Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
163. Menunggu jawaban


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya...


Arya baru saja mengantarkan Putri ke tempat kerjanya. Kemudian berjalan menuju ke jalan besar untuk pergi ke satu tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi. Dengan sisa uang yang ia miliki, Arya menggunakan kendaraan umum untuk sampai ke alamat yang dituju.


Wajahnya terlihat ragu, tetapi hatinya berusaha untuk yakin dengan jawaban yang akan didapatkannya saat di sana. Berharap, hanya itu yang bisa dilakukan saat ini.


Sepanjang perjalanan, Arya hanya memperhatikan pemandangan di luar jendela. Sesekali ia mengedarkan pandangan ke seluruh tempat. Ingin menghilangkan rasa gugup dan gengsinya, ia memainkan ponsel.


Sampai di sebuah halte yang terletak tidak jauh dari tujuannya, ia berjalan menuju sebuah rumah yang begitu mewah dan memiliki halaman depan yang luas dengan pintu gerbang menjulang tinggi dan ada security di depan dan langsung menyapa, lalu membukanya.


Bahkan, untuk sampai ke pintu rumah utama, harus menempuh jarak yang cukup membuat kakinya terasa lelah.


Di depan pintu, baru saja Arya ingin mengetuknya, tiba-tiba pintu itu terbuka dan menampilkan sosok wanita yang selama ini dipanggil mama.


“Arya, kamu datang. Akhirnya, setelah sekian lama kamu pulang, Sayang. Ayo masuk! Papamu ada di rumah."


Begitu melihat wajah berbinar dari sang ibu yang sangat dirindukan, membuat lelahnya seketika hilang dan ia langsung memeluk erat.


"Aku sangat merindukan Mama," lirih Arya yang merasa perasaan membuncah kini menguasai dirinya dan membuatnya terlihat lemah.


Sementara itu, Rani yang merasakan hal sama karena semenjak sang suami mengetahui bahwa ia diam-diam menemui putranya dan memberikan uang, melarangnya. Bahkan ia juga akan diusir jika tidak patuh pada perintah sang suami.


Hal itulah yang membuatnya benar-benar kecewa, tapi terpaksa menuruti perintah sang suami. Meskipun ia sangat khawatir pada keadaan putranya yang kekurangan hidup di luaran sana.


"Maafkan Mama karena tidak bisa membujuk papamu untuk menerimamu, Sayang." Rani mengusap punggung lebar nan kokoh dari putranya dengan mata berkaca-kaca.


Sementara itu, Rani hanya menggeleng perlahan karena ia kali ini tidak mempermasalahkan hal itu.


"Sudahlah, Ma. Aku tidak apa-apa. Aku yang akan membujuk papa sendiri," ucap Arya yang kini mendapat anggukan dan seulas senyuman dari sang ibu.


"Bagus, Sayang. Memang itulah yang seharusnya kamu lakukan. Semoga kamu bisa mengubah pendirian papamu yang sangat keras itu," sahut Rani yang mengajak putranya untuk segera masuk ke dalam rumah.


Rumah yang terasa sangat sepi karena kehilangan satu-satunya penyemangat hidupnya, kini seolah telah kembali begitu putranya kembali menginjakkan kaki di sana.

__ADS_1


Kemudian Arya melangkahkan kaki panjangnya mengikuti langkah wanita yang sangat disayanginya itu masuk ke dalam.


“Kamu tunggu di sini dan duduk dulu. Mama akan panggil papamu di ruangannya.” Rani kini masih tersenyum simpul dan mengusap lembut pundak putranya yang sudah duduk di sofa berukuran raksasa berwarna merah tersebut.


Sebenarnya sebagai seorang ibu, ia sangat trenyuh melihat sikap putranya yang terlihat seperti seorang tamu di rumah sendiri. Rasa sesak yang memenuhi paru-parunya hingga seolah membuatnya tidak bisa bernapas saja.


Apalagi ia yang melahirkan Arya dan membesarkannya penuh kasih sayang karena hanya memiliki satu keturunan. Semua itu karena dulu setelah melahirkan Arya, ia divonis kanker rahim.


Hal itulah yang membuat rahimnya diangkat dan tidak bisa lagi mempunyai keturunan. Ia masih bersyukur karena berhasil selamat setelah banyak dilakukan pengobatan. Bahkan hingga berobat ke Singapura selama satu tahun dan menunggu Arya yang masih berusia satu tahun.


Perjuangannya tidak sia-sia dan ia kini benar-benar sehat. Semua itu karena putranyalah yang menjadi semangat ia berjuang agar sembuh. Jadi, begitu putra kesayangannya tinggal di luaran dengan wanita yang sangat dibencinya, membuat ia benar-benar tidak tega.


Ini adalah hari Minggu dan sang suami tentunya libur kerja, sehingga kini memanggil pria yang mempunyai watak keras dan tegas itu di kamar. Rani menaiki anak tangga meninggalkan putra yang sangat disayangi setelah sebelumnya tadi menyuruh pelayan untuk membuatkan minum.


Sementara beberapa saat lalu, Arya mengangguk dengan kaku. Rasanya rumah itu seperti sedang merindukannya. Arya merasa sangat nyaman saat berada di sofa yang biasa ia duduki jika menyambut tamu-tamu di rumah itu.


Namun, ia sekarang berpikir bahwa saat ini tak lebih dari seorang tamu. Bukan lagi tuan muda yang tinggal di rumah mewah bak istana yang teramat sangat dirindukannya.


Kini, berbagai macam kekhawatiran mengganggu pikiran Arya saat ini. Ia bingung harus bagaimana jika sang ayah menolaknya untuk meminta bekerja di perusahaan.


'Jika papa tidak mengizinkan aku bekerja di perusahaan, apa yang harus kulakukan? Apalagi Putri sudah hamil besar dan berjalan saja seperti kesusahan. Aku tidak tega melihatnya.'


Masih terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk, kini Arya bisa merasakan aura gelap di ruangan itu dan beralih mengangkat pandangannya yang dari tadi tertunduk.


Dari anak tangga, terlihat sosok pria jangkung berjalan dengan memberikan tatapan tajam. Pria paruh baya yang tak lain adalah Ari Mahesa, kini merasa seperti telah berhasil mengalahkan sifat arogan dan keras kepala dari putranya.


'Akhirnya anak nakal itu kembali juga. Memangnya mau sampai kapan ia hidup menderita tidak jelas dengan memiliki istri yang sedang hamil dan pastinya membutuhkan banyak uang.' gumam Rudi yang masih mengarahkan tatapan tajam pada sosok putranya yang kini duduk di sofa.


Terlihat di belakang sang suami, Rani mengekor dengan tersenyum dan memberikan isyarat pada putranya untuk tenang. Ia tadi mengatakan pada sang suami agar menurunkan ego dan iba pada nasib Arya.


Apalagi terlihat jelas badan putranya kini semakin kurus semenjak sudah tidak pernah lagi memberikan uang karena dilarang.


“Papa,” panggil Arya lirih dan segera bangkit dari posisinya karena ingin menghormati pria paruh baya itu yang saat ini tengah berjalan ke arahnya.

__ADS_1


“Ternyata punya nyali kamu kembali kemari.”


Ari Mahesa masih belum bisa menurunkan egonya karena gengsi. Apalagi posisinya saat ini benar-benar di atas angin karena akhirnya putranya datang ke rumah dan tidak lagi bersikap sesombong dulu ketika pertama keluar dari rumah.


Menganggap bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang tua dan ternyata kenyataannya, sang putra yang keras kepala itu akhirnya memilih menyerah dan datang ke rumah.


Rani yang merasa sangat kesal pada suaminya karena sama sekali tidak menuruti permintaannya tadi, membuatnya benar-benar tidak bisa lagi menahan diri, sehingga sudah mengarahkan tangannya untuk mencubit bagian belakang pinggang pria yang sudah menjadi kepala rumah tangga selama dua puluh tahun lebih tersebut.


"Sayang, sudah kukatakan jangan terlalu keras pada putra semata wayang kita! Astaga! Apa kamu senang kehilangan putra kita?" lirih Rani dengan suara tegas dan tertahan. Bahkan ia sudah mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi.


Ucapan sang ayah, membuat Arya kesulitan menelan ludahnya, sehingga hanya mengerjapkan mata dan tidak tahu apa yang akan diungkapkan untuk menjawab.


Arya hanya memilih diam tanpa berkomentar atas ejekan dari sang ayah karena saat ini tidak ingin terpancing emosi dan malah akan membuat keadaan bertambah parah.


Mereka kini duduk berseberangan, dengan wajah tertunduk. Arya masih terdiam merangkai kata dalam pikirannya.


“Jadi, ada apa kamu datang ke rumahku?” tanya Ari Mahesa sambil meraih gulungan tembakau dari tempatnya.


Ia tadi hanya memberikan jawaban melalui kode mata pada sang istri. Tentu saja agar sang istri diam dan tidak mencampuri urusan antara ayah dan anak. Usahanya pun berhasil dan membuat ibu dari putranya tersebut menutup mulut


Rani yang sudah duduk di sebelah kiri sang suami, akhirnya memilih untuk menjadi penonton dari perseteruan ayah dan anak itu. Ia benar-benar sangat berharap jika hari ini dua pria yang sangat berarti penting baginya tersebut segera berdamai.


'Semoga suami dan putraku bisa kembali seperti dulu lagi hubungannya,' gumam Rani yang kini mendengar suara bariton dari putranya yang menanggapi pertanyaan sang ayah.


“Maafkan aku, Pa. Aku bersalah dengan semua perbuatanku. Istriku akan melahirkan dua bulan lagi. Kami membutuhkan banyak biaya untuk menyambut kelahiran."


"Aku datang untuk memohon maaf pada Papa dan meminta pertolongan, agar memberikan pekerjaan di perusahaan." Arya kali ini benar-benar menurunkan egonya agar sang ayah mau memaafkan semua perbuatannya demi bisa bekerja di perusahaan.


'Sabar, Arya. Ini semua demi calon keturunanmu yang sebentar lagi lahir ke dunia. Sebentar lagi, aku akan menjadi ayah dan harus menjadi ayah yang bertanggungjawab.'


'Semoga papa mau memberikan pekerjaan untukku di kantor. Paling tidak sebagai wakil pemimpin perusahaan. Jadi, aku bisa mendapatkan banyak uang biaya rumah sakit saat kelahiran anakku,' lirih Arya yang kini masih menunggu jawaban dari sang ayah dari tadi masih menutup mulut, seolah sedang memikirkan sesuatu.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2