
Bagus kini mengamati area depan taman untuk mencari penjual nasi. Niatnya adalah ingin membelikan makanan kesukaan putranya, yaitu Kentucky.
Namun, ia tidak melihat penjual yang biasanya ada di sebelah kanan taman. "Apa pedagangnya libur?"
Amira Tan kini mengerutkan kening, tetapi tidak berniat untuk bangkit dari posisi yang dirasanya sangat nyaman. Ia kali ini mengikuti arah pandangan pria yang terlihat serius menatap ke depan.
"Kamu sedang cari apa?"
"Kamu tunggu di sini sebentar dan tolong jaga putraku karena aku ingin membeli makanan untuk putraku. Oh ... untuk aku juga. Apa kamu ingin memesan sekalian?"
Kini Amira mengerti apa yang diinginkan oleh pria itu, sehingga kini mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas.
"Memangnya Putra suka makan apa? Aku akan memesan makanan lewat aplikasi online. Lebih baik kamu temani saja Putra karena aku tidak ingin disalahkan jika dia terluka lagi. Anggap saja aku sedang baik hati untuk mentraktir kalian."
Tidak menyetujui perintah dari saudara tiri sang istrinya, Bagus sudah mengibaskan tangan serta menggelengkan kepala.
"Tidak perlu! Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu hingga membuatku benar-benar sangat malu. Bahkan seperti tidak mempunyai muka saat berhadapan denganmu. Mungkin jika tidak ada kamu, aku masih bingung untuk mencari pinjaman uang."
Di sisi lain, bukan Amira Tan jika mendengar perkataan orang lain saat tidak setuju. Ia tetap membuka aplikasi yang menyediakan pesan antar makanan.
"Aku pesan ini saja. Biasanya anak kecil selalu suka dengan KFC."
Ia memilih tiga paket makanan, lengkap dengan minuman. "Sepertinya ditambah burger dan kentang akan lebih lengkap."
Jika Amira Tan sibuk melihat-lihat makanan yang akan dipesan tanpa menunggu Bagus memberikan jawaban, di sisi lain, pria yang saat ini merasa tidak nyaman dengan kebaikan wanita itu, kini sudah mengembuskan napas kasar berkali-kali.
"Kamu selalu berbuat seenaknya sendiri seperti ini pasti menuruni gen ayahmu. Bahkan Putri pun demikian. Sebenarnya jika semakin dipikirkan, kalian berdua sangat mirip. Apalagi gen dari anak perempuan itu lebih mendominasi dari sang ayah."
Bagus terdiam beberapa saat ketika mengingat tentang sesuatu hal yang sangat mengganggunya. Ia kemudian berjalan mendekati Amira yang masih fokus menatap ke arah benda pipih di tangan.
Meskipun begitu, ia masih sesekali melihat ke arah putranya yang terlihat sangat senang karena mendapatkan teman baru yang bisa diajak bermain bola.
__ADS_1
"Apa kamu tadi menyaksikan acara Ijab Kabul?"
Tanpa berniat untuk mengalihkan pandangannya, Amira Tan menjawab tanpa melihat ke arah pria itu karena sedang memesan makanan. Sebenarnya ia juga sangat lapar karena tadi belum sempat makan siang.
Ia memang rencananya akan bertemu klien di restoran, tetapi memilih menundanya besok dengan alasan klise, ada pekerjaan mendadak yang harus diselesaikan.
Tentu saja sebagai seorang pengacara yang sudah mempunyai jam terbang tinggi, jadwalnya cukup padat.
Dimulai dari memberikan konsultasi hukum pada klien, membela perkara yang jadi tanggung jawabnya sesuai dengan kuasa yang telah diberikan klien, serta mewakili atau mendampingi klien dalam sidang pengadilan serta menegakkan keadilan."
Tadi ia beralasan tengah mendampingi klien karena jadwal persidangan dimajukan dan memastikan klien memperoleh hak-haknya. Tentu saja klien yang akan menggunakan jasanya mempercayai semua kebohongannya dan tidak mempermasalahkan akan bertemu besok.
Begitu selesai memesan makanan dan dalam beberapa menit ke depan akan diantarkan ke taman, Amira Tan kini mengalihkan pandangannya pada wajah pria di hadapannya.
"Aku tidak melihatnya karena tadi sibuk mencarimu. Aku khawatir jika kamu memilih bunuh diri karena istrimu menikah lagi. Pertama kali melihat ada seorang istri yang menikah lagi dengan sang suami mengizinkan dan sialnya itu adalah adik tiriku, benar-benar membuatku semakin membencinya."
"Mungkin jika dia adalah seorang wanita yang baik, aku lama-kelamaan akan berusaha untuk berdamai dengan hatiku dan menyayanginya, tapi yang terjadi adalah Putri semakin gila."
Ia sengaja tidak mengatakan bahwa Putri yang memberitahunya untuk datang ke taman karena berpikir bahwa itu akan membuat Bagus kembali dihantui rasa bersalah.
Bagus kini hanya bisa memijat pelipisnya saat mendengar kalimat panjang lebar dari kakak iparnya tersebut. Meskipun ia menyadari bahwa seorang wanita selalu menyikapi semua masalah yang dihadapi dengan jutaan kata, tetapi merasa ini bukanlah saatnya membahas hal lain.
"Aku bertanya satu pertanyaan, tapi kamu menjawab hingga banyak kata dan membuatku hampir lupa untuk membahas tentang hal yang penting dalam pernikahan ini "
"Aku ingin tahu tadi pria itu menyebutkan Putri binti siapa? Dia menyebutkan nama ayahmu, kan? Karena jika menyebutkan nama ayah tirinya, tidak akan sah."
Tidak ingin mengambil pusing hal yang menurutnya sangat tidak penting baginya, kini Amira Tan sudah mengendikkan bahu.
"Aku tidak tahu karena berkeliling mencarimu tadi. Lagipula ia bukanlah anak kecil yang harus diberitahu. Jadi, jangan buat aku sekali lagi memukulmu."
Amira Tan memilih untuk mengalihkan pembicaraan dengan mengarahkan jari telunjuknya pada beberapa balita yang kini tengah bermain bersama dan tak jauh dari hadapannya.
__ADS_1
"Lihatlah putramu, dia punya banyak teman sekarang dan bisa tersenyum manis seperti itu. Putra sangat menggemaskan. Kamu tidak perlu khawatir karena ia bisa bahagia tanpa ibunya. Jika kamu nanti menikah lagi, carilah seorang wanita yang bisa menerima anak-anakmu."
"Aku tidak rela jika keponakanku mendapatkan ibu tiri yang jahat seperti di film-film dan menyiksa mereka."
Masih tidak mengalihkan perhatian pada interaksi para anak-anak berusia dibawah lima tahun yang tengah bermain bola, Amira Tan yang menunggu reaksi dari Bagus, masih belum mendengar apapun setelah beberapa menit.
Hingga ia pun menoleh ke arah sosok pria yang ada di hadapannya tersebut juga melakukan hal sama sepertinya, yaitu fokus menatap ke arah malaikat -malaikat kecil dengan senyuman manis dan menggemaskan.
"Kenapa kamu diam saja? Apa kamu sedang mengharapkan ada keajaiban datang padamu? Keajaiban tentang nasib rumah tanggamu kelak akan kembali baik seperti semula?"
"Meskipun aku tahu bahwa hubungan yang didasari oleh perselingkuhan, mayoritas berakhir kegagalan dan berujung tidak bahagia. Namun, aku harap kamu berpikir secara logika jika ingin Putri kembali padamu suatu saat nanti."
Embusan napas kasar dan panjang terdengar saat ini dari bibir tebal Bagus. Ia bahkan dari tadi sudah mengetahui jawabannya, tetapi masih enggan untuk mengatakannya.
Namun, kesalahpahaman dari iparnya tersebut ingin segera ia putuskan dari akarnya agar tidak tumbuh dan berkembang, sehingga lama-kelamaan akan melilitnya.
"Kamu tenang saja karena aku tidak akan pernah menikah lagi. Sudah cukup aku mengorbankan anak-anakku. Setelah hari ini, aku berjanji, selamanya akan mencurahkan perhatian dan kasih sayang pada mereka."
Refleks Amira Tan menoleh ke arah kanan, di mana pria itu masih tidak berkedip menatap ke arah bocah laki-laki tak jauh dari mereka.
"Apa kamu yakin bisa? Karena setahuku, para pria tidak akan kuat hidup sendiri tanpa seorang wanita. Berbeda dengan seorang wanita, yang memilih untuk menjadi janda dan fokus pada anaknya."
"Aku bukan pria seperti itu. Jadi, jangan samakan dengan mereka. Aku benar-benar tidak akan pernah menikah lagi karena hatiku telah tertutup setelah pengkhianatan Putri."
"Bahkan saat itu, aku mengutuknya tidak akan pernah hidup bahagia. Aku menyesal, semoga apa yang kukatakan dulu saat emosi pada Putri tidak akan menjadi kenyataan."
"Aku menarik kutukanku," ucap Bagus yang saat ini tengah menatap ke sembarang arah ketika menyesal dengan apa yang dulu diucapkan pada sang istri.
"Mana bisa kutukan ditarik? Dasar bodoh!" umpat Amira Tan kini menanggapi sinis ucapan Bagus yang menurutnya tidak masuk akal dan membuatnya merasa sangat yakin jika kutukan Bagus akan benar-benar terjadi.
'Putri akan hidup menderita karena kutukan dari Bagus. Seorang istri yang durhaka pada suami, tidak akan pernah hidup bahagia dan hanya akan mendapatkan penderitaan,' gumam Amira Tan yang saat ini hanya bisa berbicara sendiri di dalam hati.
__ADS_1
To be continued...