Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
147. Bertahan


__ADS_3

Putra yang masih kecil seolah menyadari bahwa perasaan ayahnya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, sehingga sengaja bangun untuk mengalihkan pemikiran, agar tidak lagi memikirkan hal buruk.


Ia sengaja bangun agar ayahnya itu hanya fokus kepadanya saja dan tidak memikirkan yang lain lagi.


"Apa kamu haus? Apa Putra mau minum sesuatu?” tanya Bagus seraya mengusap tubuhnya untuk mengantarkan putranya pada ketenangan dari tangisannya tersebut.


Tangisnya terdengar begitu memilukan, seolah-olah ada yang baru saja menyakitinya Padahal sejak tadi hanya ada Bagus dan Putra saja di kamar ini.


Tidak ada orang lain lagi karena kontrakan ini hanya terdapat dua kamar saja, sehingga akhirnya memilih pindah tidur bersama putranya.


Sementara Putri tidur di kamar utama bersama Arya


Sekarang sudah pukul enam pagi dan Bagus sudah bersiap-siap untuk melakukan pekerjaannya sebagai supir taksi. Ia tadi sedang memasang dasi dari seragam supirnya dan tiba-tiba malah melamun karena terpikirkan soal Putri dan kehidupan rumah tangga mereka.


Lamunannya menjadi buyar ketika mendengar suara tangisan Putra yang menggema di dalam kamar ini.


Jika saja putranya tidak menangis, mungkin akan terus melamun sampai siang hari dan sampai ia terlambat berangkat kerja.


“Ssst ... sudah, Sayang. Jangan menangis lagi. Kalau haus, nanti Ayah buatkan susu."


Bagus menepuk-nepuk pelan punggung Putra yang berada di atas pangkuannya. Ia berusaha keras untuk menenangkan tangis putranya karena jika menangis sepagi ini, nantinya akan ada banyak orang yang terganggu dan tidak mau membuat para tetangga semakin menggunjingkan rumah tangga mereka.

__ADS_1


Mereka pasti berpikir bahwa Putri tidak memperdulikan putranya lagi setelah mempunyai suami baru. Apalagi sekarang masih disebut pengantin baru, meskipun ia tahu bahwa Putri dan Arya bukan pertama kali melakukan hubungan ****.


Bagus menoleh ketika mendengar pintu kamar tiba-tiba terbuka. Di sana muncul Putri dengan muka bantalnya dan satu botol susu di dalam genggaman.


Sepertinya wanita itu juga baru saja terbangun karena mendengar suara tangisan putranya, sehingga berinisiatif untuk langsung membawakan susu ke kamarnya.


Namun, begitu melihat sang suami pertama, kedua mata Putri langsung membulat dengan sempurna. Ia pikir tadi Bagus sudah berangkat bekerja. Pagi ini ia benar-benar bangun kesiangan karena semalaman Arya sibuk menikmati tubuhnya.


Apalagi mereka sudah lama tidak melakukan hubungan **** semenjak Putri hamil, sehingga semalam seperti memuaskan hasrat dengan meledak dalam kolam kenikmatan.


“Aku pikir kamu sudah berangkat bekerja,” kata Putri terbata.


Sesak merambati hatinya tiap kali melihat sang suami pertama, membuatnya berada dalam rasa bersalah berkepanjangan yang entah kapan akan menghilang.


“Iya, tidak apa-apa. Sepertinya aku harus membiasakan diri hidup seperti ini dan tidak menganggapmu ada. Aku pun harus tidak mempermasalahkan juga jika kamu masuk ke sini.”


Ingin sekali Putri berkata bahwa ia sudah menikah lagi dan mendengar Bagus memarahi dan memakinya agar rasa bersalah tidak menjadi sebesar ini.


Ia ingin menjadi sosok yang juga dikatakan bersalah. Bukannya terus dimaklumi kesalahannya. Semenjak Bagus menyetujuinya menikah dan tinggal di kontrakan, terlihat sangat dingin dan itu terasa seperti menyiksa Putri dengan rasa bersalah.


“Aku ... belum membuatkan kopi dan sarapan karena bangun kesiangan,” ujar Putri lagi dengan suara pelan.

__ADS_1


“Tidak apa-apa,” jawaban ‘tidak apa-apa’ lagi yang diberikan oleh Bagus. “Kamu pasti lelah karena kejadian kemarin."


"Kamu memang harus beristirahat. Aku bisa menyiapkan kopiku sendiri dan segera berangkat sebelum terlambat,” lanjut Bagus penuh pengertian.


Lihatlah laki-laki itu, seharusnya saat ini memandang Putri dengan tatapan penuh penghakiman.


Menatapnya dengan sorot kebencian agar Putri menyadari bahwa Bagus sangat marah dan sangat kesal kepadanya, tapi apa daya, hati telah mengalahkan akal sehat.


Alih-alih meminta Putri pergi, Bagus justru ingin wanita itu berlama-lama berada di hadapannya agar masih bisa terus memandang wajah cantik wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu dalam waktu yang lama.


Karena setelah ini, ia harus pergi bekerja. Menghabiskan waktu hampir seharian untuk mencari nafkah dan untuk membiayai kehidupannya bersama dengan orang-orang yang ada di dalam kontrakan ini.


Sebenarnya Putri menyadari, betapa mulianya hati seorang Bagus Setiawan. Laki-laki lain pasti tidak akan sanggup menerima semua ini.


Sebagian dari mereka pasti memilih untuk pergi atau mengusir sang wanita dari rumah begitu mengetahui perselingkuhan istri hingga hamil. Namun, Bagus sangat berbeda dari para lelaki pada umumnya.


Ia malah memilih untuk bertahan dan mempertahankan wanitanya.


Sesakit apa pun yang dirasakan, nyatanya ia tetap membiarkan Putri berbuat apapun dengan suami siri di rumah ini. Bagus tidak suka menjadi pihak yang menyakiti.


Namun, ia juga tidak suka jika harus disakiti. Dari pada memilih di antara dua pilihan tersebut, Bagus berpikir lebih baik memilih untuk bertahan dengan berada di tengah-tengah.

__ADS_1


Ia bertahan walaupun rasa sakit akan terus menyiksa sepanjang sejarah hidupnya.


To be continued..


__ADS_2