tidak kunjung datang ke sana. Hingga akhirnya, memanggil putranya untuk kedua kalinya.


“Di mana Arya?”


“Sudah berangkat ke atas, Tuan."


Baru saja Ari akan memarahi kepala cleaning service, ternyata Arya sudah ada di depan pintu masuk. Pria itu kini memberikan kode pada putranya untuk masuk dan duduk di seberangnya.


“Ada apa, Pa?” tanya Arya yang baru saja mendaratkan tubuh di atas kursi dan mengerutkan kening karena jarang sang ayah memanggil ke ruang kerja jika tidak ada sesuatu hal yang sangat penting akan dibicarakan.


Tentunya semenjak ia tadi melangkahkan kaki menuju ke ruangan sang ayah, pikirannya selalu bertanya-tanya mengenai apa yang diinginkan oleh pria yang sangat disayangi tersebut.


“Ini surat tugas dan kerja sama untuk Perusahaan. Papa mau kamu ke sana, mengantarkan berkas ini!


"Papa memutuskan kamu menjadi perwakilan perusahaan kita untuk berada di sana selama satu minggu.”


Arya memicingkan satu mata karena merasa sangat aneh. Tidak biasanya sang ayah bersikap seperti ini, apalagi mengirimnya ke perusahaan lain untuk menjadi perwakilan.


“Aku harus melakukan apa di sana, Pa?”


“Menggantikan posisi wakil direktur. Kamu akan bekerja dengan direktur utamanya.”


“Ya sudah. Perusahaan itu saat ini sedang kekurangan tenaga. Apalagi direktur utamanya sedang sangat sibuk karena wakil direktur itu adiknya sendiri dan akan melakukan pernikahan sabtu ini."


"Sementara resepsinya sampai minggu. Selama satu minggu ini tidak bisa menghandle semua pekerjaan secara bersamaan. Kamu pasti tahu sendiri bagaimana perusahaan berjalan dan bagaimana seorang kakak akan sangat sibuk ketika sang adik akan menikah.”


Ia bukanlah pria yang bodoh dan tidak tahu apapun ketika orang tua merencanakan sesuatu untuk memisahkan dengan sang istri. Namun, ia ingin mengikuti permainan sang ayah karena bisa merubah posisi dari seorang pekerja rendahan menjadi lebih tinggi.


'Baiklah, aku akan mengikuti permainan kalian. Akan sejauh mana semuanya terjadi, tapi aku bukanlah seorang pria bodoh yang bisa masuk dalam jebakan,' lirih Arya yang kini berakting menerima dan tidak keberatan dengan tugas dari sang ayah.


“Papa hanya percaya sama kamu karena putraku. Lakukan pekerjaan ini dengan baik! Sebagai bonusnya, kamu mendapatkan fasilitas mobil selama bekerja di sana.”


Arya membulatkan mata, sungguh pria itu tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang ayah saat ini.


“Serius ini, Pa? Aku bisa mendapatkan mobilku lagi?”


“Hanya sampai kamu selesai dengan tugas itu. Jika tugas yang kamu lakukan gagal, Papa akan kembali mengambil semuanya.”


“Oke, aku akan melaksanakan pekerjaan ini dengan baik dan pastinya membuat Papa bangga.”


“Bagus. Ini berkasnya, kamu tandatangan dulu di sini.”


“Aku ingin membacanya dulu?”


“Untuk apa? Kamu tidak percaya dengan Papa?” sarkas Ari Mahesa yang sangat tidak senang dengan tanggapan dari putranya yang terlihat fokus menatap ke arah dokumen di atas meja tersebut.


Refleks Arya mengangkat kepala dan hanya bisa berdecih kesal Apa sikap sang ayah yang sangat dingin.


“Baiklah. Demi mobil dan fasilitas lainnya.”


Gelap mata, hanya itu yang kini Arya rasakan. Ia menandatangani berkas tanpa membaca hanya dengan iming-iming harta yang sudah lama ditahan orang tuanya.

__ADS_1


“Gunakan pakaian yang pantas selama bekerja di sana. Ini dompetmu yang lama. Semua isinya sudah Papa lengkapi.”


Arya menerima dompet yang diberikan sang ayah Kembali kedua matanya tidak percaya dengan nominal yang diberikan.


“Ingat! Ini hanya berlangsung selama satu minggu. Jika kamu gagal, kamu tidak akan mendapatkan kembali harta ini.”


“Tugasku selain menjadi wakil direktur, apa aku juga harus mencari keuntungan untuk perusahaan itu?”


“Tentu saja. Jangan lupa, kamu sudah tanda tangan tadi. Jadi, ada tanggung jawab yang harus kamu pikul dan laksanakan dengan baik.”


Jemari Ari Mahesa menunjuk pada satu tugas yang harus dilakukan Arya selama di perusahaan Tania. "Buat direktur itu jatuh cinta padamu!"


Wajah Arya seketika berubah merah padam begitu sang ayah mengatakan hal yang sudah ditebaknya tadi.


“Sepertinya Papa bekerja sama dengan Mama untuk hal ini. Kenapa? Padahal Putri adalah wanita pilihanku.”


“Bagaimanapun, kamu sudah tanda tangan. Jika kamu gagal membuat Tania menyukaimu, Papa bisa pastikan kamu akan kehilangan semuanya.”


“Tapi, Pa!"


“Tidak ada tapi. Sekarang kamu bisa mengganti pakaian dan ini kunci mobilmu.”


Sungguh sial, hanya itu yang ingin dikatakan Arya saat ini. Bagaimana bisa ia terjebak dengan permainan kotor orang tuanya?


***


Beberapa saat kemudian, Arya sudah mengenakan jas lamanya dan juga bawahan yang senada.


Pakaian rapi itu dilihat Rani yang kini sedang membersihkan lantai satu. Ia melihat Arya berjalan di lobi dengan setelan jas dan tampak lebih tampan dari biasanya.


“Ternyata putra bos sudah kembali pada posisinya,” gumam seorang karyawan yang melihat penampilan Arya.


Arya hanya menampilkan wajah masam karena masih kesal dan melirik sekilas pada Rani. Tidak peduli dengan tatapan terpesona itu, ia berlalu dan masuk ke mobilnya yang sudah siap di depan lobi.


Dengan membawa berkas yang sudah diberikan sang ayah, Arya kini mengemudikan mobil menuju ke perusahaan Tania yang berada di perbatasan kota.


Dalam perjalanan, ia mendapatkan pesan dari sang ayah tentang profil Tania dan nomor telpon yang harus ia simpan.


Hubungi Tania sebelum kamu sampai di sana.


Iya.


Begitu di lampu merah, Arya mengetik sebuah pesan singkat untuk bertanya pada Tania mengenai posisi gedung perusahaannya.


Hai, aku Arya—anak dari pemilik Perusahaan Mahesa. Aku dalam perjalanan menuju perusahaanmu. Apa kamu bisa memberikan lokasi tepatnya?


Cukup lama Arya menunggu, tetapi sayang tidak ada pesan yang terbalas. Sampai akhirnya menepikan mobil dan memutuskan untuk mengisi perutnya dengan makanan.


Ia menghentikan mobil itu di depan café, lalu masuk ke sana dan memesan beberapa makanan, juga minuman untuk dirinya.


Sembari menunggu, ia juga melihat ponselnya dan berharap pesan itu terbalas. Nihil, pesan pun belum terbalas. Hingga makanannya sampai dan ia mulai mengunyah semua yang masuk ke mulut.


Terdengar bunyi notifikasi yang menandakan bahwa ada pesan masuk. Arya segera meraih ponselnya dan benar saja, itu pesan dari Tania.


Ya, tentu saja. Akan aku kirimkan.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2