Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
48. Cinta buta


__ADS_3

Selama dalam perjalanan menuju ke apartemen sepupunya, sosok pria yang berada di dalam mobil hanya diam dan keheningan yang tercipta saat Arya mengemudi.


Arya yang fokus mengemudi dan menatap ke arah jalanan cukup ramai dengan banyaknya mobil melintas, masih dikuasai kegelisahan. Namun, menahan diri sekuat tenaga untuk tidak mengumpat.


Ia yang awalnya berniat untuk pergi ke apartemen sepupunya karena akan menaruh barang-barang milik Putri yang tadi dibeli di Mall. Namun, kini ia berubah pikiran karena ingin pergi ke apartemen sahabatnya yang tak lain adalah Rendi.


Berharap bisa menenangkan pikiran yang tadi memikirkan sikap Putri saat mengkhawatirkan putranya dan seperti melupakannya.


Kini, ia sibuk mengingat ekspresi wajah dari Putri. "Apa ia akan lebih mempedulikan putranya daripada aku? Aku tidak suka ia lebih mementingkan putranya daripada aku."


"Sepertinya aku harus membahas ini dengannya nanti. Aku tidak ingin di nomorduakan. Jika ia lebih mengutamakan putranya, aku akan mengancam akan meninggalkannya. Aku yakin ia akan takut karena terlihat sangat mencintaiku."


Setelah setengah jam berlalu, kini mobil Arya sudah berbelok ke area apartemen dan langsung turun dari mobil setelah mematikan mesin mobil.


Kaki panjangnya melangkah menuju ke arah lobi dan langsung masuk ke dalam lift yang membawanya ke apartemen sahabatnya.


"Apa ia sudah pulang dari kantor? Semoga Rendi langsung pulang dan tidak pergi ke mana-mana," ucap Arya yang saat ini tengah berjalan keluar dari lift menuju apartemen.


Setelah memencet bel, kini ia menunggu beberapa saat. Hingga pintu pun terbuka dan melihat sahabatnya masih mengenakan kemeja dengan lengan baju digulung sampai ke siku dan mengerutkan kening begitu melihatnya.


"Tumben kamu datang jam segini. Masuklah!" Rendi mengarahkan dagu untuk menyuruh sahabatnya masuk ke dalam.


Arya yang bernapas lega begitu melihat Rendi ada di apartemen, kini melangkah masuk dan berjalan menuju ke ruangan tengah yang biasa digunakan untuk bersantai sambil menonton TV.


"Aku benar-benar sangat bosan. Jadi, datang ke sini untuk menemanimu." Mendaratkan tubuhnya di atas kursi empuk berwarna merah.


Sedangkan Rendi hanya memicingkan mata karena melihat sikap Arya yang aneh. "Ada apa denganmu? Jika tidak ada masalah, tidak mungkin kamu datang ke sini jam segini."


Arya yang menyalakan TV untuk mengalihkan kekesalannya, kini beralih menoleh ke arah Rendi dan mengembuskan napas kasar seolah mewakili perasannya saat ini.


Tidak hanya itu saja, ia kini tengah mengarahkan jari telunjuk ke wajah sendiri.

__ADS_1


"Ren, menurutmu ... wajahku ini tampan atau tidak?"


"Hah?" sahut Rendi yang merasa pertanyaan sahabatnya sangat konyol dan beberapa kali menatap kebingungan pada wajah yang memang diakuinya jauh lebih tampan darinya.


"Jika kamu jadi wanita, apakah akan menyukai wajah yang seperti ini? Atau wajahku ini terlihat baby face dan kekanakan? Aku tidak terlihat seperti anak masih kuliah, kan?" Arya masih asyik menunjuk ke arah diri sendiri dan tidak berkedip menatap sahabatnya karena menunggu jawaban dari Rendi atas pertanyaannya.


Refleks Rendi seketika tertawa terbahak-bahak menanggapi pertanyaan paling konyol yang pernah didengarnya. Bahkan ia kini memegangi perutnya yang kaku.


"Astaga, sepertinya kau sedang lelah pikiran dan juga tenaga karena efek over dosis bercinta."


Saat sangat serius, tetapi malah ditanggapi dengan sebuah candaan, tentu saja Arya kini sangat murka. Refleks tangan yang tadi menunjuk ke arah diri sendiri, seketika langsung meninju lengan yang memegangi perut.


"Sialan! Aku benar-benar serius bertanya. Kau memang tidak bisa diandalkan!" umpat Arya dengan wajah masam.


Rendi yang meringis menahan rasa nyeri akibat tinju kuat pada lengan kirinya, tentu saja sudah memasang wajah tak kalah masam.


"Serius bagaimana jika pertanyaanmu sangat konyol? Sebenarnya apa yang terjadi padamu?"


"Aku tidak ingin dinomorduakan oleh kekasihku."


Akhirnya kalimat yang menurutnya sangat memalukan sekaligus merendahkan harga dirinya, kini lolos dari bibir tebal Arya dan ia pun kembali mengempaskan tubuhnya di punggung kursi tanpa menoleh lagi ke arah sahabatnya.


Hingga sebuah pukulan pada lengannya terasa nyeri dan seketika menatap tajam sahabatnya.


"Apa kau mau mati?"


Sementara itu, Rendi yang tadinya memicingkan mata karena tidak paham dengan kalimat ambigu Arya, semakin gemas dan merasa sangat penasaran. Ia ingin menginterogasi sahabatnya saat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Sebenarnya apa maksudmu?. Dinomorduakan bagaimana? Apa ia mempunyai pria lain selain kamu?"


Tidak ingin bertele-tele, akhirnya Arya memilih untuk berbicara jujur. Meskipun ia menyadari bahwa mungkin sahabatnya akan mengejek dan menghinanya habis-habisan karena memilih berhubungan dengan seorang wanita bersuami dan memiliki anak.

__ADS_1


"Putri lebih mempedulikan putranya dan mendadak melupakan aku. Aku benar-benar sangat kesal hari ini begitu melihatnya terlihat mengkhawatirkan putranya dengan pria itu."


Rendi yang benar-benar merasa sangat shock, kini tengah berjalan mondar-mandir di depan Arya dan tidak berhenti memijat pelipisnya.


"Astaga! Kau benar-benar sudah gila. Jika aku tahu bahwa wanita itu telah menikah dan mempunyai anak, pasti akan melarangmu dekat dengannya. Pantas saja kamu langsung mengajaknya ke hotel. Lebih baik tinggalkan wanita itu karena dia bukanlah wanita yang baik karena berselingkuh."


Refleks Arya bangkit dari posisinya dan berdiri di hadapan Rendi dengan raut wajah memerah.


"Aku ke sini bukan untuk menyuruhmu menilai hubungan kami atau pun wanitaku. Aku hanya ingin kamu mendengarkan keluh kesah dan menunjukkan dukungan pada sahabatnya."


"Astaga!" Rendi menepuk jidatnya berkali-kali saat mendengar jawaban penuh kekonyolan dari sahabatnya yang menurutnya sudah kehilangan akal sehat.


"Sahabat yang baik adalah mengingatkan saat sedang berada di jalan yang salah, tetapi kata-katamu seolah ingin aku tidak peduli padamu dengan mendukung saat sedang tersesat," ujar Rendi yang kali ini kembali mencoba untuk mengingatkan sahabatnya agar sadar.


Namun, ia hanya bisa geleng-geleng kepala begitu mendengar jawaban dari Arya.


"Tidak ada yang salah dengan cinta, Ren. Kami saling mencintai. Bukankah itu sudah cukup? Lagipula, di zaman sekarang ini banyak perselingkuhan dan perceraian terjadi. Putri tidak bahagia bersama suaminya dan mencintaiku. Dia akan bercerai dengan suaminya."


"Hanya saja, aku tidak tahu, apakah dia akan menomorsatukan aku atau tidak karena tadi langsung melupakanku begitu mendengar anaknya sakit. Aku sangat tidak suka melihatnya seperti itu karena melupakanku."


Saat Arya baru saja menutup mulut, ia mendengar suara dering ponsel miliknya yang berada di saku celana. Ia langsung meraih ponsel miliknya dan melihat kontak wanita yang baru saja dibicarakan tengah menghubungi.


"Dia menelpon." Menunjukkan ponsel miliknya pada Rendi. "Ini membuktikan bahwa Putri mencintaiku. Apakah salah jika kami saling mencintai?"


Rendi yang saat ini tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan pemikiran dari sahabatnya, kini memilih untuk mendaratkan tubuhnya dengan kasar di atas kursi. Tubuhnya seolah lemah lunglai mengetahui hubungan rumit dari sahabatnya yang mencintai istri orang.


"Jadi, ini yang sering disebut cinta buta? Tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah."


Arya yang membiarkan panggilan dari Putri karena ia ingin memberikan pelajaran pada wanita yang tadi membuatnya kesal, kini beralih menatap ke arah sahabat yang menyindirnya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2